
Di saat Chen Li telah pergi dengan pasukannya ke Wilayah Dataran Timur, Liang Yi dan Pengawal Yue bergegas menuju ke kerajaan. Rasa khawatir pada Mei Yin membuatnya ingin bertemu dengan wanita yang di cintainya itu. Dan benar saja, setibanya di sana terlihat beberapa orang yang berusaha menyerang Yuwen.
"Ketua, aku akan membantu Yuwen, sebaiknya Ketua segera menyelamatkan Permaisuri Mei Yin," ucap Pengawal Yue yang kemudian turun tangan membantu Yuwen.
Liang Yi kemudian berlari menuju ke kediaman Mei Yin yang berada tidak jauh dari tempat itu. Betapa dia terkejut saat melihat seorang wanita yang mengangkat pedangnya dan siap mengayunkan pedangnya itu ke arah Mei Yin. Dengan segera, Liang Yi mengangkat busurnya dan melesatkan anak panah ke arah wanita itu hingga wanita itu tersungkur dan tewas.
Melihat Putri Yuri tewas di depannya membuat Yuan tercekat. Pandangannya kemudian tertuju pada Liang Yi. Sontak, pedang yang terjatuh dari tangan Putri Yuri kemudian diambilnya dan mulai berlari dan menyerang Liang Yi dengan aura seorang pembunuh.
Pertarungan dua orang petarung senior itu rupanya cukup sengit. Yuan yang sangat ahli memainkan pedang cukup membuat Liang Yi kelabakan. Namun, rasa marah atas kematian Putri Yuri membuat Yuan lepas kendali hingga membuat gerakannya semakin tak terarah dan Liang Yi mengambil kesempatan itu. Di saat Yuan lengah, di saat itulah Liang Yi mengambil pedang yang sedari tadi bertengger di punggungnya. Dengan sekali gerakan berputar, Liang Yi mengayunkan pedangnya dan menebas ke arah sisi kiri Yuan yang menyebabkan perut kirinya robek dengan luka yang menganga. Yuan meringis sambil menahan lukanya itu dan masih berusaha untuk melawan, tapi tiba-tiba saja lelaki itu terjerembab dengan belasan anak panah yang tertancap dipunggungnya.
"Ketua, apa Anda baik-baik saja?" Pengawal Yue berlari ke arahnya dan diikuti oleh para penjaga lainnya.
"Aku tidak apa-apa."
Pengawal Yue rupanya masih mempunyai pengikut setia di kerajaan. Karena dirinyalah, mereka diizinkan untuk masuk ke kerajaan. Ditambah lagi saat mereka tahu kalau lelaki yang kini datang bersamanya adalah mantan pengawal Raja Zhao Li dan juga sahabat baiknya yang terkenal dengan loyalitasnya.
Liang Yi kemudian berlari menuju ke kamar di mana Mei Yin berada. Di depannya, dia melihat wanita itu menangisi jasad Kaisar Wang. Entah apa yang kini dirasakannya. Lelaki yang sudah menghancurkan kebahagiaan wanita yang dicintainya dan juga sahabatnya, kini sedang di tangisi oleh wanita itu sendiri. "Mei Yin, apa dia pantas untuk kamu tangisi?"
Liang Yi kemudian memalingkan wajahnya dan berniat untuk pergi dari tempat itu. "Liang Yi, apa kamu datang untukku?" Sontak, Liang Yi berbalik dan memandangi Mei Yin yang kini berjalan mendekatinya.
"Apa kamu juga ingin pergi dariku?" Mei Yin menitikan air mata saat berdiri di depan Liang Yi.
"Apa karena wanita seperti aku yang hanya bisa melihat kematian orang-orang yang mencintaiku mati di depanku, apa karena itu kamu juga akan pergi meninggalkanku?"
Liang Yi perlahan mendekatinya dan menghapus air matanya. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Sudah cukup aku hidup menanggung perasaan ini dan aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi karena kali ini aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu." Liang Yi kemudian memeluk Mei Yin. Sungguh, perasaan rindu dan cinta yang selama ini terpendam ingin dia ungkapkan, tapi dia harus menahannya karena dia harus membantu Chen Li.
