The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 50



Dengan menggunakan kuda hitam miliknya, Chen Li bergegas meninggalkan desanya dan menuju ke pasar tempat di mana gadis itu tengah menunggunya. Dengan kemahirannya membawa kuda, membuat Chen Li tak butuh waktu lama untuk tiba di tempat itu.


Chen Li berdiri menunggu di tempat yang sudah di sepakati, tapi gadis yang bernama Huanran itu belum juga menampakkan diri. Matahari yang perlahan mulai meninggi menandakan kalau waktu yang dijanjikan sudah lewat. "Sepertinya, gadis itu tidak akan datang. Sebaiknya, aku harus kembali," batin Chen Li sambil berjalan menuju kudanya. Baru saja dia naik di atas punggung kuda, seorang gadis tampak berlari ke arahnya dan memanggilnya. "Tuan, tunggu," panggil gadis itu sambil berlari ke arahnya.


Dari atas kudanya, Chen Li menatap gadis itu yang tampak kelelahan karena berlari mengejarnya. Chen Li lantas mengeluarkan kantong uang itu dari balik bajunya dan melemparkannya ke arah gadis itu. "Ambil kembali kantong uangmu itu. Isinya masih tetap utuh karena aku tidak membukanya," ucap Chen Li.


Gadis itu tersenyum saat mendapatkan kembali kantong uang itu. "Tidak ada uang di dalam kantong ini, hanya ini yang aku butuhkan," ucap gadis itu sambil mengeluarkan sebuah cincin batu giok berwarna merah. Cincin yang tampak indah itu kemudian dipakainya. "Tuan, terima kasih karena telah mengembalikan kantong ini padaku. Aku sangat berterima kasih karena barang yang sangat berharga bagiku telah kembali padaku," ucap gadis itu sambil mengelus cincin giok yang sudah melingkar di jarinya itu. Wajahnya tampak sedih saat melihat cincin itu.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi."


"Sebentar, Tuan. Aku tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa, tapi jika Tuan tidak keberatan, aku ingin mengundang Tuan datang ke pertunjukan tari yang akan diadakan di depan wisma tari milik Nyonya Hua Feng sebentar sore. Aku akan sangat berterima kasih jika Tuan berkenan untuk hadir," ucap gadis itu yang membuat Chen Li menatap ke arahnya.


"Aku berterima kasih atas undanganmu itu, tapi aku tidak bisa janji untuk datang. Sebaiknya, aku pergi dan berhati-hatilah agar tidak dicopet lagi," ucap Chen Li yang kemudian pergi meninggalkan gadis itu yang menatapnya dengan penuh rasa takjub.


"Pemuda yang sangat baik. Aku beruntung karena cincin peninggalan ibu bisa kembali lagi padaku." Gadis itu kemudian pergi sambil tersenyum dengan senyumnya yang terlihat begitu menawan.


Chen Li yang baru saja tiba menjadi perhatian Yuwen karena sedari tadi pemuda itu tidak melihat Chen Li yang tiba-tiba pergi tanpa pamit padanya. "Bagaimana? Apa gadis itu mengajak Kakak ke suatu tempat?" tanya Yuwen yang membuat Chen Li menatap heran ke arahnya.


"Maksudmu, apa?"


Yuwen berjalan mendekat ke arahnya dan melayangkan sebuah senyum yang membuat Chen Li semakin heran. "Sebagai tanda terima kasih, gadis itu memberikan apa buat Kakak?"


Melihat Yuwen yang penasaran membuat Chen Li menoyor dahinya sambil tersenyum. "Anak kecil mau tahu saja urusan orang dewasa," ucap Chen Li yang membuat Yuwen semakin penasaran dan berjalan mengikutinya.


"Wah, rupanya Kakakku ini sudah mulai tergoda dengan wanita. Awas saja kalau Paman sampai tahu."


"Tahu tentang apa?" tanya Liang Yi yang tiba-tiba datang. Yuwen yang melihat kedatangan pamannya itu menjadi salah tingkah.


"Bukan apa-apa kok, Paman," ucap Yuwen sambil mendekati Chen Li seakan meminta pertolongan darinya.


