
Di dalam kamarnya, Putri Xia masih terjaga. Hari yang sudah larut malam tidak membuat matanya terpejam. Gadis itu sepertinya sedang gelisah karena memikirkan seseorang. "Aku tidak tahu siapa namanya. Ah, semua itu gara-gara Dayang Yu," gerutu gadis itu dengan wajahnya yang cemberut.
Rupanya, pertemuannya dengan Chen Li sudah membuat gadis itu terkesima. Bagaimana tidak, gadis yang selama ini tidak pernah dibela bahkan diakui keberadaannya, kini dibela oleh seorang pemuda yang tak dikenalnya. Dan itu, membuat hatinya tersentuh.
Sementara Chen Li, sudah memutuskan untuk membagi kisah hidupnya dengan seseorang yang sudah menggoyahkan hatinya. Huanran, gadis yatim piatu yang baik hati dan selalu ceria, telah membuatnya jatuh cinta. Untuk pertama kalinya, seorang wanita mampu menggoyahkan hatinya. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena kebaikan dan juga perhatiannya.
"Huanran, aku tidak yakin apa kamu akan percaya atau tidak dengan ceritaku ini, tapi aku ingin membagi cerita hidupku dan juga kesedihanku padamu." Chen Li menatap wajah cantik yang kini sedang menatapnya.
"Ceritakanlah kesedihanmu itu padaku karena aku tahu bagaimana rasanya jika hati kita sedang sedih dan tidak punya tempat untuk membagi kesedihan itu. Katakanlah, aku akan mendengarkan," ucap Huanran dengan sebuah senyum di sudut bibirnya.
Chen Li membalas senyum gadis itu walau agak sedikit dipaksakan. Dengan memantapkan hatinya, pemuda itu mulai menceritakan masa kecilnya yang masih tersisa dalam ingatannya. Masa kecil yang penuh bahagia bersama orang tuanya, hingga prahara itu datang dan menghancurkan keluarganya.
Chen Li menitikkan air mata saat menceritakan itu semua. Terlebih saat dia tahu kalau ternyata ayahnya sudah meninggal dan itu membuatnya semakin terluka. "Apa kamu tahu siapa ibuku?" tanya Chen Li pada gadis itu.
"Dia adalah penari terhebat yang ada di negeri ini. Dia adalah murid dari Nyonya Hua Feng yang sekaligus adik angkatnya dan dia adalah Permaisuri yang terpaksa bersembunyi hanya karena keegoisan Kaisar yang tega merebutnya dariku dan juga ayahku," ucap Chen Li dengan air matanya yang jatuh. Kedua tangannya mengepal saat mengingat itu semua.
Huanran terkejut dan tanpa sadar, gadis itu ikut menitikkan air mata. Dia merasa kehidupan pemuda itu sangat memilukan dan tak sebanding dengan kisah hidupnya. "Chen Li, menangislah. Kalau itu bisa membuat hatimu tenang, maka menangislah. Aku akan tetap ada di sini menemanimu. Jika kamu sudah puas menangis, maka angkatlah wajahmu dan buang rasa sedihmu itu karena sekarang tujuanmu adalah mengembalikan apa yang sepatutnya menjadi milikmu. Temuilah ibumu, karena dia pasti sangat merindukanmu. Sebagai sahabat, aku akan mendukung apapun yang akan kamu lakukan," ucap gadis itu sambil mengelus lembut punggung Chen Li dan memeluknya.
Dalam pelukan gadis itu, Chen Li menangis, tapi tak lama karena rasanya air matanya sudah kering karena sudah terlalu seringnya dia menangis.
Chen Li mengangkat wajahnya dan tersenyum. "Baiklah, aku akan segera menemui ibuku. Bagaimanapun caranya, aku harus masuk ke kerajaan dan mengembalikan apa yang menjadi milikku dan juga bertemu dengan ibu."
Huanran tersenyum dan menghapus sisa air mata di wajah pemuda itu. "Semangatlah dan jangan bersedih lagi. Ayo, kita kembali. Mereka pasti mengkhawatirkanmu," ucapnya sambil meraih tangan Chen Li dan mengajaknya untuk bangkit.
"Aku sangat ingin bertemu dengan ibumu dan melihatnya menari. Ah, ibumu pasti wanita yang sangat cantik," puji Huanran yang membuat Chen Li tersenyum.
