The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 65



"Terima kasih." Raja Wu Lai tersenyum pada Huanran saat gadis itu baru saja selesai menari.


"Seharusnya aku yang berterima kasih karena Tuan sudah menolongku." Huanran membalas senyum pemuda itu.


"Tidak perlu sungkan. Sudah selayaknya aku membantumu karena aku tidak suka dengan lelaki yang sok jagoan di depan wanita." Huanran kembali tersenyum. Wajahnya tampak cantik saat dirinya tersenyum.


"Baiklah, aku harus kembali. Lain kali, apa aku bisa datang ke sini dan melihat tarianmu lagi?"


"Tempat ini akan selalu terbuka untuk Tuan. Kapanpun Tuan datang, aku akan menerima Tuan dengan senang hati."


Raja Wu Lai tersenyum dan pamit undur diri. Dari atas kudanya, pemuda itu masih sempat memandangi Huanran yang perlahan mulai menarik hatinya. "Dia gadis yang cukup menarik," batinnya. Lelaki itu kemudian meninggalkan wisma tari dan melanjutkan perjalanannya.


Guan Yin yang selalu ceria, kini terlihat murung. Wajah cantik yang biasanya selalu tersenyum, kini terlihat bersedih. "Guan Yin, tidakkah kamu ingin menjenguk ayah dan ibumu? Sudah tiga hari ini kamu tidak menjenguk mereka." Gadis itu menggeleng sambil memainkan tali ayunan yang kini di dudukinya.


"Guan Yin, jangan seperti itu. Aku takut kamu akan menyesal karena ayahmu memiliki penyakit yang cukup parah. Bersyukurlah karena kamu bisa merasakan kasih sayang orang tuamu, tidak seperti aku yang sedari lahir tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua." Yuwen terlihat sedih saat mengucapkan itu.


Gadis itu memandanginya. "Maafkan aku jika aku membuatmu sedih, tapi untuk saat ini aku tidak ingin bertemu dengan mereka." Terlihat raut kekecewaan di wajahnya.


Yuwen terdiam dan tidak bisa berbuat apapun. Dia tidak akan lagi memaksa karena dia paham dengan perasaan gadis itu saat ini.


Sementara Kaisar Wang, masih terbaring lemah. Dia masih bisa bertahan karena ramuan obat yang diberikan Mei Yin padanya, tapi entah sampai kapan dia mampu bertahan karena semakin hari kondisinya kian memburuk.


"Istriku, apa aku tak pantas untuk mendapatkan sedikit saja belas kasihmu? Aku tahu sebentar lagi aku akan mati, karena itu ... " Kaisar Wang terbatuk-batuk sambil memegang dadanya. Rasanya dia ingin mati karena rasa sakit yang terlalu menyiksanya, tapi dewa kematian seakan enggan menjemputnya dan sengaja membiarkannya merasakan penderitaan.


Darah hitam kembali keluar dari mulutnya. Wajahnya tampak pucat dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya. "Istriku ... " Kaisar Wang mengulurkan tangannya pada Mei Yin seakan meminta belas kasihnya.


Mei Yin memalingkan wajahnya dan tidak ingin melihat wajah lelaki itu, walau di hatinya terbesit rasa iba. Tiba-tiba saja, air matanya jatuh.


Pintu kamarnya terbuka. "Ayah." Pekik Guan Yin sambil berlari menuju Kaisar Wang yang terbaring lemah dengan darah yang sudah memenuhi mulutnya.


Guan Yin menangis sambil menghapus darah itu. Tangannya menggenggam tangan ayahnya yang terasa dingin. "Ayah, aku sayang sama Ayah. Apapun dosa yang telah Ayah lakukan, aku akan memaafkan. Aku tidak peduli dengan apa yang sudah Ayah lakukan di masa lalu, karena bagiku Ayah adalah lelaki yang baik." Guan Yin menangis hingga membuat Mei Yin ikut menitikkan air mata.


"Walau dia telah membunuh ayahku dan memisahkan aku dengan ibuku, apa kamu akan tetap memaafkannya!!" Chen Li tiba-tiba datang dan berdiri di depan pintu. Guan Yin menatap pemuda itu dengan air mata yang sudah memenuhi wajahnya.


"Jadi, kamu putra Ibuku?"


