
Mendengar Kaisar Wang yang sementara menuju ke taman itu membuat Putri Xia memilih untuk pergi. Walau berat meninggalkan pemuda yang telah menyelamatkan hidupnya, tapi dia harus benar-benar pergi. "Dayang Yu, kenapa ayahku ingin bertemu dengan mereka dan kenapa juga mereka bisa ada di kerajaan ini?" tanya Putri Xia yang begitu penasaran dengan kehadiran kedua pemuda itu.
"Maaf, Tuan Putri. Sepertinya, mereka berdua mengikuti ujian penerimaan pejabat baru."
"Apa? Ujian penerimaan pejabat baru??!!"
"Benar, Tuan Putri. Menurut yang aku dengar, mereka berdua adalah kandidat yang terkuat di antara semua peserta dan mungkin saja, Kaisar ingin merekrut mereka menjadi pengawal pribadinya."
Mendengar ucapan dayang itu membuat Putri Xia tersenyum. "Kalau itu benar, berarti aku akan punya kesempatan untuk bertemu dengannya setiap hari," batinnya dengan senyum di sudut bibirnya.
Sementara di taman, kedua pemuda itu tampak menunduk dan memberi hormat pada Kaisar Wang yang sudah berdiri di depan mereka. "Hormat kami, Yang Mulia," ucap kedua pemuda itu bersamaan.
Kaisar Wang tampak tersenyum dan menatap ke ke arah dua pemuda itu secara bergantian. "Apa kalian bersaudara?"
"Benar, Yang Mulia. Dia adalah Kakakku, Lian dan hamba adalah Yuwen," ucap Yuwen yang berusaha menanggapi pertanyaan lelaki itu karena dia tahu, saat ini Chen Li sedang berusaha menahan emosinya karena melihat lelaki yang telah membunuh ayahnya dan juga mengambil ibunya tengah berada di depannya.
"Oh, jadi begitu rupanya. Anak muda, apa kamu tidak ingat padaku?" tanya Kaisar Wang yang membuat Yuwen menatapnya, tapi dia kembali menundukan wajahnya. "Maaf, Yang Mulia. Hamba tidak mungkin pernah bertemu dengan Yang Mulia."
"Baiklah kalau kamu tidak mengingatnya. Hari ini, aku sengaja mengundang kalian karena aku ingin mengajak kalian berburu di hutan di dekat kerajaan. Apa kalian keberatan?"
"Tidak, Yang Mulia. Itu suatu kehormatan bagi kami berdua karena bisa menemani Yang Mulia berburu," ucap Yuwen sambil menunduk memberi hormat. Sementara Chen Li hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Yuwen.
"Pengawal, siapkan kuda dan juga busur untuk mereka berdua."
"Baik, Yang Mulia."
Diam-diam, Putri Xia memperhatikan mereka dari balik dinding kerajaan. Dia tampak kagum dengan Chen Li yang kini duduk di atas kuda dengan busur yang ada di punggungnya. "Ah, dia sangat tampan dan gagah," ucapnya dengan senyum sambil terus memandangi pemuda itu. Rupanya, Putri Xia begitu tertarik dengan Chen Li hingga membuatnya begitu takjub dan kagum dengan pemuda tampan itu.
"Ayo, kita pergi," ucap Kaisar Wang sambil memacu kudanya dan diikuti kedua pemuda itu dari belakang. Tak hanya itu, terlihat beberapa orang prajurit ikut bersama mereka sambil berlari di samping mereka.
Hutan yang tidak terlalu jauh dari kerajaan itu biasa digunakan untuk para raja berburu. Dan Kaisar Wang ingin menguji mereka berdua secara langsung di hutan itu. "Cobalah untuk mengambil binatang buruan dariku." Kaisar Wang kemudian masuk ke dalam hutan dengan mata yang liar dengan anak panah yang sudah siap dilesatkan.
Sementara Yuwen dan Chen Li sudah melakukan hal yang sama. Kedua pemuda itu mengendap di samping Kaisar Wang dengan mata yang liar mencari mangsa. Sesaat, Chen Li menghentikan langkahnya dan memandang ke arah Kaisar Wang yang sudah berjalan di depannya. Sontak, wajahnya memerah dengan amarah yang begitu membuncah hingga membuatnya mengangkat busurnya dan mengarahkannya di belakang kepala lelaki itu.
