
Mayat-mayat prajurit Kerajaan Wu di lempar hingga saling menumpuk. Mereka tidak mungkin membiarkan mayat-mayat itu membusuk karena itu bisa sangat mengganggu. Mayat-mayat yang sudah menumpuk itu akhirnya dibakar. Pemandangan yang selalu sama setiap mereka selesai berperang.
Prajurit-prajurit yang terluka dibawa ke tempat mereka berkemah dan dirawat disana. Sedangkan prajurit-prajurit yang telah meninggal terpaksa mereka kuburkan secara massal. Mayat-mayat itu tidak bisa dibawa pulang ke keluarga mereka karena kondisi mayat yang kebanyakan telah hancur mengenaskan.
"Obati luka kalian, jika memungkinkan dua hari lagi kalian akan kembali ke keluarga kalian," ucap Jenderal Wang Li pada semua prajuritnya. Mendengar penuturan Jenderal Wang Li membuat mereka tersenyum, tapi tidak lama karena mereka masih merasa sedih setelah kehilangan sahabat dan teman yang sudah beberapa tahun ini berjuang bersama mereka.
Jenderal Wang Li masuk ke dalam tendanya. Dia terduduk lesu sambil menatap sekujur tubuhnya yang masih basah oleh darah dan air hujan yang telah bercampur hingga membasahi sekujur tubuhnya. "Kenapa kalian membuatku menjadi pembunuh seperti ini? Apa aku tidak pantas untuk bisa hidup berdampingan dengan kalian hingga kalian selalu menyuruhku berperang?" ucap Jenderal Wang Li sambil mengepalkan kedua tangannya.
Sejak masih muda, Wang Li remaja selalu dijauhkan dari lingkungan kerajaan. Dia tidak pernah sedikitpun merasakan kasih sayang dari pamannya yang merupakan raja terdahulu. Sejak dia dibawa oleh ayahnya ke kerajaan, dia diperlakukan seperti bukan anggota keluarga kerajaan. Bahkan, dia dilarang untuk bergaul dan berteman, padahal saat itu dia ingin sekali bermain dengan Zhao Li dan Liang Yi yang selalu bermain bersama-sama.
Ayahnya adalah anak yang tertua dan berhak untuk menjadi putra mahkota, tapi karena rasa cintanya yang terlalu besar pada istrinya yang hanya dari kalangan rakyat biasa, memaksanya untuk meninggalkan kedudukan itu. Dan lagi, ayahnya tidak terlalu terobsesi dengan takhta karena dia ingin hidup bebas tanpa aturan dan kekangan dari siapapun. Karena itu, adiknya yang merupakan raja terdahulu dan juga ayah dari Raja Zhao Li yang mendapatkan kedudukan itu.
Di usianya yang masih muda, raja terdahulu harus memimpin negeri dan atas usul dari orang-orang terdekatnya, Wang Li muda dijauhkan dari istana karena mereka takut Wang Li akan merebut posisi yang seharusnya menjadi milik ayahnya. Wang Li muda sama sekali tidak berpikir seperti itu hingga suatu hari seorang mantan perdana menteri yang pernah menjabat di masa itu, menceritakan kisah itu padanya. "Kalau kamu mau, kamu bisa dengan mudah meraih takhta yang dulu seharusnya menjadi milikmu. Ayahmu adalah Putra Mahkota dan kamu berhak untuk menjadi raja selanjutnya," ucapan mantan perdana menteri itu kembali terngiang di telinganya.
Sudah dari dua tahun yang lalu dia mendengar kata-kata itu, tapi dia berusaha untuk tidak mempedulikannya. Baginya, kedudukan itu hanya akan menjadikannya raja yang haus akan kekuasaan. Dia tidak ingin menjadi orang seperti itu.
Wang Li, walaupun tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya, tapi tidak menjadikannya anak yang pendiam, hanya saja dia dipaksa untuk jadi pendiam. Dan itu membuatnya pandai menyembunyikan perasaannya.
Di depan orang, dia terlihat berwibawa dan tegas dengan wajahnya yang tidak pernah tersenyum. Pembawaannya yang selalu tertutup membuat orang akan menganggap kalau dia adalah orang yang pendiam dan tidak mudah bergaul hingga membuat dirinya tidak mudah untuk didekati.
