The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 22



Kehadiran anak-anak itu bukan tanpa sebab. Mei Yin sengaja menghadirkan mereka untuk melihat reaksi wanita-wanita itu, tapi nyatanya tak satupun dari mereka yang suka bermain dengan anak kecil.


Lelaki yang tampan dan gagah itu kemudian berjalan dan mendekati Chen Li yang sedang bermain bersama anak-anak itu. Melihat lelaki itu, Chen Li kemudian berlari ke arahnya. "Paman," teriak Chen Li sambil memeluknya.


Lelaki itu yang ternyata adalah Jenderal Wang Li kemudian menggendong Chen Li. "Mana ibumu?" tanya Jenderal Wang Li.


"Aku di sini." Mei Yin berjalan ke arahnya sambil tersenyum.


Melihat Mei Yin, wanita-wanita itu kemudian menunduk memberi hormat.


"Adik Mei Yin, apa kamu berencana untuk mencarikan aku calon istri?" tanya Jenderal Wang Li saat melihat wanita-wanita itu.


"Maafkan aku, Kakak Wang. Aku melakukannya tanpa minta izin dulu dari Kakak, tapi rasanya usahaku hanya sia-sia," jawab Mei Yin sedikit kecewa.


Wanita-wanita itu terkejut saat mendengar kalau mereka sengaja diundang untuk diseleksi menjadi calon istri dari seorang lelaki tampan yang kini berdiri di depan mereka. Bukan hanya itu, tapi mereka juga terkejut saat Mei Yin mengatakan kalau usahanya sia-sia yang berarti mereka semua telah gagal.


"Kakak Wang, mereka adalah wanita-wanita terpelajar dan berkelas. Mereka juga memiliki wajah yang cantik. Lihatlah mereka dan pilihlah wanita yang Kakak suka, maka aku dan Raja Zhao Li akan melamarnya untuk Kakak," ucap Mei Yin pada Jenderal Wang Li.


Melihat Mei Yin yang sudah berusaha untuknya, membuat Jenderal Wang Li akhirnya mengikuti kemauannya. "Apa di antara kalian ada yang bisa menari? Kalau ada, aku ingin melihat tarian kalian," tanya Jenderal Wang Li pada wanita-wanita itu. Mereka saling memandang dan terdiam.


"Tidak ada? Kalau begitu, pulanglah karena aku tidak tertarik dengan kalian," ucap Jenderal Wang Li yang kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Kakak Wang, coba lihat mereka. Mereka itu memiliki wajah yang cantik. Kalau untuk menari, aku sendiri yang akan mengajarnya nanti biar dia bisa menari buat Kakak," ucap Mei Yin yang berusaha untuk membujuk lelaki itu.


"Sudahlah Adik Mei. Aku tidak menyukai mereka karena aku sudah mencintai ... " Jenderal Wang Li menghentikan kalimatnya.


"Apa sudah ada seseorang yang Kakak cintai?" tanya Mei Yin penasaran.


"Sudahlah, lebih baik suruh mereka pergi dari sini. Aku ingin bermain dengan keponakanku." Jenderal Wang Li berusaha menghindar dari pertanyaan Mei Yin dan menemui Chen Li yang sementara bermain sendiri.


Wanita-wanita itu kemudian pergi dengan perasaan kecewa. Sementara Mei Yin hanya bisa menatap Jenderal Wang Li dan putranya yang sedang bermain bersama.


"Istriku, kamu kenapa melamun?" tanya Raja Zhao Li yang tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya.


"Suamiku, Kakak Wang sama sekali tidak menyukai wanita-wanita itu, karena ternyata Kakak Wang mencintai wanita lain," jelas Mei Yin pada suaminya itu.


"Siapa wanita itu? Apa Kakak Wang sudah menceritakan tentang wanita itu padamu?"


Mei Yin menggeleng. "Aku tidak tahu kalau Kakak Wang sedang dekat dengan seorang wanita karena dari apa yang aku dengar, Kakak Wang tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Suamiku, apa mungkin wanita itu adalah Putri Yuri?"


