
Jenderal Wang Li berjalan menyusuri semak dan berharap menemukan Mei Yin. Hatinya gelisah jika membayangkan kalau saat ini wanita yang sudah membuat hatinya luluh itu tengah tidak berdaya atau sedang terluka. "Aku mohon bertahanlah. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa dirimu," ucap Jenderal Wang Li sambil terus berjalan menyusuri semak-semak dengan tubuh yang sudah basah kuyup karena terkena air hujan yang mulai turun.
Sementara Raja Zhao Li masih terus mencari dengan perasaan khawatir yang begitu mengganggunya. "Istriku, aku mohon bertahanlah. Jangan pernah tinggalkan aku seperti ini. Aku tidak akan sanggup jika aku harus kehilanganmu," batin Raja Zhao Li yang tampak mulai menitikkan air mata.
Hujan yang turun tidak membuat Raja Zhao Li menghentikan pencariannya, sementara Putri Yuri sudah berteduh di depan mulut goa. "Aku harap wanita itu tidak akan pernah ditemukan. Kalaupun ditemukan, semoga saja dia sudah tewas dimakan binatang buas," ucap Putri Yuri yang begitu mengharapkan kematian Mei Yin.
Jenderal Wang Li terus berjalan, hingga tiba-tiba dia melihat sesosok tubuh tengah tergeletak tak berdaya di atas semak-semak. Jenderal Wang Li kemudian berlari menuju sosok itu hingga membuatnya menangis. Tubuh yang tergeletak itu kemudian dipeluknya dengan isakan tangis hingga tubuh itu melunglai lemah dalam pelukannya.
"Aku mohon, bertahanlah," ucap Jenderal Wang Li sambil meletakkan tubuh yang kini tak berdaya itu di atas semak. Melihat kondisi Mei Yin yang lemah dengan bibir yang mulai membiru membuat Jenderal Wang Li menjadi yakin kalau Mei Yin terkena gigitan ular berbisa.
Jenderal Wang Li kemudian memeriksa di bagian kaki dan menemukan bekas gigitan ular yang mulai membiru di bagian bawah betis kaki kiri Mei Yin. "Aku harus menghisap bisa ularnya, kalau tidak Mei Yin akan mati," ucap Jenderal Wang Li yang kemudian mulai menghisap racun dari bekas gigitan ular itu.
Dari bekas gigitan ular itu keluar darah hitam. Jenderal Wang Li mengeluarkan darah hitam itu dari mulutnya tanpa rasa jijik. Sementara Mei Yin, meringis kesakitan setiap Jenderal Wang Li menghisap bekas gigitan ular itu. Perlahan, darah merah mulai keluar dari bekas gigitan itu, yang menandakan kalau racun dari bisa itu telah keluar seluruhnya.
Di atas semak, Jenderal Wang Li melihat tanaman obat yang berserakan. Dilihatnya tanaman obat itu dan mengambil salah satu tanaman obat dan mulai menumbuknya. "Bertahanlah, aku akan segera mengobatimu dan aku akan membawamu kembali ke kerajaan," ucap Jenderal Wang Li sambil meletakkan tumbukan tanaman obat itu di atas luka dan kemudian membalutnya.
Mei Yin tampak meringis kesakitan saat obat itu diletakkan di atas lukanya hingga membuat Jenderal Wang Li segera meraih tubuhnya dan memeluknya. "Aku tahu kamu pasti merasa kesakitan, tapi kamu harus bisa bertahan. Amu mohon, bertahanlah," bisik Jenderal Wang Li lembut sambil mengeratkan pelukannya.
Tanpa sadar, Mei Yin menitikkan air mata saat dia mendengar ucapan itu. Perlahan, dia membuka matanya yang tampak samar dan memeluk tubuh lelaki itu. "Suamiku, maafkan aku," ucap Mei Yin yang menyangka kalau orang yang sedang memeluknya itu adalah suaminya. Sedangkan, Jenderal Wang Li tetap memeluk tubuh Mei Yin walau dia tahu saat ini Mei Yin mengira kalau dirinya adalah Raja Zhao Li dan dia tidak peduli dengan hal itu. Dia tidak peduli walau di mata Mei Yin saat ini hanya ada Raja Zhao Li. Dia tidak peduli karena saat ini, dia bisa merasakan pelukan dari wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta. Wanita yang sudah mengubah hatinya yang beku menjadi hangat dengan kehadiran cinta di hatinya.
