The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 21



Matahari baru saja menampakkan sinarnya saat Pengawal Yue datang menemui Raja Zhao Li. Ada sesuatu hal yang ingin disampaikan pada rajanya itu.


"Ada apa pagi-pagi datang menemuiku? Apa ada hal penting?" tanya Raja Zhao Li saat bertemu dengan Pengawal Yue.


"Maafkan hamba Yang Mulia. Semalam, hamba menerima pesan dari orang suruhan Tuan Liang Yi yang mengatakan bahwa Tuan Liang Yi menunggu Yang Mulia di tempat biasa. Ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan dengan Yang Mulia," jelas Pengawal Yue.


"Baiklah kalau begitu. Tunggu aku di gerbang kerajaan dan panggil Dayang Ling untuk menjaga Chen Li."


"Baik, Yang mulia."


Raja Zhao Li kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya dan mendapati Mei Yin yang masih terlelap. "Tidurlah, aku pergi tidak akan lama," ucap Raja Zhao Li sambil mengelus lembut wajah istrinya itu dan mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.


Raja Zhao Li dan Pengawal Yue kemudian pergi ke tempat di mana mereka pernah bertemu dengan Liang Yi sebelumnya. Di tempat itu, Liang Yi sudah menunggu.


Melihat kedatangan mereka membuat Liang Yi segera berlari ke arah mereka. "Zhao Li, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Liang Yi yang tampak cemas.


"Maaf, Yang Mulia. Hamba belum sempat menyampaikan kalau Tuan Liang Yi lah yang telah mengirimkan orang untuk memberitahukan perihal Yang Mulia saat dihadang oleh perampok-perampok itu, makanya kami bisa datang menyelamatkan Yang Mulia dan Permaisuri," jelas Pengawal Yue sambil menunduk.


Raja Zhao Li tersenyum dan memeluk sahabatnya itu. "Aku tidak apa-apa. Aku tahu sahabatku ini akan selalu ada untukku. Ah, andai Mei Yin bisa bertemu denganmu, dia pasti akan sangat bahagia dan berterima kasih padamu."


"Jangan katakan apapun padanya dan ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Liang Yi sambil mengajak Liang Yi untuk duduk.


"Lelaki yang kemarin datang bersama Pengawal Yue itu siapa? Sepertinya, aku baru melihatnya," tanya Liang Yi mencari tahu.


"Kamu masih ingatkan dengan kakak sepupuku, Wang Li?"


Liang Yi mencoba mengingat. "Bukankah, dia ditempatkan oleh ayahmu di daerah perbatasan?"


Raja Zhao Li mengangguk. "Dialah yang sudah melukai Raja Wu Zia hingga membuat pasukan Kerajaan Wu mundur dan sebelum itu aku sudah berjanji padanya kalau itu adalah peperangannya yang terakhir dan membolehkannya untuk kembali tinggal di kerajaan. Sekarang, dia aku angkat menjadi penasehatku dan dia selalu ada di saat aku dan Mei Yin membutuhkannya. Liang Yi, melihat dirinya aku merasa seperti melihatmu. Dia juga sangat pandai memainkan kecapi sama sepertimu dan Mei Yin sering memintanya untuk mengiringi tariannya. Aku sangat berharap kamu bisa datang ke istana dan aku akan memperkenalkanmu dengannya," jelas Raja Zhao Li panjang lebar.


"Apa dia baik pada kalian? Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk pada kalian, kan?"


"Kenapa bertanya seperti itu? Dia itu kakakku, mana mungkin dia akan menyakitiku dan Mei Yin."


"Zhao Li, jangan pernah katakan padanya tentang aku. Rahasiakan keberadaanku darinya. Hanya kalian berdua yang tahu tentang aku. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, jangan sungkan untuk memberitahukannya padaku karena aku akan selalu membantumu," ucap Liang Yi dengan tulus.


"Terima kasih, sahabatku. Aku akan selalu mengingat pesanmu itu. Sebaiknya, aku harus kembali karena Mei Yin aku tinggal saat dia masih tertidur. Aku tidak tega membangunkannya karena kejadian kemarin sudah membuatnya ketakutan."