Mei Yin terkejut mendengar ucapan Guan Yin. "Putriku, maafkan Ibu." Mei Yin mendekatinya dan ingin memeluknya, namun dia menolak.


"Guan Yin, jangan lakukan itu pada Ibumu. Jangan membuat dia semakin merasa bersalah karena semua ini adalah salah Ayah."


"Apa maksud Ayah?"


"Ayah orang yang kejam. Di masa lalu, Ayah telah melakukan dosa besar karena memisahkan Chen Li dari ibunya. Bukan hanya itu, Ayah juga sudah membunuh ayahnya dan mengambil kerajaan ini karena Ayah terlalu egois. Àyah terlalu mencintai ibumu hingga tega menghancurkan keluarganya hanya untuk bisa memiliki ibumu." Kaisar Wang menitikkan air mata dan berusaha untuk bangkit.


Dengan tenaga yang masih tersisa, Kaisar Wang mencoba untuk berdiri, namun kakinya tak mampu untuk menopang tubuhnya sendiri hingga membuatnya jatuh terjerembab di lantai.


"Ayah!!" seru Guan Yin sambil mendekati ayahnya itu.


Kaisar Wang merangkak menuju ke arah Chen Li. Sebelum dia mati, dia ingin meminta pengampunan pada keponakannya itu dan pada wanita yang terlampau dia cintai.


Di depannya, Kaisar Wang memohon pengampunan. Dengan dibantu Guan Yin, lelaki itu duduk bersimpuh di depan Chen Li dengan mengiba. "Chen Li, maafkan Pamanmu yang berdosa ini. Sekarang, Paman rela jika harus mati di tanganmu."


Wajah Chen Li memerah dengan air mata yang sudah menggantung di pelupuk matanya. Perlahan, dia meraih pedangnya.


"Aku mohon, jangan bunuh Ayahku." Guan Yin berdiri di depan ayahnya dengan kedua tangan yang direntangkan.


"Guan Yin, minggirlah, Nak."


"Tidak!! Jika Ayah mati, maka aku juga akan mati!!" Guan Yin masih mengiba dan mengharapkan pengampunan bagi ayahnya.


Melihat Guan Yin yang menangis dan memohon, membuat Yuwen tak tahan. "Kakak, ampuni dia. Jangan kotori tangan Kakak dengan darahnya." 


"Yuwen, apa kamu juga ingin membelanya? Apa karena Guan Yin, kamu melakukan ini semua?"


"Kakak, maafkan aku. Aku terlalu menyayangi Guan Yin dan aku tidak ingin melihat dia bersedih. Kakak, aku telah mengecewakanmu, karena itu hukumlah aku." Yuwen menunduk di depannya dan bersiap atas apapun yang akan di lakukan Chen Li padanya.


Mei Yin yang sedari tadi menangis, perlahan mendekati putranya dan memeluknya. "Maafkan Ibumu ini karena hati Ibumu ini terlalu lemah. Ibu tahu betapa besar dendammu padanya, tapi Ibu tidak ingin melihatmu menjadi pembunuh. Jika kamu membunuhnya, kamu akan melihat Guan Yin yang juga akan mati. Dan Yuwen pasti akan terluka jika Guan Yin mati. Dan Ibumu ini, juga akan mati jika melihat kedua anak yang Ibu sayangi saling membenci dan membunuh. Chen Li, berbesar hatilah dan terimalah takdir ini." Mei Yin menangis dalam pelukan anaknya itu hingga membuat pedang yang ada di tangannya terlepas dan jatuh di lantai.


"Ibu, aku akan melakukan apapun permintaan Ibu karena aku tidak ingin kehilangan Ibu lagi. Aku akan memaafkannya, Ibu." Chen Li memeluk ibunya dan menangis.


Guan Yin memeluk ayahnya dan membantunya untuk bangkit. Yuwen yang duduk di sampingnya kemudian membantunya.


"Ayah, aku sayang sama Ayah."


"Ayah juga menyayangimu, Nak. Pergilah pada Ibumu dan jangan pernah untuk membencinya karena dia sangat menyayangimu." Guan Yin mengangguk dan berjalan ke arah ibunya itu.


