
Pengawal Yue mulai merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan. Selama ini, villa bunga selalu terbuka baginya dan Raja Zhao Li tidak pernah melarangnya masuk ke villa itu. Namun kini, villa itu telah dijaga ketat oleh prajurit kerajaan dan tidak boleh dimasuki oleh siapapun kecuali Jenderal Wang Li. "Apa sebenarnya yang telah terjadi? Kenapa aku sudah tidak bisa lagi menemui Yang Mulia?" batin lelaki itu saat dirinya sudah tidak diizinkan lagi menemui Raja Zhao Li.
"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Jenderal Wang Li yang sudah mengambil alih kekuasaan? Dan aku sudah tidak bisa lagi bertemu dengan Raja dan Permaisuri karena villa bunga sudah dijaga oleh prajurit suruhan Jenderal Wang Li. Ada apa ini?" tanya Pengawal Yue pada Perdana Menteri Qing Ruo.
"Kita harus berhati-hati karena Jenderal Wang Li akan mengambil alih tahta dengan alasan kalau Raja Zhao Li sudah tidak mampu untuk memerintah karena sakit parah. Sebaiknya, kamu harus bisa bertemu dengan Raja dan Permaisuri bagaimanapun caranya. Kita harus cepat, kalau tidak Raja dan Permaisuri bisa saja dibunuh olehnya," jelas lelaki paruh baya itu.
Mendengar ucapan dari perdana menteri senior itu membuat Pengawal Yue bergerak cepat. Saat itu juga dia langsung menemui Liang Yi dan menceritakan tentang semua yang menimpa raja dan permaisuri.
"Apa? Zhao Li dan Mei Yin telah dikurung di villa bunga?" tanya Liang Yi marah saat mendengar berita itu.
"Benar, Tuan. Sudah seharian mereka dikurung di villa bunga dengan pengawalan yang sangat ketat. Tidak ada yang bisa masuk menemui mereka tanpa izin Jenderal Wang Li dan lebih parahnya lagi Jenderal Wang Li telah mengambil kekuasaan dengan alasan kalau itu atas perintah Raja. Tuan, saat ini Raja Zhao Li sedang sakit parah, aku hanya khawatir penyakitnya akan semakin memburuk. Krena itu, tolong bantu aku untuk mengeluarkan raja, permaisuri dan pangeran dari kerajaan. Aku takut, mereka akan dibunuh oleh Jenderal Wang Li," ucap lelaki itu penuh harap.
Liang Yi mengepalkan kedua tangannya. Dia begitu marah dan khawatir dengan keadaan kedua sahabatnya itu. "Baiklah, bersiap-siaplah. Aku tahu jalan rahasia menuju villa bunga. Tengah malam nanti, kita akan bergerak dan mengeluarkan mereka dari kerajaan," ucap Liang Yi.
Setelah menemui Liang Yi, Pengawal Yue lalu menemui Dayang Ling yang ditugaskan untuk menjaga Chen Li oleh Jenderal Wang Li. "Dayang Ling, tengah malam nanti bawa pangeran ke dekat villa bunga. Malam ini juga, aku dan Tuan Liang Yi akan mengeluarkan Yang Mulia, permaisuri dan pangeran dari kerajaan. Dayang Ling, cobalah cari alasan agar kamu bisa bertemu dengan Yang Mulia dan permaisuri dan sampaikan pesan Tuan Liang Yi pada mereka," ucap Pengawal Yue.
"Baiklah, aku akan mencari cara agar bisa bertemu dengan mereka," jawab Dayang Ling.
Saat hari menjelang malam, entah mengapa Jenderal Wang Li datang ke ruangan di mana Dayang Ling menjaga Chen Li. Lelaki itu terlihat tersenyum saat melihat bocah lelaki itu berlari ke arahnya. "Paman," panggil Chen Li. Jenderal Wang Li lantas menggendong bocah itu dan segera memeluknya.
"Paman, mana ibuku? Aku ingin bertemu ibu," ucap Chen Li hampir menangis sambil melingkarkan kedua tangannya di leher lelaki itu.
"Apa kamu ingin bertemu dengan ibumu?" Bocah itu mengangguk. Jenderal Wang Li tersenyum dan membelai lembut punggungnya. "Baiklah. Paman akan membawamu menemui ibumu. Apa sekarang kamu senang?" Bocah itu mengangguk dan kembali melingkarkan kedua tangannya di leher Jenderal Wang Li.
