The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 62



Permaisuri Yuri terdesak hingga membuat wajahnya memerah karena sesak napas. Cekikan Kaisar Wang rupanya tak main-main, karena dirinya sudah terlalu marah atas percobaan pembunuhan terhadap istrinya. "Aku tahu kamu adalah dalang di balik percobaan pembunuhan terhadap istriku. Kamu marah dan cemburu karena aku sudah mengangkatnya menjadi permaisuri, iya kan?" Lelaki itu masih mencekik Permaisuri yang mulai tidak berdaya.


"Yang Mulia, apa maksudmu?"


"Jangan banyak alasan!! Di kerajaan ini yang membenci istriku hanyalah dirimu. Karena itu, kamu berniat membunuhnya, kan?" Kaisar Wang melepaskan tangannya dari leher Permaisuri Yuri karena luka di dadanya tiba-tiba terasa sakit.


Permaisuri Yuri terduduk dengan napas yang turun naik. Sementara Kaisar Wang memegang dadanya sambil menahan sakit. "Aku tahu kamulah yang menyuruh orang-orang itu untuk mengikuti kami dan berniat membunuh istriku. Mulai saat ini, kamu bukanlah permaisuri. Aku akan menceraikanmu!!" Kaisar Wang tampak marah.


Mendengar keputusan Kaisar Wang yang mencopot gelarnya dan juga menceraikannya membuat wanita itu terkejut. "Yang Mulia, apa maksudmu? Kenapa kamu tega melakukan itu padaku?" Permaisuri berlutut dan memegang kakinya seraya memohon.


"Aku tidak melakukan apapun. Aku berani bersumpah kalau bukan aku yang melakukannya." Permaisuri terus menyangkal, namun Kaisar Wang tidak mempedulikannya.


"Pengawal, bawa dia ke dalam penjara. Mulai saat ini, dia bukan lagi permaisuri dan jangan biarkan siapapun menemuinya di penjara tanpa seizinku, mengerti!!"


Kaisar Wang keluar dari kamar itu dan diikuti Permaisuri yang menangis histeris sambil berlutut dan memohon, namun tangisannya itu sudah tak berarti lagi. Walau dia berusaha untuk berontak, tapi percuma karena dengan paksa dirinya dibawa ke dalam penjara oleh beberapa orang pengawal. "Yang Mulia, aku tidak melakukan apapun. Lepaskan aku!! Biarkan aku bertemu dengan Yang Mulia." Wanita itu terus menangis dan meronta, tapi semua percuma.


"Tuan, gawat. Permaisuri telah ditangkap dan dikurung di dalam penjara," jelas salah seorang dayang saat melihat Yuan yang baru saja datang.


"Apa??!! Ditangkap??!!"


"Benar, Tuan. Yang Mulia menuduh permaisuri yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap Nyonya Wang, karena itu permaisuri ditangkap."


Seketika, wajahnya berubah. Dia tidak menyangka, perintahnya untuk membunuh Mei Yin akan berdampak pada Permaisuri.


Karena melihat kesedihan di wajah wanita yang dicintainya itu atas keputusan Kaisar yang mengangkat Mei Yin sebagai permaisuri membuat lelaki itu bertekad untuk melenyapkan Mei Yin. Karena itulah, dia memerintahkan beberapa orang pembunuh bayaran untuk menghabisi mereka yang tanpa sengaja dilihatnya meninggalkan kerajaan.


"Aku harus melihatnya."


"Tidak bisa, Tuan. Tanpa seizin Yang Mulia, tidak satupun yang bisa menjenguknya."


Langkahnya terhenti. Dia tahu, saat ini permaisuri pasti sedang ketakutan, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Untuk saat ini, dia akan mengalah. Setelah beberapa hari nanti, barulah dia akan menemui permaisuri, bagaimanapun caranya.


"Ayah, apa yang sudah Ibu lakukan hingga Ayah mengurungnya di penjara?" tanya Putri Xia saat dia tahu kalau ayahnya telah memenjarakan ibunya.


"Dia yang telah menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuh istriku. Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berusaha mencelakai istriku."


Gadis itu terkejut mendengar penjelasan ayahnya itu. "Apa Ayah yakin itu adalah perintah Ibu? Ayah, ibu tidak mungkin melakukan hal sekeji itu."


"Tahu apa kamu tentang ibumu. Dia bisa melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya. Pergilah!! Jangan sampai kamu membuatku marah." Kaisar Wang memegang dadanya yang terasa sakit. Luka di dadanya itu telah membuatnya melemah hingga membuat wajahnya terlihat pucat.