"Aku tidak peduli walau saat ini, di matamu aku adalah Zhao Li. Aku tidak peduli, jika setelah nanti kamu tersadar dan tidak mengingat kejadian ini, tapi bagiku aku akan mengingat kejadian ini dan akan menyimpannya sebagai kenangan indah buatku. Mei Yin, andai aku bertemu lebih awal denganmu, aku akan membahagiakanmu melebihi apa yang dilakukan Zhao Li untukmu. Aku akan lakukan apapun hanya untuk membuatmu tersenyum kepadaku. Aku akan turuti semua katamu, asalkan jangan pernah kamu pergi dari pandanganku." Jenderal Wang Li menatap wajah cantik yang kini terdiam tanpa daya. Dengan mesranya, jemari kekarnya membelai lembut wajah cantik itu dan mengelus bibir ranum yang mulai pucat.
"Mei Yin, aku ingin memilikimu hanya untukku. Aku ingin wajah cantikmu hanya tersenyum padaku. Apa aku berdosa jika aku mencintaimu?" Jenderal Wang Li menundukkan wajahnya seakan sedang menahan perasaan yang sudah lama dia pendam.
"Rasanya, aku tidak ingin mengembalikanmu padanya. Aku ingin membawamu pergi menjauh darinya agar hanya aku yang bisa memilikimu, tapi aku tidak mampu jika melihatmu sedih karena jauh darinya. Dia telah membuatmu lemah dan kamu yang telah membuatku menjadi lemah. Aku tidak sanggup jika melihatmu terluka, karena itu aku hanya mampu menatapmu dari jauh dan tidak bisa menggapaimu. Aku akan tetap berada di sampingmu dan memujamu dalam diam, tapi sampai kapan aku akan mampu bertahan?"
Hujan masih turun membasahi tempat itu. Langit perlahan mulai gelap dengan suara petir yang sesekali menggelegar.
"Aku akan membawamu kembali padanya, tapi ini untuk yang terakhir kali. Jika aku diberi kesempatan satu kali lagi, maka aku tidak akan pernah mengembalikanmu padanya. Aku akan membawamu pergi jauh dan hidup bersamaku selamanya."
Tubuh Mei Yin yang masih tidak sadarkan diri lalu diangkat dan diletakkan di atas punggungnya. Jenderal Wang Li kemudian berjalan dengan cepat dan menuju ke tempat di mana Putri Yuri sedang menunggu.
"Tuan Wang, apa yang terjadi?" tanya Putri Yuri saat melihat lelaki itu membawa Mei Yin yang tidak sadarkan diri di punggungnya.
"Permaisuri digigit ular berbisa. Untung saja aku cepat menemukannya, kalau tidak, Permaisuri bisa saja mati," jelas Jenderal Wang Li sambil meletakkan tubuh Mei Yin di atas dedaunan kering di depan mulut goa.
Sementara itu, Raja Zhao Li masih terus mencari dengan perasaan gelisah dan khawatir. "Istriku, aku mohon kembalilah padaku," lirih Raja Zhao Li yang masih mencari di antara semak hingga dia mendengar teriakan Jenderal Wang Li yang memanggilnya. "Adik Zhao, kembalilah. Aku sudah menemukan Adik Mei Yin," teriak Jenderal Wang Li yang membuat Raja Zhao Li segera kembali.
Raja Zhao Li berlari dengan rasa panik dan khawatir yang begitu mengganggunya. Melihat istrinya yang terbaring tidak berdaya membuat Raja Zhao Li segera meraih tubuh istrinya itu dan memeluknya. "Istriku, apa yang terjadi denganmu?" tanya Raja Zhao Li dengan air mata yang jatuh.
"Adik Zhao, tenanglah. Adik Mei Yin digigit ular berbisa, tapi aku sudah mengeluarkan bisa ular itu. Sebaiknya, kita harus cepat kembali agar Adik Mei Yin bisa segera ditangani oleh tabib," jelas Jenderal Wang Li.