Sambil menggendong Chen Li, Jenderal Wang Li berjalan menuju villa bunga. Lelaki itu tampak tertawa kecil saat Chen Li bermain dalam gendongannya. Dia terlihat begitu menyayangi bocah itu dan memperlakukannya seperti putranya sendiri.
"Dayang Ling, tunggu di sini. Jangan masuk sebelum aku memanggilmu," ucap Jenderal Wang Li sambil memberikan Chen Li padanya.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Jenderal Wang Li kemudian masuk ke dalam kamar itu dan mendapati Mei Yin yang sedang memangku kepala Raja Zhao Li. Lelaki itu memandangi mereka dan perlahan berjalan menuju Mei Yin yang tak sekalipun memandanginya. Tatapannya hanya tertuju pada sang suami yang terbaring lemah dengan tangan yang saling menggenggam erat.
"Lepaskan tanganmu darinya dan tatap aku," ucap Jenderal Wang Li yang sudah duduk di depan Mei Yin.
Mei Yin tidak bergeming. Tangannya tidak dia lepaskan. Tatapan matanya masih tertuju pada wajah suaminya.
"Aku bilang tatap aku!!" bentak Jenderal Wang Li sambil meraih wajah Mei Yin dengan tangan kekarnya dan memaksa wanita itu untuk menatapnya. Mei Yin memajamkan matanya saat wajahnya dialihkan dari pandangan suaminya.
"Kenapa kamu memejamkan matamu? Lihat aku!!" Mei Yin masih menutup kedua matanya dengan air mata yang perlahan jatuh. Melihat air mata itu, Jenderal Wang Li menghapusnya dengan tangan kekarnya dan tiba-tiba saja bibirnya mengecup bibir Mei Yin hingga membuat mata wanita itu terbuka dan berusaha untuk mengelak dari ciuman itu, tapi tangan kekar lelaki itu begitu kuat memegang leher Mei Yin hingga membuat Mei Yin tidak mampu untuk mengelak.
Sementara Raja Zhao Li tidak mampu melakukan apapun selain memejamkan matanya dan menitikkan air mata. Tangannya hanya bisa merasakan genggaman erat dari tangan istrinya saat bibir istrinya itu dicium paksa olah Jenderal Wang Li. Raja Zhao Li tidak mampu menyaksikan semua itu dan hanya mampu mengutuki dirinya sendiri karena tidak mampu melindungi istrinya.
Tubuhnya yang sudah tidak mampu bergerak hanya bisa mematung saat di depan matanya, lelaki itu mencium istrinya. Rasanya dia ingin mati, tapi dia tidak sanggup karena tidak ingin berpisah dengan istrinya. Andaikan dia mampu, dengan tangannya sendiri dia akan membunuh lelaki itu dan mencabik-cabik tubuhnya hingga hancur, tapi apalah dayanya karena kini dia hanyalah seonggok tubuh yang sudah tidak berguna.
Jenderal Wang Li melepaskan bibirnya setelah dia merasa puas. Walau Mei Yin memohon, dia tidak peduli walau sebenarnya hatinya hancur saat dia melakukan itu semua. Rasa cemburu telah membutakan hatinya hingga tega melakukan itu pada wanita sangat dicintainya. Mata Mei Yin memerah dengan air mata yang sudah tidak mampu lagi dia tahan. Mei Yin marah hingga membuatnya memukul bibirnya dan menghapus kasar bekas ciuman itu dengan tangannya.
"Apa yang kamu lakukan? Hentikan!!" ucap Jenderal Wang Li sambil meraih tangan Mei Yin yang masih memukul bibirnya sendiri seakan dia tidak rela lelaki itu menciumnya.
Walau tangannya sudah ditarik paksa, tapi Mei Yin tidak peduli. Sambil menangis, Mei Yin menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah.
"Mei Yin, hentikan!!" teriak Jenderal Wang Li saat melihat Mei Yin menyakiti dirinya sendiri.
Mei Yin tersenyum kecut dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya. "Aku tidak rela jika tubuhku disentuh olehmu. Aku akan menggigit bibir ini hingga hancur agar kamu tidak lagi bisa menyentuhnya untuk kedua kali. Aku akan mati bersama suamiku, karena itu lebih baik daripada aku harus bersamamu," ucap Mei Yin dengan air mata.
