
Malam itu, keluarga kecil mereka telah terpisah. Di dalam ruangan itu, Mei Yin menangis dalam diam. Hatinya hancur hingga membuatnya ingin mati. Di atas pembaringan, Mei Yin terbaring tak berdaya. Hanya air mata yang jatuh di sudut matanya. Betapa, dia sangat berdosa karena tak mampu menjaga kesucian cintanya.
Jenderal Wang Li yang berbaring di sampingnya, hanya bisa mendengar isak tangis yang ditahan. Tangannya mengepal mendengar tangisan itu. Sungguh, dia tak mampu mendengar tangisan yang telah melukai hatinya.
Mei Yin yang tengah membelakanginya, tiba-tiba bangkit. Mei Yin melihat pisau di atas meja dan mencoba meraih pisau itu. Dengan pisau di tangannya, Mei Yin melangkah mendekati Jenderal Wang Li yang tengah berbaring. Kedua tangannya memegang erat gagang pisau itu dan sudah mengangkatnya tinggi dan siap menghujam ke tubuh lelaki itu.
Tiba-tiba, Jenderal Wang Li membuka matanya dan melihat Mei Yin siap menghujamkan pisau itu ke tubuhnya. Bukannya mengelak, lelaki itu malah tersenyum. "Ayo, lalukan saja. Aku rela jika harus mati di tanganmu," ucap Jenderal Wang Li sambil menatap ke arah Mei Yin yang mulai tampak ragu. Matanya memerah, karena air mata yang tak berhenti mengalir. Tangannya gemetar karena tidak sanggup untuk membunuh.
Jenderal Wang Li bangkit dan memegang tangan Mei Yin yang masih sementara memegang gagang pisau. "Kalau kamu takut, aku akan membantumu," ucap lelaki itu sambil menarik pisau itu ke arah perutnya, tapi Mei Yin tiba-tiba melepaskan pisau itu dan dia pun terjatuh di atas lantai.
Mei Yin terduduk dengan tatapan mata yang kosong. Dia tidak mampu melakukan itu semua. Rasanya, dia ingin membunuh lelaki itu, tapi dia tidak mampu. Mei Yin menangis sejadinya. Dengan tangannya, Mei Yin mencakar setiap bagian tubuhnya hingga memerah dan berdarah. Rasanya dia lebih baik mati daripada harus ternoda. Dia merasa dirinya telah kotor dan tak mampu untuk bertemu dengan suaminya.
Melihat Mei Yin menangis seperti itu membuat Jenderal Wang Li segera mendekatinya. "Hentikan!! Jangan lakukan itu," ucap lelaki itu sambil menahan tangan Mei Yin yang tak hentinya mencakar tubuhnya sendiri.
Mei Yin tidak peduli. Rasa putus asa dan kehilangan keluarganya membuatnya menjadi kalap. "Kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa salahku padamu, hingga kamu tega merenggut kebahagiaan dariku?" Mei Yin menatap lelaki itu yang duduk di depannya. Semua pertanyaan itu keluar dari mulutnya dengan tatapan penuh mengiba.
Jenderal Wang Li menatap wajah yang kini mengiba di depannya. Rasa cintanya pada wanita itu telah meluluhkan hatinya. "Maafkan aku karena aku telah membuatmu menangis," ucap lelaki itu sambil menghapus air mata di wajah Mei Yin. Mei Yin mengelak dan lelaki itupun menurunkan tangannya.
"Aku hanya ingin bahagia walau aku tahu aku telah mengambil kebahagiaanmu bersama Zhao Li. Aku tahu, aku berdosa padamu, tapi aku menutup mata dan telingaku karena aku terlampau sangat mencintaimu. Aku hanya ingin memilikimu karena aku sangat bahagia jika kamu ada di sampingku. Aku tak butuh cinta dan perhatianmu, karena kehadiranmu di sisiku sudah cukup untuk membuatku bahagia. Aku tahu, aku egois dan jahat pada kalian, tapi itu adalah jalan yang sudah terlanjur aku ambil. Mei Yin, aku hanya memujamu bahkan jika kamu ingin membunuhku, aku takkan mengelak." Lelaki itu menitikkan air mata.
