The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 18



Sejak melihat langit di malam itu, Mei Yin jadi teringat kembali dengan Lian, pemuda yang dicintainya dan rela mati untuknya. Sudah lebih dari lima tahun, Mei Yin tidak pernah mengunjungi makamnya hingga membuatnya merasa bersalah. "Suamiku, apa aku boleh meminta izin untuk keluar sebentar?" tanya Mei Yin saat tengah berbaring di dalam pelukan Raja Zhao Li.


Raja Zhao Li menatap istrinya itu dengan tatapan heran. Keningnya mengkerut saat mendengar ucapan istrinya itu. "Memangnya kamu mau kemana? Apa suamimu ini boleh tahu, istriku yang cantik ini akan pergi ke mana?" tanya Raja Zhao Li yang membuat Mei Yin menatap lurus ke wajah suaminya itu.


"Aku ingin pergi ke makam Lian. Aku sudah berjanji untuk selalu mengunjunginya, tapi sudah lima tahun ini aku tidak lagi mengunjunginya. Apa kamu mengizinkanku?" tanya Mei Yin manja pada suaminya itu.


Raja Zhao Li membelai lembut pipi istrinya itu dan tersenyum. "Baiklah, aku akan mengizinkanmu, tapi kamu tidak boleh pergi sendiri karena aku akan menemanimu," ucap Raja Zhao Li yang membuat Mei Yin tersenyum dan mengecup mesra bibirnya hingga membuat lelaki itu meraih tubuh Mei Yin ke dalam pelukannya.


"Aku suka kalau kamu mengecup bibirku. Sebelum kita pergi, apa boleh aku ... maksudku ..." Mei Yin kembali mengecup bibir Raja Zhao Li hingga membuat lelaki itu terdiam.


"Aku mengerti. Lakukan saja, kenapa harus meminta izin padaku? Kamu adalah suamiku dan kamu berhak atas semua yang ada pada diriku," ucap Mei Yin sambil berbisik.


Raja Zhao Li tersenyum. Apapun yang diinginkannya, selalu bisa dipenuhi oleh Mei Yin. Dia merasa sangat beruntung mendapatkan wanita yang selalu ada untuknya. Dan kini, dia bebas memiliki dan melakukan apa saja atas tubuh istrinya itu. Baginya, hanya Mei Yin tempatnya untuk mencurahkan hasrat dan juga kasih sayangnya. Hanya Mei Yin yang mampu membangkitkan hasratnya itu hingga membuat dia tersenyum puas.


Mei Yin tampak cantik dengan hanfu sederhana berwarna putih dengan penutup wajah yang menutupi setengah wajahnya. Sedangkan Raja Zhao Li mengenakan jubah sederhana yang biasa dipakai bangsawan kelas menengah dan memakai penutup kepala dengan kain tipis yang menutupi wajahnya.


Dengan mengendarai seekor kuda, Raja Zhao Li dan Mei Yin keluar dari kerajaan tanpa pengawalan karena mereka ingin menikmati perjalanan tanpa perlu diawasi.


Mereka melewati jalan-jalan kota tanpa dikenali penduduk sekitar. Mei Yin yang duduk di bagian depan menatap keramaian jalan yang sudah lama tidak dilihatnya. Tak hanya itu, pandangan Mei Yin tertuju pada aneka hiasan rambut yang dijual di sisi jalan. Walau perhiasannya sangat banyak dan mahal, tapi perhiasan yang terbilang murah itu begitu menyita perhatiannya.


Setelah berjalan beberapa waktu, mereka tiba di sebuah padang bunga yang masih terlihat sama. Raja Zhao Li kemudian turun dari atas punggung kuda dan membuka kedua tangannya untuk meraih tubuh istrinya dan menurunkannya dari atas punggung kuda.