Yuwen yang belum tersadar akan sikap aneh Chen Li masih terus berjalan hingga dia terkejut saat melihat Chen Li sudah mengangkat busur dan siap melepaskan anak panah itu ke arah Kaisar Wang. "Kakak, jangan sekarang," batin Yuwen yang mulai panik, tapi terlambat karena Chen Li sudah melepaskan anak panah dan membuat Yuwen melihat ke arah sasaran anak panahnya itu.
Di samping Kaisar Wang, tergeletak seekor kelinci dengan anak panah yang sudah tertancap di tubuhnya. Kaisar Wang menatap ke arah Chen Li sambil tersenyum. "Ternyata, dia bisa tahu kalau ada kelinci di semak itu, padahal tidak ada pergerakan sama sekali dari kelinci itu. Pemuda yang hebat," batinnya memuji.
Yuwen mengembuskan nafas lega. Dia sempat berpikir kalau Chen Li akan membunuh Kaisar Wang. Melihat kekhawatiran di wajah adiknya itu membuat Chen Li paham dan mengangguk padanya. "Aku tahu kamu tidak seceroboh itu," batin Yuwen sambil berjalan kembali di samping Kaisar Wang.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu. Aku ingin melihatmu menangis memohon pengampunan dariku," batin Chen Li dengan air mata yang perlahan jatuh.
Melihat kegesitan dan kemampuan mereka yang tangguh, sudah cukup menjadi alasan bagi Kaisar Wang untuk menerima mereka menjadi pengawal pribadi bagi istri dan putrinya. "Baiklah, sebaiknya kita kembali dan mulai saat ini aku memerintahkan kalian berdua untuk tinggal di kerajaan dan menjadi pengawal pribadi istri dan putriku. Setibanya di kerajaan nanti, aku akan memberikan surat pengangkatan bagi kalian."
"Terima kasih atas kebaikan hati, Yang Mulia." Kedua pemuda itu menunduk.
Di kerajaan, Putri Xia tampak gelisah hingga membuatnya keluar dari kamarnya dan menuju pintu gerbang kerajaan. Hatinya begitu gelisah karena menunggu kedatangan Chen Li. Entah mengapa, dia merasa begitu ingin bertemu dengan pemuda itu. "Ah, kenapa aku seperti ini? Apakah, aku sudah jatuh cinta padanya?" batinnya dengan senyum yang tersungging di sudut bibirnya.
Perlahan, pandangannya tertuju pada Chen Li yang baru saja tiba. Dengan sembunyi-sembunyi, gadis cantik itu terus memperhatikan Chen Li yang tampak gagah dan tampan. "Dia sangat tampan," batinnya
"Putri Xia, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Dayang Yu yang membuat gadis itu terkejut. Gadis itu kemudian mendekati Dayang Yu dan membekap mulutnya. "Tenanglah, jangan berisik," ucapnya sambil menarik tubuh dayang itu ke belakang dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Putri Xia, apa yang Anda lakukan tadi?"
"Dia sangat tampan." Gadis itu masih tersenyum membayangkan kegagahan dan ketampanan Chen Li yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Putri Xia, jangan sampai Anda jatuh cinta padanya. Dia sekarang adalah pengawal pribadi Nyonya Wang dan juga Putri Guan Yin. Bagaimana mungkin Anda mencintai orang yang melindungi musuh dari Permaisuri?"
Gadis itu menatap Dayang Yu dengan wajah yang mulai berubah. Senyum yang tadi terpancar perlahan mulai menghilang. "Bagi ibuku, mereka adalah musuh, tapi bagiku mereka hanya istri dan anak dari ayahku. Untuk apa aku harus ikut membenci mereka?"
"Tapi, Putri Xia ... "
"Sudahlah, lebih baik kamu tinggalkan aku sendiri. Aku pikir, kamu akan mendukungku, tapi nyatanya kamu sama saja dengan ibuku," ucapnya dengan perasaan kecewa.
Melihat Putri Xia bersedih membuat Dayang Yu ikut bersedih. "Kasihan kamu. Kamu hanyalah korban dari keserakahan ayah dan ibumu. Kamu gadis yang baik dan tak seharusnya lahir dari ibu yang kejam. Semoga saja, hidupmu kelak akan bahagia, Putri Xia." Dayang Yu kemudian keluar dan meninggalkan gadis itu yang tengah bimbang dengan perasaannya.
