
Raja Wu Lai masih terlihat tenang. Dia tidak ingin kesempatannya hilang menguap begitu saja tanpa bertanya atau mendengar penjelasan dari Huanran. Dia akan menunggu hingga lelaki yang bersama Huanran itu pergi.
"Chen Li, ada apa?" Gadis itu menatap ke arah Chen Li yang terlihat sedih.
"Aku tidak bisa membunuh lelaki itu karena permintaan dari ibu dan juga adikku. Aku merasa bersalah pada ayahku, karena tidak bisa membalas dendam pada lelaki itu. Huanran, aku merasa serba salah. Apa yang harus aku lakukan?"
Gadis itu menggenggam tangannya dan tersenyum padanya. "Chen Li, apakah dendam bisa menyelesaikan masalah? Jika lelaki itu kamu bunuh, pasti adikmu akan dendam padamu karena bagaimanapun lelaki itu adalah ayahnya dan dendam tidak akan pernah berakhir. Belajarlah untuk ikhlas dan menerima takdir yang sudah ditentukan semesta untukmu. Aku yakin, tanpa membalas dendam pun, masalah yang kamu hadapi tetap ada jalan keluarnya karena setiap masalah pasti ada jalan keluar tinggal bagaimana caranya kamu mendapatkan jalan keluar itu."
Chen Li menatapnya dan mengelus wajah gadis itu. "Apa menurutmu, yang aku lakukan itu sudah benar?" Huanran mengangguk dan tersenyum padanya.
"Aku yakin, kamu akan menjadi raja yang baik. Chen Li, jangan pernah membalas keburukan dengan keburukan karena itu tidak akan ada habisnya. Sejahat apapun, tapi jika kita balas dengan kebaikan, aku yakin dengan sendirinya mereka akan menyadari keburukannya itu." Sekali lagi, Chen Li tersentuh dengan ucapan gadis itu hingga membuatnya memeluk gadis yang duduk di depannya itu.
"Huanran, jadilah istriku. Aku ingin wanita sepertimu yang menjadi pendampingku, kamu mau kan?" Gadis itu menundukan wajahnya.
"Apa itu karena Putri Xia?" tanya Chen Li yang seakan paham dengan sikap Huanran.
"Chen Li, Xia sangat mencintaimu. Dia sering memujimu di depanku. Apa kamu pikir aku bisa sekejam itu padanya?" Huanran menitikan air mata. Walau dia mencintai Chen Li, tapi tak mudah baginya untuk bisa menerima lelaki itu karena bagaimanapun juga sahabatnya pun ternyata mencintai Chen Li.
"Beri aku waktu. Aku yang sudah mengawalinya dan aku yang akan mengakhirinya." Chen Li berusaha untuk meyakinkan Huanran.
"Huanran, tunggu aku. Aku pasti akan menjemputmu dan membawamu ke kerajaan dan menjadi permaisuriku." Chen Li kemudian pergi meninggalkan Huanran yang kini menitikan air mata. Entah dia harus sedih atau bahagia karena dia tidak ingin menyakiti hati sahabat dan juga kekasihnya.
"Apa aku mengganggumu?" Raja Wu Lai tampak berdiri di depannya. Pemuda itu tersenyum padanya walau dia tahu, saat ini gadis itu sedang menutupi tangisan di balik senyumannya.
"Tidak, kok. Apa yang Anda lakukan di sini?"
"Kenapa? Apa aku tidak bisa datang ke sini lagi?" Raja Wu Lai kemudian duduk di samping gadis itu.
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya ... "
"Tenanglah, aku hanya bercanda." Pemuda itu tersenyum sambil mengelus lembut rambut Huanran. Gadis itu terlihat menundukan wajahnya dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Huanran, apa boleh aku menanyakan sesuatu padamu?" Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Raja Wu Lai yang juga memandanginya. Gadis itu kemudian mengangguk mengiyakan.
"Seandainya aku memintamu untuk menjadi istriku, apa kamu bersedia?" Huanran terkejut dan menatap pemuda itu yang terlihat serius padanya.
"Tuan, Anda hanya mengujiku, kan?" Pemuda itu menggeleng dan meraih tangannya. "Aku serius."
Huanran bangkit dari tempat duduknya. Dia seperti orang bingung karena di saat yang bersamaan dua orang pemuda memintanya untuk menjadikan dirinya sebagai istri mereka.
