
Malam itu, Mei Yin begitu bahagia karena melihat kondisi suaminya yang mulai membaik. Dia begitu senang hingga tidak ingin meninggalkannya dan memilih berbaring di samping tubuh suaminya itu.
Raja Zhao Li menatap wajah istrinya yang kini sedang menatapnya. "Terima kasih," ucap Raja Zhao Li pelan sambil mengecup kening istrinya itu. Mei Yin tersenyum dan mengangguk.
"Suamiku, untuk sementara tetaplah seperti ini. Berpura-puralah sakit karena sepertinya ada yang menginginkan kematianmu," ucap Mei Yin yang mulai terlihat serius.
"Aku tahu itu, tapi aku tidak tahu siapa yang sudah berniat jahat padaku."
"Mulai sekarang, jangan pernah memakan apapun tanpa seizinku. Aku yang akan bertanggung jawab untuk semua makananmu. Aku tidak percaya lagi dengan dayang dapur karena setelah aku tidak lagi menerima bubur dari mereka, kondisimu perlahan mulai membaik. Dan aku akan mencari tahu orang-orang yang telah berbuat hal keji ini padamu," ucap Mei Yin yang terlihat geram.
"Aku tidak akan memaafkan orang-orang yang hampir saja membuatku kehilangan dirimu. Aku janji, aku akan menghukum mereka."
Keesokan harinya, Mei Yin bersama Dayang Ling dan beberapa dayang kepercayaannya masuk ke dapur istana. Wajahnya yang selalu tersenyum, kini terlihat marah. Tatapan matanya tajam sambil memperhatikan dayang-dayang di bagian dapur istana itu.
"Siapa yang bertanggung jawab atas makanan Yang Mulia saat Yang Mulia sedang sakit?" tanya Dayang Ling kepada dayang-dayang yang sudah berdiri berjejer itu.
Mereka saling memandang. Tidak ada seorangpun yang mengaku. Tiba-tiba, seorang dayang mengangkat tangannya. "Maaf, Permaisuri. Yang bertanggung jawab untuk memasak makanan untuk Yang Mulia adalah Dayang Han, tapi dia tiba-tiba menghilang sejak semalam. Hamba sudah mencarinya, tapi hamba tidak menemukannya," ucap dayang itu hingga membuat Mei Yin menjadi marah.
"Cepat, geledah kamarnya!!?" perintah Mei Yin. Semua dayang yang ada di tempat itu kemudian menuju ke kamar Dayang Han dan mulai menggeledah. Semua yang ada di dalam kamar itu diperiksa satu persatu. Lemari untuk menyimpan pakaian pun tak luput diperiksa hingga mereka menemukan sepucuk surat di bawah tumpukan pakaiannya.
"Permaisuri, kami hanya menemukan ini," ucap Dayang Ling sambil menyerahkan surat itu kepada Mei Yin. Mei Yin kemudian membaca surat itu.
"Dayang Ling, segera panggilkan Pengawal Yue ke villa bunga!!" ucap Mei Yin yang kemudian meninggalkan tempat itu.
Mendengar dirinya dipanggil, Pengawal Yue lantas menghadap di depan Mei Yin.
"Pengawal Yue, cepat cari Dayang Han. Aku telah menemukan bukti kalau dialah yang telah meracuni Yang Mulia," ucap Mei Yin sambil menyerahkan surat itu.
Pengawal Yue kemudian membaca isi surat itu yang mengatakan kalau Dayang Han lah yang telah meracuni Raja Zhao Li dan memilih untuk kabur dari istana karena takut dihukum. "Permaisuri, apakah Permaisuri tidak curiga dengan isi surat ini? Kalau dia memang yang meracuni Yang Mulia, dia bisa saja lari diam-diam dan tidak bertindak ceroboh dengan menulis surat ini. Surat ini sepertinya sengaja ditinggalkan oleh orang yang ada di balik kejadian yang menimpa Yang Mulia dan dia ingin mencuci tangan atas perbuatannya dan menuduh ke Dayang Han," jelas Pengawal Yue.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan kalau ternyata ada orang lain di balik kejadian ini? Dan bagaimana jika mereka masih ada di dalam kerajaan ini dan kembali melukai Raja Zhao Li?" tanya Mei Yin yang terlihat begitu khawatir.