"Zhao Li, jaga Mei Yin. Aku percayakan dia padamu."


"Jangan khawatir. Tanpa kamu mintapun, aku akan menjaganya."


"Pengawal Yue, aku mohon bantuanmu untuk menjaga Yang Mulia dan Permaisuri. Kalau ada sesuatu yang mencurigkan di dalam kerajaan, segera beritahu aku."


Lelaki bertubuh tegap itu mengangguk. "Baik, Tuan."


Raja Zhao Li dan Pengawal Yue akhirnya pergi meninggalkan tempat itu. Liang Yi menatap kepergian mereka. Hal penting yang ingin dia tanyakan tentang lelaki itu terpaksa dia urungkan. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan pada sahabatnya itu kalau istrinya ternyata dicintai oleh kakak sepupunya sendiri.


"Semoga saja apa yang aku dengar kemarin itu tidaklah benar, tapi kalau itu memang benar, aku harap keinginan lelaki itu tidak akan pernah tercapai. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk memberitahukannya padamu. Mei Yin, aku harap kamu akan selalu menjaga dirimu," batin Liang Yi yang kemudian pergi.


Di villa bunga, Jenderal Wang Li masih asyik bermain dengan Chen Li. Sementara Mei Yin sedang memetik bunga dan menaruhnya di dalam sebuah vas. Bunga-bunga cantik berwarna warni itu tampak indah di dalam vas yang diletakkan di atas meja.


"Ayah," panggil Chen Li saat melihat ayahnya baru saja datang. Chen Li berlari meninggalkan Jenderal Wang Li dan segera memeluk ayahnya. "Ayah," ucap Chen Li manja sambil memeluk ayahnya itu.


Raja Zhao Li berjalan mendekati sang istri yang tengah tersenyum untuknya. Dengan mesranya, Raja Zhao Li mengecup kening istrinya itu. "Maafkan aku karena pergi tanpa pamit padamu. Kamu tidak marah, kan?" tanya Raja Zhao Li.


Mei Yin mengangguk. "Aku tidak marah. Lagipula, aku dan Chen Li tidak kesepian karena ada Kakak Wang yang sedari tadi menemani kami."


"Kakak Wang, terima kasih karena sudah menemani istri dan anakku."


"Sudahlah. Chen Li adalah keponakanku dan aku senang bisa menemani dia bermain. Kalau kalian mengizinkan, apa boleh aku sering bermain bersama Chen Li?"


"Tentu saja boleh, bukankah Kakak Wang adalah pamannya?" jawab Raja Zhao Li yang juga diiyakan oleh Mei Yin.


"Terima kasih, kalau begitu aku pamit dulu."


"Kenapa Kakak buru-buru pergi, ayolah temani aku sebentar, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Kakak," ucap Raja Zhao Li sambil mengajaknya duduk.


Mei Yin memerintahkan Dayang Ling menyiapkan teh untuk kedua lelaki itu. Sementara dirinya memilih menemani Chen Li dan tidak ikut duduk bersama mereka.


"Kakak Wang, apakah Kakak Wang mempunyai seseorang yang spesial di hati Kakak Wang?" tanya Raja Zhao Li membuka pembicaraan.


"Maksudku, kalau ada seorang wanita yang Kakak Wang sukai, katakan saja padaku agar aku segera melamarnya untuk Kakak," lanjut Raja Zhao Li yang membuat Jenderal Wang Li menarik nafas lega.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa dengan menikah kamu pikir aku akan bahagia? Sudahlah, aku belum ingin menikah. Kalaupun menikah, aku ingin mencari wanita seperti Adik Mei Yin. Kamu sangat beruntung karena mendapatkan wanita seperti Adik Mei Yin yang begitu mencintaimu dan juga Chen Li." Ucapan Jenderal Wang Li membuat Raja Zhao Li memandangi istrinya yang sementara bermain bersama putranya, begitupun dengan Jenderal Wang Li yang memandangi Mei Yin dengan tatapan penuh cinta dan juga harapan.