Raja Wu Lai kemudian berdiri di depannya dan meraih tangannya. "Huanran, aku mencintaimu dan aku ingin kamu yang mendampingiku. Aku ingin berterus terang padamu tentang siapa diriku. Namun sebelum itu, aku ingin kamu ikut denganku."
"Tuan, kita belum lama bertemu bahkan aku tidak tahu siapa nama Tuan dan tiba-tiba Tuan mengatakan kalau Tuan mencintaiku dan ingin menjadikanku istri Tuan. Tuan, Anda hanya main-main, kan?"
Raja Wu Lai menggeleng. "Aku tidak main-main dengan perasaanku. Walau kita belum lama saling kenal, tapi aku yakin kamu wanita yang pantas untukku. Aku berjanji, aku akan membahagiakanmu dan mencintaimu selama hidupku." Raja Wu Lai terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya itu.
Huanran tercekat. Entah apa yang harus dia lakukan. "Tuan, apa Tuan yakin dengan perasaan Tuan? Dan, apa Tuan tidak berpikir kalau aku tidak mencintai Tuan?"
"Aku yakin dengan perasaanku dan aku yakin dengan seiringnya waktu kamu pasti akan menerima dan mencintaiku." Kembali lagi gadis itu terkejut. "Apa yang dia ucapkan itu sungguh-sungguh?" batinnya.
"Bisakah kamu ikut denganku?"
"Kemana?"
"Ke tempatku. Aku akan menunjukanmu di mana aku tinggal dan kamu akan tahu siapa aku."
"Tapi ... "
"Tenanglah, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Setelah ini, kamu bisa memilih untuk menerimaku atau tidak, tapi izinkan aku untuk membawamu ke tempatku."
Huanran tampak berpikir dan akhirnya dia memutuskan untuk menuruti kemauan pemuda itu. "Baiklah, aku akan ikut denganmu."
Setelah meminta izin pada Hua Feng, Huanran kemudian mengikuti Raja Wu Lai. Dengan menunggangi kuda, mereka kemudian pergi.
Setelah menempuh perjalanan hampir 5 jam, mereka akhirnya sampai di sebuah gerbang kerajaan yang terlihat megah. Huanran tampak terpaku saat melewati pintu gerbang itu karena semua prajurit memberi hormat pada lelaki yang kini duduk di belakangnya itu.
"Yang Mulia." Seorang kasim datang menghampiri mereka sambil menunduk memberi hormat.
"Kasim Li, persiapkan jamuan di ruang pribadiku."
"Baik, Yang Mulia." Lelaki paruh baya itu kemudian pergi melakukan tugas yang diembankan untuknya.
Sementara Huanran masih diam membisu dan tidak percaya kalau saat ini dia sedang duduk bersama seorang raja. "Yang Mulia, maafkan kelancangan Hamba." Huanran menundukan wajahnya hingga membuat Rana Wu Lai tersenyum.
Pemuda itu kemudian turun dari atas kudanya dan mengulurkan tangannya pada Huanran. "Ayo, turunlah."
"Tidak, Yang Mulia. Aku akan turun sendiri." Walau bingung, gadis itu berusaha untuk turun dari atas kuda tanpa bantuan pemuda itu.
"Ayo, kita ke ruanganku." Raja Wu Lai meraih tangannya dan berjalan menuju ruangannya yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Di depan sebuah bangunan yang megah, tampak sebuah taman bunga yang tertata indah. Tak hanya itu, bangunan dengan ornamen yang di dominasi dengan lukisan bunga dan aneka bunga hidup di dalam vas yang diletakkan di setiap sudut ruangan itu terlihat menyejukan mata.
Di dalam salah satu ruangan, mereka duduk. Ruangan itu terlihat berbeda dengan ruangan lainnya karena ruangan itu dipenuhi dengan aneka buku dan beberapa senjata yang sengaja di kumpulkan dan di tata rapi di salah satu lemari.
Di depan mereka, terdapat meja kecil dengan aneka kudapan yang sudah disiapkan oleh dayang istana.
"Kamu pasti haus, minumlah."
