The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 53



Melihat ayahnya dengan keluarga kecilnya meninggalkan kerajaan, membuat Putri Xia memutuskan untuk mengikuti mereka secara diam-diam. Dengan menunggangi seekor kuda, gadis itu mengikuti mereka.


Melihat kebersamaan mereka membuat dia merasa cemburu. Ayahnya terlihat begitu mencintai wanita itu. Sementara anak gadis mereka tampak begitu manja di depan mereka.


Walau terlihat tegar, tapi nyatanya dia tidak mampu membendung air matanya. Rasanya, dia ingin berlari ke arah mereka dan bertanya kenapa dia tidak diperlakukan sama seperti gadis itu, namun semua perasaan itu coba dia tahan.


Sementara Mei Yin, sepanjang perjalanan pandangannya tampak liar. Matanya tak lepas memandang sekitar, berharap dia menemukan satu wajah yang tak asing baginya. "Istriku, apa yang kamu inginkan, katakanlah," ucap Kaisar Wang sambil melirik ke salah satu penjual pernak-pernik.


"Tidak perlu, belikan saja pada Guan Yin, dia pasti akan senang."


Kaisar Wang menatap ke arah putrinya yang tampak asyik memandang sekitar. Lelaki itu kemudian menghentikan kudanya dan turun dari atas punggung kudanya itu. "Sebaiknya kita jalan kaki saja agar kalian lebih leluasa memilih barang yang kalian suka, bagaimana?" Mei Yin mengangguk. Lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan dan gagah itu kemudian menurunkannya dari atas punggung kuda. Begitupun, dengan Guan Yin yang keluar dari dalam kereta dan berjalan bersama ayah dan ibunya.


Gadis itu tampak tersenyum sambil melihat-lihat aneka pernak-pernik dan baju sutera yang dipajang di tempat itu. "Pilih saja mana yang kamu suka, Ayah akan membelikannya untukmu." Guan Yin tersenyum sambil mendekati salah satu baju sutera berwarna pink yang terlihat mewah. "Ayah, belikan aku gaun ini. Aku sangat menyukainya," ucap Guan Yin sambil merangkul manja di lengan ayahnya.


"Baik, baik, Ayah akan membelikannya untukmu." Lelaki itu kemudian mengeluarkan kantong uangnya dan membelikan gaun itu untuk Guan Yin. Tak hanya satu, tapi Kaisar Wang membelikannya tiga gaun.


"Hah, bersyukurlah karena ayahmu begitu memperhatikanmu. Jangankan gaun, tatapan matanya saja tak pernah tertuju padaku. Apa hanya karena itu aku harus membencimu?" batin Putri Xia yang masih mengikuti mereka.


Suasana di tempat itu cukup ramai. Orang-orang tampak berlalu lalang. Hingga terdengar suara petasan yang berbunyi cukup kuat di belakangnya dan tiba-tiba saja kuda yang ditungganginya mulai mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi dan hampir membuat gadis itu terjatuh. Untung saja pegangan tali kekangnya cukup kuat hingga mampu menahan tubuhnya, tapi kuda itu tampak berlari liar dengan kencangnya dan tidak peduli dengan orang-orang yang ada di depannya.


Sontak, suasana pasar menjadi kacau. Orang-orang berlari menghindar dari amukan kuda itu. Sementara Putri Xia masih berada di atas punggung kuda dengan perasaan takut. Di depannya kini, dia melihat ayahnya yang tampak panik sambil merangkul istrinya dan berusaha menghindar dari kuda itu. Matanya langsung tertuju pada Guan Yin yang tak sempat menghindar dan menatap ke arahnya. "Minggir!!" teriak Putri Xia, tapi gadis itu tak bergerak sama sekali hingga tiba-tiba terlihat seorang pemuda yang berlari ke arah Guan Yin dan meraih tubuh gadis itu hingga gadis itu selamat dari amukan kuda. "Kakak, aku serahkan kuda itu padamu," teriak pemuda itu pada seorang pemuda yang tampak berlari dengan kuda hitamnya mengejar kuda yang sementara mengamuk itu.