"Chen Li, dia adalah adikmu dan jangan pernah membencinya karena dia tidak bersalah. Ibu yang salah, Nak, Ibu yang salah." Chen Li menangis dan memeluk ibunya dan juga Guan Yin. Ibu dan anak itu saling memeluk dan menangis.


Melihat mereka, Kaisar Wang tak kuasa menahan tangis. Rasanya, dia ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahannya. Namun, nasi sudah terlanjur menjadi bubur karena itu sudah tidak mungkin lagi bisa diubah. Yang bisa dilakukannya saat ini, hanyalah mengembalikan kerajaan ini pada pewaris sebenarnya, yaitu Chen Li.


"Chen Li, bersiaplah karena Paman akan menjadikanmu raja selanjutnya. Hanya ini yang bisa Paman lakukan, maafkan Paman."


Chen Li hanya diam. Walau sebenarnya, di dalam hatinya dia belum sepenuhnya menerima untuk memaafkan Kaisar Wang. Kalau bukan karena ibunya, lelaki itu pasti sudah tewas di tangannya.


"Berterima kasihlah pada Guan Yin dan Ibu. Jika bukan karena mereka, aku pasti sudah membunuhmu." Chen Li kemudian keluar dan diikuti Yuwen.


"Yuwen, untuk saat ini biarkan dia sendiri."


Pemuda itu menurut dan mengangguk. "Baik, Ibu."


"Guan Yin, pergilah bersama Yuwen. Biar Ayahmu, Ibu yang urus."


"Baik, Ibu." Yuwen meraih tangannya dan mereka pun keluar dari ruangan itu.


Mei Yin duduk di dekat Kaisar Wang dan menghapus sisa air mata dan juga sisa darah di wajah lelaki itu. Perlahan, air matanya jatuh. Melihat air mata di wajah istrinya itu, Kaisar Wang terlihat bersedih. Tangannya berusaha untuk menghapus air mata itu, namun apa daya dia tak mampu. "Apa kamu menyesal karena Chen Li tidak membunuhku?"


Mei Yin tersenyum kecut. "Aku tak ingin dia mengotori tangannya dengan darahmu. Lagipula ... "


"Lagipula aku pasti tetap akan mati, benar, kan?"


Mei Yin menatapnya dan kembali air matanya jatuh.


"Apa kamu menangisiku karena kasihan padaku?" tanya Kaisar Wang, tapi Mei Yin masih diam membisu.


Melihat Kaisar Wang yang melemah membuat Mei Yin menundukan wajahnya.


"Apa kamu masih membenciku hingga tak ingin lagi melihat wajahku?" tanya Kaisar Wang seakan begitu penasaran dengan aksi diam istrinya itu.


Mei Yin kembali menangis. Entah mengapa, hatinya mulai sakit saat melihat lelaki yang sudah menjadi suaminya selama 20 tahun lebih itu terbaring tak berdaya. Walau menikah tanpa sedikitpun rasa cinta, tapi kebaikan, rasa sayang dan juga cinta yang selama ini di berikan oleh lelaki itu kini mulai menggoyahkan hatinya.


"Apa tak sedikitpun kamu membenciku walau kamu tahu aku tak mencintaimu dan hanya berpura-pura di depanmu?"


Kaisar Wang tersenyum. "Istriku, selamanya aku tetap mencintaimu dan tak ada ruang di hatiku untuk membencimu. Aku tak peduli jika selama ini kamu hanya pura-pura di depanku, karena bagiku semua yang kamu berikan aku anggap itu ketulusan darimu."


Mei Yin menatapnya dan tanpa terasa air matanya kembali jatuh. Walau tak mampu, melihat air mata istrinya itu membuat Kaisar Wang berusaha untuk menghapus air mata itu, tapi lagi-lagi dia tak mampu. Mei Yin menyadari itu, hingga tiba-tiba tangan Kaisar Wang diraih olehnya dan meletakannya di pipinya. Sontak, Kaisar Wang terkejut.


"Jangan katakan apapun. Maafkan aku karena selama ini telah membuatmu terluka dengan kepura-puraanku. Aku tahu ini sudah terlambat, tapi aku akan mencoba untuk memberikan sedikit cintaku padamu."


Kaisar Wang tersenyum dengan air mata yang perlahan jatuh. "Istriku, aku mencintaimu."


