The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 63



Mendengar percobaan pembunuhan terhadap Mei Yin membuat Liang Yi menjadi khawatir. Ingin rasanya dia pergi ke kerajaan dan menemui wanita itu, tapi itu tidak mungkin untuk dia lakukan. "Paman, jangan khawatirkan ibu, aku yang akan melindunginya. Saat ini, permaisuri sudah ditangkap oleh Kaisar karena menurutnya, dia adalah dalang dari percobaan pembunuhan terhadap ibu." Chen Li menjelaskan, namun itu tidak mengurangi rasa kekhawatiran di hati Liang Yi.


Melihat wajah Liang Yi yang terlalu mengkhawatirkan ibunya membuat Chen Li memberanikan diri untuk bertanya, "Paman, apakah Paman mencintai ibuku?"


Liang Yi menatap pemuda itu. "Apa Paman harus menjelaskan padamu?"


Chen Li mengangguk. "Jelaskan padaku, setidaknya aku ingin tahu tentang kisah cinta Paman."


Liang Yi tersenyum. "Ibumu adalah adik angkat dan juga sahabat Paman. Paman dan orang tuamu adalah sahabat, hingga Paman tidak sadar kalau Paman telah mencintainya. Bukan hanya Paman, tapi juga ayahmu. Ibumu wanita yang sangat baik, tapi nasibnya tidak sebaik itu. Di usia mudanya, dia harus kehilangan kakeknya karena dibunuh. Dia juga kehilangan cinta pertamanya, itupun karena dibunuh. Tak hanya sampai di situ, dia juga akhirnya kehilangan ayahmu, dan itu juga karena dibunuh." Liang Yi menarik nafas dan mengembuskannya perlahan.


"Paman mencintai ibumu, tapi Paman terpaksa mengalah untuk ayahmu karena Paman tahu, ayahmu sangat mencintainya bahkan rela mati untuknya. Selama hidup, Paman tak pernah lagi merasakan jatuh cinta pada wanita manapun, kecuali pada ibumu. Entah mengapa, rasa cinta padanya tak mudah untuk Paman singkirkan walau berulang kali Paman mencoba melupakannya, tapi Paman tidak bisa." Liang Yi tersenyum jika mengingat akan perasaannya itu.


"Apakah, cinta serumit itu, Paman?"


"Jika kamu mencintai seseorang, maka kamu akan rela melakukan apapun hanya untuk melihat dia bahagia. Kamu akan rela terluka hanya untuk melindunginya. Namun, jika dia sedih dan terluka, kamu juga akan merasakan apa yang dia rasakan. Hatimu akan goyah saat melihat air matanya. Hatimu akan luluh saat melihatnya menangis di depanmu. Ah, cinta itu rumit, tapi sangat indah." Liang Yi tersenyum saat mengingat senyuman wanita yang sangat dicintainya itu.


Chen Li terdiam. Kata-kata Liang Yi coba untuk dia resapi. "Apakah, aku bisa merasakan cinta itu?" batinnya.


"Chen Li, tolong jaga ibumu. Andai Paman mampu, saat ini juga Paman ingin membawanya pergi dari sisi lelaki itu, tapi Paman belum sanggup selama balas dendam atas kematian ayahmu belum bisa terwujud. Paman ingin segera menyelesaikannya agar Paman bisa membawa ibumu dan berada di sisi Paman lagi."


"Jangan khawatir, Paman. Tidak lama lagi, kita bisa membalaskan dendam ayah. Aku sendiri yang akan membalaskan dendam ayah." Chen Li terlihat yakin.


"Aku sudah mendapatkan informasi dari mata-mata kita di kerajaan. Sepertinya, ada sesuatu rencana dari permaisuri dan penasehatnya. Penasehatnya itu sering terlihat keluar dari kerajaan dan setelah diikuti secara diam-diam, ternyata dia pergi ke wilayah daratan timur. Sepertinya, mereka punya rencana tersembunyi. Karena itu, aku berusaha mendekati Putri Xia dan ternyata aku tahu kalau dia mencintaiku."


"Jadi, kamu ingin memanfaatkan dia?"


Chen Li mengangguk.


"Chen Li, ingatlah. Anak itu tidak bersalah, orang tuanya yang melakukan dosa bukan dia. Paman harap kamu bisa lebih bijaksana."


"Aku tahu, Paman. Namun, itulah jalan yang sudah terlanjur aku tempuh dan aku tidak bisa untuk mundur lagi."


Sementara Putri Xia, saat ini sedang berbahagia karena cintanya ternyata tak bertepuk sebelah tangan. "Putri Xia, sepertinya Anda terlihat bahagia? Ada apa?" tanya Dayang Yu saat melihat gadis itu yang selalu tersenyum.


