
"Kakak Chen, istirahatlah sebentar, aku lelah," keluh Yuwen saat mereka berdua sedang latihan menggunakan pedang kayu.
"Kamu istirahat saja, biar aku melanjutkan latihanku," jawab Chen Li sambil mengayunkan pedang kayu ke salah satu temannya.
Dengan gesitnya, Chen Li mampu menangkis setiap serangan yang dilayangkan temannya itu, sementara Liang Yi dengan seksama memperhatikan setiap gerakannya.
"Ketua, sepertinya Pangeran sangat lihai dalam menggunakan pedang. Jika kita bisa mengasah kemampuannya itu, aku yakin dia akan menjadi petarung yang sangat andal," ucap Qiang sambil memperhatikan Chen Li.
"Aku tahu itu, dan teruslah melatihnya. Qiang, ajarkan dia apa yang kamu tahu, tapi ingat, ajarkan juga tentang kesabaran padanya agar dia bisa mengontrol emosinya karena jika dia tidak mampu menguasai emosinya, maka semua keahlian bertarungnya hanya akan sia-sia."
"Aku paham, Ketua. Serahkan dia padaku, aku dan teman-teman lainnya akan menjadikan dia lelaki yang tangguh," ucap Qiang yang kemudian bangkit dan berjalan menuju Chen Li yang sementara masih latihan dengan pedang kayunya.
"Chen Li, ambil ini," teriak Qiang sambil melemparkan sebuah pedang baja ke tanah. Chen Li melihat pedang itu dan langsung mengambilnya, tapi pedang itu terlalu berat hingga dia tidak bisa mengangkat pedang itu terlalu lama.
"Kenapa? Apakah pedang itu terlalu berat untukmu?"
Chen Li memandang ke arah Qiang dan mengangguk. "Tidak apa-apa, Paman. Aku akan berusaha mengangkatnya," ucap Chen Li sambil berusaha mengangkat pedang itu, tapi selalu saja gagal.
"Kakak Chen Li, sudahlah jangan dipaksakan, beristirahatlah," ucap Yuwen yang sudah duduk beristirahat dan hanya memandanginya sambil tertawa.
Chen Li yang baru berusia delapan tahun itu rupanya tidak mudah untuk menyerah. Walau mustahil, tapi dia tetap berusaha untuk mengangkat pedang itu hingga Liang Yi datang dan mengambil pedang itu darinya. "Kalau kamu hanya fokus untuk mengangkat pedang ini, maka kamu tidak akan bisa mengangkatnya. Kalau pedang ini terasa berat bagimu, maka mulailah mengangkat dari yang ringan. Umurmu masih terlalu muda untuk memakai pedang baja ini, karena itu mulailah melatih emosi dan kesabaranmu. Paman yakin jika kamu bisa mengontrol emosimu maka semua ini tidak lagi berat di tanganmu. Kamu mengerti kan apa yang Paman maksud?"
Chen Li mengangguk. Dia paham dengan apa yang di maksud Liang Yi. Dia terlalu serius berlatih karena hanya memfokuskan diri agar secepatnya dia bisa menguasai ilmu bela diri, tapi dia lupa kalau sifat tergesa-gesanya itu hanya akan membuat dirinya tertekan jika apa yang dia inginkan tidak sesuai dengan harapannya.
Chen Li meletakkan pedang baja itu kembali dan mengambil pedang kayu yang tadi dibuangnya. "Baiklah, Paman. Aku mengerti maksud Paman." Chen Li kemudian menyimpan pedang kayu itu dan memgumpulkannya dengan pedang kayu lainnya.
"Adik Yuwen, cepatlah. Jika kamu bisa sampai di rumah terlebih dulu, ubi rebus milikku boleh kamu makan," ucap Chen Li yang sudah memasang kuda-kuda untuk berlari.
Mendengar ucapan Chen Li membuat bocah enam tahun itu segera berlari lebih dulu sambil tertawa. Chen Li yang sudah tertinggal beberapa meter lantas berlari mengikutinya dan berhasil melewatinya.
"Maaf, adik Yuwen, ubi rebusku akan tetap menjadi milikku," ucap Chen Li yang hampir sampai di depan pintu, tapi tiba-tiba Yuwen berpura-pura terjatuh hingga Chen Li berbalik dan berlari ke arahnya. "Adik Yuwen, kamu tidak apa-apa?" tanya Chen Li saat mendekatinya, tapi Yuwen segera bangkit dan berlari hingga sampai di depan pintu.