"Aku memang beruntung bisa memiliki Mei Yin di dalam kehidupanku. Aku sangat mencintainya hingga aku tidak ingin meninggalkannya. Itulah mengapa, aku tidak menerima permintaan Putri Yuri untuk menjadikannya selir. Bukan hanya itu, walaupun semua wanita cantik berkumpul di depanku, aku tidak akan pernah meninggalkan istriku dan tergoda dengan kecantikan mereka, karena bagiku istriku adalah wanita yang paling cantik di mataku," ucap Raja Zhao Li dengan sebuah senyum yang penuh kebanggaan.


Jenderal Wang Li tersenyum walau di hatinya terbesit rasa cemburu. Dia cemburu karena Raja Zhao Li sangat mencintai wanita yang juga dicintainya. Dia cemburu karena Raja Zhao Li memiliki kehidupan yang lebih baik darinya.


Tanpa sadar, kedua lelaki itu kini mengarahkan pandagan mereka ke arah Mei Yin. Di mata keduanya, Mei Yin mempunyai tempat yang istimewa di hati mereka. Mei Yin mempunyai sesuatu yang begitu mereka dambakan, yaitu kasih sayang dan kesempurnaan sebagai seorang wanita.


Jenderal Wang Li akhirnya meminta undur diri dan Raja Zhao Li tidak bisa membujuknya untuk menikah. Bagaimana bisa lelaki itu menikah, kalau hati dan rasa cinta yang dia rasakan hanya untuk Mei Yin, wanita yang tidak mungkin bisa dia miliki.


"Istriku, apa aku salah jika meminta Kakak Wang untuk menikah? Aku pikir dia akan senang jika kita melamar seorang wanita yang cantik dan baik hati untuknya, tapi Kakak Wang menolak dan tidak ingin menikah. Apa yang seharusnya kita lakukan untuknya?" tanya Raja Zhao Li saat mereka sedang duduk di depan kolam.


"Bagaimana kalau aku sendiri yang akan mencari calon istri untuk Kakak Wang? Walau baru mengenal Kakak Wang, tapi aku tahu kriteria wanita yang dia suka," ucap Mei Yin dengan bbesemangat.


"Apa kamu bersedia melakukannya?" Mei Yin mengangguk dan tersenyum.


"Kakak Wang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri, jadi pantaskan jika seorang adik mencari calon istri yang baik untuk kakaknya?"


Raja Zhao Li tersenyum dan memeluk tubuh istrinya itu. "Lakukanlah, carilah wanita yang menurutmu pantas untuk Kakak Wang, aku yakin jika wanita pilihanmu pasti akan diterima oleh Kakak Wang."


Setelah mendapat izin dari Raja Zhao Li, Mei Yin kemudian mengirimkan undangan kepada putri-putri perdana menteri dan juga pegawai kerajaan. Mei Yin ingin menyeleksi mereka untuk menjadi calon istri Jenderal Wang Li secara diam-diam.


Siang itu, halaman villa bunga sudah ramai dengan kehadiran beberapa orang wanita yang terlihat cantik dan juga berkelas. Mereka tampak kagum dengan keindahan taman bunga dengan aneka bunga yang sedang mekar.


"Dayang Ling, apakah semua wanita-wanita yang aku undang itu sudah datang?" tanya Mei Yin saat masih di dalam kamarnya.


"Sudah Permaisuri. Sepertinya, mereka sangat antusias karena diundang oleh Permaisuri."


"Baguslah kalau begitu. Sebaiknya, persilakan mereka untuk masuk. Sebentar lagi aku akan pergi menemui mereka."


"Baik, Permaisuri." Dayang Ling kemudian keluar setelah membantu Mei Yin berhias.


Wanita-wanita itu kemudian dipersilakan untuk duduk di dalam ruangan villa bunga. Wanita-wanita itu tampak kagum dengan ruangan villa bunga yang terlihat indah dengan aneka lukisan bunga.


Tak lama kemudian, Mei Yin muncul dan disambut dengan penuh rasa hormat oleh wanita-wanita itu. "Hormat kami, Permaisuri," ucap mereka kompak sambil berdiri dan menundukkan kepala mereka di depan Mei Yin.