"Ayah."


"Pergilah!!"


Gadis itu kemudian pergi dengan menahan air matanya. Walau dia tidak terlalu dekat dengan ibunya, tapi melihatnya di penjara membuatnya merasa tidak tega.


Saat ini, hatinya sedang goyah. Rasa cinta yang dia rasakan pada Chen Li, tak mampu untuk dia ungkapkan. Ditambah dengan persoalan ibunya yang dituduh ingin membunuh ibu angkatnya, kembali membuatnya resah. Karena kegundahannya itu, dia memutuskan untuk pergi menemui Huanran, setidaknya dia ingin menceritakan masalah hati yang kini dialaminya.


Dengan menunggangi kudanya, Putri Xia keluar menuju jalan kota yang terlihat ramai. Namun, keramaian kota tak membuat hatinya menjadi damai karena hati dan pikirannya saat ini sedang gundah.


"Putri Xia, apa yang sedang kamu pikirkan? Lihatlah ke depan, nanti kamu bisa menabrak orang." Suara itu mengagetkan lamunannya hingga membuatnya tersentak dan menghentikan kudanya.


"Kamu?"


"Ya, ini aku, Lian." Dengan menunggangi kuda hitamnya, pemuda itu berjalan di samping Putri Xia.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?"


Pemuda itu tersenyum. "Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu ada di sini?"


Gadis itu tersenyum kecut. "Aku hanya ingin jalan-jalan di luar. Aku bosan di dalam kerajaan."


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Ingat, jangan terlalu lama berada di luar, karena itu bisa berbahaya untukmu."


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak menemaniku saja?" Tanpa sadar, kalimat itu terucap begitu saja dari bibirnya hingga membuat wajahnya bersemu merah. "Maaf, maksudku ... "


"Memangnya, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Chen Li yang membuat Putri Xia menatapnya.


"Aku hanya ingin ditemani olehmu, apa boleh?" Sekali lagi, wajah cantik itu tersipu malu.


"Baiklah, aku akan menemanimu. Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" Chen Li kemudian turun dari atas kudanya dan mengikat tali kudanya di sebatang pohon. Pemuda yang terlihat tampan dan gagah itu kemudian naik ke atas kuda yang sedang ditunggangi oleh Putri Xia. "Apa yang kamu lakukan?" Putri Xia terkejut saat Chen Li sudah duduk di belakangnya dan meraih tali kekang yang sedari tadi di pegangnya.


"Bukankah, kamu ingin aku menemanimu? Baiklah, untuk saat ini aku yang akan menjadi pengawalmu." Chen Li kemudian memacu kudanya dengan kecepatan sedang hingga membuat Putri Xia terkejut. "Jangan takut, selama bersamaku, kamu akan aman." Chen Li melingkarkan tangan kirinya di pinggang gadis itu. Putri Xia terdiam dengan jantungnya yang berdegup kencang. Embusan nafas Chen Li terdengar di telinganya, bagaikan sebuah nyanyian merdu yang menggoyahkan hatinya. "Apa ini nyata? Aku tidak sedang bermimpi, kan?" Gadis itu mencubit tangannya sendiri. "Oouuww."


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa." Gadis itu tersenyum. Senyum yang terlihat begitu menawan hingga membuat siapapun akan tertawan dengan senyumannya itu.


Di depan hamparan pasir putih, kuda mereka berhenti. Suara deburan ombak terlihat menggulung dengan kilauan matahari yang menyinari lautan lepas bak berlian yang berhamburan. Putri Xia begitu terkesima dengan pemandangan yang ada di depannya itu. "Tempat ini sangat indah." Gadis itu masih menatap takjub hingga dia di kejutkan dengan tangan Chen Li yang meraih tubuhnya dan menurunkannya dari atas kuda.


Tempat itu tidak jauh dari tempat di mana Mei Yin dan Kaisar Wang diserang waktu itu. Tanpa sengaja, Chen Li melintasi tempat itu saat mencari ibunya. "Apa kamu suka?"


Gadis itu mengangguk dan berjalan perlahan mendekati bibir pantai. Sementara Chen Li, memilih duduk di atas pasir sambil memandangi Putri Xia yang sedang asyik berlari menghindar dari deburan ombak yang mengejarnya.