"Entahlah."


"Suamiku, bagaimana jika aku mengundang Putri Yuri dan kita dekatkan mereka berdua."


"Baiklah, sepertinya itu bukan ide yang buruk," ucap Raja Zhao Li yang menyetujui usul istrinya itu.


Dua hari kemudian, Putri Yuri datang memenuhi undangan Mei Yin. Dia datang bersama Yuan yang selalu menemaninya. "Hormat hamba, Permaisuri," ucap Putri Yuri sambil memberi hormat pada Mei Yin.


"Terima kasih, karena Putri Yuri sudah bersedia memenuhi undanganku. Aku sengaja mengundangmu karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kalau tidak keberatan, aku ingin kita berdua menemani Raja Zhao Li dan Jenderal Wang Li berburu di hutan. Kita berdua akan memasak makanan untuk mereka karena aku dengar kamu sangat pandai memasak," jelas Mei Yin.


"Kalau itu yang Permaisuri inginkan, hamba dengan senang hati akan ikut. Hamba sangat berterima kasih karena Permaisuri sudah mempercayaiku. Terima kasih, Permaisuri," ucap Putri Yuri sambil menunduk di depannya.


"Sudahlah, sebaiknya kita bersiap-siap."


Kedua wanita itu kemudian mulai bersiap-siap dan menyiapkan semua perbekalan selama berburu. Putri Yuri yang pandai memasak mulai menunjukan kemampuannya. Dengan lihainya, Putri Yuri memasak makanan yang biasa disajikan saat sedang berburu. Sementara Raja Zhao Li dan Jenderal Wang Li tengah menyiapkan peralatan berburu mereka.


Setelah semua persiapan mulai rampung, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi. 


"Yang Mulia, apa tidak sebaiknya beberapa orang prajurit ikut dan mengawal Yang Mulia? Bagaimana jika Yang Mulia ... "


"Jangan khawatir karena ada Jenderal Wang Li ikut bersamaku. Lagipula, hutan itukan tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang dan kami berburu juga tidak akan lama," jelas Raja Zhao Li.


"Apa sebaiknya aku menyiapkan tandu untuk Permaisuri dan Putri Yuri?"


"Tidak perlu, aku akan naik kuda bersama suamiku. Siapkan saja tandu untuk Putri Yuri," ucap Mei Yin sambil menaiki kuda bersama Raja Zhao Li.


Melihat Mei Yin duduk berdua di atas kuda bersama Raja Zhao Li membuat Putri Yuri menolak untuk menaiki tandu. "Tuan Wang, maafkan aku, tapi apa bisa aku juga duduk di atas kudamu? Aku tidak mungkin naik tandu sementara Permaisuri naik kuda dan aku tidak bisa menunggangi kuda sendirian," ucap Putri Yuri.


"Baiklah." Jendral Wang Li kemudian mendudukan Putri Yuri di atas kudanya. Setelah itu, diapun naik dan duduk di belakang Putri Yuri.


Kedua kuda itupun dipacu menuju sebuah hutan yang tidak terlalu jauh dari kerajaan. Tak berapa lama kemudian, mereka berhenti di suatu lahan kosong yang biasa dijadikan tempat untuk mendirikan tenda.


"Baiklah, aku dan Putri Yuri akan menunggu kalian. Berhati-hatilah."


Kedua lelaki itu kemudian memacu kudanya dan mulai berburu. Raja Zhao Li memegang sebuah busur di tangannya dengan sebuah anak panah yang siap dilesatkan ke arah hewan buruan.


Sementara Jenderal Wang Li juga melakukan hal yang sama. Matanya liar mencari-cari di balik semak dengan anak panah yang siap dilesatkan.


Tiba-tiba, seekor kelinci terlihat berlari di depan mereka, sontak kedua anak panah itu mereka lepaskan dan tubuh kelinci itu terpental dengan dua anak panah yang sudah tertancap di tubuhnya.