Melihat ibunya berpelukan dengan lelaki asing membuat Guan Yin menatap mereka. "Dia adalah pamanku. Mereka dulu saling mencintai, tapi pamanku terpaksa mengalah karena Raja Zhao Li adalah sahabatnya dan Raja Zhao Li terlampau mencintai ibumu, hingga pamanku rela mengorbankan perasaannya. Pamanku lah yang membawa Chen Li saat masih kecil dulu dan merawatnya dan juga diriku," jelas Yuwen yang paham dengan tatapan Guan Yin pada pamannya itu.
"Uruslah jenazahnya, aku akan pergi membantu Chen Li," ucap Liang Yi yang perlahan melepaskan pelukannya.
"Liang Yi, jaga dirimu dan juga putraku. Secepatnya, kalian harus kembali padaku." Liang Yi mengangguk dan tersenyum padanya. "Jangan khawatir, kami akan segera kembali padamu."
Liang Yi menatap ke arah Yuwen. "Bergegaslah, kita harus pergi membantu Chen Li"
"Baik, Paman." Yuwen kemudian bangkit, tapi Guan Yin segera meraih tangannya dan memeluknya. "Yuwen, aku mohon cepat kembali padaku. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai." Guan Yin menangis dalam pelukan Yuwen, hingga membuat Yuwen tersenyum. "Aku akan segera kembali, aku janji." Yuwen lantas mengecup dahinya dan melepaskan pelukannya. Guan Yin kemudian memeluk ibunya dan menatap kepergian mereka.
"Guan Yin, bantu Ibu mengurus jenazah ayahmu." Gadis itu mengangguk.
Dengan dibantu beberapa penjaga, jenazah Kaisar Wang diangkat dan diletakkan di atas tempat tidur. Dengan telaten, Mei Yin membersihkan wajah Kaisar Wang yang penuh dengan darah. "Istirahatlah dengan tenang. Aku dan putrimu baik-baik saja, dan jangan khawatirkan kami." Sontak, air bening jatuh di sudut mata Kaisar Wang yang terpejam. Dengan lembut, Mei Yin menghapus air mata itu dan berbisik di telinganya, "Aku akan hidup bahagia, jadi jangan khawatirkan diriku. Terima kasih atas rasa sayang dan cintamu padaku, aku menyayangimu." Mei Yin mengecup dahi Kaisar Wang dan menutup wajah kaku itu dengan selembar kain putih.
*****
Di dalam penjara, Huanran duduk menangis sambil menopang wajahnya di atas tekukkan lututnya. Rasa putus asa membuatnya menangis karena dia takut tidak akan bertemu lagi dengan Raja Wu Lai yang perlahan sudah membuatnya jatuh cinta. Ya, kesungguhan hati Raja Wu Lai padanya sudah menggoyahkan hatinya. Walau rasa itu pernah dia rasakan pada Chen Li, namun dia sadar rasa itu hanya akan membuat sahabatnya terluka.
"Apa yang kamu tangisi? Apa karena kamu tidak bisa bertemu lagi dengan Chen Li?" Huanran mengangkat wajahnya dan melihat Putri Xia yang berdiri di balik jeruji. Huanran kemudian bangkit dan mendekatinya. "Putri Xia, jangan lakukan itu. Aku tahu kamu marah karena kami menyembunyikan perasaan kami darimu, tapi aku mohon dengar dulu penjelasanku."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku akan menjadi Permaisuri Kerajaan Wu dan itu berarti aku dan Chen Li selamanya akan menjadi musuh."
"Itu tidak akan pernah terjadi karena Raja Wu Lai tidak akan menikahimu dan dia berencana untuk mati di medan perang jika sampai esok siang aku tidak kembali padanya. Dan kamu tahu apa yang akan terjadi pada Wilayah Dataran Timur? Kalian akan dihukum karena melakukan pemberontakan."
"Apa yang kamu bicarakan? Omong kosongmu itu tidak akan berpengaruh padaku."