"Maaf, Kakak Chen, ubi rebusmu akan tetap menjadi milikku," ucap Yuwen penuh senyum kemenangan.
Chen Li hanya bisa tersenyum walau dirinya di curangi, tapi melihat Yuwen yang menertawainya membuat bocah itu ikut tertawa.
"Sudah, lebih baik kalian berdua pergi mandi, setelah itu kalian harus belajar," ucap Liang Yi pada kedua bocah itu.
"Baik, Paman," ucap kedua bocah itu kompak.
Liang Yi menatap kepergian kedua bocah itu. Melihat mereka, dia tersenyum karena mengingat persahabatannya dengan Zhao Li di masa lalu. "Zhao Li, aku senang melihat keponakanku dan anakmu bisa bersahabat baik seperti kita dulu. Mereka bahkan seperti kakak adik hingga membuat mereka tidak bisa berpisah. Aku berjanji, akan membuat anakmu menjadi lelaki yang baik sama sepertimu. Dia akan mengambil kembali apa yang menjadi haknya dan keponakanku akan menjadi orang pertama yang akan selalu membelanya," batin Liang Yi yang membuatnya meneteskan air mata.
Liang Yi tidak hanya mengajarkan mereka tentang ilmu bela diri, tapi juga ilmu pengetahuan umum, seperti sastra, kaligrafi, membaca dan menulis puisi dan ilmu ketatanegaraan. Semua yang pernah dipelajarinya diajarkan kembali kepada kedua bocah itu.
Di antara keduanya, Chen Li lah yang terlihat paling semangat belajar. Otaknya cukup encer untuk mencerna semua pelajaran yang Liang Yi ajarkan padanya. Sementara Yuwen, selalu tertidur saat Liang Yi memberikan pelajaran hingga membuatnya sering dihukum.
"Paman, apa aku boleh tahu, bagaimana Paman bisa kenal dengan ayah dan ibuku?" tanya Chen Li saat dia sudah selesai menyelesaikan pelajarannya.
Liang Yi tersenyum dan mengajaknya duduk di teras rumah sambil memandangi langit hitam. "Ayahmu dan aku berteman sejak kecil. Ayahmu adalah pangeran dan aku adalah putra dari seorang jenderal. Kami berdua berteman sejak ayahku sering membawaku ke istana. Kalau ibumu, dia adalah wanita yang sangat cantik. Kami bertiga bersahabat karena ibumu sering datang menari di istana dan dari situlah ayah dan ibumu mulai saling mencintai," jelas Liang Yi, walau semua kisah itu tidak semua diceritakan olehnya.
Chen Li tersenyum mendengar cerita Liang Yi. "Paman, tarian ibuku sangat indah. Aku sering meminta ibu untuk menari dan ibu selalu menurutinya. Aku harap, ibu di sana baik-baik saja. Jika aku bertemu dengannya nanti, aku ingin melihat tariannya karena aku sangat merindukannya," ucap Chen Li dengan wajah yang tersenyum walau sebenarnya dia ingin menangis.
Liang Yi tersenyum dan membenarkan ucapan bocah itu karena dirinya juga merasakan hal yang sama. Dia sangat merindukan wanita itu dan juga tarian indahnya.
Liang Yi kemudian memainkan kecapi yang sedari tadi dibawanya. Di saat dia merindukan Mei Yin, dia selalu duduk di depan rumahnya sambil menatap ke arah langit dan memainkan kecapi dengan alunan yang lembut.
Chen Li mendengar alunan petikan kecapi itu dengan seksama dan dia membayangkan ibunya sedang menari di depannya. Ibunya terlihat tersenyum padanya dan menatap mesra ke arah ayahnya. Chen Li menitikkan air mata saat membayangkan itu semua.
Sementara di istana, Mei Yin duduk di halaman kediamannya sambil duduk memandangi langit malam. Malam itu, langit terlihat cerah dengan bintang yang bertaburan bak mutiara.
"Nyonya, masuklah. Di luar sangat dingin, nanti Nyonya bisa sakit," ucap Dayang Ling sambil memakaikan selimut tebal di atas pundaknya.
"Tidak mengapa, aku sudah biasa seperti ini. Aku hanya ingin menikmati langit malam yang indah ini," ucapnya sambil menatap ke langit hitam.