Chen Li diantar oleh seorang kasim ke sebuah ruangan yang akan di tempatinya. Sementara Yuwen, sudah ditempatkan di ruangan lainnya. "Tuan, silakan tempati ruangan ini. Mulai sekarang, ruangan ini milik Tuan."
Kasim itu kemudian keluar dan meninggalkan Chen Li yang masih berdiri di dalam ruangan itu. "Ibu, bersabarlah. Aku akan segera menemuimu," batinnya.
Tak lama kemudian, Yuwen datang menemui Chen Li di kamarnya. "Kakak, bersabarlah. Aku tahu Kakak sangat ingin bertemu dengan Bibi. Bagaimana kalau kita jalan-jalan menglilingi kerajaan ini. Siapa tahu Kakak bisa mengingat sesuatu atau mungkin saja bertemu dengan Bibi." Ajak Yuwen yang membuat Chen Li mengangguk. "Baiklah."
Kedua pemuda itu kemudian keluar dari ruangan itu dan berjalan menyusuri setiap tempat di kerajaan itu. Hingga dia tiba di sebuah taman yang sengaja ditutup. Pandangannya tertuju pada pohon sakura yang masih berbunga. Di taman itu, terdapat taman bunga yang tak lagi terurus. Walau begitu, bunga-bunga itu tetap tumbuh subur dengan di dominasi bunga berwarna putih.
Sejenak, ingatannya mulai kembali ke masa lalu. Di bawah pohon itu, dia sering melihat ibunya menari. Bunga-bunga putih itu sering dipetiknya dan diberikan pada ibunya untuk diletakkan di dalam vas. Di bangku itu, dia ingat ayah dan ibunya sering duduk di situ sambil memangkunya dan menatap ke arah kolam yang dipenuhi ikan yang berenang bebas.
Chen Li menitikkan air mata. Kesedihan itu tak bisa dia sembunyikan. "Kakak, apa tempat ini begitu berarti bagimu?"
"Yuwen, di sinilah aku dilahirkan. Di tempat inilah aku dibesarkan. Di tempat inilah, aku melihat kebahagiaan kedua orang tuaku yang begitu saling mencintai. Namun, lihatlah tempat ini. Semuanya hancur dan tak terurus. Lelaki itu telah mengambil kebahagiaan keluargaku!!" ucapnya marah.
Yuwen yang begitu paham dengan apa yang kini dirasakan oleh Chen Li hanya bisa terdiam. Entah, apa yang harus dia ucapkan. "Lebih baik kita kembali sebelum orang melihat kita ada di sini." Chen Li kemudian pergi diikuti oleh Yuwen.
Di dalam kamarnya, Chen Li begitu gelisah. Rasanya, dia ingin kembali ke taman itu hingga membuatnya bertekad untuk kembali lagi ke taman itu nanti malam secara diam-diam.
Dengan menggunakan jubah hitam dan penutup wajah berwarna hitam, Chen Li terlihat mengendap dan berjalan sembunyi-sembunyi. Hingga dia tiba di balik tembok penghubung dengan taman itu. Sambil melihat sekeliling, Chen Li bersiap untuk melompat. Dengan ilmu beladiri yang dikuasainya, membuatnya dengan mudah berpindah ke dalam taman itu.
Chen Li berjalan menyusuri setiap sudut taman itu. Sinar bulan purnama yang menyinari tempat itu membuat Chen Li bisa melihat sekelilingnya. Tanpa di sadarinya, dia menitikkan air mata saat kakinya melangkah ke dalam ruangan itu. Walau sudah penuh dengan debu, tapi dia masih bisa melihat sedikit kenangan yang masih tersimpan di tempat itu.
Pemuda itu terduduk di lantai sambil menangis. Air matanya tak bisa dia tahan karena melihat sebuah mainan yang teronggok di lantai. Mainan yang biasa dimainkannya bersama sang ayah. "Ayah, aku sangat merindukanmu. Kenapa kita harus berpisah di saat kita sedang bahagia. Aku merindukanmu, Ayah," ucap Chen Li dengan tangis yang begitu memilukan.