"Putri Xia, andai aku mau, aku tidak akan mengorbankan diri dan datang ke tempat ini. Aku hanya tidak ingin Chen Li mengalami hal buruk setelah apa yang dialaminya selama ini. Aku tidak ingin kamu melakukan kesalahan yang akan membuatmu menyesal. Putri Xia, Raja Wu Lai mencintaiku dan dia sedang menungguku. Jika aku kembali padanya, dia akan menghentikan peperangan ini dan menganggap perjanjian dengan ibumu tidak pernah ada. Dia berjanji padaku untuk tidak berperang dengan kerajaan manapun jika aku menjadi permaisurinya dan aku menerimanya, dengan begitu aku tidak lagi menjadi penghalang antara dirimu dan Chen Li."
Putri Xia memandangi Huanran yang menangis di depannya. "Kamu sedang berbohong, kan?"
"Aku tidak berbohong. Putri Xia, aku menerimanya bukan karena aku terpaksa, tapi aku sungguh mencintainya. Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku pada Chen Li karena perasaan itu terlihat samar dan aku tidak ingin menyakitimu. Aku tahu kamu sangat mencintainya karena itu jangan buat dia membencimu lagi."
Ucapan Huanran perlahan mengganggu ketenangan hatinya. "Jika Huanran benar, maka apa yang aku lakukan ini salah? Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?" batin Putri Xia yang kemudian pergi tanpa mengatakan apapun pada Huanran.
"Putri Xia, jika besok pagi aku tidak keluar dari tempat ini, maka Chen Li dan pasukannya akan menyerang kalian. Putri Xia, dengarkan aku!!" teriak Huanran saat melihat gadis itu pergi begitu saja.
"Putri Xia, apa yang Anda lakukan di sini?" Gadis itu terkejut. Seorang lelaki paruh baya yang sudah siap dengan jubah perangnya tampak berdiri di belakangnya.
"Tuan, apa maksud dengan semua ini? Apa yang ibuku rencanakan?"
"Kita akan memberontak pada Kerajaan Xia dengan bantuan Kerajaan Wu. Jika Putri Xia menjadi Permaisuri Kerajaan Wu, maka wilayah kita akan melepas diri dari Kerajaan Xia dan berada di bawah Kerajaan Wu."
Putri Xia terperanjat. "Jadi, kalian akan memberontak?"
Lelaki itu mengangguk. "Sebaiknya, Putri Xia bersiap-siap karena pagi ini Putri Xia harus pergi ke Kerajaan Wu dengan tandu pengantin." Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan Putri Xia yang berdiri diam terpaku. "Apa yang sudah aku lakukan?"
Putri Xia kemudian menemui seorang pelayan setianya. "Siapkan makanan dan beri obat tidur di dalamnya. Setelah itu, bawa pada penjaga di penjara bawah tanah."
"Baik, Putri Xia."
Pelayan itu kemudian melakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan Putri Xia padanya. Makanan itu kemudian dibawa ke penjara bawah tanah dan penjaga-penjaga itu melahapnya tanpa rasa curiga.
Tak lama kemudian, penjaga-penjaga itu terlihat tertidur. Putri Xia kemudian masuk ke dalam penjara itu dan membuka terali besi. "Huanran, cepat keluar, kamu harus pergi dari sini." Putri Xia mengeluarkan Huanran dan membawanya ke kamarnya.
"Huanran, aku akan membawamu pada Raja Wu Lai dan hentikanlah peperangan ini. Aku tidak ingin melihat kehancuran Wilayah Dataran Timur. Aku tahu apa yang ibuku lakukan ini salah, karena itu pergilah dan aku akan menanggung kesalahan ini." Putri Xia menitikan air mata saat mengucapkan itu semua. Baju pengantin berwarna merah kemudian di serahkan kepada Huanran. "Pakailah dan gantikan aku. Cepatlah, sebentar lagi mereka akan datang."
Huanran kemudian memakai baju pengantin berwarna merah itu dan menutupi wajahnya dengan selembar kain tipis yang juga berwarna merah. "Putri Xia, bagiku kamu tetaplah sahabatku. Apapun yang terjadi, berusahalah untuk tetap mendukung Chen Li. Aku menyerahkan dia padamu karena aku tahu kamu sangat mencintainya dan dia pasti akan menyadari itu." Huanran memeluknya sambil menangis dan Putri Xia membalas memeluknya. "Aku tidak akan pernah lupa denganmu. Kita adalah sahabat dan terima kasih karena sudah menyelamatkan kami." Huanran mengangguk. Gadis itu kemudian keluar dari dalam kamar dan masuk ke dalam sebuah kereta yang sudah bersiap membawanya ke Kerajaan Wu.
