The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 45



"Nyonya, apa Nyonya yakin dengan kehamilan ini?" tanya Dayang Ling seakan tidak percaya dengan berita yang baru saja didengarnya itu.


"Dayang Ling, apa aku harus membunuh bayi ini? Aku tidak menginginkannya, tapi Dewa telah menitipkannya padaku. Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Mei Yin dengan menahan air matanya.


"Tapi, Nyonya, dia yang telah membunuh Yang Mulia dan memisahkan Pangeran dengan Nyonya. Nyonya, kenapa Nyonya masih bisa bertahan dengan semua ini?" ucap Dayang Ling dengan air mata yang jatuh.


Mei Yin ikut menitikkan air mata. Dia sadar, jalan yang dia tempuh sudah terlalu jauh dan tidak mungkin baginya untuk mundur. Dia harus bisa bertahan, walau apapun yang terjadi karena dia ingin melihat lelaki itu hancur di depan matanya.


"Dayang Ling, apapun yang terjadi aku mohon tetaplah ada di sampingku. Hanya dirimu yang aku percaya di tempat ini. Berita kehamilan ini cepat atau lambat pasti akan tersebar dan pasti ada yang tidak suka, karena itu tolong awasi siapapun yang masuk ke sini. Walaupun aku tidak menginginkan bayi ini, tapi aku tidak ingin dia mati. Bagaimanapun juga, dia adalah darah dagingku, aku harap kamu mengerti."


"Baik, Nyonya. Jangan khawatir, aku akan awasi siapapun yang masuk ke sini. Aku juga akan meminta dayang dapur untuk memasak makanan khusus untuk Nyonya," ucap Dayang Ling yang kemudian meminta undur diri.


Sejak saat itu, Permaisuri sudah mulai merasa curiga. Di kediaman Mei Yin sudah ditambah beberapa orang dayang untuk berjaga di sana. Belum lagi dengan makanan yang sengaja dibuat khusus untuknya yang membuat Permaisuri semakin curiga. "Apa yang terjadi dengan wanita itu, apa dia sedang sakit?" tanya Mei Yin pada salah satu dayang setianya.


"Maaf, Permaisuri. Sebenarnya itu semua atas perintah Yang Mulia karena sekarang Nyonya Wang sedang mengandung," ucap dayang itu yang membuat Permaisuri terkejut.


"Apa? Wanita itu sekarang sedang mengandung?" tanya Permaisuri yang seakan tidak percaya dengan berita itu.


"Benar, Permaisuri," ucapnya menegaskan pernyataan sebelumnya.


Permaisuri tampak gelisah. Dia tidak menyangka jika wanita yang dibencinya itu kini tengah mengandung anak dari suaminya. "Apa yang harus aku lakukan? Jika dia melahirkan seorang pangeran, aku pasti akan disingkirkan. Itu tidak boleh terjadi," batinnya.


"Panggilkan Yuan, aku ingin berbicara dengannya," perintah permaisuri.


Lelaki itu terlihat masuk ke kamar permaisuri saat dirinya dipanggil. "Ada apa, Permaisuri?"


"Yuan, bagaimana ini. Wanita itu kini tengah mengandung. Jika anak yang dia kandung seorang pangeran, maka usahaku selama ini hanya akan sia-sia," ucap permaisuri cemas.


"Permaisuri, tenanglah."


"Bagaimana aku bisa tenang kalau posisiku akan dilengserkan oleh wanita itu. Aku sangat membencinya!!" ucap permaisuri yang begitu marah.


"Apa permaisuri ingin aku melakukan sesuatu padanya?"


Permaisuri memandanginya. "Apa yang bisa kamu lakukan untukku?"


"Aku akan membunuhnya."


"Yuan, apa kamu sadar? Kalau sampai ketahuan, kepalamu bisa dipenggal."


"Jangan khawatir, aku akan melakukannya secara halus. Tenanglah, biar aku yang akan mengurusnya," ucap Yuan dengan senyum liciknya.


Karena rasa cintanya pada permaisuri membuat Yuan rela melakukan apa saja termasuk membunuh. Asalkan melihat permaisuri tersenyum bahagia, apapun akan dia lakukan.


Malam itu, dia telah siap melancarkan rencananya. Saat itu, Kaisar Wang belum tampak karena masih berada di ruang kerjanya. Sementara Mei Yin, tengah tertidur di atas ranjangnya. Dayang Ling dan beberapa dayang lainnya sudah beristirahat dan di depan pintu kamarnya hanya ada dua orang prajurit yang berdiri sambil berjaga-jaga.


