
Mendapati kabar kalau dirinya kini tengah mengandung membuat Permaisuri merasa mempunyai harapan. Setidaknya, dengan menggunakan alasan kehamilannya dia berharap bisa membuat Kaisar Wang kembali perhatian padanya. "Semoga dengan kehamilanku ini bisa membuat Kaisar kembali perhatian padaku," batin Permaisuri sambil mengelus lembut perutnya.
"Apa kamu bahagia?" Yuan tiba-tiba datang dan duduk di depannya.
"Tentu saja aku bahagia karena dengan anak ini aku bisa mendapatkan kembali perhatian dari Kaisar," ucap Permaisuri yang terlihat begitu yakin.
Yuan tampak tersenyum dengan senyuman yang begitu dia paksakan. "Andai kamu tahu kalau lelaki itu sama sekali tidak peduli padamu, apa kamu masih akan tetap mencintainya?" batin Yuan yang merasa iba pada wanita itu.
"Kalau kamu menginginkan dia kembali lagi padamu, maka jagalah baik-baik dirimu dan juga bayimu. Beristirahatlah, aku harus pergi." Yuan kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Walau dia tahu, Kaisar sudah tidak peduli lagi pada Permaisuri, tapi dia tidak ingin memberitahukannya karena dia takut kalau wanita itu nantinya akan kecewa.
Berita tentang kehamilan Permaisuri ternyata tersebar begitu cepat hingga sampai di telinga Mei Yin. "Suamiku, apa benar saat ini Permaisuri tengah mengandung?" tanya Mei Yi pada Kaisar Wang yang sementara menemaninya.
"Jangan dibahas, itu tidak penting bagiku karena bagiku dirimu dan juga bayi kita adalah yang paling penting. Sudahlah, jangan membahas tentang dia," ucap Kaisar Wang seakan tidak suka jika Mei Yin membicarakan tentang Permaisuri.
Mei Yin terdiam karena dia tahu sifat lelaki itu. Dia tahu, saat ini dirinya lah yang mendapat perhatian lebih dari Kaisar Wang dan Mei Yin akan mengambil kesempatan itu untuk membuat Permaisuri tersiksa.
Permaisuri yang berharap dikunjungi oleh Kaisar Wang, ternyata harus menahan rasa kecewa. Tak sekali pun Kaisar Wang datang mengunjunginya, dan sebaliknya Kaisar Wang selalau menemani Mei Yin dan meberikan perhatian lebih padanya. Hingga perutnya mulai membesar pun, Kaisar Wang masih belum juga datang mengunjunginya dan itu membuat Permaisuri menjadi marah dan cemburu.
Permaisuri yang merasa diacuhkan terpaksa memberanikan diri untuk bertemu dengan Kaisar. Dia tidak peduli jika dia kembali ditolak asalkan dia bisa bertemu dengan suaminya itu.
"Permaisuri, sebaiknya urungkan niat Permaisuri. Jangan membuat Kaisar menjadi murka pada Permaisuri," ucap salah satu dayangnya yang paling setia.
"Tidak!! Aku harus bertemu dengannya. Aku ingin meminta penjelasan darinya. Bagaimana mungkin dia memperlakukan aku seperti ini? Aku adalah istrinya dan aku juga tengah mengandung anaknya, tapi kenapa tak sekali pun dia datang mengunjungiku?" ucap Permaisuri yang tampak marah.
Permaisuri kemudian pergi ke kediaman Mei Yin. Dia tidak peduli walau mereka melarangnya. Dengan berjalan tergesa-gesa, Permaisuri akhirnya tiba di depan pintu utama.
"Biarkan aku masuk!!" ucapnya pada pengawal yang berjaga di tempat itu.
"Maaf, Permaisuri. Kembalilah ke kamar karena Kaisar sudah melarang siapapun untuk masuk ke tempat ini termasuk Permaisuri," ucap penjaga yang masih tidak megizinkan Permasuri untuk masuk.
"Kalau begitu, katakan padanya kalau aku ingin bertemu," ucap Permaisuri memohon.
"Tidak perlu. Kembalilah ke kamarmu karena suamimu tidak ada di sini. Dia sedang pergi berburu rusa untukku karena aku ingin memakan daging rusa dari hasil buruannya." Tiba-tiba Mei Yin datang dan berdiri di depannya.
Mendengar itu, Permaisuri semakin cemburu. Tak sekali pun Kaisar Wang memperlakukannya seperti itu. Jangankan berburu untuknya, menatapnya saja Kaisar Wang begitu enggan.
"Nyonya Wang, tidak bisakah kamu membiarkan Kaisar mengunjungiku. Aku juga adalah istrinya dan juga sedang mengandung anaknya, sama sepertimu," ujar Permaisuri.
