The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 49



Putri Xia terkejut saat mendengar lelaki itu dipanggil dengan sebutan ayah oleh gadis kecil seusianya itu. Dia tidak menyangka, ternyata lelaki yang selalu diharapkannya untuk datang menemuinya ternyata memiliki keluarga yang lain dan tentu saja anak yang lain. "Apakah karena mereka, ayah tidak pernah datang menemuiku dan juga ibu?" batin Putri Xia yang mulai menangis.


Tak hanya itu, dia juga melihat seorang wanita cantik yang begitu menyayangi gadis kecil itu. Senyum wanita itu begitu terpancar saat melihat gadis kecil itu di depannya. Sesaat, dia merasa sangat iri pada gadis kecil itu karena begitu mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari mereka.


Putri Xia masih memandangi mereka hingga tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya seseorang tiba-tiba hingga membuatnya terkejut.


Putri Xia terperanjat dan bermaksud untuk pergi dari tempat itu, tapi langkahnya terhenti karena sudah dicegat oleh beberapa orang penjaga. "Putri Xia, apa yang putri lakukan di sini? Ini bukan tempat untuk bermain, ayo kita kembali," ucap Yuan yang tiba-tiba datang dan mendekatinya.


Lelaki itu kemudian menggendongnya dan meninggalkan tempat itu. "Apa yang kamu pikirkan hingga bisa ada di tempat itu? Dari tadi Paman mencarimu kemana-mana, tapi ternyata kamu ada sana. Memangnya, apa yang kamu lakukan di tempat itu?" tanya Yuan yang tiba-tiba membuat Putri Xia menangis.


"Paman, apakah aku bukan satu-satunya putri ayahku? Apakah karena anak itu, ayahku tidak pernah mengunjungiku dan juga ibu?" tanya Putri Xia yang membuat Yuan terkejut.


"Apa yang kamu bicarakan? Memangnya, tadi kamu melihat ayahmu?" Gadis kecil itu mengangguk dan sesekali terisak.


Entah apa yang harus dijawabnya. Pertanyaan Putri Xia membuat Yuan menjadi bingung. Apa dia harus mengatakan kalau ayahnya tidak pernah mencintai ibunya dan dia lahir bukan karena cinta kedua orang tuanya?


"Putri Xia, kamu masih terlalu kecil untuk tahu masalah itu. Akan tiba saatnya nanti kamu akan tahu semuanya. Jadi, Paman minta padamu jangan pernah lagi pergi ke tempat itu apalagi ingin bertemu dengan ayahmu. Kamu bisakan janji sama Paman?"


"Tapi Paman, aku ingin sekali bertemu dengan ayah. Aku ingin bermain bersama ayah seperti gadis kecil itu. Sepertinya, ayahku sangat menyayanginya." Wajahnya tampak bersedih saat mengingat kembali kebersamaan ayahnya bersama gadis kecil itu.


"Putri Xia, dengarkan Paman. Paman tidak ingin kamu terluka, karena itu Paman minta jauhi tempat itu. Wanita itu telah merebut ayahmu dari ibumu. Dan anak itu telah merebut ayahmu darimu. Apa sekarang kamu masih ingin pergi ke tempat itu?" ucap Yuan yang membuat Putri Xia menatap ke arahnya.


"Paman, apa karena wanita itu ayah tidak peduli lagi pada ibu? Karena itu, ibu juga tidak peduli padaku?" tanya Putri Xia yang perlahan termakan ucapan Yuan.


Lelaki itu mengangguk. Dia sengaja menimbulkan rasa benci di hati Putri Xia untuk membenci Mei Yin dan juga Kaisar Wang dan dia berhasil melakukannya. Sejak mendengar tentang ayahnya yang lebih memilih wanita lain daripada ibunya membuat Putri Xia menjadi benci pada istri lain ayahnya itu dan juga dengan putri mereka.


Rasa benci yang selalu ditanamkan Yuan pada Putri Xia membuat gadis itu tumbuh dengan rasa benci pada ayahnya dan juga Mei Yin dan putri mereka, hingga membuatnya menjadi gadis yang pendendam.