Melihat kelihaian Raja Zhao Li membuat Jenderal Wang Li tertegun. Dia sama sekali tidak menyangka, kalau Raja yang selama ini hanya terlihat biasa saja ternyata mempunyai kemampuan memanah yang cukup mumpuni.


Raja Zhao Li  berjalan mengendap-endap di balik semak karena melihat pergerakan seekor rusa yang sedang makan rumput. Anak panah yang sedari tadi bertengger di busurnya kemudian dia lepaskan dan mengenai perut rusa itu, tapi tepat di leher rusa itu juga tertancap sebuah anak panah yang dilesatkan oleh Jenderal Wang Li yang berada tidak jauh darinya.


Kedua lelaki itu terus masuk ke dalam hutan dan masih mencari hewan buruan mereka. Raja Zhao Li berjalan di depan sedangkan Jenderal Wang Li berjalan di belakangnya. Tiba-tiba saja, langkah mereka terhenti karena seekor serigala tiba-tiba menyerang Raja Zhao Li.


Serigala itu mengamuk dan menyerang Raja Zhao Li dan menggigit lengannya. Untung saja Raja Zhao Li mengenakan jubah khusus untuk berburu hingga gigitan itu tidak sempat melukainya. Dengan gesitnya, tubuh serigala itu dibanting oleh Raja Zhao Li ke tanah setelah melakukan perlawanan. Raja Zhao Li kemudian mengambil sebilah pisau yang disematkan di sela-sela sepatunya dan menusukannya ke bagian perut serigala itu.


Serigala itu mengerang dan berontak saat pisau itu menusuk perutnya, hingga tubuhnya benar-benar diam tak bergerak saat Raja Zhao Li kembali menancapkan pisau itu untuk kedua kalinya.


Raja Zhao Li kemudian mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Jenderal Wang Li, dan saat itu juga Jenderal Wang Li sudah mengarahkan anak panah ke arah Raja Zhao Li. "Adik Zhao, menunduklah!!" teriak Jenderal Wang Li yang sontak saja membuat Raja Zhao Li segera menunduk. Sekelabat anak panah itu melesat di atas kepala Raja Zhao Li dan menghantam sesuatu yang mengerang kesakitan di belakangnya.


Raja Zhao Li menoleh ke belakang dan menemukan seekor serigala sudah terkapar tak bernayawa dengan sebuah anak panah yang tertancap tepat di matanya.


Jenderal Wang Li berjalan mendekati Raja Zhao Li dan memgulurkan tangannya. "Adik Zhao, kamu tidak apa-apa, kan?"


"Aku tidak apa-apa, Kakak Wang. Terima kasih karena Kakak Wang sudah menyelamatkanku dari terkaman serigala itu."


"Sudahlah, lebih baik kita pergi. Sepertinya, semakin kita ke dalam hutan kita akan menemukan banyak serigala. Aku rasa, kita harus menyisakan mereka untuk perburuan kita yang selanjutnya. Cepatlah, kita harus kembali karena sebentar lagi akan turun hujan," ucap Jenderal Wang Li sambil mengangkat dua ekor serigala yang sudah tewas itu dan meletakannya di bahunya. Sementara Raja Zhao Li membawa seekor kelinci dan seekor rusa yang sudah diikatkan di atas punggung kudanya.


Kedua lelaki itu kemudian kembali dan menemui dua orang wanita yang sudah menunggu mereka.


"Di mana Permaisuri?" tanya Raja Zhao Li saat tiba di tempat itu dan tidak menemukan istrinya.


"Maaf, Yang Mulia. Permaisuri sedang mencari ranting kering, katanya untuk membuat api unggun, tapi sudah dari tadi Permaisuri belum juga kembali," jelas Putri Yuri.


Mendengar penuturan Putri Yuri membuat Raja Zhao Li menjadi khawatir. Raja Zhao Li kemudian kembali masuk ke dalam hutan dan mencari istrinya itu.


Sementara Jenderal Wang Li juga merasakan hal yang sama. Dia begitu cemas saat tahu kalau wanita yang menjadi alasannya untuk ikut perburuan ini belum kembali sajak tadi. "Putri Yuri, tunggulah di sini. Aku akan membantu Raja Zhao Li untuk mencari permaisuri."