"Aku tidak pernah melarang Kaisar mengunjungimu, tapi itu atas kemauanya sendiri. Seharusnya kamu berpikir, kenapa Kaisar memperlakukanmu seperti itu. Itu karena dia sama sekali tidak mencintaimu. Pergilah, dan jangan pernah datang ke sini dan merengek seperti seorang wanita murahan. Jagalah martabatmu sebagai seorang Permaisuri. Bukankah menjadi Permaisuri negeri ini adalah keinginanmu? Maka bersikaplah sebagaimana seorang Permaisuri. Apakah kamu tidak merasa malu padaku?" Setelah berkata seperti itu, Mei Yin kemudian melangkah pergi.
Permaisuri menatap Mei Yin dengan tatapan penuh kebencian. "Dasar wanita licik. Apa kamu pikir aku tidak tahu sandiwaramu itu? Apa hatimu semudah itu bisa menerima Kaisar yang nyatanya telah membunuh suamimu? Apa alasanmu untuk tetap ada di sini kalau bukan untuk merebut kembali tahta ini darinya?"
Mendengar itu, Mei Yin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Permaisuri. "Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu tidak katakan saja padanya? Kalau dia mencintaimu, dia pasti akan mendengarkanmu, tapi nyatanya dia lebih mempercayaiku. Kamu akan mendapatkan balasan atas perbuatanmu pada suamiku. Kalian berdua akan menyesal karena telah menghancurkan keluargaku," ucap Mei Yin dengan wajahnya yang memerah. Tatapan matanya begitu tajam hingga membuat Permaisuri ketakutan.
Permaisuri tercekat karena mendengar penuturan Mei Yin padanya. "Jadi benar apa yang aku katakan? Rupanya, kamu melakukan semua ini karena ingin balas dendam?"
Mei Yin tersenyum sinis padanya. "Kenapa? Apa kamu ingin membunuhku sama seperti kamu membunuh suamiku? Atau, kamu ingin memberitahu Kaisar kalau aku hanya pura-pura mencintainya? Lakukan saja semaumu, tapi kamu tidak akan pernah berhasil mempengaruhi dia karena dia lebih mempercayaiku daripada dirimu."
Permaisuri mengepalkan kedua tangannya dan menampar Mei Yin hingga sudut bibirnya berdarah. "Ayo, tampar aku lagi. Bila perlu, bunuh saja aku dan kamu akan lihat kemarahan dari Kaisar yang pasti akan membuatnya semakin membencimu," ucap Mei Yin yang membuat wanita itu berpikir dua kali.
Dayang Ling yang berdiri di dekat Mei Yin tak terima majikannya ditampar. Dia kemudian berjalan mendekati Permaisuri dan menampar wajah wanita itu. "Jangan pernah menaruh tanganmu untuk Nyonya Wang karena aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya," ucap Dayang Ling setelah menampar wajah Permaisuri.
Karena tidak terima ditampar oleh seorang dayang membuat Permaisuri naik darah. Dengan emosi, Permaisuri lantas berusaha menamparnya kembali, tapi aksinya itu tertahan karena kehadiran Kaisar Wang yang baru saja tiba di tempat itu.
"Kenapa kamu ada di sini dan berani membuat keributan di tempat ini!!??" bentak Kaisar Wang sambil turun dari atas punggung kudanya. Lelaki itu kemudian berjalan menghampiri Mei Yin dan terkejut melihat darah di sisi bibir istrinya itu.
"Istriku, apa yang terjadi denganmu? Kenapa bibirmu bisa berdarah seperti ini?" tanya Kaisar Wang sambil membelai lembut sudut bibirnya itu. Apalagi saat dia melihat pipi sebelah kiri istrinya yang memerah.
"Apakah dia yang melakukan ini padamu?" tanya Kaisar Wang marah.
"Maaf, Yang Mulia. Permaisuri datang dan meminta untuk menemui Yang Mulia. Nyonya sudah memintanya untuk kembali, tapi rupanya Permaisuri tidak terima dan malah menampar wajah Nyonya," jelas Dayang Ling yang membuat Kaisar Wang menjadi marah.
Kaisar Wang berjalan mendekati Permaisuri dan menampar wajahnya hingga dia terjatuh ke tanah. "Bukankah, aku sudah bilang jangan sekali-kali menyakiti istriku. Apa kamu ingin aku membunuhmu, hah!!" Kaisar Wang lantas mengambil anak panah di punggungnya dan mengaitkannya di busur dan siap dilesatkan ke kepala Permaisuri.
Permaisuri tampak ketakutan saat melihat Kaisar Wang yang begitu marah padanya. Walau begitu, dia tidak bergeming, malah dia bangkit dan menantang Kaisar untuk memanah tubuhnya. "Ayo, panah saja aku dan puaskan kemarahanmu karena wanita itu. Suatu saat nanti, kamu pasti akan menyesal karena terlalu mempercayainya. Dia sama sekali tidak mencintaimu, apa kamu tidak sadari itu?"