Mei Yin berjalan menyusuri padang bunga sambil menggenggam tangan Raja Zhao Li. Bunga putih yang selalu berbunga itu mengeluarkan keharuman yang abadi. Bunga sakura yang berguguran membuat tempat itu terlihat menawan dengan perpaduan warna merah muda dan warna putih. Pemandangan di tempat itu membuat Raja Zhao Li menjadi takjub.


Kini, di depan mereka tampak sebuah gundukan tanah yang masih tetap sama. Gundukan tanah itu tampak terawat tanpa satupun ilalang yang tumbuh di atasnya.


Mei Yin duduk di depan gundukan tanah itu sambil tersenyum. Tak lupa, Raja Zhao Li pun duduk di sampingnya. "Lian, maafkan aku karena baru datang menemuimu. Aku datang bersama suamiku, Zhao Li." Mei Yin menggenggam erat tangan suaminya itu.


"Lian, terima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan untuk Mei Yin dan aku sangat menghargai itu. Aku berjanji, akan membuat dia bahagia," ucap Raja Zhao Li tulus. Perlahan, bunga sakura bertebaran di atas kepala mereka dan diiringi suara angin yang meniup perlahan. Mei Yin tersenyum dan menyadari kalau Lian kini juga bahagia.


Angin yang berembus membuat padang bunga yang sedang mekar itu bagaikan ombak yang bergoyang pelan hingga membuat bunga-bunga terlepas dari kelopaknya dan berterbangan di atas udara. Pemandangan itu sontak membuat Raja Zhao Li menjadi takjub.


Mei Yin lantas berdiri dan mulai menari. Sebuah tarian yang dia ciptakan untuk Lian dan tarian yang sudah membuat Raja Zhao Li menjadi kagum saat pertama kali melihatnya menari di bawah pohon sakura di saat lalu.


Kini, tarian itu dilihatnya kembali. Di bawah pohon sakura, Mei Yin menari diiringi belaian lembut angin yang meniup sambil membawa bunga-bunga berterbangan di atas kepala mereka. Melihat Mei Yin menari bersama bunga-bunga itu membuat Raja Zhao Li menatapnya penuh kekaguman. Mei Yin terlihat bagaikan seorang dewi yang sedang menari bersama peri-peri bunga yang ikut menari bersamanya. Rambut panjangnya terurai mengikuti desiran arah angin hingga membuat penutup wajahnya terlepas.


Dari balik rerumputan yang meninggi, tampak seseorang sedang menatap penuh kekaguman ke arah Mei Yin yang kini tengah menari. Matanya yang sudah lama merindukan untuk melihat wanita yang sangat di cintainya itu seakan tak ingin berkedip. Perlahan, air matanya jatuh menatap sosok wanita yang tidak mungkin bisa tergantikan oleh wanita manapun. Wanita yang sudah membuatnya mencintai dalam diam. Wanita yang takkan mungkin bisa dimilikinya.


"Akhirnya aku bisa menatap wajahmu lagi. Aku akan selalu mencintaimu dan selamanya akan mencintaimu. Walau tubuhmu tak dapat kumiliki, tapi setidaknya wajah cantikmu selalu tersimpan dalam ingatku. Bahagialah, walau bukan bersamaku. Melihat senyummu, aku juga akan tersenyum. Melihat dirimu bahagia, aku juga akan bahagia. Mei Yin, izinkan aku mencintaimu dalam diam. Dan izinkan aku menikmati keindahan tarianmu ini, karena aku takut tidak akan bisa melihatnya lagi," batinnya sambil menatap wanita yang sangat dicintainya itu.


Angin perlahan berhenti meniup seiring tarian Mei Yin yang juga terhenti. Wajahnya tampak tersenyum hingga membuat seseorang di balik rerumputan juga ikut tersenyum. Setelah memandangi wajah cantik itu, sosok itu kemudian pergi dengan sebuah senyuman yang terukir di wajahnya. Entah itu senyum kebahagiaan atau kesedihan karena keduanya tampak samar.