Di usianya yang hanya terpaut tiga tahun dengan Raja Zhao Li, sepatutnya dia sudah memiliki seorang istri bahkan mungkin beberapa orang anak. Namun, Jenderal Wang Li bukanlah sosok pria yang mudah untuk jatuh cinta. Setiap wanita yang ingin dekat dengannya, akan mundur secara perlahan karena wanita-wanita itu akan dia tinggalkan tanpa berkata apapun. Sikapnya yang selalu dingin di depan wanita, membuat dia dijauhi oleh wanita-wanita itu.
*****
Sebelum pasukan Jenderal Wang Li meninggalkan Wilayah Dataran Timur, Putri Yuri sudah menyiapkan sebuah pesta kecil-kecilan untuk merayakan kemenangan mereka atas Kerajaan Wu.
"Jenderal, Putri Yuri mengundang Anda untuk datang ke kediamannya," ucap salah seorang anak buahnya yang sudah berdiri di depannya.
"Baiklah, aku akan segera ke sana," jawab Jenderal Wang Li sambil berdiri dari tempat duduknya.
Rupanya, sejak sore tadi Putri Yuri sudah mengirimkan makanan dan arak kepada semua pasukan. Dia ingin berterima kasih kepada mereka karena sudah berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Wu.
Jenderal Wang Li keluar dari tendanya dengan penampilan yang berbeda. Biasanya, dia akan selalu terlihat mengenakan baju jenderalnya, tapi kini dia terlihat tampan dengan jubah warna putih yang dikenakannya.
Dengan kudanya, dia pergi meninggalkan tempat itu dan menuju kediaman Putri Yuri. Sesampainya di sana, dia disambut oleh petinggi-petinggi dari Wilayah Dataran Timur. Tak hanya itu, Jenderal Wang Li dibawa ke suatu ruangan yang sudah penuh dengan aneka makanan dan minuman arak yang disediakan di atas sebuah meja panjang.
"Jenderal Wang, malam ini kami akan menyuguhkan pertunjukan yang menarik buat Jenderal. Itu sebagai rasa terima kasih kami karena Jenderal Wang dan pasukannya telah mengalahkan pasukan Kerajaan Wu. Jadi, terimalah rasa terima kasih kami ini," ucap Putri Yuri sambil menundukkan kepalanya seraya memberi penghormatan untuk lelaki itu.
Jenderal Wang Li hanya terdiam, wajahnya datar tanpa ekspresi. Entah apa yang kini sedang dipikirkannya hingga membuat wajahnya tampak kurang senang saat mendengar ucapan Putri Yuri.
Jenderal Wang Li kemudian dipersilakan untuk duduk di sebuah kursi yang memang disediakan untuknya. Begitupun dengan pejabat-pejabat tinggi yang juga duduk bersebelahan dengannya. Sementara Putri Yuri, duduk di sebelah kanannya.
Tak lama kemudian, terihat beberapa orang wanita masuk ke dalam ruangan itu. Wanita-wanita itu adalah para penari yang sengaja diundang oleh Putri Yuri untuk menghibur mereka.
Seorang wanita yang sedari tadi membawa kecapi, perlahan mulai memainkan alat musik itu. Petikkan kecapi yang terdengar merdu mulai diiringi dengan tarian beberapa orang wanita yang menari dengan gemulainya.
Jenderal Wang Li menatap wanita-wanita itu dan meneguk segelas arak yang dituangkan Putri Yuri untuknya. "Aku datang ke sini karena aku berpikir kamu ingin mengatakan sesuatu yang penting padaku, tapi nyatanya kamu hanya ingin aku menyaksikan semua ini?" ucap Jenderal Wang Li sambil meletakkan gelas di atas meja.
"Apakah Tuan tidak meyukainya? Kalau Tuan tidak meyukainya, aku akan menyuruh mereka untuk berhenti."
"Tidak usah. Sepertinya, pejabat-pejabatmu itu sangat menikmatinya." Matanya menatap ke arah pejabat-pejabat yang rupanya tengah asyik menyaksikan wanita-wanita itu menari.