Kaisar Wang membuang busur di tangannya dan mendekati Permaisuri dengan kedua tangannya yang sudah mencekik leher wanita itu. "Aku tidak akan lagi memaafkanmu, matilah," ucap Kaisar Wang dengan matanya yang memerah. Cekikan tangannya di leher Permaisuri membuat wanita itu tidak bisa bernapas. Kedua tangannya memukul-mukul tangan Kaisar Wang, tapi lelaki itu sudah terlampau marah.
"Yang Mulia, tolong ampunkan Permaiauri. Hamba mohon, Yang Mulia," ucap Yuan yang tiba-tiba datang sambil berlutut di depannya.
"Pergi kamu dari sini!! Kali ini aku tidak akan melepaskannya, dia sudah membuatku marah."
"Yang Mulia, hamba berjanji mulai saat ini, Permaisuri tidak akan lagi mengganggu Nyonya Wang. Tolong Yang Mulia, ampunkan Permaisuri. Jika Permaisuri berani melakukan hal yang sama, maka hamba bersedia untuk dihukum."
Kaisar Wang melepaskan tangannya dan menghempaskan tubuh wanita itu hingga dia termundur ke belakang dengan terbatuk-batuk.
"Aku akan ampuni dia, tapi sesuai janjimu. Jika dia berani berbuat hal ini lagi pada istriku, tidak hanya kamu, tapi aku juga akan menghukumnya dan kalian berdua akan aku bunuh!!" ucap Kaisar Wang tegas.
"Terima kasih, Yang Mulia. Aku akan pastikan, Permaisuri tidak akan lagi mengulangi perbuatannya," ucap Yuan sambil berlutut.
Kaisar Wang kemudian mendekati Mei Yin yang sedari tadi hanya melihat dua orang yang sangat dibencinya itu hampir saling membunuh. Di dalam hatinya, dia merasa puas karena telah membuat kedua orang itu saling membenci.
"Istriku, bibirmu tidak apa-apa, kan?" tanya Kaisar Wang sambil membopong tubuh Mei Yin dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Tidak apa-apa. Apa kamu berhasil membawakan rusa untukku?" Kaisar Wang mengangguk. "Aku sudah membawakan dua ekor rusa dan menyuruh dayang untuk memasaknya untukmu. Apa kamu senang?" Mei Yin tersenyum dan mengangguk. Kedua tangannya dia rangkulkan di leher lelaki itu dan menyandarkan kepalanya di dadanya yang bidang.
Sementara Permaisuri hanya bisa menangis karena perlakuan Kaisar Wang padanya. Yuan yang berada di dekatnya kemudian membopong tubuhnya. Wanita itu tidak menolak, bahkan dia terlihat menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu.
Setibanya di kamar, Yuan membaringkan Permaisuri di atas tempat tidurnya. Lelaki itu masih menatapnya dengan kedua tangannya yang mengepal. "Kamu dengar sendiri kan tentang janji yang sudah aku buat dengan Kaisar? Jika kamu ingin membalas wanita itu, kamu harus kuat dan menahan perasaanmu. Apa karena Kaisar hatimu bisa selemah ini? Yuri, ingatlah tujuanmu menjadi Permaisuri. Apa kamu tidak malu dengan ayahmu?" Permaisuri menatap Yuan dengan air mata yang jatuh.
"Jangan lagi kamu mengemis perhatian Kaisar padamu karena dihatinya, tidak ada dirimu. Sadarlah dan cobalah untuk menerima kenyataan itu. Sekarang, tugasmu hanya untuk membesarkan anakmu dan jadikan dia untuk membalaskan dendammu." Permaisuri kembali menangis mendengar ucapan Yuan yang membuat lelaki itu mendekatinya.
"Yuri, aku tahu kamu mencintainya, tapi apa kamu tahu kalau aku juga mencintaimu? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, apapun alasannya. Aku akan selalau ada di sisimu selama kamu masih membutuhkanku. Yuri, izinkan aku untuk selalu ada di sisimu walau kamu tak mencintaiku," ucap Yuan jujur di depan Permaisuri. Wanita itu terkejut mendengar pengakuan Yuan. Dia tidak menyangka, sahabatnya sedari kecil itu ternyata diam-diam mencintainya.
"Baiklah, tetaplah ada di sisiku. Aku akan ikuti semua ucapanmu. Aku tidak akan lagi mengemis perhatian darinya. Anak ini, akan aku jaga dan kudidik untuk menjadi alat pembalasan dendamku. Lihat saja, anaknya sendiri nanti yang akan menghancurkannya," ucap Permaisuri yang perlahan menghapus air matanya.