"Mana bisa kalian meninggalkanku sendirian di tempat ini. Aku ingin ikut denganmu," ucap Putri Yuri kesal. Jenderal Wang Li tidak bisa menolak permintaan gadis itu dan terpaksa membawanya.


Langit yang awalnya cerah perlahan mulai mendung. Melihat cuaca yang mulai tidak bersahabat membuat Raja Zhao Li semakin panik. Raja Zhao Li berjalan memasuki hutan dan memanggil-manggil istrinya. "Istriku, kamu di mana?" teriak Raja Zhao Li, tapi tidak ada jawaban.


"Adik Zhao, sebaiknya kita berpencar. Kalau seperti ini, kita tidak akan bisa menemukan Adik Mei Yin. Aku hanya takut kalau saat ini Adik Mei Yin tengah pingsan atau terluka hingga dia tidak bisa menjawab panggilan kita. Jadi, sebaiknya kita bergerak cepat agar bisa menemukannya," ucap Jenderal Wang Li memberi saran.


"Baiklah, apapun yang terjadi kita akan berkumpul di tempat ini sebelum malam. Kakak Wang, aku mohon bantu aku menemukan istriku," pinta Raja Zhao Li.


"Serahkan padaku, aku akan menemukannya dan kita akan bertemu di tempat ini. Putri Yuri, tetaplah di sini dan jangan pergi kemana-mana. Berteduhlah di mulut goa itu jika turun hujan," ucap Jenderal Wang Li yang kemudian turun dari atas kuda.


"Tapi, Jenderal Wang ... "


"Jangan takut, tunggu kami di sini," ucap Jenderal Wang Li yang kemudian berlari menyusuri semak-semak.


Sementara itu, Mei Yin tengah tergeletak di atas semak dengan bibir yang mulai membiru. Tubuhnya tidak bisa bergerak karena pengaruh bisa ular yang perlahan menjalar di pembuluh darahnya. Matanya menatap nanar dengan pandangan yang mulai kabur. Mulutnya meracau takaruan.


Rupanya, saat Mei Yin sedang mencari ranting kering, tanpa sengaja dia melihat tanaman obat. Rasa ingin tahu mulai mengusiknya hingga membuatnya memetik tanaman obat yang rupanya cukup melimpah di hutan itu.


Saat Mei Yin sudah berhasil memetik beberapa macam tanaman obat dan ingin segera kembali, tiba-tiba saja seekor ular pohon dengan ukuran yang tidak terlalu besar bergerak cepat dari balik semak-semak dan menggigit kakinya. Sontak saja, Mei Yin terperanjat dan terjatuh.


Tanaman obat yang ada di tangannya terlepas dan berhamburan di atas semak-semak. Tubuhnya mulai melunglai dan dia berusaha untuk mengambil tanaman obat yang tadi dibawanya untuk bisa menghentikan peredaran bisa ular itu, tapi matanya tiba-tiba nanar dan kabur. Tubuhnya tidak bisa digerakkan dan samar-samar dia mendengar seseorang memanggilnya, tapi dia sama sekali tidak bisa menyahut panggilan itu.


"Suamiku, maafkan aku," batin Mei Yin dengan air mata yang perlahan jatuh.


Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya dan membasahi sekujur tubuhnya. Kini, Mei Yin tengah terbaring pasrah dengan kematian yang mungkin saja datang menjemputnya.


Bayangan wajah Raja Zhao Li dan Chen Li bermain dalam ingatannya hingga membuatnya kembali menangis. "Apa aku harus mati dengan keadaan seperti ini?"


Tiba-tiba, dia merasakan tubuhnya dipeluk seseorang dengan suara tangisan yang samar-samar dia dengar. Matanya nanar hingga tidak bisa melihat jelas orang yang kini tengah memeluknya. "Suamiku, apa itu kamu?" batin Mei Yin yang kemudian tidak sadarkan diri dan terkulai lemas di dalam pelukan orang itu.