Kedua gadis itu tumbuh dengan lingkungan dan perasaan yang berbeda. Rasa benci yang selama ini menguasai hatinya, membuat Putri Xia menjadi gadis yang angkuh dan sombong. Sementara Guan Yin yang mendapat kasih sayang dan didikan dari Mei Yin, tumbuh menjadi gadis yang baik hati dan ramah. Keduanya tumbuh menjadi gadis yang cantik.


Kedua gadis yang kini telah berumur 20 tahun itu ternyata mempunyai kepribadian yang berbeda. Putri Xia, tumbuh menjadi gadis cantik dengan sikapnya yang arogan dan tentu saja penuh rasa dendam. Sementara Guan Yin, tumbuh menjadi gadis cantik dengan kemampuan menarinya yang luar biasa. Tak hanya itu, rupa wajahnya yang mirip dengan sang bunda membuat ayahnya sangat menyayanginya. Walaupun begitu, dia adalah gadis penurut dan baik hati.


Dan jauh di sana, Chen Li dan Yuwen telah tumbuh menjadi pemuda yang mempunyai kemampuan bertarung yang sangat hebat. Tak hanya itu, wajah keduanya yang sangat tampan ternyata begitu menarik perhatian kaum wanita. Dan saat ini, keduanya sedang ditatap oleh gadis-gadis karena mereka berdua sedang bertarung dengan segerombolan lelaki yang ketahuan mencuri.


"Kakak, aku akan hadapi yang sebelah kiri dan Kakak hadapi yang sebelah kanan, bagaimana?" tanya Yuwen saat mereka sudah dikepung oleh delapan orang lelaki yang tidak terima disebut sebagai pencuri.


"Baiklah, jika kamu bisa dengan cepat mengalahkan mereka, maka ubi rebusku akan menjadi milkmu, tapi jika aku yang ... "


"Iya, iya. Ubi rebusku akan menjadi milik Kakak," sergah Yuwen yang sudah tahu dengan perkataan kakaknya itu.


"Bersiaplah, sekarang serang mereka!!" ucap Chen Li yang langsung menuju empat orang lelaki di sebelah kanannya. Dengan lincahnya, Chen Li mulai menghantam mereka satu persatu dengan tangan kosong. Gerakan Chen Li yang cukup cepat membuat keempat orang itu kewalahan.


Sementara Yuwen tak kalah hebat dengan Chen Li. Dengan gesitnya, dia mulai menyerang keempat orang itu. Rupanya, kehebatan mereka berdua tidak bisa dianggap enteng. Walau mereka diserang dengan pedang, Chen Li dan Yuwen bisa mengelak hanya dengan sebatang kayu.


"Adik Yuwen, berhati-hatilah!!" ucap Chen Li saat mereka diserang dengan menggunakan pedang. Chen Li yang sudah memegang sebatang kayu di tangannya segera melemparkan kayu itu ke arah Yuwen. Kayu yang dilempar itu dengan mudah mendarat di tangan Yuwen yang kemudian menghantamkannya ke punggung salah seorang pencuri yang hampir saja menusuknya dengan pedang. "Sialan, hampir saja aku tewas. Kakak, terima kasih," ucap Yuwen yang masih sempat memanggil Chen Li sambil mengangkat kayu yang dilemparkan Chen Li tadi. Chen Li tersenyum sambil mendaratkan sebuah pukulan di dada salah satu pencuri hingga membuat lelaki itu terjerembab ke tanah dengan darah segar yang mengucur dari mulutnya.


Melihat teman mereka yang sudah tidak berdaya membuat beberapa di antara mereka mencoba untuk melarikan diri, tapi itu sudah terlambat karena Chen Li sudah berdiri di depan mereka dan Yuwen sudah berdiri di belakang mereka. "Kakak, ubi rebusku akan tetap menjadi milikku. Ah, cepat kita habisi mereka dan kembali ke desa. Paman pasti akan sangat marah jika kita terlambat," ucap Yuwen yang langsung maju tanpa menunggu aba-aba dari Chen Li. Al hasil, beberapa orang pencuri itu yang melihat Yuwen ingin menyerang mereka tiba-tiba berlutut meminta pengampunan.