"Nona, apa Nona baik-baik saja?" Guan Yin tak mampu untuk berkata-kata. Di dalam dekapan pemuda itu, dia terdiam. Tatapan matanya masih menunjukan ketakutan yang luar biasa. Hingga dia melihat ayah ibunya yang berlari ke arahnya hingga membuatnya melepas diri dari pelukan pemuda itu dan menangis di dalam pelukan ibunya.


"Ibu, aku takut," ucap Guan Yin yang menangis dalam pelukan ibunya.


"Tenanglah, kamu sudah aman sekarang." Mei Yin memeluk tubuh putrinya itu dan melayangkan senyum pada pemuda itu.


"Anak muda, aku ucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan putriku. Kami berhutang budi padamu," ucap Kaisar Wang pada pemuda itu.


"Tidak masalah, Tuan. Syukurlah kalau Nona baik-baik saja. Maaf, aku harus pergi membantu kakakku." Pemuda itu kemudian naik ke atas kuda putih miliknya dan mengejar kakaknya yang masih mengejar kuda yang mengamuk itu.


Sementara Putri Xia sudah pasrah dengan nasibnya kini. Dia tidak mampu lagi mengangkat wajahnya dan menatap ke depan, walau dia masih berharap ada seseorang yang akan membantunya.


"Nona, apa Anda baik-baik saja?" teriak seseorang yang membuat dia mengangkat wajahnya.


"Ah, pemuda itu?" batinnya yang entah membuatnya merasa senang atau dia harus menangis karena bisa jadi ini adalah pertemuan terakhirnya dengan pemuda itu.


"Tenanglah, aku akan segera melompat ke atas punggung kudamu." Pemuda itu tampak berdiri di atas punggung kudanya. Rupanya, ilmu meringankan tubuhnya sangat mumpuni hingga membuatnya bisa berdiri di atas punggung kuda yang sementara berlari itu.


Setelah melihat posisi yang pas, pemuda itu kemudian segera melompat dan mendarat di belakang Putri Xia. Tali kekang yang ada di tangan gadis itu lantas diraihnya sambil mengelus punggung kuda itu. Sontak saja, kuda itu mulai berlari pelan dan benar-benar berhenti.


Putri Xia seakan tak percaya kalau dirinya kini telah selamat. Tangannya tampak gemetar saat pemuda itu menurunkannya dari atas punggung kuda. "Nona, apa Anda baik-baik saja?" Putri Xia menatapnya, tapi tiba-tiba pandangannya terasa pusing hingga membuatnya hampir terjatuh. Untung saja pemuda itu segera meraih tubuhnya, kalau tidak tubuhnya itu akan jatuh terjerembab di atas tanah.


"Kakak, apa dia baik-baik saja?" Seorang pemuda tampak berlari mendekatinya dan menatap Putri Xia yang sudah tak sadarkan diri di atas gendongan kedua tangan pemuda itu.


"Yuwen, apa yang harus kita lakukan pada gadis ini?" tanya pemuda itu yang mulai bingung.


"Kita bawa saja ke wisma tari dan meminta Huanran merawatnya, bagaimana?"


"Baiklah kalau begitu. Ayo, kita pergi."


Kedua pemuda itu rupanya tak sengaja lewat di jalan yang sama dengan jalan yang dilalui Putri Xia. Melihat situasi yang gawat itu membuat mereka berdua terpaksa turun tangan. Yuwen yang melihat seorang gadis hampir ditabrak oleh kuda itu lantas berlari menyelamatkannya, sementara Chen Li berlari mengejar kuda yang mengamuk.


Melihat kedua pemuda itu datang membawa seorang gadis yang tengah pingsan membuat Huanran bingung. "Apa yang kalian berdua lakukan di sini? Dan ada apa dengan gadis ini?" tanya Huanran sambil mengarahkan mereka menuju ke kamarnya.


"Letakkan dia di sini." Chen Li meletakkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur.


"Chen Li, ada apa dengannya? Apa kalian buat masalah? Ingat, kalian masih punya tugas penting," ucap Huanran yang terlihat cemas.