"Aku akan membuatmu takluk padaku, setelah itu aku akan mencampakkanmu dan membuatmu menderita. Ayah ibumu telah menghancurkan keluargaku, dan aku tidak akan pernah bisa memaafkan mereka. Lihat saja, kamu akan menyesal karena perbuatan orang tuamu itu," batin Chen Li yang masih memandangi gadis itu.


Dengan tersenyum, Putri Xia berjalan mendekati Chen Li dan duduk di sampingnya. "Terima kasih." Gadis itu memandangi Chen Li sambil tersenyum.


"Terima kasih untuk apa?"


"Untuk semuanya. Aku sangat bahagia, terima kasih karena sudah membuatku bahagia." Gadis itu menundukkan wajahnya, dan terlihat air bening yang coba untuk dia sembunyikan.


"Kalau kamu suka, aku akan sering-sering mengajakmu ke sini."


"Apa itu berarti kamu sedang mengungkapkan perasaanmu padaku?" Sontak, gadis itu terkejut.


"Maksudku ... " Chen Li tiba-tiba tertawa hingga membuat Putri Xia memandanginya dengan heran.


"Aku tahu aku tidak pantas untukmu. Ah, sudahlah, sebaiknya kita kembali. Aku khawatir akan dicari oleh Kaisar." Chen Li kemudian berdiri dan melangkah menuju kuda yang sedang terikat di sebuah pohon tak jauh dari tempat itu. Namun, langkahnya terhenti saat dia merasakan seseorang telah memeluknya.


"Kalau kamu merasa tidak pantas bagiku, maka biarkan aku menjadi sepertimu. Aku rela jika harus meninggalkan kerajaan dan hidup sederhana sepertimu."


Chen Li terkejut. Dia tidak menyangka, apa yang dilakukannya saat ini telah membuat Putri Xia berani mengungkap perasaannya. "Putri Xia, sadarlah. Aku hanya ... "


"Jangan katakan apapun. Biarkan aku memelukmu sekali saja, aku takut jika kita kembali ke kerajaan, kita akan kembali menjadi orang asing." Gadis itu mengeratkan pelukannya dan tanpa sadar dia menitikkan air mata.


Chen Li hanya terdiam dan membiarkan tubuhnya dipeluk oleh gadis itu. Dia sama sekali tidak menyangka, gadis itu ternyata benar-benar menyukainya. "Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, aku akan ikuti kemauanmu dan kita lihat apa yang akan terjadi padamu nanti," batin Chen Li yang masih diam terpaku.


Setelah puas memeluk lelaki yang dicintainya itu, Putri Xia perlahan melepaskan pelukannya. Dengan wajah yang menunduk dan tersipu malu, gadis itu berjalan meninggalkan Chen Li.


"Tunggu aku!! Apa sekarang kamu mengacuhkanku setelah apa yang sudah kamu lakukan padaku?" Chen Li berjalan mengikutinya dari belakang dan segera meraih tubuh gadis itu dalam bopongannya. "Jangan salah paham, aku hanya ingin menaikkanmu ke atas kuda."


Putri Xia tersenyum dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, seakan dia malu karena berada dalam gendongan seorang lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta.


"Sebaiknya kita kembali." Chen Li sudah duduk di belakang gadis itu dan bersiap untuk pergi.


"Bisakah kita singgah di suatu tempat? Aku ingin bertemu seseorang."


"Baiklah, Nona." Chen Li tersenyum dan mengangguk pada gadis itu.


"Bisakah di saat kita berdua, kamu memanggil namaku saja? Panggil saja aku Xia." Gadis itu terlihat manja saat mengatakan itu.


"Baiklah, Xia." Chen Li menuruti ucapan gadis itu dan segera memacu kudanya. Gadis itu terlihat tersenyum saat Chen Li menyebut namanya.


"Jadi, kita akan kemana?"


"Aku ingin menemui Huanran. Bukankah, dia adalah sahabatmu? Dia pasti akan senang jika melihatmu."


Chen Li terkejut. Bagaimana bisa dia menemui gadis yang dicintainya bersama gadis lain yang kini sudah menjadi kekasihnya?


"Apa yang sebaiknya aku lakukan? Apa sebaiknya, aku menjelaskan pada Huanran tentang alasanku mendekati Putri Xia?" batin Chen Li.


Di depan wisma tari, mereka disambut oleh Huanran yang sudah berdiri di depan mereka. "Ada apa ini? Aku tidak salah lihat, kan?" tanya Huanran yang terlihat bercanda sambil melirik dengan tatapan menggoda pada Putri Xia.