"Tuan, maafkan kami. Ini, aku kembalikan uang yang kami curi tadi," ucap salah satu lelaki sambil menyerahkan sekantong uang yang tadi dicurinya. Wajah mereka tampak pucat saat Yuwen berjalan mendekati mereka.


"Apa hanya ini yang kalian curi?" tanya Yuwen sambil menggoyangkan kantong uang itu.


Para pencuri itu saling memandang. Wajah mereka yang sudah babak belur rasanya sudah terlalu sakit hingga membuat mereka tidak ingin lagi berbohong dan membuat mereka mengeluarkan beberapa kantong uang dari balik baju mereka.


Yuwen tersenyum kecut saat melihat mereka memberikan kantong-kantong uang itu. "Ini pertama dan terakhir kami bertemu dengan kalian, jika kalian masih mencuri lagi maka kami tidak akan mengampuni kalian, mengerti!!?" ucap Yuwen yang membuat mereka mengangguk.


"Sekarang, pergilah sebelum kami berubah pikiran," ucap Yuwen yang membuat para pencuri itu bangkit sambil membawa beberapa orang temannya yang tadi tergeletak tak berdaya.


Di tangannya, Yuwen sudah memegang tiga kantong uang dan dia tidak tahu siapa saja pemilik dari kantong-kantong itu. Kantong-kantong itu kemudian dia serahkan kepada Chen Li. "Sekarang, bagaimana caranya kita tahu pemilik dari kantong-kantong uang ini?" tanya Yuwen bingung.


Karena menunggu terlalu lama, mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba seorang gadis dengan berlari tergesa-gesa mendekat ke arah mereka. "Maaf, apa kalian yang telah menangkap pencuri-pencuri tadi?" tanya gadis itu dengan nafasnya yang turun naik.


Yuwen menatap gadis itu dari kepala hingga ujung kaki. "Apa benar kantong uang ini adalah milikmu?" tanya Yuwen seakan tak percaya.


"Benar, kalau tidak percaya lihat saja di kantong itu ada tulisan namaku," ucap gadis itu yang membuat Yuwen melirik ke arah kantong yang sementara dipegang oleh Chen Li.


"Siapa namamu?" tanya Chen Li yang membuat gadis itu menatap ke arahnya.


"Namaku ... "


"Huanran!! Ayo cepat, sebentar lagi giliranmu untuk menari," panggil seorang gadis yang membuat gadis itu memandang ke arahnya.


"Baiklah, aku akan segera datang," jawab gadis itu dan kembali memandang ke arah Chen Li.


"Namaku Huanran. Tolong jaga kantongku itu, besok aku akan menunggu kalian di tempat ini jam 10 pagi. Ingat, besok jam 10 pagi," ucap gadis itu sambil berlari mengikuti teman-temannya yang sudah pergi terlebih dulu.


Yuwen menatap gadis itu dengan tatapan penuh keheranan. "Gadis itu, apa dia pikir kita ini tempat penitipan barang? Kakak, ayo kita kejar dia dan berikan saja kantong itu padanya."


"Sudahlah, sebaiknya kita kembali ke desa. Paman pasti khawatir karena kita belum pulang."


"Lalu, kantong itu bagaimana? Apa Kakak akan kembali besok dan memberikan kantong itu padanya?"


"Lihat saja nanti. Ayo, kita pergi," ucap Chen Li sambil naik ke atas kuda berwarna hitam miliknya. Sementara Yuwen, naik ke atas kuda berwarna putih yang terlihat gagah. Kedua pemuda itu kemudian meninggalkan tempat itu dan kembali ke desa.


"Kalian berdua, kenapa lama baru kembali? Apa kalian membuat masalah?" tanya Liang Yi saat kedua pemuda itu baru saja tiba.