Melihat pemuda itu, Huanran kembali merasa sungkan. "Maaf, Yang Mulia. Hamba tidak pantas untuk menikmati semuanya karena ... "
"Sudahlah." Raja Wu Lai tersenyum dan menuangkan teh melati di salah satu cangkir dan memberikannya untuk Huanran. "Minumlah." Pemuda itu juga menuangkan untuknya dan langsung meneguknya.
Huanran yang merasa kehausan karena perjalanan yang cukup jauh, mau tidak mau akhirnya meminum teh itu.
"Bagaimana? Kamu tidak mati di racun, kan?" Pemuda itu menatap Huanran sambil tersenyum.
Pemuda itu kemudian bangkit dan berjalan menuju ke arah jendela. "Huanran, apa kamu pernah dengar tentang peperangan antara Kerajaan Wu dengan Kerajaan Xia beberapa puluh tahun yang lalu?"
"Maaf, Yang Mulia. Hamba hanya gadis biasa yang tidak tahu menahu tentang peperangan atau apapun itu. Yang hamba tahu, hanya bagaimana caranya untuk bisa bertahan hidup di kehidupan yang kejam ini."
Pemuda itu tersenyum. "Karena seorang wanita dari wilayah itu, aku harus kehilangan kakek dan ayahku. Mereka tewas dalam peperangan karena seorang wanita dan kekuasaan. Dan sekarang, sejarah itu akan kembali terulang padaku." Pemuda itu memandang ke arah Wilayah Dataran Timur yang bisa dilihatnya dari tempatnya berdiri.
Karena penasaran, Huanran bangkit dan ikut memandangi ke arah yang sama dengan Raja Wu Lai. "Bukankah, itu adalah Wilayah Dataran Timur?" Pemuda itu mengangguk.
"Ayah dan kakekmu tewas karena ingin memiliki wilayah itu dan juga wanita dari wilayah itu?"
Pemuda itu kembali mengangguk. "Wanita itu sekarang menjadi permaisuri di Kerajaan Xia, tapi yang aku dengan Kaisar Wang tidak menganggapnya sebagai permaisuri karena ada seorang wanita yang di cintai Kaisar itu."
"Lalu, apa maksudmu dengan mengatakan kalau sejarah ayah dan kakekmu akan terulang padamu?"
"Apa kamu ingin tahu?" Gadis itu mengangguk.
"Baiklah, jika kamu ingin mendengarnya." Pemuda itu terlihat menarik nafasnya, seakan ingin mengatur hatinya.
"Aku sudah membuat kesepakatan dengan wanita itu. Dia akan menyerahkan putrinya padaku dan menjadikannya permaisuri di kerajaanku, dengan begitu Wilayah Dataran Timur akan masuk ke dalam wilayahku dan kami akan bersekutu untuk menghancurkan Kerajaan Xia karena saat ini Kaisar Wang sedang terluka parah dan itu berarti tampuk kepemimpinan sedang kosong."
Huanran terkejut saat mendengar penjelasan pemuda itu. Rasanya, tubuhnya gemetar jika membayangkan jika hal itu benar-benar sampai terjadi.
"Tapi, itu sebelum aku bertemu denganmu." Kembali Huanran terkejut. Tiba-tiba saja, tangan Raja Wu Lai menyentuh wajahnya dengan mesra. "Aku akan mengubah keputusanku itu jika kamu bersedia menjadi pendampingku, atau aku akan mati di medan perang sama seperti kakek dan ayahku." Huanran menitikan air mata. Perasaannya bagai tercabik-cabik karena harus memilih di antara dua pilihan yang rasanya sulit untuk dia putuskan. Tubuhnya bagaikan kehilangan pegangan hingga membuatnya terduduk dan terkulai lemah dengan air mata yang perlahan jatuh.
"Kenapa aku dihadapkan dengan pilihan sesulit ini?" batinnya.
Melihat tangisan di wajah Huanran, membuat Raja Wu Lai mendekatinya dan memeluknya. "Maafkan aku jika aku memberikanmu pilihan yang sulit. Aku tidak bermaksud membuatmu bingung, tapi kita tetap harus memilih dan aku memilih untuk memilikimu." Pemuda itu mengeratkan pelukannya.
"Jika aku menerimamu, apa kamu akan membatalkan semua rencanamu itu?"