"Paman tidak ingin kalian memikirkan soal wanita. Bukannya Paman melarang, tapi masih ada hal penting yang harus kalian berdua lakukan. Setelah itu selesai, maka Paman tidak akan lagi melarang. Kalian berdua paham??!!"


"Jangan khawatir, Paman. Aku tahu itu dan aku juga ingin secepatnya menemui ibuku," ucap Chen Li yang sangat paham dengan arah pembicaraan Liang Yi.


"Bergegaslah, bantu paman-paman kalian di kebun, setelah itu bersiap-siaplah karena sebentar sore Paman ingin mengajak kalian ke suatu tempat," ucap Liang Yi yang kemudian pergi meninggalkan mereka.


Kedua pemuda itu kemudian bergegas menuju ke kebun, di mana teman-temannya sudah menunggu untuk memanen hasil kebun mereka. Tak hanya itu, setelah selesai dari berkebun kedua pemuda itu berserta teman-temannya masih harus berlatih untuk terus mengasah kemampuan mereka.


Chen Li yang sudah memegang busur di tangannya, tampak sudah menargetkan sasaran pada seekor kelinci yang bersembunyi di balik semak. Di hutan dekat desa, mereka biasanya berlatih berburu untuk mengasah kemampuan dalam hal memanah.


Chen Li masih menargetkan kelinci itu hingga anak panahnya melesat dan mengenai kelinci itu. Teman-temannya menatapnya kagum karena bukan sekali ini saja mereka melihat ketangguhan Chen Li dalam hal memanah.


Chen Li terus masuk ke dalam hutan dan menatap liar ke sekeliling hutan itu dan tiba-tiba pandangan matanya tertuju pada seekor **** hutan yang sangat besar. "Kakak, sepertinya **** hutan itu yang sudah menghancurkan kebun kita waktu itu. Lihat saja, kakinya yang terluka karena terkena jebakan kita," ucap Yuwen sambil mengangkat busurnya dan siap mengarahkannya ke **** hutan itu.


Chen Li yang berdiri di sampingnya kemudian mengangkat busurnya dan juga siap memanah. "Kamu arahkan pada perutnya dan aku akan arahkan ke kepalanya, dengan begitu **** itu pasti akan mati," ucap Chen Li yang membuat Yuwen mengangguk.


Yuwen masih mengarahkan anak panahnya dan menunggu waktu yang tepat untuk memanah dan ketika **** itu sudah terlihat tanpa penghalang, kedua pemuda itu mulai melepaskan anak panah secara bersamaan sesuai dengan posisi yang sudah mereka sepakati bersama.


Suara erangan **** hutan itu memecah kesunyian di dalam hutan. **** yang mempunyai ukuran tubuh yang lumayan besar itu terguling ke tanah dengan tubuh yang hanya bergerak beberapa kali dan kemudian mati.


Yuwen kemudian berlari mendekati **** hutan itu dan melihat anak panah yang tertancap di kepala dan juga di perut **** hutan tersebut. Dengan tersenyum, pemuda tampan itu kemudian mengangkat tangannya ke arah Chen Li sebagai isyarat kalau mereka telah berhasil menumbangkan **** hutan itu.


Teman-teman mereka kemudian mendekati **** hutan itu dan mulai mengangkatnya. "Kalian berdua memang hebat, lihat saja **** hutan sebesar ini bisa mati di tangan kalian," puji salah satu pemuda sambil memandangi anak panah yang tertancap di tubuh **** hutan itu.


Bagaimana tidak, Yuwen dan Chen Li tidak hanya asal memanah. Anak panah yang diarahkan Yuwen tepat mengenai jantung sedangkan anak panah yang diarahkan Chen Li tepat mengenai otak hingga **** hutan itu mati seketika.


Mereka kemudian meninggalkan hutan dengan membawa hasil buruannya. Setibanya di desa, mereka disambut anak-anak kecil yang mengikuti mereka sambil bernyanyi.