"Aku janji, aku pasti akan mempertemukanmu dengannya karena aku juga sangat ingin bertemu dengannya dan ingin melihatnya menari sama seperti dulu."
Setibanya di wisma tari, Chen Li lantas menemui Liang Yi dan juga Hua Feng yang sudah menunggunya. Melihatnya datang, mereka berdua segera menghampirinya. "Chen Li, apa kamu baik-baik saja?" tanya Liang Yi khawatir.
"Tenanglah, Paman, aku baik-baik saja. Paman, aku ingin masuk ke kerajaan, tapi aku tidak tahu dengan cara apa agar aku bisa lolos masuk ke sana."
Liang Yi menepuk pundaknya dan tersenyum. "Baiklah, kalau kamu sudah yakin, minggu depan kamu dan Yuwen harus bersiap-siap karena kerajaan sedang membuka pendaftaran untuk menerima pejabat baru dan jika kalian berhasil mengalahkan semua kandidat, Paman yakin kalian akan diangkat menjadi orang kepercayaan Kaisar."
"Chen Li, sebaiknya kamu mengganti namamu agar tidak ada yang mengenalimu. Sekarang namamu adalah Lian karena nama itu sangat berarti bagi ibumu," ucap Hua Feng.
"Baiklah, Paman, Bibi, mulai sekarang aku akan menggunakan nama Lian. Yuwen, aku mohon bantuanmu."
Pemuda itu tersenyum dan merangkul pundaknya. "Kakak, aku terlahir untuk membantumu. Aku, Yuwen, akan selalu menjagamu dengan nyawaku. Bukankah, kita adalah saudara?" ucap Yuwen yang membuat Chen Li memeluknya.
"Baiklah, sekarang persiapkanlah diri kalian. Teruslah berlatih dan tunjukkan kehebatan kalian pada Kaisar itu dan ambil perhatiannya. Dengan begitu, kalian akan bisa dengan mudah membuatnya percaya."
"Baik, Paman." Kedua pemuda itu mengangguk kompak.
Chen Li menghampiri Huanran yang berdiri tidak jauh darinya. "Jagalah dirimu, karena kita mungkin tidak akan bertemu untuk waktu yang lama. Walau pertemuan kita sangatlah singkat, tapi bagiku pertemuan kita sangat berharga. Suatu saat nanti, aku berharap kita bisa bertemu lagi," ucap Chen Li yang membuat gadis itu menitikkan air mata.
"Pergilah dan selamatkan ibumu. Aku akan selalu mendoakanmu." Chen Li mengangguk dan perlahan berjalan meninggalkannya.
"Chen Li, tunggu sebentar," panggil Huanran sambil berlari mengejarnya.
"Pakailah ini dan kembalikan padaku saat kamu telah berhasil mendapatkan kembali hakmu. Jagalah dirimu baik-baik dan jangan sampai kamu terluka." Huanran melepaskan cincin giok berwarna merah yang melingkar di jari manisnya dan memakaikan cincin itu di jari kelingking Chen Li.
"Aku berjanji, aku pasti akan mengembalikannya padamu." Chen Li tersenyum dan melangkah pergi meninggalkannya.
"Huanran, tunggu aku. Aku pasti akan kembali dan mengembalikan cincin ini untukmu dan juga rasa cinta yang tak mampu untuk aku ungkapkan saat ini," batin Chen Li yang perlahan mulai menghilang di kegelapan malam.
Pengumuman tentang penerimaan pejabat baru mulai dipasang di setiap sudut negeri itu. Tak sedikit rupanya yang berminat sampai-sampai di hari pertama penerimaan, halaman istana penuh dengan pemuda-pemuda yang ingin mengadu nasib menjadi pejabat istana.
Penerimaan yang bersifat umum itu dihadiri dari berbagai kalangan. Orang biasa, bangsawan, pelajar, hingga cendikiawan berbondong-bondong mendaftar dan berharap dirinyalah yang terpilih. Tak hanya tentang ilmu ketatanegaraan, filsafat dan juga sastra, tapi ilmu beladiri pun dijadikan nilai tambah untuk bisa meloloskan mereka.
Chen Li dan Yuwen sudah duduk di tengah halaman istana dengan peserta lainnya. Di depan mereka, ada selembar kertas dan juga kuas untuk menulis jawaban dari soal yang akan diberikan. Salah satu pejabat istana yang menjadi juri kemudian membacakan salah satu pertanyaan.