"Tidak ada apa-apa." Gadis itu berusaha menutupi rasa bahagianya dengan berpura-pura membaca buku.


"Dayang Yu, siapkan aku bekal makan siang."


"Bekal makan siang? Untuk Nona?" Dayang Yu terlihat bingung karena baru kali ini permintaan nonanya itu di luar kebiasaannya.


"Iya, untukku."


Walau terlihat heran, tapi Dayang Yu tetap mempersiapkan bekal makan siang sesuai permintaan Putri Xia. "Ini bekal makan siangnya. Memangnya, Nona mau kemana?"


"Bukan urusanmu."


Gadis itu kemudian keluar dari kamarnya dan berniat menemui kekasihnya. Gadis itu sudah terlihat cantik dengan bedak tipis dan gincu merah yang mewarnai bibirnya yang selalu merekah.


Setibanya di depan pintu utama kediaman Mei Yin, langkahnya terhenti. "Kamu mau kemana?" Suara itu menghentikan langkahnya.


"Paman Yuan?" Putri Xia terkejut dan menyembunyikan bekal makan siang di belakang punggungnya.


"Kembalilah, untuk apa kamu datang ke tempat ini? Apa kamu tidak kasihan pada ibumu yang sementara di kurung di dalam penjara?"


"Sebentar saja, Paman. Aku hanya ingin mengunjungi ibu angkat."


"Ibu angkat? Wanita yang sudah menghancurkan ibumu kamu panggil ibu angkat? Sebaiknya kamu kembali kalau tidak Paman akan menghukummu!!" Lelaki itu berjalan mendekatinya dan menarik tangannya dengan paksa.


"Lepaskan tanganku, Paman. Aku mohon." Putri Xia tampak memohon dan berusaha untuk berontak hingga bekal makan siang yang akan dia berikan pada Chen Li terjatuh dan berhamburan di atas tanah.


"Tuan, lepaskan dia!!"


Putri Xia menatap ke arah orang itu. "Lian?"


"Lepaskan dia, jika tidak aku akan melaporkanmu pada Kaisar Wang." Chen Li berjalan mendekati mereka dan meraih tangan Putri Xia dari cengkraman lelaki itu. Gadis itu kini bersembunyi di belakangnya.


"Siapa kamu berani membentakku, hah? Kamu hanya pengawal perempuan itu dan berani-beraninya kamu membentakku? Anak tidak tahu diri!! Tidakkah orang tuamu mengajarkanmu untuk berkata sopan pada orang yang lebih tua?"


Chen Li mengepalkan kedua tangannya. "Jangan pernah menyebut orang tuaku dengan mulut kotormu itu karena aku tidak akan pernah memaafkan orang yang telah menghina orang tuaku." Chen Li terlihat marah. Suara gemeretak gigi gerahamnya terdengar hingga membuat Putri Xia menggenggam tangannya.


"Kakak, ada apa?" tanya Yuwen yang tiba-tiba datang dengan Guan Yin.


"Tidak ada apa-apa. Putri Xia, masuklah." Gadis itu masih menggenggam tangan Chen Li dan memandangi bekal makan siang yang sudah berhamburan itu. Sementara Yuan, sudah meninggalkan mereka dengan perasaan yang penuh amarah.


"Maafkan aku." Putri Xia menitikkan air mata dan duduk berlutut di depan makanan itu.


"Untuk siapa makanan itu?" tanya Guan Yin yang sudah duduk di sampingnya.


Putri Xia tidak menjawab, hanya tangisan yang terdengar dari mulutnya.


"Nona, sebaiknya kita tinggalkan mereka," bisik Yuwen yang membuat gadis itu paham. Mereka kemudian meninggalkan Putri Xia dan Chen Li yang masih berdiri menatapnya.


"Apa makanan itu untukku?" Putri Xia mengangguk dengan menahan tangis.


"Bangkitlah, dan jangan menangis lagi. Sudahlah, jangan dipikirkan. Lain kali, kamu boleh membawakanku bekal makan siang lagi untukku." Chen Li meraih tangannya dan berdiri di depannya. Dengan lembutnya, Chen Li menghapus air mata di pipi Putri Xia hingga membuat gadis itu memeluknya.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat kedekatan mereka. Tangannya mengepal hingga membuatnya menahan murka. "Aku harus cepat, kalau tidak rencanaku bisa gagal." Orang itu kemudian pergi.


"Yuan." Permaisuri Yuri berdiri dan menghampiri lelaki itu. Di balik jeruji besi, mereka saling menggenggam tangan.