"Terima kasih karena sudah mengundangku, tapi maaf, aku harus kembali ke pasukanku. Aku tidak mungkin bersenang-senang sementara aku telah kehilangan setengah dari pasukanku. Aku harap kamu bisa mengerti." Jenderal Wang Li kemudian bangkit dari tempat duduknya hingga membuat pejabat-pejabat itu menatap ke arahnya. Wanita-wanita penari itu pun sontak menghentikan tariannya.
Jenderal Wang Li kemudian meninggalkan ruangan itu dan memilih kembali ke tendanya. Putri Yuri dan semua orang yang ada di tempat itu hanya bisa menatap kepergiannya tanpa bisa melakukan apapun.
Keesokkan harinya, semua pasukan sudah bersiap-siap. Mereka akan kembali ke istana. Prajurit yang terluka dibawa dengan beberapa kereta yang disediakan oleh Putri Yuri.
"Jangan sungkan untuk datang ke sini. Mulai saat ini, Jenderal Wang adalah warga kehormatan Wilayah Dataran Timur. Tuan akan disambut jika datang ke sini lagi," ucap Putri Yuri.
Jenderal itu tersenyum. "Terima kasih, sebaiknya kami harus pergi." Jenderal Wang Li kemudian memacu kudanya perlahan dan diikuti dengan pasukannya dari belakang. Putri Yuri dan semua pejabat tinggi Wilayah Dataran Timur yang ada di tempat itu menunduk dan memberi hormat pada mereka.
Setelah melakukan perjalanan hampir tiga jam, kini di depan mereka tampak sebuah kerajaan yang megah. Melihat Jenderal Wang Li datang bersama pasukannya membuat prajurit yang menjaga gerbang kerajaan menunduk seraya memberi hormat dan membuka pintu gerbang kerajaan.
Jenderal Wang Li menatap sekeliling kerajaan yang sudah hampir delapan tahun tidak dikunjunginya. Semua tampak berbeda. Kerajaan yang diingatnya delapan tahun lalu terlihat sangat berbeda dengan kerajaan yang sekarang sedang dipandanginya.
"Jenderal Wang, selamat datang," ucap Perdana Menteri Qing Ruo yang sudah berdiri di depannya.
Jenderal Wang Li kemudian turun dari atas kudanya dan berdiri di depan Perdana Menteri Qing Ruo. "Tolong obati prajurit-prajuritku yang terluka," ucap Jenderal Wang Li.
"Jangan khawatir, para tabib istana sudah diperintahkan untuk mengobati mereka. Sekarang, izinkan saya untuk membawa Tuan menemui Raja Zhao Li yang sudah menunggu kedatangan Tuan, silakan ikut saya," ucap Perdana Menteri Qing Ruo sambil mempersilakan Jenderal muda itu mengikutinya.
Sepanjang jalan, Jenderal Wang Li tampak mengedarkan pandangannya. Dia begitu takjub dengan situasi kerajaan yang sangat jauh berbeda. Di sisi jalan, banyak tumbuh aneka bunga yang sedang mekar. Bunga-bunga itu sengaja ditanam untuk mempercantik lingkungan kerajaan. Belum lagi dengan beberapa pohon sakura yang tampak mulai berbunga yang membuat lingkungan kerajaan tampak lebih hidup.
"Bunga-bunga itu ditanam sendiri oleh permaisuri. Permaisuri sangat menyukai bunga, makanya halaman istana penuh dengan tanaman bunga," jelas Perdana Menteri Qing Ruo karena melihat jenderal muda itu yang tampak takjub.
Jenderal Wang Li hanya mengangguk dan masih mengedarkan pandangannya hingga pandangannya tiba-tiba tertuju pada sosok wanita cantik yang sedang tersenyum pada beberapa orang dayang yang sedang memetik bunga untuknya. Wajah cantik itu seakan menghipnotisnya dan memaksanya untuk menghentikan langkahnya. "Siapa wanita itu?" tanya Jenderal Wang Li penasaran.
"Dia adalah Permaisuri Mei Yin," jawab Perdana Menteri Qing Ruo singkat.
"Permaisuri?" batin jenderal muda itu yang kemudian berjalan dan sesekali memandangi permaisuri yang tampak tersenyum.