"Yuan, maafkan aku karena tidak menyadari rasa cintamu padaku. Aku tahu bagaimana sakitnya cinta tak terbalas, tapi aku janji suatu saat nanti aku pasti akan membuka hatiku padamu. Untuk saat ini, biarkan aku mengobati luka di hatiku." Yuan tersenyum mendengar ucapan Permaisuri. Walau dia harus menunggu, dia akan lakukan asalkan Permaisuri menerima cintanya.
"Aku akan menjadikan anakmu seperti anakku sendiri. Aku akan menyayanginya seperti darah dagingku sendiri. Yuri, kuatkan dirimu karena aku tidak ingin kehilanganmu," ucap Yuan sambil membelai lembut wajah wanita itu. Permaisuri tidak mengelak, bahkan dia membiarkan tangan lelaki itu menyentuh wajahnya. Yuan seakan tidak peduli dengan status Yuri yang merupakan istri Kaisar. Rasa cintanya, telah membutakan hatinya dan bersedia menerima Yuri apapun keadaannya.
Sejak saat itu, Permaisuri sudah tidak pernah menampakkan dirinya di tempat itu lagi. Bahkan, dia sudah tidak peduli lagi dengan Kaisar. Yuan yang sudah menyatakan perasaannya pada Permaisuri, perlahan sudah membuat Permaisuri membuka diri untuknya. Pernyataan Yuan tentang perasaannya, membuat Permaisuri menjadikannya sebagai tempat pelarian cintanya.
Sementara di kediamannya, Mei Yin tengah duduk sambil memandangi bunga-bunga yang bermekaran. Usia kehamilannya yang sudah menginjak 9 bulan mulai memaksanya untuk bersiap-siap menunggu kelahiran.
"Nyonya, ayo kita jalan lagi. Beberapa hari lagi Nyonya akan melahirkan, karena itu Nyonya harus mempersiapkan diri," ucap Dayang Ling sambil menggandeng tangan Mei Yin dan menuntunnya berjalan-jalan di taman itu.
"Nyonya, Nyonya harus kuat. Aku akan membantu Nyonya sebisaku. Aku akan menjaga Nyonya walau harus mengorbankan nyawaku. Bagiku, Nyonya seperti kakakku." Mei Yin tersenyum mendengar ucapan Dayang Ling padanya. Dayang Ling sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Wanita itulah yang selama ini sudah membantunya dan dia tidak bisa melupakan semua yang telah Dayang Ling lakukan untuknya.
"Terima kasih, aku menyayangimu. Kalau tidak ada dirimu, mungkin saja aku tidak akan sanggup berada di tempat ini dan menanggung semua penderitaan ini. Aku beruntung mempunyai seseorang di dekatku yang baik sepertimu." Mei Yin tersenyum dan Dayang Ling pun membalas senyumnya.
"Nyonya, sebaiknya kita kembali ke kamar. Sebentar lagi Kaisar Wang akan datang dan dia pasti tidak suka kalau Nyonya masih berada di luar."
"Baiklah, ayo kita masuk."
Mei Yin masih berjalan dengan dituntun oleh Dayang Ling, hingga tiba-tiba Mei Yin memegang perutnya dan mulai menjerit kesakitan.
"Nyonya, ada apa?" tanya Dayang Ling panik.
"Dayang Ling, cepat panggilkan tabib, perutku sakit sekali, cepatlah!!" ucap Mei Yin sambil memegang perutnya.
Dayang Ling kemudian memerintahkan salah satu dayang untuk memanggil tabib. Sementara dirinya membantu Mei Yin untuk bangkit, tapi Mei Yin tidak mampu lagi untuk berjalan hingga membuat dirinya terbaring di depan pintu.
Kaisar Wang yang baru saja tiba terlihat panik saat melihat istrinya terbaring di depan pintu sambil menjerit kesakitan. "Istriku, ada apa?" tanya Kaisar Wang sambil mengangkat tubuh Mei Yin dalam bopongannya dan membawanya masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Mei Yin masih menjerit kesakitan sambil memegang perutnya dan itu semakin membuat Kaisar Wang semakin panik. "Dayang Ling, ada apa dengan istriku?"
"Hamba tidak tahu, Yang Mulia. Sepertinya, Nyonya akan segera melahirkan, tapi hari ini bukan waktunya karena kelahirannya masih harus beberapa hari lagi," jelas Dayang Ling sambil menyeka keringat di dahi Mei Yin.
Melihat istrinya yang menjerit kesakitan membuat Kaisar Wang tidak tahan. Lelaki itu kemudian menggenggam erat tangan Mei Yin sambil menitikkan air mata. "Istriku, kumohon bertahanlah."