Hari yang mulai larut membuat suasana di tempat itu terlihat sepi. Biasanya, di saat jam seperti itu Kaisar Wang sudah datang dan memerintahkan penjaga-penjaga itu untuk pergi, tapi malam itu Kaisar Wang belum menampakkan diri karena harus menyelesaikan beberapa masalah yang belum sempat diselesaikannya.


Dari balik pepohonan, tampak empat bayangan hitam yang berkelebat dengan cepatnya. Mereka tampak lincah hingga dengan mudah bisa lolos dari pengawasan. Tiba-tiba, dua orang dari mereka melayangkan anak panah hingga menancap di dada kedua penjaga yang berdiri di depan pintu. Sontak, kedua penjaga itu pun ambruk ke tanah.


Setelah dirasa aman, keempat orang itu kemudian berlari dengan cepat dan masuk ke dalam kamar di mana Mei Yin sedang tertidur. Dua orang dari mereka lantas berjaga di depan pintu, sementara yang dua orang lainnya berjalan perlahan menuju ke arah Mei Yin yang masih tertidur.


"Cepat, bunuh dia dan kita selesaikan tugas kita," ucap salah seorang dari mereka.


Dua orang lelaki sudah berdiri di dekat Mei Yin dengan pedang yang sudah dikeluarkan dari sarungnya, sementara yang seorang lagi sudah bersiap untuk membekap mulut Mei Yin agar tidak bisa berteriak.


"Ayo, cepat lakukan dan kita pergi dari sini," ucap salah satu lelaki yang berjaga di depan pintu.


Lelaki yang sudah mengeluarkan pedangnya itu kemudian mengangkat pedangnya itu tinggi-tinggi dan bersiap menancapkan pedang itu ke arah perut Mei Yin, namun tiba-tiba pintu kamar itu didobrak dengan kerasnya hingga kedua lelaki yang berjaga di depan pintu itu terpental.


Mei Yin yang tertidur kemudian tersentak bangun hingga membuat salah satu dari lelaki itu menarik paksa tubuhnya dengan pedang yang sudah menempel di lehernya.


"Letakkan pedang kalian dan menyerahlah, jika tidak kalian akan merasakan kemarahanku. Jika kalian menyentuhnya sedikit saja, kalian tidak akan aku ampuni!!" ucap Kaisar Wang yang sudah berdiri bersama Dayang Ling di sampingnya.


"Nyonya, maafkan aku," ucap Dayang Ling yang merasa bersalah sambil menatap cemas ke arah Mei Yin yang kini sedang disandera.


Sementara Mei Yin tampak menitikan air mata. Dia takut jika saat ini dia akan mati. Dia takut jika dia tidak dapat membalaskan dendamnya jika dia sampai mati.


Melihat Mei Yin yang kini menangis membuat Kaisar Wang tidak tahan. "Lepaskan istriku. Aku akan memberikan apapun untuk kalian asalkan kalian melepaskannya," ucap Kaisar Wang memohon. Lelaki itu bukannya takut, tapi dia khawatir jika dia melawan maka mereka pasti akan menyakiti Mei Yin.


Tiba-tiba, para prajurit datang dan mengepung tempat itu. Mustahil bagi mereka untuk bisa lolos. Mereka tidak punya kesempatan untuk bisa melarikan diri.


Rupanya, rencana mereka tidak berjalan sesuai rencana karena Dayang Ling yang tanpa sengaja melihat mereka. Karena melihat prajurit yang sudah terkapar membuat Dayang Ling berlari dan memberitahukan kepada Kaisar Wang yang berada tidak jauh dari tempat itu.


Sambil menyandera Mei Yin, mereka berjalan keluar dari kamar dan menuju halaman. Karena sudah terpojok, mereka gunakan Mei Yin sebagai sandera.


"Lepaskan istriku, kalau tidak kalian akan aku bunuh!!" ancam Kaisar Wang sambil mengambil busur dan anak panah dari salah satu prajuritnya.


"Jika kalian tidak ingin mati, lepaskan istriku!!" teriak Kaisar Wang dengan anak panah yang sudah mengarah kepada lelaki yang kini menyandera istrinya, tetapi lelaki itu tidak bergeming.


"Bunuh saja, tapi setelah dia mati!!" ucap lelaki itu dengan pedangnya yang siap mengiris leher Mei Yin, tapi anak panah yang dilesatkan Kaisar Wang berhasil melumpuhkannya hingga membuat pedangnya terlepas dari tangannya.