Mei Yin mengangguk sambil menghapus air mata lelaki itu dan perlahan memeluknya. "Terima kasih, Istriku." Kaisar Wang menangis. Seakan mendapatkan kekuatan, kedua tangannya yang semula tak mampu bergerak, tiba-tiba memeluk tubuh istrinya itu.


Sungguh, kekuatan cinta tak ada batasnya. Cinta, dapat menggoyahkan keangkuhan hati. Cinta mampu menghancurkan kerasnya hati dan cinta mampu membuat hati yang semula benci menjadi cinta. Dan kini, Mei Yin ingin memberikan cinta itu tanpa kepura-puraan. Dia tidak ingin memberikan luka pada orang yang sudah memberinya sepenuh cinta walau karena orang itu dia pernah terluka.


Sementara Guan Yin, untuk pertama kali dalam hidupnya, dia tahu apa itu arti cinta. Untuknya, Yuwen rela terluka. Karena dirinya, pemuda itu rela mati dan berkorban untuknya.


"Guan Yin, maafkan aku karena sudah lancang mencintaimu. Semua yang aku rasakan padamu itu tulus dari dasar hatiku. Aku sungguh-sungguh mencintaimu."


Gadis itu tersenyum dengan wajah yang memerah. Untuk pertama kalinya, dia merasakan degupan jantungnya terasa lebih cepat. Darahnya berdesir hingga membuatnya gugup. "Apa itu benar?"


Yuwen mengangguk dan meraih tangan gadis itu. "Aku sungguh mencintaimu." Yuwen lantas memeluknya dan mengecup mesra dahinya. "Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu melindungimu." Gadis itu mengangguk dengan air mata yang jatuh. Perlahan, dia membalas pelukan Yuwen dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang lelaki itu.


Sementara Chen Li, berniat menemui Huanran. Dia ingin menumpahkan semua rasa sedihnya dalam pelukan gadis itu. Langkahnya di percepat saat memasuki wisma tari. Melihat Huanran di depannya, Chen Li lantas mendekatinya dan memeluknya tanpa peduli dengan orang-orang yang memandangi mereka.


Di pelukan gadis itu, Chen Li menangis. "Chen Li, ada apa?"


"Biarkan aku memelukmu, Huanran. Aku sangat membutuhkanmu." Chen Li masih menangis hingga membuat gadis itu mengelus lembut punggungnya.


Sejenak, Huanran membiarkan Chen Li memeluknya. Walau tidak paham dengan masalah yang kini sedang di hadapi pemuda itu, tapi Huanran yakin masalah itu pastilah teramat sulit bagi pemuda itu.


Tanpa mereka sadari, dua pasang mata sedang memandangi mereka. Tanpa sadar, kedua pasang mata itu menitikkan air mata. Harapan dan cinta yang mereka rasakan, perlahan runtuh dan menyisakan kekecewaan di hati keduanya.


"Apa selama ini, cintamu padaku hanya palsu?" Gadis itu menitikan air mata dan meninggalkan tempat itu.


Sedangkan seorang lainnya, masih berdiri di tempat itu dengan harapan kalau apa yang dipikirkannya tidaklah benar. Rasa simpati yang perlahan tumbuh, membuatnya ingin memiliki gadis itu. Rasa cinta yang mulai menggoyahkan hatinya, membuatnya ingin menghentikan petualangan cintanya dan melabuhkan hatinya hanya untuk gadis itu. Namun, harapannya itu kini sedang diuji. "Huanran, jika dia lebih berarti bagimu, aku akan mengalah, tapi aku akan kembali mengikuti jejak kakek dan ayahku. Haruskah aku mati seperti mereka hanya karena keegoisan dan kekuasaan? Aku tak butuh semuanya karena yang aku butuhkan hanyalah dirimu."


Lelaki itu adalah Raja Wu Lai. Rupanya, dia mulai jatuh hati pada Huanran. Sudah beberapa kali dia datang mengunjungi Huanran. Dan dia sudah bertekad untuk tidak melanjutkan rencananya untuk menikahi Putri Xia karena yang dia inginkan yaitu menjadikan Huanran sebagai permaisurinya. Namun kini, hatinya tengah gundah. Hatinya mulai goyah karena cinta yang belum sempat diungkapkannya terhalang oleh kehadiran seseorang yang membuatnya merasakan cemburu yang luar biasa.