Chen Li dan Yuwen memilih untuk kembali ke rumah dan menyerahkan tugas kepada teman-temannya untuk mengurus **** hutan itu. Waktu yang hampir menjelang sore, membuat kedua pemuda itu segera bersiap-siap untuk pergi menemui Liang Yi yang sudah menunggu mereka.


Melihat Liang Yi yang menggunakan jubah yang mewah membuat kedua pemuda itu jadi bertanya-tanya. "Apakah kita akan pergi ke pesta?" tanya Yuwen sedikit berbisik pada Chen Li.


Melihat Chen Li dengan penampilan yang berbeda membuat Yuwen tidak ingin ketinggalan. Dengan mengenakan jubah berwarna biru laut membuat lelaki itu terlihat tampan.


"Ayo, cepatlah. Hari sudah mulai sore," panggil Liang Yi pada kedua pemuda itu. Mereka berdua terlihat keluar dari dalam rumah dengan penampilan yang membuat Liang Yi menatap mereka dengan penuh keheranan. "Kalian berdua mau kemana dengan penampilan seperti itu?" tanya Liang Yi yang membuat mereka saling menatap.


"Paman, bukankan Paman mau mengajak kami ke pesta?" tanya Yuwen sok tahu.


Liang Yi menatap mereka sambil tersenyum. "Terserah kalian saja. Cepatlah, aku tidak ingin ditunggu," ucap Liang Yi sambil memacu kudanya. Kedua pemuda itupun mengikutinya dari belakang.


Di depan sebuah bangunan mewah, Liang Yi berhenti dan diikuti kedua pemuda itu. Suasana di halaman bangunan itu tampak ramai dengan aneka lampion yang berjejer indah. Warna merah mendominasi halaman bangunan itu.


Orang-orang terlihat memenuhi tempat itu. Mereka begitu antusias menyaksikan beberapa orang penari yang sedang menari.


Chen Li dan Yuwen berjalan mengikuti Liang Yi yang masuk ke dalam bangunan itu. Mereka disambut dengan ramah oleh beberapa orang wanita yang terlihat sangat cantik.


"Kakak, apa paman selama ini sering ke sini? Sepertinya, paman sangat akrab dengan wanita-wanita itu," ucap Yuwen sambil melihat sekelilingnya.


Chen Li hanya diam. Dia terlihat acuh dan mengikuti Liang Yi yang berjalan menuju seorang wanita yang sudah berumur, tapi wajahnya terlihat masih cantik. "Liang Yi, aku pikir kamu tidak akan datang," ucap wanita itu dengan senyum yang terlihat di wajahnya.


"Bagaimana mungkin aku tidak akan datang. Hua Feng, selamat ulang tahun," ucap Liang Yi pada wanita itu.


Wanita itu ternyata adalah Hua Feng. Dengan tersenyum, dia mengangguk dan menatap ke arah Yuwen dan Chen Li yang menunduk memberi hormat padanya. "Jadi, mereka adalah keponakan-keponakanku?" tanya Hua Feng sambil berjalan mendekati mereka berdua.


Hua Feng terlihat sedih. Ditatapnya wajah kedua pemuda itu dan memeluk mereka secara bersamaan. "Kalian pasti sedih karena kehilangan orang tua kalian. Ibu kalian berdua adalah adik angkatku. Jiao Yi dan Mei Yin adalah adik angkatku," ucap Hua Feng yang sudah menangis sesenggukan mengenang kedua wanita itu.


"Bibi," ucap Chen Li dan Yuwen secara bersamaan.


Pertemuan Liang Yi dan Hua Feng terjadi tanpa sengaja. Saat kematian Raja Zhao Li, Liang Yi dan Hua Feng bertemu di depan pintu gerbang kerajaan. Hua Feng yang selalu diterima jika berkunjung di kerajaan terpaksa ditolak. Bukan hanya itu, sejak kematian Raja Zhao Li, wanita itu sudah tidak lagi diizinkan untuk datang ke kerajaan dan hubungannya dengan Mei Yin pun terputus.