"Malam ini adalah malam yang paling membahagialan bagiku, karena aku bisa memilikimu walau aku tahu malam ini adalah malam menyakitkan bagimu, tapi aku tak peduli. Hanya kamu satu-satunya wanita yang mampu meluluhkan hatiku, karena itu aku melakukan semua ini. Bangkitlah, aku akan membawamu kepada Zhao Li dan jagalah dia. Racun yang diberikan Yuri tak lama lagi akan membunuhnya. Kalau kamu masih ingin menemaninya menjalani sisa hidupnya, maka turuti kemauanku. Kuatkan dirimu karena aku akan menunggu hingga kamu punya kekuatan untuk bisa membunuhku. Aku akan menunggu hari itu tiba, karena mati di tanganmu lebih aku sukai daripada harus mati sendirian." Lelaki itu bangkit, namun ada setitik air mata yang menggantung di pelupuk matanya. Rasanya, dia tidak ingin membawa Mei Yin kembali pada Raja Zhao Li, tapi dia sudah berjanji dan dia tidak ingin membuat wanita itu semakin membencinya.
Mei Yin kemudian bangkit, tapi tubuhnya terasa begitu lemah hingga membuatnya bertahan dan memegang sudut meja. "Aku harus kuat, aku mohon jangan biarkan aku kehilangan suamiku tanpa ada aku di sisinya," batin Mei Yin yang mulai menitikkan air mata.
Namun, tubuhnya tiba-tiba terjatuh hingga membuat Jenderal Wang Li berlari ke arahnya. Melihat wajah Mei Yin yang telah memucat, membuat lelaki itu menjadi panik. Tubuh Mei Yin yang sudah tidak berdaya segera diangkat olehnya dan diletakkan di atas tempat tidur.
Mei Yin terlihat lemah dengan tatapan mata yang mulai nanar. Hanya igauan yang terdengar dari mulutnya yang terus memanggil-manggil suaminya. "Suamiku, maafkan aku," ucap Mei Yin tanpa sadar.
Walau begitu, dia masih berusaha untuk melepas diri dari pelukan Jenderal Wang Li yang kini memeluknya. "Lepaskan aku, biarkan aku pergi menemui suamiku. Dia sedang sakit, aku mohon biarkan aku menjaganya," pinta Mei Yin memohon.
Jenderal Wang Li menitikkan air matanya saat melihat Mei Yin yang sudah terlihat lemah namun bersikeras untuk menemui Raja Zhao Li. "Kenapa di saat dirimu lemah dan tak berdaya seperti ini kamu masih memikirkannya?" batin Jenderal Wang Li yang terlihat kecewa.
Walau Mei Yin berusaha untuk bangkit, namun tubuhnya tak mampu hingga matanya benar-benar tertutup saat Jenderal Wang Li menotoknya. Tubuhnya terbaring pasrah dengan wajah yang basah dengan air mata.
Jenderal Wang Li menatap wajah Mei Yin dan menyeka air mata yang membasahi wajahnya. "Maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini karena aku tidak ingin melihatmu menderita," ucap lelaki itu yang kemudian berbaring di sampingnya dengan kedua tangan yang memeluk tubuh yang lemah itu.
Sementara itu, di ruangan villa bunga, Raja Zhao Li tampak pasrah dengan kondisi tubuhnya yang mulai melemah. Dia sudah tidak mampu lagi untuk bertahan. Air matanya jatuh mengingat istri dan putrnya yang kini tak ada di sampingnya. "Apakah aku akan mati dalam kesendirian?" batinnya.
Prajurit-prajurit yang ditugaskan untuk mengejar Chen Li akhirnya kembali dengan tangan kosong. Mereka kehilangan jejak dan memaksa mereka untuk kembali.
Liang Yi dan Pengawal Yue akhirnya tiba di desa. Chen Li yang masih tertidur diletakkan di dekat Yuwen yang juga sedang tertidur. Liang Yi menatap bocah itu dengan perasaan hancur. Kini, putra dari sahabat dan wanita yang dicintainya ada bersamanya. Liang Yi mengelus lembut wajah Chen Li dan menitikkan air mata. "Maafkan aku karena tidak sempat menyelamatkan ayah dan ibumu. Aku berjanji, akan menjadikanmu lelaki yang tangguh agar kamu bisa kembali ke sana dan merebut kembali apa yang menjadi milikmu." Liang Yi mengepalkan kedua tangannya saat dia mengingat kembali pertemuannya dengan Mei Yin. Melihat darah di sudut bibir wanita itu, hatinya geram. "Mei Yin, bertahanlah. Tunggulah putramu karena dia pasti akan datang menjemputmu."