"Terima kasih, Kakak Wang. Aku sangat berterima kasih karena Kakak sudah menyelamatkan istriku. Aku tidak akan melupakan kebaikan Kakak pada kami," ucap Raja Zhao Li sambil memeluk tubuh istrinya itu.
"Kita tidak bisa terus berada di tempat ini. Kita harus segera kembali karena sebentar lagi akan malam dan kita tidak bisa menunggu hingga hujan reda. Ayo, bergegaslah." Jenderal Wang Li kemudian membuka jubahnya dan menutupi tubuh Mei Yin dengan jubahnya itu.
Mei Yin yang perlahan mulai tersadar, mulai membuka matanya dan mendapati dirinya di atas kuda bersama Raja Zhao Li. "Suamiku, maafkan aku," ucap Mei Yin dengan suara yang terdengat lemah.
Melihat Mei Yin yang mulai sadar membuat Raja Zhao Li mengeratkan pelukannya. "Jangan katakan apapun, istirahatlah. Terima kasih karena kamu tidak meninggalkanku," ucap Raja Zhao Li sambil mengecup mesra kening istrinya itu.
Di depan gerbang kerajaan, kuda mereka berhenti. Raja Zhao Li kemudian menurunkan tubuh Mei Yin dan membopongnya menuju villa bunga. "Cepat, panggilkan tabib!!" perintah Raja Zhao Li.
"Putri Yuri, maaf, aku tidak bisa menemanimu. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah," ucap Jenderal Wang Li yang kemudian pergi meninggalkannya dan menuju ke villa bunga.
Wajah Putri Yuri tampak kesal. Dia marah karena merasa diacuhkan oleh mereka. "Jenderal Wang Li terlihat sangat khawatir dengan wanita itu, apa jangan-jangan dia menyukainya?" batinnya penasaran.
"Ah, sudahlah, itu tidak penting buatku. Aku hanya perlu cari cara untuk mewujudkan rencanaku." Putri Yuri kemudian pergi ke kamar yang sudah disediakan untuknya.
Di dalam kamarnya, Mei Yin tengah terbaring lemah. Raja Zhao Li tampak duduk di sampingnya dengan tangannya yang menggenggam erat tangan istrinya itu. "Jangan pernah lagi meninggalkan aku seperti itu. Aku hampir gila kerana memikirkan dirimu yang entah ada di mana. Dan aku bisa gila kalau aku benar-benar kehilanganmu," ucap Raja Zhao Li sambil mencium tangan istrinya itu dengan air mata yang perlahan jatuh di sudut matanya.
Raja Zhao Li tampak terpukul dengan kajadian itu. Dia tidak bisa membayangkan jika saat itu dia benar-benar kehilangan Mei Yin. Entah apa yang akan dia lakukan jika hal itu terjadi, mungkin saja dia akan ikut mati bersama kekasih hatinya itu.
Mei Yin perlahan membuka matanya dan mendapati sang suami yang tengah terisak dengan wajah menunduk sambil menggenggam tangannya. Melihat suaminya menangis, Mei Yin merasa menyesal karena sudah melanggar perintah suaminya. "Maafkan aku karena tidak mengikuti perintahmu. Hukumlah aku," ucap Mei Yin tiba-tiba hingga membuat Raja Zhao Li mengangkat kepalanya.
"Suamiku, hukumlah aku karena tidak mengikuti perintahmu. Aku pantas mendapat hukuman darimu," ucap Mei Yin dengan isakan tangis.
Dengan mesra, Raja Zhao Li menghapus air mata di pipi istrinya itu dan menyunggingkan senyum untuknya. "Bagaimana bisa aku menghukummu, sementara aku sangat takut kehilanganmu. Bagaimana mungkin aku menghukummu, sementara aku tidak ingin kamu tersakiti. Rasanya, aku ingin membakar habis hutan itu agar ular yang menggigitmu itu hangus terbakar, tapi aku sadar itu semua adalah kesalahanku karena tidak mampu melindungimu. Istriku, maafkan aku karena aku tidak bisa menjaga dan melindungimu," ucap Raja Zhao Li dengan air mata.
Mei Yin ikut menitikkan air mata dan berusaha untuk duduk. "Jangan katakan itu, aku mohon. Tolong, jangan salahkan dirimu. Suamiku, jangan menangis lagi, aku mohon padamu," ucap Mei Yin sambil menghapus air mata di pelupuk mata suaminya itu.