"Tunggu dulu!!" Lelaki yang ditugaskan oleh Yuan perlahan mendekati kereta.
"Maaf, Putri Xia. Bisakah, Putri Xia membuka penutup wajahnya?" Huanran terkejut.
"Putri Xia, tolong buka penutup wajahnya."
"Jangan lakukan itu!! Apa kalian ingin membuat Raja Wu Lai marah karena kalian telah lancang melihat wajah pengantinnya sedangkan dia sendiri belum melihatnya?" Seorang wanita paruh baya berdiri di belakang mereka.
"Apa kalian begitu berani melakukan itu?" Lelaki itu tampak goyah. Hingga tiba-tiba saja seorang prajurit datang dan memberitahukan kalau pasukan Kerajaan Xia sudah bersiap menyerang di depan pintu gerbang mereka.
Lelaki itu kemudian memerintahkan kereta untuk pergi. "Cepat, bawa pengantinnya dan minta pasukan Kerajaan Wu untuk segera bergabung." Lelaki itu lalu pergi dan bergabung dengan pasukannya dan bersiap di depan pintu gerbang wilayah mereka.
"Putri Xia, kereta pengantin sudah pergi." Wanita paruh baya itu datang melapor.
Putri Xia mengangguk. Dilihatnya matahari yang mulai menampakkan diri dan itu artinya sebentar lagi Chen Li dan pasukannya akan menyerang jika Huanran tidak keluar dari tempat itu. "Aku harus menghentikan semua ini."
Putri Xia sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Dia sadar, keputusannya membawa Huanran pada Raja Wu Lai akan membuatnya kehilangan orang yang dia cintai, namun keputusannya itu juga akan menyelamatkan wilayahnya karena dia tidak ingin wilayah mereka akan di kenang sebagai pemberontak.
Dengan menutupi wajahnya, Putri Xia berjalan menuju pintu gerbang di mana Chen Li dan pasukannya sudah bersiap untuk menyerang mereka.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya seorang prajurit saat melihat seorang wanita berjalan di depannya. Sontak, semua prajurit menatap ke arahnya.
"Hei, perempuan!! Siapa kamu dan kenapa kamu ada di sini?" Prajurit itu berjalan mendekatinya karena merasa curiga.
"Buka pintu gerbangnya." Perintah Putri Xia sambil membuka penutup wajahnya.
"Putri Xia? Bukankah, Anda sudah pergi ke Kerajaan Wu?"
"Cepat, buka pintu gerbangnya!!" Perintah Putri Xia kembali, namun mereka enggan membuka pintu gerbang itu. Putri Xia tampak marah dan mengambil pedang dari seorang prajurit dan mengarahkannya kepada mereka. "Aku akan membuka pintu gerbang ini sendiri dan kalian sebaiknya kembali pada keluarga kalian karena peperangan tidak akan pernah terjadi."
"Apa maksud Anda, Putri Xia?" Lelaki itu menatapnya heran.
"Apa kalian ingin anak istri kalian dihukum atas pemberontakan kalian? Pergilah karena pasukan Kerajaan Wu tidak akan pernah datang membantu kalian. Biar aku yang akan menyelesaikan semua masalah ini." Pintu gerbang kemudian terbuka dan Putri Xia melangkah keluar seorang diri.
Di depannya, dia melihat Chen Li yang sudah bersiap di atas kudanya. Sesaat, Putri Xia begitu kagum dengan pemuda itu yang terlihat gagah dengan jubah perangnya. Gadis itu kemudian berjalan dan berdiri di depan Chen Li. "Aku, Putri Xia akan menanggung hukuman atas semua kejadian ini. Pangeran Chen Li, berilah hukuman padaku dan bebaskan rakyatku." Putri Xia lantas berlutut di depan Chen Li dengan air matanya yang jatuh.