"Permaisuri, tenanglah. Izinkan hamba bertemu dengan Yang Mulia, karena ada sesuatu yang ingin hamba bicarakan dengan Yang Mulia," ucap Pengawal Yue.
Mei Yin menatap lelaki itu sejenak dan menemukan ketulusan di balik wajahnya itu. "Baiklah."
Mei Yin kemudian membawa lelaki itu menemui Raja Zhao Li yang sementara ada di dalam kamarnya. Sejak Raja Zhao Li mulai membaik, Mei Yin tidak lagi membiarkannya keluar dari kamar agar orang-orang yang menginginkan kematiannya berpikir kalau saat ini Raja Zhao Li sedang sekarat.
Mei Yin lalu meninggalkan mereka berdua. Pengawal Yue adalah orang kepercayaan Raja Zhao Li hingga membuat Mei Yin mengizinkan lelaki itu bertemu dengan suaminya.
"Yang Mulia," ucap Pengawal Yue sambil menuduk dan memberi hormat kepada lelaki yang kini sudah berdiri di depannya.
"Pengawal Yue, bangkitlah dan ceritakan padaku informasi apa yang sudah kamu dapatkan."
Lelaki itu kemudian bangkit. Rasanya dia masih tidak percaya karena melihat rajanya yang sehat tanpa kurang suatu apapun. "Sejak Yang Mulia sakit, hampir semua pejabat kerajaan menginginkan Yang Mulia untuk mundur. Apalagi sejak adanya para perusuh yang membuat resah rakyat kita. Aku curiga kalau para perusuh-perusuh itu sengaja di munculkan untuk membuat kisruh suasana agar bisa dijadikan alasan untuk menurunkan Yang Mulia," jelas Pengawal Yue.
"Lalu, kenapa kalian tidak mampu menangkap mereka?"
"Aku dan beberapa orang prajurit terbaik sudah berusaha untuk menangkap mereka, tapi mereka sangat lincah dan mereka tahu kapan kita bergerak. Mereka sepertinya bukan orang sembarangan dan mereka bertindak di saat kita lengah."
Raja Zhao Li mendengar penjelasan pengawalnya itu dengan seksama. Dan dia yakin, semua kejadian ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu mereka ingin memberontak dan menginginkannya mundur dari takhta.
"Pengawal Yue, pergilah temui Liang Yi dan sampaikan suratku ini padanya."
"Baik, Yang Mulia."
"Satu hal lagi, jangan sampai orang-orang tahu kalau aku telah sembuh. Aku ingin membuat kejutan pada orang-orang yang menginginkan kematianku."
"Baik, Yang Mulia. Sekarang juga, hamba akan menemui Tuan Liang Yi. Hamba pamit, Yang Mulia." Pengawal Yue kemudian keluar dari kamar itu.
Pengawal Yue sudah mengirimkan anak buahnya untuk mencari Dayang Han, tapi mereka tidak menemukan apapun hingga terdengar kabar kalau warga menemukan sesosok mayat perempuan yang telah hanyut di sungai dan perempuan itu adalah Dayang Han.
"Rupanya mereka sengaja membunuhnya. Aku tidak bisa diam, sepertinya mereka benar-benar ingin mencelakai Yang Mulia," batin Pengawal Yue saat melihat mayat wanita itu.
"Benar, Tuan. Untung saja Permaisuri cepat mengetahui kalau Yang Mulia diracuni hingga Permaisuri bertindak lebih cepat, kalau tidak mungkin saja saat ini Yang Mulia sudah tewas."
Liang Yi mengangguk dan bersyukur karena dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya ternyata baik-baik saja. "Lalu, adakah seseorang yang kamu curigai?"
Pengawal Yue terlihat berpikir dan mengingat ucapan Perdana Menteri Qing Ruo tentang Jenderal Wang Li. "Sebenarnya, ada seseorang, tapi aku masih tidak yakin."
"Siapa dia? Katakanlah padaku."
"Dia adalah Jenderal Wang Li," ucap Pengawal Yue yang membuat Liang Yi teringat akan lelaki itu.