Mei Yin tampak asyik menatap ke langit dan tersenyum saat melihat bintang jatuh.
"Maaf, aku minta maaf karena tidak menyadari kedatanganmu," ucap Mei Yin sambil menundukkan wajahnya.
"Istriku, bersikaplah seperti biasa, jangan menganggapku sebagai Kaisar di tempat ini. Di sini, aku ingin diperlakukan sebagai suamimu bukan sebagai Kaisar," ucap Kaisar Wang sambil berjalan mendekatinya.
Mei Yin tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, aku akan melakukan apa yang kamu minta. Di tempat ini, aku akan memperlakukanmu sebagai suamiku bukan sebagai Kaisar. Kalau begitu, apa boleh aku menanyakan sesuatu padamu?" tanya Mei Yin yang membuat Kaisar Wang mengernyitkan kedua alisnya.
"Katakanlah, apa yang ingin kamu tanyakan?"
Mei Yin mencoba bersikap sewajarnya karena dia tidak ingin Kaisar Wang menaruh curiga padanya. "Apa benar, kamu telah menangkap Perdana Menteri Qing Ruo dan kini dia sedang dipenjara?"
Kaisar Wang menatap Mei Yin dengan heran. "Apakah itu mengganggumu? Aku tahu, dia adalah salah satu pejabat yang sangat setia kepada mendiang suamimu, jadi apa kamu ingin aku membebaskannya?" tanya Kaisar Wang seakan bisa menebak maksud dari pertanyaan istrinya itu.
Mei Yin mengangguk pelan. "Aku memintanya bukan karena dia sangat loyal pada Zhao Li, tapi dia sudah aku anggap seperti ayahku sendiri. Dia satu-satunya pejabat yang menganggapku seperti putrinya. Jika aku berbuat salah, dia akan menegurku. Jika Zhao Li mengambil langkah yang salah, dia juga yang akan memberitahuku karena dia tahu apa yang aku katakan pada Zhao Li pasti akan di dengar. Maaf, bukannya aku ingin membuatmu cemburu, tapi ... " Tiba-tiba saja Kaisar Wang memeluknya hingga membuatnya tidak lagi bisa melanjutkan kalimatnya.
"Baiklah, sekarang juga aku akan membebaskannya, apa sekarang kamu senang?" tanya Kaisar Wang sambil menatap Mei Yin yang kini mengangguk dan tersenyum di depannya.
"Kalau begitu, apa boleh aku meminta hadiahku?" Mei Yin mengernyitkan keningnya dan terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, apa yang kamu minta?"
Kaisar Wang masih tersenyum dan meraih tangan istrinya itu dan mengajaknya untuk duduk. "Aku ingin mendengar tentang kisah hidupmu, masa kecilmu dan juga orang tuamu. Apa kamu keberatan?" tanya Kaisar Wang yang membuat Mei Yin terkejut.
"Apa kamu ingin tahu masa laluku?"
Kaisar Wang mengangguk. Mei Yin tersenyum kecut saat lelaki itu ingin mendengar kisah hidupnya. "Untuk apa kamu ingin tahu masa laluku, apa itu penting bagimu?"
"Itu sangat penting bagiku, karena aku tidak ingin mendengar dari orang lain tentang dirimu," ucap Kaisar Wang yang membuat Mei Yin harus membuka kembali masa lalunya.
Mei Yin lantas menceritakan tentang masa kecilnya di desa kabut, tentang masa kecilnya tanpa orang tua dan hanya dengan kakeknya yang nyatanya harus terbunuh hingga membuatnya dijual di rumah bordil dan dijadikan wanita penghibur.
Mei Yin menghentikan ceritanya dan menghapus air matanya yang tanpa sadar telah menggantung di pelupuk matanya. Sementara Kaisar Wang mendengarkan dengan seksama hingga membuatnya menggenggam tangan istrinya itu dengan erat.
"Apakah kamu masih ingin tahu cerita hidupku? Sudahlah, aku tidak ingin lagi menceritakan itu semua," ucap Mei Yin yang membuat Kaisar Wang memeluknya.