"Tenanglah, dia itu gadis yang kami tolong. Tadi, kuda yang ditungganginya mengamuk dan berlari menabrak kerumunan orang-orang. Untung saja tidak ada yang terluka dan Kakak yang sudah menghentikan amukan kuda itu dan parahnya gadis itu malah pingsan," jelas Yuwen panjang lebar.


Mendengar penjelasan Yuwen membuat Huanran merasa lega. "Jadi, begitu rupanya. Sebaiknya kalian berdua kembali dan persiapkan diri kalian untuk besok. Gadis itu, biar aku yang akan mengurusnya. Kalian berdua pulanglah," ucap Huanran sambil mendorong mereka keluar dari tempat itu.


"Iya, iya, kami akan pulang." Yuwen kemudian keluar sementara Chen Li masih menatap ke arah Huanran. "Beristirahatlah, besok ujian terakhir dan aku ingin kamu lulus ujian itu," ucap Huanran yang membuat Chen Li mengangguk dan tersenyum. "Baiklah, aku pergi." Huanran menatap kepergian mereka yang perlahan menghilang di balik tembok wisma tari.


Huanran kemudian mendekati Putri Xia yang masih terbaring, hingga tiba-tiba gadis itu membuka matanya. "Di mana aku?"


"Siapa kamu? Mana pemuda yang menyelamatkanku tadi?" tanya Putri Xia yang mulai ingat dengan kejadian mengerikan itu.


"Aku adalah Huanran dan pemuda mana yang kamu maksud karena ada dua pemuda yang membawamu ke sini." Huanran berjalan mendekatinya sambil membawakan segelas air untuknya.


"Maksudku, pemuda yang menunggangi kuda hitam itu." Huanran menatapnya hingga membuat Putri Xia salah tingkah dan meminum air yang diberikan Huanran padanya.


"Namanya Lian dan pemuda yang satunya lagi adalah adiknya, Yuwen." Putri Xia mengangguk sambil meletakkan gelas air minum tadi di atas meja.


Huanran sengaja tidak menyebutkan nama Chen Li karena dia takut akan membongkar identitas pemuda itu.


"Apa kamu kekasih dari pemuda yang bernama Lian?" tanya Putri Xia yang membuat Huanran tersenyum.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tenanglah, mereka berdua itu sahabatku." Putri Xia tampak mengembuskan nafas lega. Setidaknya saat ini dia tahu kalau pemuda itu masih sendiri.


"Sebaiknya aku pergi dan terima kasih karena sudah merawatku. Aku tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada kedua pemuda itu. Jadi, aku mohon sampaikan rasa terima kasihku pada mereka berdua jika mereka datang mengunjungimu." Putri Xia bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamar itu.


"Nona, sebentar." Huanran berjalan mendekatinya. "Siapa namamu?"


"Namaku Xia. Panggil saja aku Xia," jawab Putri Xia yang enggan menyebut tentang dirinya.


"Baiklah, Xia. Karena kamu telah menjadi tamuku, maka kapanpun kamu boleh datang ke tempat ini." Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, aku akan sering datang ke sini. Huanran, terima kasih." Putri Xia tersenyum dan pergi dari tempat itu. Melihat kudanya, rasanya dia tidak ingin menungganginya lagi, tapi jika dia lakukan itu maka dia tidak tahu harus kembali ke kerajaan menggunakan apa.


Gadis itu mendekati kudanya dan mengelus lembut punggung kuda itu. "Jika kamu mengamuk lagi, kamu akan aku jadikan santapan," ucap Putri Xia di dekat telinga kuda itu. Setelah di rasa aman, gadis itu kemudian naik ke atas punggung kuda dan pergi dari tempat itu.


Setibanya di kerajaan, Putri Xia teringat pada Guan Yin yang hampir saja ditabraknya. "Apa gadis itu baik-baik saja?" batinnya sambil berjalan menuju pintu utama kediaman yang di tempati oleh Mei Yin.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Suara seseorang membuat langkahnya terhenti. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah suara itu. "Paman Yuan?"


"Darimana saja kamu? Paman sudah mencarimu dari tadi, tapi kamu tidak ada. Memangnya, kamu pergi kemana? Dan, untuk apa kamu ada di sini?" tanya lelaki itu yang membuat Putri Xia berjalan meninggalkannya.