Mei Yin dan Raja Zhao Li kemudian meninggalkan padang bunga dan kembali pulang. Mereka kembali melewati jalan-jalan kota dan melewati para pedagang yang sedang menjajakan dagangannya. Langkah kuda tiba-tiba berhenti. Raja Zhao Li kemudian turun dan medekati seorang penjual perhiasan rambut dan mulai memilih perhiasan rambut yang sesuai untuk Mei Yin.


Mei Yin tersenyum dan mengangguk saat Raja Zhao Li menunjukan sepasang anting dan hiasan rambut yang bermotif sama. Setelah memilih beberepa buah, Raja Zhao Li kembali naik ke atas kuda dan memberikan hiasan rambut itu untuk Mei Yin. "Pakailah jika nanti kita jalan-jalan seperti ini lagi. Kamu tahu, aku sangat menikmati hari ini bersamamu. Aku janji, aku akan sering-sering mengajakmu jalan-jalan. Ternyata, ini sangat menyenangkan," bisik Raja Zhao Li di belakang telinga Mei Yin hingga membuatnya tersenyum.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan dan melewati jalan yang terlihat lengang. Langit yang perlahan mulai senja membuat Raja Zhao Li melajukan kudanya, hingga tiba-tiba muncul segerombolan perampok yang menghalangi jalan mereka. Kuda yang sempat berlari kencang terpaksa berhenti mendadak hingga membuat Mei Yin hampir terjatuh.


"Istriku, kamu tidak apa-apa?" tanya Raja Zhao Li cemas.


"Aku tidak apa-apa. Siapa mereka? Apa yang mereka inginkan dari kita?" tanya Mei Yin yang tampak mulai panik.


"Cepat berikan uang kalian kalau tidak, nyawa kalian akan melayang!!??" ancam salah seorang perampok yang terlihat sangar dengan pedang di tangannya.


"Baiklah, aku akan menyerahkan uangku, tapi setelah itu biarkan kami pergi," ucap Raja Zhao Li sambil mengeluarkan sekantong uang dan melemparnya ke tanah.


Salah satu perampok mengambil kantong uang itu dan membukanya. Seketika matanya terbelalak melihat uang emas yang ada di dalam kantong itu. "Sepertinya, dia bukan orang sembarangan. Lihat saja uang emas ini, uang ini hanya bisa dimiliki oleh bangsawan dan juga anggota kerajaan," bisik orang itu pada salah seorang yang terlihat seperti ketua mereka.


"Menyingkirlah, biarkan kami lewat," ucap Raja Zhao Li.


Mereka seakan tak peduli dengan ucapan Raja Zhao Li. Mereka masih berdiri dan menghalangi jalan hingga membuat Raja Zhao Li mengepalkan kedua tangannya.


"Maaf, Tuan. Aku lihat, wanitamu sedang memegang perhiasan. Aku akan mengizinkanmu lewat asalkan perhiasan itu kalian berikan pada kami."


"Baiklah, ambilah asalkan biarkan kami lewat," ucap Mei Yin sambil mengeluarkan perhiasan yang baru saja dibeli oleh Raja Zhao Li untuknya.


"Simpan kembali perhiasanmu itu," ucap Raja Zhao Li pada Mei Yin.


"Tapi ... "


"Simpanlah. Aku akan rela memberikan harta yang aku punya, tapi aku tidak akan pernah rela memberikan apa yang menjadi milikmu diambil oleh siapapun karena apa yang ada pada dirimu adalah milikku," ucap Raja Zhao Li dengan tatapan penuh amarah. Wajahnya memerah. Walau dia tidak ingin bertarung, tapi perampok-perampok itu telah membangunkan sosok liarnya yang selama ini terdiam.


Raja Zhao Li kemudian turun dari atas kudanya dan menurunkan Mei Yin dan menempatkan istrinya itu di belakangnya. "Tetaplah berdiri di belakangku, aku akan segera menyelesaikan masalah ini dan kita akan kembali pulang."