Jenderal Wang Li terdiam. Dia tidak ingin melihat wanita yang dicintainya itu melukai dirinya sendiri. "Apa kamu ingin mati? Baiklah, tapi sebelum kamu mati kamu akan melihat orang-orang di dekatmu akan mati. Aku tahu kamu begitu perhatian pada Dayang Ling, kalau dia mati karenamu, apa yang akan kamu lakukan?"
Mei Yin tercekat. Seketika saja dia terdiam.
"Kenapa? Apa kamu masih berpikir kalau aku tidak mampu melakukannya? Aku mampu untuk membunuh demi mendapatkanmu. Jangankan mereka, Zhao Li saja aku sanggup untuk membunuhnya, jadi kenapa kamu tidak turuti saja kemauanku?"
"Lihat aku." Jenderal Wang Li mengangkat dagu Mei Yin dan menatap wajahnya. Terlihat darah segar di sudut bibirnya. Jenderal Wang Li menyeka darah itu dan perlahan mengecup bibir ranum itu dengan lembut. Mei Yin terdiam dan tidak mampu melakukan apapun. Hanya air mata yang tidak berhenti mengalir. Tangannya dia eratkan sambil menggenggam tangan suaminya.
"Jangan pernah menyakiti dirimu, karena aku akan menyakiti orang lain setiap kamu berusaha menyakiti dirimu. Aku tidak akan memaksamu asalkan kamu mengikuti kemauanku. Aku datang ke sini karena Chen Li ingin bertemu denganmu. Bagiku, Chen Li adalah putraku. Aku akan membesarkan dia dan membuat dia melupakan Zhao Li dan menganggapku sebagai ayahnya. Malam ini, aku akan biarkan dia bersamamu karena selepas itu, aku tidak akan lagi mempertemukan kalian hingga kamu bersedia untuk tetap ada di sampingku selamanya," ucap Jenderal Wang Li.
Mei Yin menangis saat mendengar itu semua. Dia tidak rela kalau putranya dipaksa untuk melupakan ayahnya. "Berikan dia padaku, aku mohon," ucap Mei Yin tiba-tiba. Jenderal Wang Li menatapnya. Wajahnya yang mengiba membuat lelaki itu luluh.
"Baiklah, aku akan membiarkanmu bersamanya malam ini. Mei Yin, aku tidak ingin menyakitimu, aku hanya ingin memilikimu karena aku sangat mencintaimu. Karena cinta ini, aku melakukan semua hal gila ini. Aku akan menunggu hingga kamu menerimaku. Aku mohon, biarkan aku mencintaimu," ucap Jenderal Wang Li yang tiba-tiba memeluk tubuh Mei Yin.
Mei Yin terdiam. Rasanya dia ingin melepaskan pelukan itu, tapi dia takut karena hal itu akan membuat Dayang Ling terbunuh.
"Dayang Ling, masuklah," panggil Jenderal Wang Li pada wanita itu yang masih berdiri di luar.
Dayang Ling kemudian masuk dengan Chen Li dalam pelukannya. "Permaisuri," ucap Dayang Ling sambil menunduk memberi hormat.
Melihat putranya, Mei Yin menangis. Kepala Raja Zhao Li yang sedari tadi di pangkuannya, perlahan diletakkan di atas bantal. Mei Yin bangkit dan segera meraih tubuh Chen Li ke dalam pelukannya. Mei Yin menangis sambil memeluk putranya itu.
"Dayang Ling, terima kasih karena sudah menjaga anakku." Wanita itu mengangguk dengan air mata yang tak mampu dia tahan. Melihat Raja Zhao Li terbaring lemah membuat wanita itu menitikkan air mata. Dia tidak menyangka, raja dan permaisuri yang tak pernah terpisahkan kini di ambang kehancuran. Mereka dipaksa untuk berpisah.
"Jenderal Wang Li, bolehkah Tuan mengizinkan hamba untuk memeluk Permaisuri? Hamba adalah dayangnya sejak dulu dan hamba tidak tahu kapan lagi hamba bisa mengabdi padanya. Karena itu, biarkan sekali saja hamba memeluk permaisuri," ucap Dayang Ling sambil berlutut di depan lelaki itu.
"Baiklah, aku mengizinkanmu. Setelah itu, kamu boleh pergi."