"Yuri, maafkan aku karena baru datang menemuimu. Aku harus mencari waktu yang tepat karena Kaisar Wang selalu memperhatikan gerak-gerikku."


"Apakah, kamu yang melakukannya?"


Lelaki itu mengangguk. "Maafkan aku. Aku melakukannya karena aku marah, wanita itu sudah diangkat menjadi permaisuri dan itu artinya posisimu akan terancam."


"Aku sudah tidak peduli lagi dengan posisiku. Aku hanya ingin secepatnya keluar dari sini karena aku sudah tidak tahan disiksa oleh mereka. Yuan, cepat singkirkan mereka, aku ingin melihat mereka mati!!" Wanita itu menangis dan memohon. Wajahnya yang cantik kini terlihat berantakan dengan sisa darah yang masih menempel di bibirnya. Tak hanya itu saja, di punggungnya terlihat bercak darah karena luka cambukan.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu menderita, tapi tunggu saja karena Kaisar Wang pasti akan datang menemuimu."


"Apa maksud ucapanmu itu?"


"Anak panah yang mengenai mereka adalah anak panah beracun. Racun itu tidak mudah terdeteksi. Secara perlahan, luka mereka akan membusuk di dalam dan menggerogoti organ dalam mereka. Jika Kaisar menyadarinya, maka dia akan memohon untuk mendapatkan obat penawarnya darimu dan saat itulah, mintalah untuk keluar dari sini, tapi obat penawar itu hanya untuk satu orang dan di saat itulah kita akan lihat dia akan memberikan obat itu pada istrinya atau pada dirinya sendiri."


Wanita itu menyunggingkan senyum saat Yuan menjelaskan semuanya. Rasanya, dia sudah tidak sabar untuk melihat kematian di antara kedua orang yang sangat dibencinya itu.


"Yuri, aku akan membawa Putri Xia ke Wilayah Dataran Timur, rupanya dia telah menjalin hubungan dengan pengawal pribadi wanita itu. Kalau kita lengah, maka rencana kita akan gagal."


"Lakukan saja jika menurutmu itu yang terbaik. Aku sudah tidak sabar untuk melihat kehancuran kerajaan ini."


Dan benar saja, luka yang di alami Kaisar Wang tidak benar-benar pulih. Walau luka di luar sudah kering, namun rasa sakit masih sering dirasakannya hingga membuatnya meringis kesakitan. "Apa mungkin panah itu beracun? Jika itu benar, maka Mei Yin dalam bahaya." Kaisar Wang memegang kembali dadanya yang terasa sakit dan pergi menemui Mei Yin di kediamannya.


Dilihatnya Mei Yin yang kini sedang berbaring. Dengan lembutnya, dia mengelus wajah istrinya itu dan mengecup keningnya. "Aku tidak akan membiarkanmu mati. Lebih baik, aku yang mati daripada aku melihatmu mati." Kaisar Wang duduk di samping Mei Yin dan mengelus wajahnya dengan lembut hingga membuatnya terkejut.


"Ada apa kamu ke sini? Bukankah, aku sudah bilang untuk tidak menemuiku lagi?" Mei Yin bangkit dari tempat tidurnya dan berusaha menghindar dari Kaisar Wang.


"Maafkan aku. Aku hanya merindukanmu dan ingin melihat keadaanmu." Kaisar Wang berjalan mendekatinya dan ingin memeluknya, tapi Mei Yin segera menghindar. "Jangan lagi memelukku. Aku mohon, jangan biarkan aku semakin membencimu. Aku berterima kasih karena kamu sudah menolongku, tapi aku tidak akan pernah bisa melupakan semua perbuatanmu pada keluargaku."


Kaisar Wang terdiam. Dia akui, kesalahannya itu tak mudah untuk dimaafkan. "Apakah, semua yang kita lalui selama ini hanyalah sandiwara? Apakah kehadiran Guan Yin juga karena sandiwara?" Kaisar Wang tampak menitikkan air mata.


"Benar, semua itu sandiwara!! Apa kamu puas? Aku membencimu, sangat membencimu!! Kalau kamu tidak terima, silakan bunuh aku!!" Mei Yin menangis hingga membuatnya terduduk sambil menahan lengannya yang terasa sakit.


Melihat Mei Yin yang kesakitan membuat Kaisar Wang mendekatinya. "Istriku, tenanglah."


"Pergi dan jangan sentuh aku!!" Mei Yin menghempaskan tangan Kaisar Wang yang mencoba menyentuhnya.