Setelah mendengar pertanyaan, peserta-peserta itu mulai berpikir dan mencari jawaban yang menurut mereka tepat. Chen Li dan Yuwen yang sudah menghafal di luar kepala semua pelajaran yang diajarkan Liang Yi dengan mudah bisa menjawab pertanyaan itu.
Beberapa puluh orang terlihat berdiri dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa. Sementara Chen Li dan Yuwen masih lolos hingga ke pertanyaan selanjutnya.
Rupanya, pertanyaan-pertanyaan itu terlalu gampang bagi Chen Li dan Yuwen. Bagaimana tidak, Liang Yi dan Pengawal Yue yang merupakan orang kepercayaan raja terdahulu sangat tahu betul dengan setiap pertanyaan yang akan dilontarkan di setiap penerimaan pejabat baru.
"Baiklah, sudah ada 30 orang yang masih bertahan. Untuk saat ini, kalian dinyatakan lolos, tapi besok kalian masih harus menjalani satu ujian lagi. Dan jika kalian berhasil, maka kalian dinyatakan lulus." Pejabat istana itu kemudian pergi.
"Kakak, kita harus lulus dari ujian besok." Yuwen tampak bersemangat dan berjalan meninggalkan tempat itu, sedangkan Chen Li, matanya liar seakan sedang mencari sesuatu.
Sementara Mei Yin, sangat berharap kalau saat ini Chen Li sedang mengikuti ujian itu. Rasanya, dia ingin keluar dari kediamannya dan melihat para peserta yang mengikuti ujian dan berharap menemukan anaknya di antara mereka. Namun, apalah dayanya karena hingga sekarang dia tidak bisa meninggalkan tempat itu.
"Ibu, Ibu kenapa gelisah?" tanya Guan Yin saat melihat Mei Yin yang berjalan mondar-mandir di depan pintu utama.
"Tidak apa-apa. Kembalilah ke kamarmu, Ibu hanya ingin berdiri di sini."
"Ibu, aku tahu perasaan Ibu. Bertahun-tahun terkurung di tempat ini membuat Ibu ingin melihat keluar, tapi itu tidak mungkin karena ayah pasti tidak akan mengizinkan." Mei Yin sadari itu, tapi rasa ingin tahu tentang putranya terus mengganggunya.
"Putriku, tidakkah kamu juga ingin keluar dari tempat ini?"
Gadis itu tersenyum dan memeluk ibunya. "Itu tidak masalah bagiku. Selama aku bersama Ibu, itu tidak masalah bagiku," ucap gadis itu yang membuat Mei Yin memeluknya erat. Gadis itu telah tumbuh menjadi gadis yang baik. Dia begitu menyayangi ibunya dan rela terkurung di tempat itu asalkan bersama ibunya.
"Ibu, jangan bersedih. Sebaiknya, Ibu mengajarkan aku tarian sulit itu karena aku belum menghafal gerakan-gerakannya," ucap gadis itu sambil meraih tangan ibunya menuju bawah pohon sakura.
Mei Yin tersenyum dan mengikutinya. Gadis itu terlihat mulai menari dengan senyum di bibirnya. Bagi Mei Yin, Guan Yin adalah penyemangat hidupnya. Walau awalnya, dia adalah anak yang tak diinginkan, tapi kini dia adalah anak yang disayanginya.
"Ayah." Guan Yin berlari pelan menuju sang ayah yang baru saja datang. Kaisar Wang tersenyum dan memeluk putrinya itu. "Ayah, boleh aku minta sesuatu?" tanya gadis itu manja.
"Katakanlah, Putriku. Apapun keinginanmu, akan Ayah kabulkan."
Gadis itu menatap ibunya. "Ayah, tak bisakah Ayah mengizinkan aku dan Ibu jalan-jalan di luar? Sebentar saja Ayah. Aku sudah lama tidak jalan-jalan ke pasar bersama Ibu. Aku mohon Ayah, lagipula dari tadi Ibu gelisah karena ingin jalan-jalan di luar mungkin karena Ibu bosan di tempat ini," ucap Guan Yin yang membuat Kaisar Wang menatap ke arah istrinya itu.