Mengingat Kaisar Wang, kedua tangannya mengepal. Matanya begitu merah menahan amarah. "Aku harus membunuhnya!!" ucapnya sembari bangkit dan berniat untuk pergi membunuh Kaisar Wang.
"Jangan lakukan itu, Kak. Bersabarlah, sebentar lagi kita pasti akan membalas perbuatannya. Kakak, ingatlah pada ibumu, jangan buat dia kehilangan dirimu lagi." Yuwen tiba-tiba berdiri di belakangnya. Pemuda itu tahu, Chen Li pasti akan datang ke taman itu lagi. Karena itu, dia mengikutinya secara diam-diam.
"Apa yang kamu lakukan di sini, kembalilah"
"Lalu, Kakak kenapa ada di sini? Aku tahu, Kakak pasti akan datang ke sini lagi, makanya aku mengikutimu secara diam-diam."
"Aku hanya ingin melihat tempat lebih dekat. Aku harap kamu mengerti."
"Aku mengerti, Kak. Sekarang, jangan berpikir untuk membunuhnya karena Kakak pasti akan dituduh membunuh raja. Tahan amarahmu. Sebelum membunuhnya, kita harus membongkar semua kejahatannya biar semua orang tahu kekejamannya pada keluargamu," jelas Yuwen.
"Maafkan aku. Terima kasih karena sudah mengingatkanku. Aku tjdak akan bertindak seceroboh ini lagi."
Yuwen tersenyum dan menepuk pundak kakaknya itu. "Lebih baik kita segera kembali sebelum prajurit melihat kita." Kedua pemuda itu kemudian keluar dari taman itu dan kembali ke kamar mereka.
Keesokan harinya, seorang dayang datang dan membawakan makanan dan juga pakaian yang harus dipakai oleh Chen Li dan itu juga berlaku bagi Yuwen. Karena pagi itu, mereka akan diangkat menjadi pengawal pribadi untuk istri dan putri Kaisar Wang.
"Tuan, pakailah jubah pengawal ini. Hamba akan menunggu di luar dan setelah itu, hamba akan mengantar Tuan menemui Kaisar dan Nyonya Wang," ucap dayang itu yang kemudian keluar.
"Nyonya Wang? Apa mungkin, dia adalah ibuku?" batin Chen Li dengan perasaan campur aduk. Dia begitu ingin bertemu dengan ibunya hingga membuatnya tidak sabar. Jubah pengawal kemudian dipakainya dan langsung keluar menemui dayang yang sudah menunggunya itu. "Baiklah, antarkan aku ke sana."
"Baik, Tuan."
Dayang itu kemudian berjalan dan diikuti Chen Li di belakangnya. Di depan kediaman itu, dia bertemu dengan Yuwen yang juga mengenakan jubah yang sama dengan miliknya. "Kakak, apa Kakak sudah siap?" tanya pemuda itu.
"Aku sudah siap karena saat inilah yang aku tunggu. Yuwen, tetaplah ada di sampingku dan bantulah aku untuk menghadapi semua ini."
"Kakak, tenanglah. Selamanya, aku akan ada di sampingmu. Bukankah, aku adalah adikmu?" Yuwen tersenyum sambil menepuk pundak kakaknya itu. "Ayo, kita masuk."
Kedua pemuda itu kemudian masuk ke tempat itu tanpa ragu sedikitpun. Chen Li berjalan dengan perasaan bahagia yang begitu membuncah di dadanya. Rasa rindu akan sang bunda, kini akan terobati.
"Yang Mulia, kedua pengawal itu sudah datang," ucap Dayang Ling pada Kaisar Wang yang sementara duduk berbincang dengan istri dan putrinya itu.
"Baiklah, siapkan makanan dan minuman untuk mereka di taman. Aku akan menemui mereka di sana."
"Baik, Yang Mulia."
"Istriku, ikutlah denganku. Aku akan memperkenalkan kedua pemuda yang akan menjadi pengawalmu dan juga putri kita," ucap Kaisar Wang sambil meraih tangan istrinya itu dan merangkulnya mesra.
Sementara Guan Yin berjalan sambil merangkul tangan ibunya. Hingga mereka tiba di depan kedua pemuda itu yang sudah menunduk dan memberi hormat pada mereka.