Mei Yin kemudian duduk di tempat yang sudah disediakan untuknya. "Duduklah."


Wanita-wanita itu kembali duduk, tapi pandangan mereka menunduk seakan mereka tak berani menatap wajah permaisuri yang kini sudah duduk di depan mereka.


"Kenapa kalian menunduk? Angkatlah kepala kalian agar aku bisa melihat wajah kalian," ucap Mei Yin yang membuat wanita-wanita itu kemudian mengangkat kepala mereka.


"Mari kita bersulang," ucap Mei Yin sambil mengangkat segelas teh camomile di tangannya. Wanita-wanita itupun melakukan hal yang sama dan memandang ke arah Mei Yin. Melihat Mei Yin, mereka takjub dan kagum akan kecantikan wajahnya. Mereka terpesona dengan keindahan matanya yang sebiru lautan.


"Terima kasih karena kalian telah memenuhi undanganku. Aku sengaja mengundang kalian agar kita bisa saling mengenal lebih dekat. Apa di antara kalian ada yang bisa menari?"


Wanita-wanita itu saling memandang dan satu-persatu mulai menggeleng. "Maaf, Permaisuri, hamba tidak bisa menari," jawab salah satu dari wanita-wanita itu sambil menundukkan wajahnya.


"Apa kalian semua tidak ada yang bisa menari?" tanya Mei Yin sekali lagi dan mereka pun mengangguk bersamaan.


Mendengar jawaban mereka membuat Mei Yin sedikit kecewa. Bagaimana tidak, Mei Yin sangat paham kalau Jenderal Wang Li sangat suka dengan wanita yang pandai menari, karena saat dirinya menari di depan Jenderal Wang Li, wajah lelaki itu tampak tersenyum.


"Apa yang harus aku lakukan jika syarat utama yang aku ajukan saja mereka tidak ada yang bisa? Apakah menari sesulit itu hingga wanita-wanita ini tidak ada yang bisa untuk menari?" batin Mei Yin yang mulai pesimis.


Mei Yin menatap mereka satu persatu. Wajah mereka cukup cantik, tapi jika mereka tidak bisa menari tentu tidak akan membuat Jenderal Wang Li tertarik.


"Sebaiknya kita lanjutkan di luar saja biar kita lebih leluasa. Dayang Ling, antar mereka keluar, sebentar lagi aku akan menyusul," ucapnya pada Dayang Ling yang kemudian mengantarkan mereka kembali ke taman.


Mereka kemudian keluar dari dalam ruangan dan menuju kembali ke taman. Dan, betapa terkejutnya mereka saat tiba di taman karena sudah ada beberapa orang anak kecil yang bermain dan berlarian di taman itu. Wajah mereka tiba-tiba berubah, seakan tidak senang dengan kehadiran anak-anak itu.


"Kenapa anak-anak ini bermain di sini? Dayang, siapa anak-anak ini? Apa orang tua mereka tidak bisa memperhatikan mereka hingga bermain di sini?" tanya seorang wanita yang sedikit kesal saat seorang anak tanpa sengaja menabraknya hingga membuat bajunya menjadi kotor.


Mei Yin yang sementara memperhatikan mereka dari dalam ruangan secara diam-diam hanya bisa menggeleng, karena kali ini usahanya benar-benar gagal. Wanita-wanita itu tidak suka dengan anak kecil, sedangkan Jenderal Wang Li sangat suka bermain dengan Chen Li.


"Apa yang harus aku lakukan jika semua wanita-wanita ini tidak ada yang bisa memenuhi kriteria yang aku inginkan?" batin Mei Yin yang mulai pasrah.


Tiba-tiba, semua mata tertuju pada seorang lelaki yang baru saja datang. Pria itu tampak gagah dan tampan dengan jubah berwarna biru laut yang dikenakannya. Sontak, ketampanannya menjadi pusat perhatian wanita-wanita itu, tapi lelaki itu hanya melewati mereka tanpa peduli dengan mereka.