"Baiklah, kita bertiga akan jalan-jalan di luar. Sekarang, apa kamu senang?" Gadis itu mengangguk sambil memeluk ayahnya.
"Bersiap-siaplah. Tunggu Ayah karena Ayah ingin bicara sebentar dengan ibumu."
"Baik, Ayah." Guan Yin kemudian pergi dan tersenyum pada ibunya. Gadis itu tahu caranya meraih perhatian ayahnya karena ayahnya itu sangat menyayanginya dan akan menuruti kemauannya.
Kaisar Wang berjalan mendekati Mei Yin dan duduk di sampingnya. "Istriku, maafkan aku jika kamu bosan di tempat ini. Baiklah, aku akan mengajakmu dan putri kita jalan-jalan di luar. Ayo, tersenyumlah. Aku ingin melihat senyumanmu itu," ucap Kaisar Wang sambil mengelus lembut wajah istrinya itu.
Mei Yin tersenyum di depannya hingga membuat Kaisar Wang mengecup mesra keningnya. "Aku sangat mencintaimu," ucap Kaisar Wang sambil memeluk tubuh istrinya itu.
Walau tak muda lagi, tapi rasa sayang dan cinta yang dirasakan Kaisar Wang pada Mei Yin tak pernah berubah. Lelaki itu tak pernah menemui Permaisuri lagi, bahkan dia tidak mempunyai selir. Baginya, Mei Yin adalah satu-satunya wanita di dalam hati dan juga kehidupannya.
Sebuah kereta sudah disiapkan di depan pintu utama. Guan Yin yang terlihat cantik sudah duduk di dalam kereta itu. Sementara Kaisar Wang tidak ingin jauh dari istrinya dan duduk berdua di atas punggung kudanya.
Kali ini, Mei Yin tidak lagi memakai penutup wajah. Wajahnya yang cantik dengan tatapan matanya yang biru masih terlihat walau umurnya sudah tak lagi muda. Rambutnya yang dulu hitam kini perlahan mulai memutih di sisi dahinya.
Mereka kemudian meninggalkan tempat itu. Setiap melewati dayang, dayang-dayang itu menunduk memberi hormat. Kebaikan hati Mei Yin rupanya membuat dayang-dayang istana sangat menghormatinya dan mereka masih memandang Mei Yin sebagai seorang Permaisuri.
Tak disangka, Permaisuri Yuri melihat mereka. Tanpa berkata apapun, dia hanya menatap tanpa ekspresi. "Apa ibu cemburu padanya?" tanya Putri Xia yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
Melihat putrinya yang sudah berdiri di sampingnya membuat Permaisuri tersenyum kecut. "Apa kamu tidak cemburu dengan putri mereka?"
"Untuk apa aku cemburu padanya? Ah, aku ingin bertanya, apa yang sudah Ibu lakukan hingga ayah tak pernah sekalipun datang menemui Ibu? Apa jangan-jangan, ayah tidak pernah mencintai Ibu dan aku adalah anak yang tak diharapkannya?" Wajah permaisuri memerah saat mendengar ucapan putrinya itu. Dengan marah, Permaisuri menampar wajahnya dan mengusirnya dari tempat itu.
"Pergi kamu dari sini!! Apa pantas kamu bicara seperti itu pada ibumu?" Putri Xia tidak bergeming. Pipinya terasa sakit, tapi itu tak seberapa dengan rasa sakit yang harus dia tanggung selama ini. Rasa sakit karena kehadirannya sama sekali tidak diharapkan orang tuanya.
Gadis itu kemudian pergi dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya. Melihat sikap ibunya padanya, dia jadi semakin yakin kalau mereka memang tidak peduli padanya.
Di dalam kamarnya, dia menangis sesenggukan. Rasanya, dia lebih memilih mati daripada harus menanggung rasa benci dari kedua orang tuanya. Namun, wajah seseorang mengalihkan rasa sedihnya. Wajah seorang pemuda yang mulai mengganggu hatinya. "Aku ingin bertemu denganmu sekali saja. Aku ingin menangis di depanmu dan meminta belas kasihmu. Kalau itupun tak bisa kamu berikan, setidaknya biarkan aku bersandar untuk terakhir kali di pundakmu. Dewa, aku mohon, pertemukan aku sekali lagi dengannya," ucapnya lirih dengan air mata yang kini telah membasahi wajah cantiknya.