"Terima kasih, Jenderal, terima kasih," ucap Dayang Ling sambil menunduk di depannya.
Dayang Ling kemudian memeluk Permaisuri. "Permaisuri, maafkan hamba karena tidak bisa lagi menemani Permaisuri," ucap wanita itu sambil memeluk Mei Yin dan menangis. Di sela pelukannya, Dayang Ling menyelipkan sebuah surat dari Liang Yi yang ditujukan untuk Raja Zhao Li di tangan Mei Yin. Mei Yin menerima surat itu dan menggenggamnya erat.
"Pergilah," ucap Jenderal Wang Li. Dayang Ling kemudian pergi dengan air mata.
"Chen Li, sekarang tidurlah bersama ibumu. Besok, Paman akan datang menjemputmu dan kita akan bermain bersama," ucap Jenderal Wang Li sambil membelai lembut kepala bocah itu.
Chen Li mengangguk, tapi setelah itu dia kembali memeluk ibunya.
Jenderal Wang Li menatap wajah Mei Yin dan kembali menyeka sisa darah di sudut bibirnya. "Jangan lagi menyakiti dirimu, aku mohon," ucap lelaki itu dengan mengiba. Mei Yin hanya terdiam dan tidak peduli dengan ucapannya itu.
Jenderal Wang Li kemudian keluar dan meninggalkan ruangan itu. Setelah lelaki itu pergi, Mei Yin meluapkan tangisnya dalam pelukan putranya. Mei Yin menangis sambil memeluk putranya itu. Tangannya gemetar saat membelai wajah anaknya. "Putraku, kamu baik-baik saja kan, Nak?" Chen Li mengangguk dan menghapus air mata ibunya.
"Ibu, jangan menangis." Mei Yin mengangguk dan kembali memeluk anaknya itu.
"Ayo, kita bermain sama Ayah," ajak Mei Yin sambil berjalan mendekati suaminya yang masih terbaring.
Tubuh Raja Zhao Li kemudian didudukkan dan bersandar di sisi tempat tidur. Chen Li menatap ayahnya yang hanya terdiam tak bergerak. "Ayah," ucap Chen Li sambil memeluk tubuh ayahnya itu.
"Putraku." Raja Zhao Li menangis saat putranya memeluknya, sementara Mei Yin berusaha menghindar karena dia merasa sudah tidak pantas untuk dekat dengan suaminya. Rasanya, dia telah menjadi wanita kotor karena tubuhnya telah disentuh lelaki lain selain suaminya.
"Istriku, kemarilah. Jangan jauh-jauh dariku," panggil Raja Zhao Li yang mulai sadar kalau istrinya ingin menghindar darinya.
Mei Yin menitikkan air mata saat suaminya memanggilnya. Kakinya begitu berat untuk melangkah. "Aku tidak marah padamu. Kamu tetap istriku dan selamanya akan tetap menjadi istriku. Apapun yang terjadi, kita tetaplah suami istri dan kita adalah ayah dan ibu dari putra kita. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi kita di mata Chen Li. Dia tahu siapa ayah dan ibunya dan jangan pernah khawatir karena aku tahu Chen Li tidak akan bisa melupakanku." Raja Zhao Li berusaha mengangkat tangannya dan mengarahkannya pada istrinya.
Mei Yin menangis dan segera memeluk suaminya. Dalam pelukan suaminya, Mei Yin menumpahkan semua rasa sedihnya. Melihat ayah dan ibunya saling berpelukan membuat Chen Li ikut memeluk mereka.
Sementara di luar sana, Jenderal Wang Li masih berdiri menatap ke arah ruangan itu. Samar-samar dia bisa mendengar semua percakapan mereka. "Malam ini adalah malam terakhir kalian bersama sebagai keluarga. Aku sudah cukup bersabar. Nilmatilah malam ini karena malam selanjutnya, anak dan istrimu akan menjadi milikku," ucap Jenderal Wang Li yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Kini, cinta mereka benar-benar diuji. Rupanya, kebahagiaan hanya datang sesaat menghampiri mereka karena kebahagiaan itu akhirnya terenggut kembali. Terenggut karena keegoisan cinta yang membuat mereka harus kehilangan, sama seperti yang pernah mereka rasakan. Sejarah kini kembali terulang, tapi dengan kisah yang berbeda, namun tetap sama.