"Kita berdua memiliki kisah yang sama. Kita berdua tidak merasakan kasih sayang dari orang tua dan hidup terombang-ambing dengan takdir yang mempermainkan kita. Istriku, aku tidak ingin meminta lebih. Aku hanya menginginkan kasih sayangmu untukku. Aku ingin merasakan kasih sayang yang sedari kecil tidak aku dapati dan aku ingin mendapatkannya darimu. Aku mohon, tetaplah ada di sisiku," ucap Kaisar Wang yang tanpa sadar membuatnya menangis sambil memeluk wanita yang sangat dicintainya itu.
Mei Yin hanya mendengarkan tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia sadar, masa kecil Kaisar Wang sangatlah menyedihkan, tapi dia tidak ingin bersimpati padanya.
Kaisar Wang melepaskan pelukannya. Mei Yin menatap wajah lelaki itu yang basah dengan air mata. Untuk sesaat, Mei Yin merasa kasihan padanya, hingga membuatnya menyentuh wajah itu dan menghapus air matanya. "Aku akan tetap ada di tempat ini. Aku tidak akan kemana-mana. Bukankah aku sekarang adalah istrimu?" ucap Mei Yin yang berpura-pura simpati padanya.
Kaisar Wang mengangguk dan tersenyum padanya. "Terima kasih, karena kamu bersedia menemaniku. Aku bahagia karena bisa memilikimu. Tetaplah seperti ini karena aku tidak tahu jika kamu pergi meninggalkan aku," ucap Kaisar Wang sambil mengecup tangan Mei Yin dan menggenggamnya erat.
Kaisar Wang tersenyum dan merangkul tubuh Mei Yin sambil memandangi ke langit hitam. Sementara itu, Permaisuri tampak memperhatikan mereka dari jauh.
Melihat kerbersamaan mereka hatinya cemburu. Dia merasa sakit hati karena di acuhkan. Sejak menikahi Mei Yin, Kaisar Wang tidak pernah lagi mengunjunginya. Tanpa berpikir, Permaisuri kemudian melangkah menemui mereka.
"Maaf, Yang Mulia. Permaisuri Yuri ingin bertemu dengan Yang Mulia," ucap Dayang Ling.
"Suruh dia kembali, malam ini aku akan tidur di sini," jawab Kaisar Wang yang terlihat acuh.
Mendengar ucapan Kaisar Wang membuat Permaisuri mendatanginya dan berdiri di depannya. "Yang Mulia, apakah Yang Mulia sudah melupakan janji Yang Mulia padaku?"
Kaisar Wang menatapnya tajam. Dia tidak percaya wanita itu berani mengganggu kebersamaannya dengan Mei Yin. Dengan geramnya, dia mendekati Permaisuri dan ingin menamparnya.
"Suamiku, jangan lakukan itu, pergilah. Aku tidak keberatan jika kamu menemaninya malam ini. Bagaimanapun juga, dia adalah istrimu. Permaisuri, kembalilah ke kamarmu biar aku yang akan membujuk Kaisar," ucap Mei Yin yang membut Kaisar Wang luluh.
"Istriku, malam ini aku ingin bersamamu. Tak bisakah aku di sini malam ini?" tanya Kaisar Wang sambil memegang tangan Mei Yin dengan manja.
Mei Yin terseyum dan memeluk lelaki itu. "Pergilah, kapanpun pintu kamarku akan selalu terbuka untukmu. Aku hanya tidak ingin wanita itu membuat keributan di tempat ini. Jika kamu sudah selesai dengannya, datanglah kembali padaku," bisik Mei Yin yang membuat Kaisar Wang benar-benar tidak ingin pergi meninggalkannya, tapi setiap permintaan Mei Yin baginya bagaikan sebuah perintah yang tidak bisa dia tolak.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, tapi sebelum itu birkan aku memelukmu sekali lagi," ucap Kaisar Wang yang kembali memeluknya dan mengecup lembut bibirnya. Permaisuri yang ada di tempat itu akhirnya pergi meninggakan mereka dengan perasaan cemburu yang membuncah di hatinya.
Sekali lagi, Mei Yin merasa menang karena telah berhasil membuat Permasuri cemburu hingga membuatnya tersenyum puas. "Nikmatilah malammu bersamanya, tapi kamu hanya akan merasakan kekecewaan karena dia tidak mencintaimu. Teruslah mencoba untuk mengambilnya dariku, tapi aku tidak akan mudah memberikannya padamu. Apa yang menjadi milikmu, akan segera menjadi milikku," batin Mei Yin saat melihat Permaisuri Yuri yang pergi dengan wajah yang memerah karena menahan cemburu.