"Sudahlah, Paman. Aku tidak kemana-mana, aku hanya ingin mencari udara segar di luar sana," ucap gadis itu membuat alasan.


"Putri Xia, apa hari ini kamu bertengkar lagi dengan ibumu?" Langkahnya terhenti.


"Kenapa? Apakah, Paman juga ingin menyalahkanku?"


"Putri Xia, bukan begitu maksud, Paman. Seharusnya, kamu mengerti perasaan ibumu. Dia itu ... "


"Kenapa aku harus mengerti perasaannya? Lalu, apa dia mengerti perasaanku? Kenapa dia tega memperlakukan aku seperti aku bukan anaknya, dan Paman memintaku untuk mengerti perasaannya?"


"Bukankah Paman sudah jelaskan kalau semuanya karena wanita itu yang telah merebut ayahmu dari ibumu. Tidakkah kamu sadar akan hal itu?"


"Paman, sudahlah. Jangan membuatku membencimu dan juga ibu. Aku bukan anak kecil lagi karena aku bisa lihat dengan mataku sendiri siapa wanita yang dicintai ayahku. Wanita itu adalah wanita yang dicntai ayahku dan ibu tak pernah dicintai olehnya. Kalau wanita itu merebut ayah dari ibu, setidaknya dia bisa melihatku karena aku adalah putrinya, tapi nyatanya apa? Aku sama sekali tak di anggap karena aku tahu aku adalah anak yang tidak diharapkan olehnya." Putri Xia menitikkan air mata dan berjalan meninggalkan Yuan yang berdiri terpaku menatap kepergiannya.


"Anak itu sudah tidak bisa lagi dikendalikan. Apa yang harus aku lakukan untuknya?" batin Yuan yang tampak mulai gusar.


"Ah, seharusnya dari awal Yuri mendengarkan ucapanku untuk memperlakukan Putri Xia dengan baik, tapi rasa bencinya pada Kaisar sudah membuatnya membenci putrinya sendiri." Lelaki itu kemudian pergi dan bermaksud menemui Permaisuri.


"Apa maksudmu kalau Putri Xia sudah mulai membantah ucapanmu?" tanya Permaisuri saat Yuan menceritakan tentang Putrinya itu.


"Kamu tahu, tadi aku melihatnya ingin menuju ke tempat wanita itu. Untung saja aku menemukannya, kalau tidak, cepat atau lambat dia akan tahu tentang dirimu, Kaisar, dan juga wanita itu. Apa kamu pikir, apa yang akan dia lakukan kalau dia sampai tahu ayah dan ibunya telah membunuh raja sebelumnya?"


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"


"Sebaiknya, nikahkan dia. Apa kamu tahu kalau Putra Mahkota Kerajaan Wu kini telah memerintah kerajaan itu? Kalau saja Putri Xia menikah dengannya, maka Wilayah Dataran Timur akan meninggalkan kerajaan ini dan bergabung dengan Kerajaan Wu. Dengan begitu, kamu bisa melihat kehancuran Kaisar Wang karena telah kehilangan wilayah kita."


"Apa itu tidak masalah? Bagaimanapun juga, ayah dan kakeknya telah tewas di tangan Kaisar Wang. Apakah, Putra Mahkota akan menerima Putri Xia?"


"Aku akan berusaha berunding dan membuat kesepakatan dengannya. Kalau berhasil, maka Putri Xia harus secepatnya menikah dengannya."


Permaisuri tampak berpikir walau dia sedikit meragukan rencana itu, tapi bujukan Yuan berhasil membuatnya menyetujui rencana itu. Karena rasa bencinya pada Kaisar Wang dan juga Mei Yin membuatnya ingin menghancurkan kerajaan itu secara perlahan.


"Kalau itu jalan yang menurutmu bisa menghancurkan mereka, akan aku lakukan. Aku akan menghancurkan kerajaan ini agar mereka tahu kalau aku tidak bisa di anggap remeh. Aku ingin melihat kerajaan ini hancur dan melihat wanita itu menangis karena kerajaan yang selama ini dijaga oleh mendiang suaminya itu akan segera musnah," ucap Permaisuri dengan senyuman sinis yang terukir di sudut bibirnya.