Di dalam sebuah ruangan, Raja Zhao Li tampak duduk dan membaca sebuah
buku. Hingga perdana Menteri Qing Ruo datang dan mempersilakan jenderal muda itu untuk duduk.
Melihat Raja Zhao Li duduk di depannya membuat jenderal muda itu berlutut. "Hormat hamba, Yang Mulia," ucap Jenderal Wang Li sambil menunduk.
"Bangkitlah, tidak perlu seperti itu." Raja Zhao Li kemudian bangkit dan mendekati Jenderal Wang Li dan memintanya untuk berdiri. "Jangan bersikap seperti itu, bagaimanapun juga kita adalah saudara. Kamu adalah kakak sepupuku karena itu bersikaplah seperti saudara." Raja Zhao Li tersenyum dan merangkul jenderal muda itu dan mengajaknya duduk.
"Aku sudah mendengar keberhasilan pasukanmu mengalahkan pasukan Kerajaan Wu dan aku berterima kasih untuk itu. Untuk semua pasukanmu akan aku bebas tugaskan untuk setahun ke depan. Untuk yang gugur akan aku berikan tunjangan untuk keluarga mereka. Kalau ada yang kurang, mungkin kamu bisa mengutarakannya padaku."
"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba rasa itu sudah lebih dari cukup."
Melihat pemuda yang kini duduk di depannya membuat Raja Zhao Li tersenyum. "Boleh aku memanggilmu Kakak Wang?"
Jenderal Wang Li menatap heran ke arah rajanya itu. "Tapi, Yang Mulia ... "
"Mulai sekarang aku akan memanggilmu Kakak Wang, karena kamu memang adalah Kakakku. Aku sudah menyiapkan kamar untuk Kakak dan sebaiknya Kakak beristirahat karena sebentar malam aku akan mengundang Kakak ke villa bunga untuk bertemu dengana istri dan juga anakku," ucap Raja Zhao Li yang begitu antusias.
Jenderal Wang Li tersenyum dan mengangguk. "Kalau begitu aku akan ke kamar sebentar. Nanti malam aku akan datang ke villa bunga," ucap Jenderal Wang Li sambil mengundurkan diri. Ditemani salah seorang kasim, Jenderal Wang Li diantar ke kamarnya.
Kamar itu terlihat mewah. Jenderal Wang Li tampak tertegun dan memandangi seisi kamar yang baginya terlalu mewah. Belum lagi dengan para dayang yang selalu siap menunggu perintahnya.
Jenderal Wang Li tampak tersenyum dan membuka jubah jenderal yang sedari tadi dipakainya. Rasanya, dia begitu bebas untuk pertama kalinya. Dengan langkah gontai, Jenderal Wang Li mendekati tempat tidur yang terlihat empuk dan nyaman. "Pasti rasanya sangat nyaman jika berbaring di tempat tidur ini," gumamnya pelan sambil duduk di atas tempat tidur dan perlahan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur itu.
"Ah, nyaman sekali," ucapnya sambil memejamkan matanya dan menikmati kenyamanan yang sudah lama tidak dirasakannya.
Tiba-tiba, mata yang tadi terpejam perlahan terbuka. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman seakan sedang membayangkan sesuatu yang membuat hatinya bahagia. "Senyuman wanita itu kenapa masih terbayang-bayang dalam ingatanku? Apa yang terjadi pada diriku?" batinnya yang seakan ingin menyangkal kalau senyuman permaisuri yang tadi dilihatnya itu telah menggetarkan hatinya.
Untuk pertama kali dalam kehidupannya, hati seorang Wang Li yang selalu dingin terasa mulai hangat hanya dengan sebuah senyuman yang tak sengaja dilihatnya dari seorang wanita yang telah mempunyai suami.
"Apa yang terjadi padaku? Wang Li, jangan pernah kamu melakukan hal bodoh. Wanita itu adalah permaisuri dan dia adalah adik iparmu. Apa pantas kamu menyukainya?" Jenderal Wang Li tenggelam dalam lamunannya sendiri hingga membuatnya terlelap dalam buaian hangat selimut yang menutupi tubuh kekarnya itu.