Keributan di villa bunga rupanya telah mengganggu Putri Yuri. Malam itu juga, dia berniat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat itu. Langkahnya dipercepat ketika dia melihat beberapa orang prajurit yang berlalu lalang seperti sedang tergesa-gesa. "Apa yang telah terjadi?" tanya Putri Yuri pada salah seorang prajurit.
"Maaf, Nyonya. Ada beberapa orang bertopeng yang menyerang villa bunga. Mereka ingin membawa Raja Zhao Li dan Permaisuri melalui jalan rahasia, tapi tidak berhasil dan mereka hanya berhasil membawa pangeran," jelas prajurit itu.
Tanpa menunggu lama, Putri Yuri kemudian bergegas menuju ruangan di mana Mei Yin dan Raja Zhao Li disekap. "Di mana Mei Yin?" tanya wanita itu yang terlihat marah saat dia hanya melihat Raja Zhao Li tanpa Mei Yin bersamanya.
"Maaf, Nyonya. Jenderal Wang Li telah membawanya ke kamar pribadinya," jawab salah satu prajurit yang sontak membuatnya naik darah.
"Apa? Kamar pribadinya?" batin wanita itu yang terlihat marah dan cemburu.
Raja Zhao Li yang juga mendengar ucapan prajurit itu tampak menitikkan air mata. Dia menangisi dirinya yang tak mampu mempertahankan istrinya. Dia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga anak dan istrinya itu.
Putri Yuri meninggalkan villa bunga dan menuju ke kamar pribadi Jenderal Wang Li. Di depan pintu, langkahnya terhenti. Walau marah, tapi dia ragu untuk masuk ke dalam kamar itu. "Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya sambil mondar-mandir di depan pintu kamar itu.
Melihat Mei Yin, Putri Yuri menjadi geram. Wajahnya memerah saat melihat Mei Yin keluar dari kamar itu. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Mei Yin tidak mempedulikan kata-katanya dan berusaha meninggalkan tempat itu. Putri Yuri marah saat dirinya di acuhkan.
"Dasar perempuan *******!!" teriak Putri Yuri sambil menarik Mei Yin dan menampar wajahnya hingga dia terjatuh.
Mei Yin tidak peduli. Walau menahan air mata, dia berusaha bangkit dan ingin segera bertemu dengan suaminya. Rasa rindu pada suaminya sudah membuat dia tidak peduli lagi dengan apapun.
Melihat Mei Yin yang masih tidak mempedulikannya membuat Putri Yuri semakin geram. Wanita itu lantas berjalan mendekati Mei Yin dan bersiap untuk menamparnya, tapi belum sempat tangannya mengenai Mei Yin, Jenderal Wang Li sudah berdiri di depannya dan menahan tangannya sambil melepaskan tamparan ke wajah wanita itu. Putri Yuri terperanjat saat dirinya ditampar oleh Jenderal Wang Li.
"Sekali lagi kamu menyentuhnya, maka aku akan membunuhmu!!" ancam Jenderal Wang Li dengan sorot matanya yang tajam.
Putri Yuri menghempaskan tangannya dari cengkraman tangan Jenderal Wang Li dan memegang pipinya yang memerah. "Apa kamu sudah tidak waras? Bagaimana bisa kamu jatuh cinta padanya? Lihat dia!! Dia itu hanya wanita murahan!!" teriak Putri Yuri.
"Diam!!" Jenderal Wang Li kembali mengangkat tangannya dan hampir menampar Putri Yuri, tapi dia kembali menurunkan tangannya.
"Aku sudah bilang jangan ikut campur dengan urusanku. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, tapi jangan sekali-kali mengganggunya karena aku sendiri yang akan menghukummu." Jenderal Wang Li kemudian meninggalkannya dan berjalan ke arah Mei Yin. Lelaki itu kemudian meraih tubuh Mei Yin dan membawanya kembali ke dalam kamar. Mei Yin mencoba untuk berontak, tapi sekali lagi dia tidak mampu.