Sontak, semua prajurit yang ada di tempat itu mulai menyerang keempat orang itu. Kaisar Wang terlihat marah hingga membuatnya mengambil pedang lelaki itu. Dengan wajahnya yang menyeringai, Kaisar Wang mendekati lelaki yang sudah tak berdaya itu dan menghantamkan pedang itu ke arah batang lehernya hingga kepalanya terlepas dari tubuhnya. "Jangan pernah menyentuh istriku dengan tangan kotor kalian. Kalian pantas mati. Tangkap mereka dan cari tahu siapa yang sudah menyuruh mereka!!" perintah Kaisar Wang.


Mei Yin terkejut saat melihat kepala lelaki itu menggelinding di atas tanah hingga membuat wajahnya menjadi pucat. Mei Yin terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa hingga Kaisar Wang datang menghampirinya dan menutup matanya dengan tangannya. "Maafkan aku," ucap Kaisar Wang sambil memeluk Mei Yin yang masih diam terpaku.


"Istriku, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Kaisar Wang pada Mei Yin yang sudah tidak mampu untuk berkata apa-apa. Melihat kepala lelaki itu yang yang lepas dari raganya membuat Mei Yin menjadi syok. Tubuhnya tidak mampu untuk berdiri hingga hampir saja dia terjatuh andai Kaisar Wang tidak segera meraih tubuhnya.


Melihat keadaan istrinya seperti itu membuat Kaisar Wang semakin marah. "Pengawal, jangan biarkan mereka lolos dan tangkap mereka hidup-hidup. Aku ingin tahu siapa yang sudah menyuruh mereka," ucap Kaisar Wang sambil  membopong Mei Yin dan membawanya ke dalam kamar.


Baru saja dia melangkah, tiba-tiba saja anak panah melesat di depannya dan menancap di dada salah satu lelaki itu hingga tubuhnya ambruk tak bernyawa. Melihat teman mereka mati, dua orang lelaki lainnya segera merampas pedang dari para prajurit dan melakukan aksi bunuh diri.


Melihat anak panah dari balik semak membuat separuh prajurit berdiri melindungi Kaisar Wang yang sedang membopong tubuh Mei Yin. Sementara prajurit lainnya segera berlari ke arah semak-semak itu untuk memeriksa, tapi di tempat itu tidak ada orang.


Kaisar Wang menatap mayat-mayat yang sudah tidak bernyawa itu. Matanya memerah menahan marah karena mereka mencoba untuk membunuh istrinya. "Cari tahu siapa mereka. Aku tidak ingin peristiwa ini terulang lagi. Prajurit, mulai hari ini tempatkan pasukan di setiap sudut tempat ini. Dayang Ling, panggilkan aku tabib, sekarang!!"


"Baik, Yang Mulia."


Dayang Ling kemudian berlari meninggalkan tempat itu, sementara Kaisar Wang membawa Mei Yin ke kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Wajah Mei Yin tampak pucat dan gemetar. "Istriku, kamu kenapa? Apa yang sudah terjadi padamu?" tanya Kaisar Wang sambil menggenggam tangan istrinya yang sudah dingin dan gemetar.


Mei Yin masih terdiam. Tatapan matanya terlihat kosong. Ada rasa takut saat melihat kepala yang menggelinding di depannya. Ada rasa trauma karena sebelumnya dia pernah mengalari hal itu saat bersama Zhao Li.


"Tabib, cepat periksa istriku. Dia kenapa? Kenapa dia bisa gemetar seperti itu?" tanya Kaisar Wang saat melihat Dayang Ling datang bersama seorang tabib.


Tabib itu kemudian memeriksa nadi di pergelangan tangan Mei Yin. Dia terkejut karena denyutan nadinya berdetak dengan cepat. "Yang Mulia, saat ini Nyonya sedang ketakutan. Mungkin, Nyonya melihat sesuatu yang membuatnya takut," jelas tabib itu.


Kaisar Wang mengerti karena Mei Yin melihatnya memenggal kepala lelaki itu hingga terlepas dari tubuhnya. "Maafkan aku, istriku. Aku begitu marah hingga melakukaannya di depanmu," ucap Kaisar Wang sambil menggenggam tangan istrinya itu.


"Tabib, anakku tidak apa-apa, kan?"


"Kondisi kandungan Nyonya baik-baik saja. Untuk sementara, biarkan Nyonya beristirahat. Aku akan menyiapkan ramuan obat untuk Nyonya," ucap tabib itu sambil berjalan keluar dan diikuti Dayang Ling dibelakangnya.


Kaisar menatap wajah istrinya yang mulai tenang. Di lehernya tampak memerah karena tangan lelaki yang menyanderanya begitu erat mencengkeramnya. Kaisar Wang mengelus lembut leher yang memerah itu. Ada rasa bersalah di hatinya karena saat itu dia tidak sedang bersama istrinya. "Maafkan aku karena tidak ada di sampingmu. Aku tidak tahu apa jadinya kalau terjadi sesuatu padamu. Terima kasih karena kamu masih hidup dan tidak meninggalkanku," ucap Kaisar Wang sambil mengecup tangan Mei Yin dengan air mata yang jatuh.