Raja Zhao Li kemudian memeluk tubuh istrinya itu hingga membuat Mei Yin menangis terisak di dalam pelukannya. Rasa cinta yang teramat dalam kepada istrinya itu membuat Raja Zhao Li merasa takut kehilangan. Dia takut jika dia harus berpisah dengan separuh jiwanya itu. Dia takut jika dia harus menjalani sisa kehidupannya tanpa sang istri di sampingnya dan itu terasa sulit baginya.
Sementara itu, di depan pintu kamar, Jenderal Wang Li terpaku dan terdiam mendengar apa yang dibicarakan suami istri itu. Hatinya cemburu, teramat sangat cemburu. Rasa khawatir yang begitu menyiksanya, memaksanya untuk pergi mengunjungi Mei Yin, walau akhirnya dia harus terluka karena mendengar ungkapan hati suami istri itu yang begitu takut untuk kehilangan.
Jenderal Wang Li kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan kedua tangan yang mengepal. Timbul rasa penyesalan karena telah membawa Mei Yin kembali ke Raja Zhao Li. Rasanya, dia telah melakukan kesalahan yang hanya membuatnya semakin terluka. "Aku tidak akan lagi mengalah. Aku akan mendapatkanmu bagaimanapun caranya. Aku tidak akan membiarkan kalian terus bersama dan kamu akan menjadi milikku untuk selamanya," batin Jenderal Wang Li dengan tatapan mata yang begitu tajam dengan mata yang memerah.
Pita rambut berwarna biru laut digenggam dengan eratnya. Pita rambut yang penuh bercak darah itu masih disimpanya dan selalu dibawa bersamanya. Hanya itu, barang milik Mei Yin yang dimilikinya dan hanya itu satu-satunya penawar rindu jika hatinya dilanda kerinduan kepada wanita yang sudah berhasil menaklukan hatinya.
Kini, dia tak peduli lagi dengan apapun di hadapannya. Dia telah bertekad, akan mendapatkan Mei Yin untuk dimilikinya walau dia harus membunuh, asalkan wanita itu menjadi miliknya.
Jenderal Wang Li kemudian memacu kudanya dan kembali ke dalam hutan. Pandangan matanya liar dan memperhatikan keadaan di sekitar hutan itu. Jenderal Wang Li kemudian turun dari atas kudanya dan berjalan dengan sebuah pedang di tangannya.
Tanpa di nyana, Jenderal Wang Li mulai membabat setiap pohon dan ranting yang ada di depannya. Matanya liar di antara kegelapan malam. "Aku akan meratakan hutan ini. Aku akan menghabisi siapapun yang telah menyakitimu. Aku bisa melakukan apapun melebihi apa yang dia lakukan padamu. Aku akan mendapatkan dirimu hanya untukku!!?" teriak Jenderal Wang Li sambil menghantamkan pedangnya ke arah batang-batang pohon hingga membuat pohon-pohon itu tumbang.
Rasa cemburu dan emosi membuatnya kalap. Matanya memerah saat mengingat kembali setiap kata yang diucapkan Raja Zhao Li untuk Mei Yin. Hatinya terbakar rasa cemburu. "Seharusnya, aku yang menjadi milikmu. Harusnya aku yang menjadi raja dari kerajaan ini. Dia tidak pantas untukmu karena tidak bisa melindungimu. Aku, harusnya aku yang kamu cintai bukan dia!!??" teriak Jenderal Wang Li yang tiba-tiba menghantamkan pedangnya ke arah sebuah batang pohon yang cukup besar. Pohon itu tiba-tiba tumbang dengan sebuah tebasan tanpa cela.
Wajah tampannya memerah dengan nafas yang turun naik. Rupanya, Jenderal Wang Li menebas batang pohon itu dengan tenaga dalamnya hingga mengakibatkan pohon itu tumbang dengan sekali tebasan.
Sungguh, cinta telah mempermainkan hatinya. Rasa cinta yang tidak pernah muncul di hatinya itu, perlahan hadir dengan sejuta keistimewaan yang dibawa oleh seorang wanita yang telah bersuami. Seorang wanita yang terlihat sempurna di matanya hingga membuat dia lupa kalau cinta tidak bisa dipaksakan.