Gadis itu tersenyum malu dan meraih tangan Huanran dan mengajaknya masuk ke dalam. Tanpa di nyana, gadis itu memeluk Huanran sambil melonjak kegirangan.


"Xia, kamu tidak apa-apa, kan?"


Gadis itu mengangguk sambil tersenyum. "Aku dan Lian sudah menjadi pasangan kekasih. Kamu percaya, kan?"


Huanran terkejut. Walau begitu, dia mengangguk dan tersenyum. "Aku percaya karena aku tahu sahabatku yang cantik ini bisa membuat setiap lelaki bertekuk lutut dengan kebaikan hati dan juga kecantikanmu." Huanran tampak memuji karena itu memang kenyataannya. Tak hanya cantik, Putri Xia juga memiliki hati yang lembut.


Gadis itu tersenyum dan kembali memeluk Huanran walau sebenarnya jauh di lubuk hatinya, Huanran terlihat sedih karena lelaki yang perlahan mulai menarik hatinya, ternyata telah bersama gadis lain yang juga merupakan sahabatnya.


Chen Li menatap wajah Huanran yang berusaha tetap tersenyum, walau dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan di balik senyumnya itu. "Maafkan aku, Huanran."


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu?" Chen Li terkejut saat Hua Feng berdiri di belakangnya.


"Bibi Hua Feng."


Wanita paruh baya itu tersenyum dan memandang ke arah Huanran dan Putri Xia yang sedang asyik berbincang. "Kamu mencintainya, kan?"


"Maksud, Bibi?"


"Bibi tahu kamu mencintai Huanran. Bibi bisa lihat dari tatapanmu padanya dan juga cincin itu." Hua Feng menunjuk pada cincin giok berwarna merah yang kini dipakainya.


Chen Li memandangi cincin itu dan mengusapnya lembut.


"Cincin itu sangat berarti baginya dan dia tidak pernah melepaskan cincin itu dari jarinya. Waktu dia kehilangan cincin itu, dia menangis sejadinya hingga dia mendengar kalau ada seorang pemuda yang berhasil mendapatkan barang-barang dari para pencuri itu dan berharap cincin itu ada pada pemuda itu. Dan, pemuda itu adalah kamu, iya, kan?"


Chen Li kembali menatap ke arah Huanran.


"Cincin itu dia berikan padamu dan itu artinya dia ingin meyerahkan hatinya padamu. Apa kamu tidak sadari itu?"


Chen Li terkejut. "Bibi ... "


"Jelaskanlah padanya, dia pasti akan mengerti." Hua Feng menepuk pundaknya dan berjalan meninggalkannya yang kini mengalami dilema di hatinya. "Apa dia juga merasakan seperti yang aku rasakan untuknya?"


Chen Li masih berdiri terpaku hingga kedua gadis itu berjalan mendekatinya. "Lian, tolong jaga sahabatku ini. Dia sangat ... "


"Apa yang kamu katakan? Lebih baik aku pergi." Putri Xia berlari meninggalkan mereka berdua dengan wajahnya yang memerah menahan malu. Sementara Huanran tersenyum saat melihat tingkah gadis itu.


"Maafkan aku." Chen Li menatap Huanran yang kini memandanginya.


"Untuk apa meminta maaf, kamu tidak punya salah padaku." Gadis itu berusaha untuk tersenyum.


"Aku mencintaimu, tapi aku terpaksa bersamanya karena ayah ibunya yang sudah menghancurkan keluargaku. Aku harap kamu bisa mengerti. Huanran, aku tahu kamu juga mencintaiku, karena itu aku mohon tunggu aku. Aku akan kembali padamu dan menjadikanmu Permaisuriku."


Huanran terkejut. Dia tidak menyangka, kalau ternyata Chen Li juga mencintainya. "Pergilah, aku mengerti. Aku akan menunggumu, tapi tidakkah itu terlalu kejam untuknya? Chen Li, dia sangat mencintaimu."


"Aku tahu itu, tapi aku lebih mencintaimu." Huanran tercekat.


"Kembalilah." Huanran kemudian pergi meninggalkan Chen Li yang masih berdiri memandanginya.


"Aku juga sangat mencintaimu. Aku akan menunggu hingga kamu datang menjemputku." Huanran menitikkan air mata saat melihat Chen Li dan Putri Xia perlahan meninggalkan pelataran wisma tari.