Sementara itu, bayangan hitam yang tadi berkelebat di balik semak terlihat bersembunyi di balik pepohonan. Dengan mudahnya dia bisa lolos dari pengawasan para penjaga karena dia sudah tahu betul seluk beluk di dalam kerajaan.


Lelaki itu kemudian menanggalkan baju hitamnya dan disembunyikan di balik semak. Dengan santainya, dia berjalan seakan tidak terjadi apa-apa hingga para penjaga tidak curiga padanya.


Di dalam kamarnya dia terlihat marah sambil memukul meja. "Dasar orang-orang payah!! Hampir saja ketahuan jika aku tidak segera bertindak. Aku harus menemui permaisuri untuk mengingatkannya, karena bisa saja Kaisar akan curiga padanya," ucap lelaki itu yang tidak lain adalah Yuan. Malam itu juga, dia berniat menemui permaisuri, tapi langkahnya terhenti saat melihat Kaisar Wang yang juga datang ke kamar Permaisuri.


Wajah Kaisar Wang tampak marah. Dengan langkah yang dipercepat, Kaisar Wang lantas mendobrak pintu kamar hingga membuat permaisuri terkejut. "Yang Mulia, ada apa?" tanya Permasuri saat melihat Kaisar Wang berjalan menuju ke arahnya dengan wajah yang memerah karena menahan amarah.


Tanpa berkata apapun, Kaisar Wang mendekati Permaisuri dan mulai mencekik lehernya hingga dia tersandar di dinding. "Apa kamu yang menyuruh mereka untuk membunuh Mei Yin?" tanya Kaisar Wang dengan tatapan matanya yang tajam.


"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apapun padanya," elak Permaisuri yang mulai merasa takut.


Kaisar Wang tidak begitu saja percaya pada ucapannya. Tangannya semakin kuat mencekik leher wanita itu hingga membuatnya tidak bisa bernafas.


"Apa kamu pikir aku akan percaya? Kamu melakukannya karena kamu cemburu padanya, iya kan!!??" bentak Kaisar Wang yang semakin kuat mencekik lehernya.


Melihat permaisuri yang diperlakukan seperti itu membuat Yuan segera masuk dan berlutut di depan Kaisar Wang. "Yang Mulia, tolong ampunkan Permaisuri. Sungguh, Permaisuri tidak mungkin melakukan itu. Yang Mulia, tolong lepaskan Permaisuri," ucapnya sambil memohon.


Kaisar Wang menatapnya. "Jika sampai aku menemukan bukti yang mengarah padamu, maka aku akan menggantung kalian berdua di alun-alun kota," ucap Kaisar Wang sambil melepaskan tangannya dari leher Permaisuri hingga membuatnya terduduk dan bersandar di dinding. Wanita itu tampak terbatuk-batuk sambil memegang lehernya.


Kaisar Wang kemudian meninggalkan tempat itu. Sementara Permaisuri hanya menangis hingga membuat Yuan merasa iba dan berjalan mendekatinya. "Permaisuri, maafkan aku. Seharusnya aku tidak melakukannya. Hukumlah aku karena sudah membuatmu mengalami masalah," ucap Yuan sambil berlutut di depannya.


"Apa kamu yang sudah melakukannya?" Yuan menatapnya dan mengangguk.


"Kalau ingin membunuhnya, lakukanlah yang benar. Apa kamu ingin aku mati di tangan Kaisar?"


"Maafkan aku, Permaisuri. Aku tidak akan mengulanginya lagi, maafkan aku," ucap Yuan sambil menunduk.


"Lakukan saja, selama kamu bisa menutupi bukti, aku akan menerima perlakuannya padaku. Bunuhlah dia, karena aku sudah muak dengannya," ucap Permaisuri dengan tatapan penuh kebencian.


Melihat kebencian di mata Permaisuri, membuat Yuan terlihat sedih. Untuknya, lelaki itu akan melakukan apa saja. Karena rasa cintanya, dia rela walau harus berkorban nyawa. "Kenapa kamu harus berbuat sejauh ini hanya karena lelaki yang tidak mencintaimu? Tidakkah kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu? Kalau aku mampu, aku ingin membawamu pergi dari sini dan hidup bersama di Wilayah Daratan Timur, tapi hatimu hanya untuk dia walau dirimu harus menanggung luka." Yuan menitikkan air mata. Dia kemudian bangkit dan meninggalkan Permaisuri yang kini menangis dalam diam.