"Suamiku ... " Mei Yin begitu cemas hingga memegang lengan Raja Zhao Li. Sejenak, rasa takut manghantuinya. Dia takut kejadian yang menimpa Lian akan menimpa suaminya.


"Jangan takut, aku tidak akan mati semudah itu," ucap Raja Zhao Li yang seakan paham dengan ketakutan istrinya itu.


Perampok yang berjumlah hampir dua puluh orang itu rupanya semakin berani karena lawan mereka hanya seorang lelaki dan seorang wanita yang terlihat mulai ketakutan.


Raja Zhao Li berjalan perlahan dan mengambil sebuah batang kayu yang teronggok di jalan dan memakainya sebagai senjata. Melihat kayu di tangan Raja Zhao Li membuat perampok-perampok itu tertawa. "Kamu pikir bisa mengalahkan kami hanya dengan kayu itu?" ucap ketua mereka dengan congkaknya. Raja Zhao Li hanya tersenyum dan mulai merangsek maju dan menghantamkan kayu itu ke arah para perampok-perampok itu.


Melihat lelaki itu maju menyerang membuat mereka terkejut. Mereka tidak menyangka hanya dengan sebatang kayu lelaki itu berani menghadapi mereka.


Raja Zhao Li mulai mengayunkan kayu itu ke arah punggung mereka satu persatu hingga menimbulkan suara yang membuat telinga menjadi ngilu. Pedang yang diayunkan dan mengarah kepada Raja Zhao Li hanya mampu mengenai ruang kosong karena kegesitan tubuh Raja Zhao Li yang begitu lincah.


"Aku sudah bilang untuk biarkan kami pergi, tapi kalian menolak. Maka rasakanlah ini!!??" ucap Raja Zhao Li dengan wajah menyeringai dan terus mengarahkan kayu itu ke tangan dan punggung mereka. Kelihaian Raja Zhao Li dalam bertarung tidak bisa dianggap remeh. Walau dengan tangan kosong, dia mampu menjatuhkan lawan-lawannya.


Salah seorang perampok yang mencoba mendekati Mei Yin pun tak luput dari serangannya. Dengan berbekal sebuah batu kecil, Raja Zhao Li melemparkan batu itu ke arah kepala perampok itu hingga membuatnya mengerang kesakitan dan tersungkur di depan Mei Yin.


Melihat keadaan mereka yang terdesak membuat salah seorang dari perampok itu meniup sebuah peluit panjang dan tiba-tiba saja muncul sekumpulan perampok dalam jumlah yang tidak sedikit.


Melihat kehadiran mereka, Raja Zhao Li mundur ke belakang dan mendekati Mei Yin. "Suamiku, apa yang harus kita lakukan?" tanya Mei Yin panik sambil memegang lengan suaminya itu.


"Aku akan melindungimu. Naiklah ke atas kuda dan pergi dari sini dan selamatkan dirimu."


"Tidak!! Aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Kalau harus mati, aku akan mati bersamamu." Mei Yin menitikkan air mata. Tangannya menggenggam erat tangan suaminya itu. Tekadnya sudah bulat, dia tidak akan pernah meninggalkan Raja Zhao Li sendirian. Dia akan menghadapinya bersama sang suami walau harus mengorbankan nyawanya.


Raja Zhao Li tersenyum dan menatap wajah istrinya itu. Dengan lembut, Raja Zhao Li menghapus air mata yang jatuh di pipi sang istri. "Baiklah, kalau harus mati, kita akan mati bersama. Kalau kamu takut, genggam erat tanganku ini." Mei Yin mengangguk dan menggenggam erat tangan Raja Zhao Li.


Kini, di depan mereka tampak puluhan para perampok yang sudah lengkap dengan persenjataan mereka. Raja Zhao Li dan Mei Yin menatap ke perampok-perampok itu dan berharap ada keajaiban yang datang menghampiri mereka.