Raja Wu Lai mengangguk. "Aku berjanji akan membatalkannya, tapi aku tidak yakin dengan wanita itu karena sepertinya dia ingin melihat Kerajaan Xia hancur."
"Apa aku bisa memegang janjimu itu?"
"Huanran, aku akan menunggumu dua hari ke depan. Jika kamu tidak datang, berarti aku akan tetap memerangi Kerajaan Xia walau aku tahu kemungkinan besar aku akan mati di medan perang dan mengulangi sejarah kelam yang sebenarnya ingin aku lupakan. Aku hanya ingin hidup damai dengan orang yang aku cintai dan membangun sebuah keluarga kecil untuk melanjutkan kerajaan ini. Aku tidak meminta lebih."
Huanran menatap wajah pemuda itu yang terlihat tulus. "Baiklah, berikan aku waktu dua hari. Namun, jika aku tidak datang ... "
"Aku akan tetap menunggumu. Aku yakin kamu pasti akan datang untukku." Pemuda itu kemudian memeluk Huanran. Dia seakan yakin kalau gadis itu pasti akan kembali padanya.
Hari yang sudah menjelang malam membuat Raja Wu Lai meminta Huanran untuk bermalam di kerajaannya dan gadis itu tidak bisa menolak. "Istirahatlah di ruangan ini. Besok, aku sendiri yang akan mengantarmu kembali." Gadis itu mengangguk.
Malam itu, Huanran tidak bisa tidur. Matanya terjaga karena pikirannya saat ini tertuju pada Putri Xia dan Chen Li. Dia tidak ingin kedua orang yang disayanginya itu terjebak dalam permaianan kotor permaisuri. "Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus memberitahukannya pada Chen Li."
Karena merasa bosan di dalam kamar, gadis itu memilih untuk keluar dan menikmati udara malam. Di depan bangunan itu, dia duduk memandangi bunga-bunga yang sedang bermekaran. Hatinya yang tengah gundah gulana, membuatnya ingin menari setidaknya untuk menghilangkan rasa sedih yang kini di rasakannya.
Di bawah cahaya bulan, gadis itu menari. Wajahnya terlihat sendu dengan air mata yang perlajan jatuh. Tarian yanag kini dibawakannya adalah tarian yang sangat di sukai oleh Chen Li. Tarian yang membuat Chen Li mengingat ibunya. Tarian yang menjadi awal kisah cinta mereka.
Huanran memejamkan matanya dan menari dengan gerakan yang terlihat memukau. Perlahan, bayangan Chen Li mulai bermain dalam ingatannya. Senyuman pemuda itu, membuatnya tersenyum di antara air matanya yang jatuh, hingga dia terkejut saat seseorang mendekatinya dan meraih tubuhnya. Seketika, matanya melebar saat mendapati Raja Wu Lai yang mengecup bibirnya hingga membuatnya diam terpaku.
Lelaki itu seakan tak peduli saat Huanran berusaha untuk menolaknya. Dengan tangan yang dieratkan di pinggang dan leher Huanran, lelaki itu terus ******* bibir gadis itu hingga Huanran pasrah saat melihat air mata yang jatuh di sela mata Raja Wu Lai yang terpejam. "Apa dia benar-benar sudah jatuh cinta padaku? Dan kenapa dia menangis saat melakukan hal ini padaku?"
Sesaat, hatinya luluh. Air mata lelaki itu terlihat tulus hingga membuat Huanran tak bisa lagi menolak. Dia biarkan lelaki itu melakukan apapun padanya, hingga perlahan Raja Wu Lai melepaskan bibirnya dan menyandarkan dahinya pada di dahi Huanran. "Maafkan aku. Tidak bisakah, kamu tetap tinggal di sini dan temani aku? Huanran, aku sangat mencintaimu." Kembali air matanya jatuh. Dia merasa tidak ingin membiarkan gadis itu pergi. Dia ingin egois, tapi dia takut jika keegoisannya itu akan melukai hati gadis itu.
"Aku akan kembali. Aku hanya ingin memperingatkan Chen Li dan Putri Xia, setelah itu aku akan kembali." Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya yang tanpa sadar membuatnya menitikan air mata.
Raja Wu Lai kembali memeluknya. Walau takut untuk melepaskan, tapi dia berusaha untuk meyakinkan hatinya, kalau gadis itu tetap akan kembali padanya.