"Maafkan aku atas perbuatanku di masa lalu. Aku tahu aku salah, tapi itu karena aku mencintaimu. Istriku, biarkan aku merawat lukamu itu." Kaisar Wang tampak memohon karena melihat Mei Yin yang masih meringis kesakitan.


"Istriku, biarkan aku menebus kesalahanku. Aku mohon, biarkan aku merawatmu. Kamu boleh membenciku asalkan jangan memintaku utuk menjauhimu." Kaisar Wang masih memohon walau rasa sakit tiba-tiba mulai menyerang dadanya, tapi dia tidak peduli.


Mei Yin menatap wajah lelaki itu yang kini menitikkan air mata dan rasa khawatir yang terlihat di wajahnya itu. "Apa kamu tetap mencintaiku walau kamu tahu selama ini aku sudah menipumu?"


Kaisar Wang mengangguk dan tersenyum padanya. "Apapun yang telah kamu lakukan padaku, aku takkan marah apalagi membencimu. Walau hanya sandiwara, aku tidak peduli karena yang aku tahu aku sangat mencintaimu."


"Aku mohon, jangan lagi mencintaiku. Jangan buat aku menjadi wanita yang jahat di depanmu. Aku membencimu, bukan mencintaimu, jadi aku mohon jangan lagi mencintaiku." Mei Yin menangis karena dia tidak ingin terlihat kejam.


"Kamu boleh meminta apapun dan aku akan turuti permintaanmu itu, tapi permintaanmu kali, maaf, aku tidak bisa penuhi itu. Aku akan selamanya mencintaimu walau kamu membenciku. Aku akan menebus kesalahanku di masa lalu walau aku sadar, itu sudah terlambat bagiku." Tanpa peduli dengan perkataan Mei Yin, Kaisar Wang lantas mengangkat tubuh Mei Yin dan diletakkannya di atas ranjang.


"Tunggu aku. Aku akan membawakan obat untukmu." Kaisar Wang kemudian keluar dari kamar itu dan menuju ke penjara. Baru saja dia melangkahkan kakinya di pintu utama, tiba-tiba dia memuntahkan darah hitam.


"Ayah, apa yang terjadi pada Ayah?" tanya Guan Yin yang tiba-tiba berlari ke arah Kaisar Wang yang terlihat lemah.


"Ayah tidak apa-apa, Nak. Pergilah temani ibumu, saat ini dia pasti memerlukanmu." Kaisar Wang kemudian pergi menuju penjara dan meninggalkan Guan Yin yang berusaha menahan air mata.


"Ayah, apa yang sudah ayah lakukan hingga ibu membencimu? Apa aku lahir karena keegoisan kalian?" Guan Yin menangis hingga membuat Yuwen mendatanginya.


"Nona, ada apa?"


Gadis itu menghapus air matanya dan meninggalkan Yuwen tanpa mengucapkan sepatah kata.


Di dalam penjara, Permaisuri Yuri tampak tersenyum sinis saat tahu Kaisar Wang datang padanya. "Apa kamu datang untuk meminta obat penawar dariku?"


"Dasar perempuan iblis!! Apa benar kamu yang merencanakan semua ini?"


"Kenapa? Apa sekarang kamu takut mati atau kamu takut perempuan itu yang akan mati?"


Kaisar Wang sangat geram hingga membuatnya menggoyangkan terali besi hingga membuat Permaisuri terkejut.


"Berikan obat penawar itu padaku dan aku akan melepaskanmu."


Permaisuri tertawa hingga membuat wajahnya memerah. "Apa sekarang kamu sedang berunding denganku? Aku menyesal karena baru melakukannya sekarang, andai aku membunuhnya dari dulu mungkin saja sekarang kita masih bersama."


"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar ocehanmu. Berikan saja obat penawar itu padaku, sekarang!!"


"Baiklah, tapi lepaskan aku dulu. Setelah itu, aku akan memberikanmu obat penawarnya, tapi obat itu hanya untuk satu orang. Terserah kamu akan berikan untuknya atau untukmu karena yang aku tahu salah satu dari kalian cepat atau lambat pasti akan mati."


"Pengawal, lepaskan dia." Perintah Kaisar Wang yang seakan tidak peduli dengan ucapan wanita itu.


"Aku tidak akan membiarkannya mati. Kalau aku harus mati karena racun ini, mungkin itu adalah hukuman buatku." Kaisar Wang menitikkan air mata sambil menyentuh dadanya yang rasanya seperti terbakar.


Permaisuri terlihat tersenyum puas saat melihat Kaisar Wang yang meringis kesakitan. "Lihat saja, kalian pasti akan menyesal karena sudah membuatku menderita."