"Kenapa kamu meninggalkanku? Aku akan membawamu ke sana, tapi bukan sekarang. Saat ini, aku masih ingin bersamamu," ucap Jenderal Wang Li yang sontak membuat Putri Yuri terkejut.
Melihat perlakuan Jenderal Wang Li pada Mei Yin membuat Putri Yuri termakan api cemburu. Bagaimana mungkin seorang lelaki setampan dan segagah Jenderal Wang Li bisa mencintai wanita yang sudah bersuami, pikirnya.
"Apa wanita itu benar-benar telah membuat Jenderal Wang Li jatuh cinta padanya?" Putri Yuri menatap ke arah pintu kamar yang sudah tertutup dan kemudian pergi dengan perasaan hancur dan kecewa.
Sementara di dalam kamar, Mei Yin masih memohon agar Jenderal Wang Li membiarkan dirinya bertemu dengan suaminya. "Kakak Wang, tolong biarkan aku bertemu dengan suamiku, aku mohon," pinta Mei Yin mengiba sambil berlutut di depannya.
Jenderal Wang Li berjalan mendekatinya dan perlahan menyentuh wajahnya. "Apa wajahmu baik-baik saja?" tanya lelaki itu sambil menyentuh lembut pipi Mei Yin yang memerah karena ditampar oleh Putri Yuri.
Mei Yin menundukan wajahnya dan menghindar dari tatapan lelaki itu, tapi dagunya kembali diangkat hingga wajah mereka hanya berjarak satu jengkal. "Jangan pernah menundukan wajahmu di depanku dan biarkan aku menikmati kecantikan wajahmu itu, apa itu sulit untuk kamu lakukan?" tanya Jenderal Wang Li dengan tatapan yang penuh cinta.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?"
Jenderal Wang Li terkejut saat Mei Yin melontarkan pertanyaan itu. Walau begitu, dia mengangguk dengan sebuah senyuman yang terlihat begitu menawan.
"Kenapa? Apa kamu tidak percaya kalau aku sangat mencintaimu?"
"Kalau begitu, biarkan aku menemani suamiku hingga dia pergi meninggalkanku, maka aku akan pastikan segala yang ada pada diriku akan menjadi milikmu," ucap Mei Yin tegas dengan air mata yang perlahan jatuh.
"Apa benar apa yang kamu katakan itu?"
"Setelah kepergiannya, hidupku sudah tidak berarti. Dan kamu boleh mendapatkan tubuhku yang sudah tidak berharga ini, tapi kalau kamu sudah bosan, silakan bunuh aku."
Jenderal Wang Li menatap keseriusan di wajah Mei Yin. Dia bisa melihat ada keputusasaan di raut wajahnya itu. "Apa kamu pikir aku akan mengabulkan permintaanmu itu?"
Mei Yin tersenyum kecut. Tangannya yang gemetar perlahan diangkat dan menyentuh wajah lelaki itu. "Jika kamu menolak, maka selamanya aku akan menolakmu. Apa kamu ingin aku meninggalkanmu?"
Jenderal Wang Li terdiam. Ucapan Mei Yin membuat dia kembali berpikir karena dia tidak ingin kehilangan wanita itu.
"Aku akan menuruti apapun yang kamu minta padaku, asalkan biarkan aku menemui suamiku. Biarkan aku menjaga dan merawatnya. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu karena aku ingin melihatmu mati dengan mataku sendiri. Aku akan menunggu hingga kamu mati dan menyesali atas semua perbuatanmu pada keluargaku," ucap Mei Yin setengah berbisik di dekat telinga Jenderal Wang Li. Lelaki itu tersenyum dan meraih wajah Mei Yin. Ditatapnya wajah cantik itu dan perlahan bibirnya mengecup bibir Mei Yin hingga membuatnya tersenyum puas.
"Baiklah, aku akan turuti permintaanmu dan setelah itu jadilah wanitaku. Apapun yang aku inginkan darimu, maka penuhilah."
Mei Yin menangis dalam diam. Hanya air mata yang jatuh perlahan tanpa suara. Kini, hidupnya sudah tidak lagi berharga. Hanya suaminya dan putranya yang membuatnya masih tetap bertahan. Karena mereka, dia sanggup menanggung kejamnya kehidupan. Dan kini, kehidupan yang kejam itu akan dilaluinya sendirian.