"Maaf, Paman. Kami baru saja menghajar para pencuri yang sudah mencuri di pasar. Mereka telah mencuri beberapa kantong uang milik para pedagang," jelas Yuwen dengan sombongnya.


"Chen Li, apa itu benar?" Pemuda itu mengangguk membenarkan ucapan Yuwen. "Benar, Paman."


"Ingat pesan Paman. Kalian berdua jangan membuat keributan. Ilmu beladiri kalian jangan kalian pergunakan untuk hal yang sia-sia. Gunakanlah untuk membela orang yang lemah dan untuk membela kebenaran, mengerti?"


"Mengerti, Paman," ucap mereka kompak.


"Ya sudah, sebaiknya kalian beristirahat. Sebentar lagi, kalian harus mengajari anak-anak bela diri."


"Baik, Paman."


Di dalam kamarnya, Chen Li menatap kantong uang itu. Dilihatnya sebuah nama yang tertulis dengan bordiran benang berwarna merah. Sesaat, Chen Li teringat pada gadis itu. Bukan karena kecantikan wajahnya yang membuat Chen Li teringat padanya, tapi karena dia adalah seorang penari yang membuat Chen Li teringat pada ibunya.


"Ibu, aku sangat merindukanmu. Rasanya, aku tidak sabar ingin bertemu denganmu. Aku harap, ibu di sana baik-baik saja," batin Chen Li yang tanpa sadar sudah membuatnya menangis.


"Kakak, tidurlah. Cepat padamkan lilinnya, aku tidak bisa tidur kalau lilinnya masih menyala," ucap Yuwen yang sudah berbaring di tempat tidurnya.


"Iya, iya aku tahu," ucap Chen Li sambil memadamkan lilin dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang tidak jauh dari tempat tidur Yuwen.


Dalam kegelapan dan keheningan malam, Chen Li masih terjaga karena dirinya tengah membayangakn wajah ibunya. Dia takut, jika dia benar-benar melupakan wajah ibunya itu. Dan dia bisa tertidur jika dia membayangkan ibunya tengah menari untuknya, sama seperti yang biasa dilakukan ibunya di saat dia masih kecil dulu.


Sementara di istana, ibu dan juga adiknya tengah menari di bawah pohon sakura dengan diiringi petikan kecapi dari Kaisar Wang.


"Tarian Ibu memang sangat indah, benarkan Ayah?" tanya Guan Yin sambil duduk di dekat ayahnya.


"Benar, Putriku. Ibumu telah membuat ayahmu ini jatuh cinta dengan tariannya. Dan kini, semua yang ada pada ibumu ada pada dirimu. Wajahmu cantik sama seperti ibumu. Tarianmu juga tak kalah indah dengan tarian ibumu, benarkan istriku?" tanya Kaisar Wang yang membuat Mei Yin tersenyum dan mengangguk.


"Benar, kamu adalah putri Ibu yang paling Ibu sayangi. Ayah dan Ibu sangat menyayangimu," ucap Mei Yin sambil mengelus lembut kepala putrinya itu. Gadis cantik itu tersenyum dan memeluk ibunya dan kemudian memeluk ayahnya. "Aku menyayangi kalian," ucapnya dengan senyuman.


Melihat putrinya, Mei Yin teringat kepada putranya, Chen Li. Dan akhir-akhir ini, Mei Yin sering memikirkannya dan membayangkan wajah putranya yang kini telah menjadi seorang pemuda yang tampan. "Putraku, ibu sangat merindukanmu. Ibu sangat ingin bertemu denganmu. Cepatlah datang, biar ibu bisa memelukmu," batin Mei Yin yang membuatnya menitikkan air mata hingga membuat Guan Yin memeluknya. "Ibu, jangan menangis. Apa aku sudah membuat Ibu sedih?" Mei Yin menggeleng dan memeluk putrinya itu. "Putriku, andai kamu tahu tentang kehidupan ibumu ini, apakah kamu masih bisa menganggapku sebagai ibumu setelah aku menipu ayahmu selama ini?" batin Mei Yin dengan air mata yang masih menggantung di pelupuk matanya.