"Lelaki itu? Apa ada yang aneh dengan sikapnya selama ini?"
"Aku juga tidak percaya dan aku lihat tidak ada yang aneh padanya. Dia selalu membantu Yang Mulia dan Permaisuri dan mereka terlihat sangat dekat."
"Pengawal Yue, bantu aku untuk menjaga Zhao Li dan Mei Yin. Aku akan mencari tahu tentang perusuh-perusuh itu. Dan tolong, sampaikan suratku ini untuk Zhao Li. Ada suatu hal penting yang harus dia ketahui," ucap Liang Yi.
"Baik, Tuan."
Pengawal Yue kemudian kembali ke istana dan menyerahkan surat Liang Yi untuk Raja Zhao Li. Surat itu kemudian dibaca oleh Raja Zhao Li dan membuatnya terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Isi surat itu membuat dia terduduk dengan wajah yang memerah karena menahan amarah. "Pengawal Yue, apa kamu sudah tahu siapa yang membabat hutan tempatku berburu waktu itu?" tanya Raja Zhao Li.
"Maaf, Yang Mulia. Malam itu, salah seorang prajurit melihat Jenderal Wang Li keluar dari kerajaan dan kembali saat hari mulai subuh. Hamba sengaja tidak melapor kepada Yang Mulia karena hamba pikir kalau itu mungkin bukan ulah Jenderal Wang Li."
Raja Zhao Li terlihat berpikir karena surat dari Liang Yi begitu mengganggu hatinya. Dia ingin menyangkal apa yang ditulis sahabatnya itu, tapi dia tidak bisa karena dia tahu sahabatnya itu tidak akan pernah bisa membohonginya.
Liang Yi sengaja menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya saat kejadian perampokan yang dialami Raja Zhao Li dan Mei Yin pada saat itu. Apa yang dilihat dan di dengarnya dari mulut Jenderal Wang Li sengaja dia ungkapkan pada Raja Zhao Li agar Raja Zhao Li bisa lebih berhati-hati pada kakaknya itu.
"Jika itu benar, apa mungkin dia yang telah meratakan hutan karena marah melihat Mei Yin terluka di dalam hutan itu?" batin Raja Zhao Li yang juga berniat melakukan hal yang sama. Dia juga ingin membakar hutan itu karena wanita yang dicintainya terluka di dalam hutan itu, tapi dia tidak menyangka kalau Jenderal Wang Li mampu melakukan hal itu.
"Kakak Wang, apa kamu setega itu padaku?" batin Raja Zhao Li dengan air mata yang perlahan jatuh.
Walau sulit untuk dia terima, tapi itulah kenyataannya dan dia tidak bisa mengatakan hal itu pada Mei Yin. Selama ini, mereka sudah menganggapnya sebagai kakak, tapi nyatanya dia mempunyai perasaan terhadap adik iparnya sendiri.
"Suamiku, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Mei Yin yang baru saja datang membawakan makanan untuk suaminya itu.
Melihat Mei Yin, Raja Zhao Li segera bangkit dan memeluk istrinya itu dari belakang. "Ada apa?" tanya Mei Yin lembut.
"Biarkan aku memelukmu. Biarkan aku merasakan hangatnya tubuhmu," ucap Raja Zhao Li sambil memejamkan matanya. Dia tidak ingin melepaskan pelukannya dan tidak ingin membayangkan jika tubuh istrinya itu dipeluk lelaki lain. Rasanya, dia akan mati jika hal itu sampai terjadi. Dia tidak akan sanggup jika istrinya itu direbut darinya.
"Aku akan menjagamu hingga aku mati. Aku tidak akan membiarknnya mengambilmu dari sisiku. Kamu adalah hidupku dan aku akan kehilangan kehidupanku jika aku benar-benar kehilanganmu," batin Raja Zhao Li yang belum juga melepaskan pelukannya.
Mei Yin tersenyum dan membiarkan tubuhnya dipeluk oleh suaminya itu. Rasanya, itu adalah hal yang paling dirindukan olehnya. Dia rindu saat-saat kebersamaan mereka yang harus terenggut karena penyakit yang diderita oleh Raja Zhao Li.