"Maaf, karena aku baru membawanya menemuimu. Sebenarnya, aku sudah lama ingin mempertemukan kalian, tapi aku ingin menunggu waktu yang tepat. Dan kini, aku rasa sudah saatnya dia tahu tentang keluarganya." Liang Yi mengucapkan semua itu pada Hua Feng.


Wanita itu mengangguk dan mengiyakan. "Baiklah, setelah acara ini selesai kita harus menjelaskan semuanya pada Chen Li," ucap Hua Feng.


Sementara itu, Yuwen dan Chen Li tampak berdiri di luar dan memandangi beberapa orang penari yang sedang menari diiringi petikan kecapi. Chen Li memandangi mereka dengan begitu antusias, karena baru kali ini dia bisa melihat tarian yang membuatnya teringat pada ibunya, tapi tarian mereka terlihat biasa saja di matanya karena tidak sama dengan tarian ibunya.


"Kakak, mau kemana?" tanya Yuwen saat melihat Chen Li yang ingin meninggalkan tempat itu.


Chen Li tidak mengatakan apapun. Pemuda tampan itu kemudian pergi ke tempat duduk yang ada di bawah pohon sakura dan melayangkan pandangannya pada orang-orang yang mengerumuni tempat itu sambil memandangi ke arah para penari.


Mereka adalah orang-orang yang ingin menyaksikan keindahan tarian dari para penari wisma tari Hua Feng yang sudah terkenal hingga penjuru negeri. Dan acara itu bebas untuk siapa saja. Tak hanya dihadiri oleh bangsawan, tapi juga dari kalangan rakyat biasa.


Hua Feng tidak memandang status sosial karena baginya, wisma tarinya bebas dikunjungi oleh siapapun.


"Tuan Putri, sebaiknya kita kembali. Hari sudah semakin sore dan Tuan Putri sudah harus kembali, kalau tidak, Tuan pasti akan sangat marah," ucap seorang wanita yang berusaha mengejar seorang gadis cantik yang berlari dan masuk ke dalam kerumunan orang-orang.


Gadis yang terlihat cantik dengan tingkahnya yang sedikit tomboy itu tidak mempedulikan ucapan wanita itu. Dia terus memaksa untuk masuk hingga tak sengaja bertabrakan dengan beberapa orang pemuda yang ada di depannya. "Apa matamu itu sudah buta, hah!!??" ucap seorang pemuda yang langsung menatap gadis itu dengan matanya yang melebar.


"Apa maksudmu mengatakan mataku buta? Apa matamu yang telah buta hingga mengatai mataku buta? Lihat, mataku tidak buta," balas gadis itu tidak mau kalah sambil membelalakkan matanya pada pemuda itu.


Melihat gadis itu yang membantah ucapannya membuat pemuda itu tersenyum sinis. "Mulutmu ternyata sangat tajam. Untung saja wajahmu cantik, jika tidak ... "


"Jika tidak kenapa? Apa kamu akan menamparku?" tanya gadis itu yang semakin berani.


Pemuda itu berjalan mendekatinya hingga membuat gadis itu perlahan mundur ke belakang. "Apa kamu mau menjadi kekasihku?" tanya pemuda itu yang sontak membuat gadis itu menamparnya.


"Apa kamu pikir lelaki sepertimu pantas menjadi kekasihku?" ucap gadis itu yang sontak membuat pemuda itu menjadi marah.


"Dasar peremuan sialan!! Wanita sepertimu tidak pantas untukku. Wanita sepertimu hanya layak menjadi wanita simpanan!!" ucap pemuda itu marah dengan tangannya yang sudah siap menampar wajah gadis itu, tapi tangannya terhenti karena Chen Li sudah berdiri di depannya sambil menahan tangannya itu hingga membuatnya menjerit kesakitan.


"Lelaki sepertimu tidak layak disebut lelaki karena lelaki yang berani menampar seorang wanita tak pantas disebut seorang lelaki," ucap Chen Li yang membuat gadis itu diam terpaku. Untuk sesaat, dadanya bergetar saat Chen Li membelanya di depan pemuda-pemuda itu, tapi perasaannya itu segera dibuangnya jauh-jauh.