Raja Zhao Li kemudian membalikkan tubuh istrinya itu dan menantap wajahnya. Dia tersenyum melihat kecantikan wajah itu. Dia terpesona dengan tatapan mata yang membuat dia hanyut dalam gumpalan awan biru. Dia tergoda dengan keindahan bibir ranum yang merekah indah hingga membuatnya ingin menikmati semua keindahan itu.
"Aku mencintaimu," ucap Raja Zhao Li sambil mengecup mesra bibir ranum dan merekah yang begitu menggodanya. Dia hanyut dalam lautan asmara yang membuatnya enggan untuk mengakhiri petualangannya. Semua yang ada pada istrinya adalah miliknya dan dia berhak untuk merasakannya dan dia tidak rela jika apa yang dimilikinya direbut darinya.
Kini, dia tengah larut dalam kehangatan cinta yang memang layak dia dapatkan. Rasa cinta membuatnya ingin meluapkan semua hasrat yang terpendam dalam jiwanya. Rasa cemburu dan takut kehilangan, membuat keegoisan merayap di hatinya. Keduanya bercampur menjadi satu hingga membuatnya tidak ingin cepat-cepat melepaskan hasratnya. Dia masih ingin menikmati keindahan yang baginya terlihat sempurna dan tanpa cela. Hingga akhirnya dia bisa tersenyum puas saat wajah cantik itu tersenyum dan tertawa renyah di depannya.
"Apa kamu suka?" tanya Mei Yin dengan senyum yang terlihat begitu indah.
"Aku sangat menyukainya," jawab Raja Zhao Li dengan senyum dan mengecup mesra kening istrinya itu yang masih basah dengan peluh.
Raja Zhao Li merebahkan tubuhnya dan meraih tubuh istrinya itu ke dalam peluknya. Tangan kekarnya membelai kepala sang istri dengan lembutnya. Nafas mereka saling beradu hingga membuat mereka tersenyum malu. "Kamu adalah milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan milikku diambil dariku. Aku rela memberikan apapun, terkecuali dirimu karena aku tidak akan pernah rela melihat milikku menjadi milik orang lain," batin Raja Zhao Li sambil mengeratkan pelukannya.
Cinta dan sayang Raja Zhao Li terlampau besar untuk istrinya. Bagaimana bisa dia merelakan cintanya direbut darinya. Dengan cara apapun dia akan melawan walau dia harus bertarung nyawa.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Jenderal Wang Li hanya duduk sambil menikmati hidangan yang ada di atas mejanya tanpa mempedulikan Putri Yuri yang tengah berbaring dalam kesendirian. Walaupun mereka telah menikah, namun tak sekalipun Jenderal Wang Li menyentuhnya. Baginya, wanita itu hanya alat untuk membantu melancarkan rencananya, tapi apa yang dirasakan wanita itu telah berubah. Dalam diam, dia mulai merasakan sesuatu di dalam hatinya. Dia telah jatuh cinta pada lelaki itu sejak malam pertama pernikahan mereka, di saat lelaki itu menyentuhnya walau dia sadar semua itu dia lakukan tanpa kesengajaan karena wanita lain yang sedang bermain dalam ingatannya.
Walaupun begitu, Putri Yuri tidak bisa membohongi hatinya kalau sebuah rasa telah muncul tanpa dia sadari. Perlakuan Jenderal Wang Li malam itu padanya membuatnya ingin merasakan kembali kehangatan tangan lelaki itu yang menyentuh wajahnya dan kelembutan bibir lelaki itu yang mengecupnya dengan perlahan. Semua itu telah membuatnya seperti melayang.
Di atas tempat tidurnya, Putri Yuri mendengus kesal karena dia sama sekali tidak di pedulikan. Dia merasa diacuhkan hingga membuat hatinya tersiksa. Melihat wajah lelaki itu, dadanya bergetar hingga membuatnya tak mampu menatap lelaki itu terlalu lama. "Ah, apa aku telah jatuh cinta padanya?" batin Putri Yuri yang hanya bisa terdiam dan menatap lelaki yang kini tengah membayangkan seseorang yang begitu berarti hingga membuatnya tersenyum. Senyum yang begitu menawan hingga membuat Putri Yuri tertawan dengan ketampanan yang ternyata sangat rupawan.