
Obat yang dicampurkan Putri Yuri ke dalam arak rupanya cukup ampuh. Lelaki itu dengan mudahnya dapat ditaklukan olehnya. Walau dia sadar, di mata lelaki itu dia adalah Mei Yin. "Ternyata kamu sangat hebat. Apakah kamu juga melakukan hal yang sama padanya?" ucap Putri Yuri pelan sambil memandangi Jenderal Wang Li yang tertidur di sampingnya.
Melihat ketampanan wajah Jenderal Wang Li membuat Putri Yuri tergoda hingga membuatnya mengecup bibir lelaki itu. Perlahan, Jenderal Wang Li terbangun dan membuka matanya. Melihat Putri Yuri di sampingnya membuat lelaki itu terkejut. "Apa yang aku lakukan di sini?" ucapnya sambil bangkit dari tempat tidur dan mengambil bajunya yang tergeletak di lantai.
"Apa kamu tidak ingat dengan apa yang baru saja kamu lakukan padaku?" tanya Putri Yuri yang sudah berdiri di depannya.
Lelaki itu menatapnya dan mencoba untuk mengingat, tapi yang diingatnya hanyalah wajah Mei Yin. "Apa kamu menaruh sesuatu di dalam arak itu?" tanya Jenderal Wang Li sambil mencengkram leher Putri Yuri.
Wanita itu tersenyum. Jenderal Wang Li kemudian mendekatkan wajahnya di depan wajah Putri Yuri. "Lebih baik seperti itu karena aku hanya ingin melakukannya dengannya dan kamu berhasil membuatku mengira dirimu adalah dia. Aku tidak keberatan jika jalan itu yang kamu pilih. Jadilah bayang-bayangnya jika kamu masih ingin merasakan kehangatanku lagi," bisik Jenderal Wang Li di dekat telinga wanita itu.
Jenderal Wang Li melepaskan tangannya dari leher Putri Yuri dan melangkah pergi meninggalkannya.
"Baiklah, aku tidak akan masalah. Aku akan menjadi bayang-bayangnya asal kamu bisa tetap ada di sisiku," batin Putri Yuri yang menatap kepergian Jenderal Wang Li yang perlahan menghilang.
Jenderal Wang Li berjalan menuju kamar pribadinya di mana Mei Yin berada. Ruangan itu terlihat remang karena hanya diterangi sebuah lilin yang masih menyala.
Jenderal Wang Li kemudian membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalam. Dilihatnya Mei Yin tengah tertidur. Ditatapnya wajah wanita itu hingga membuatnya tersenyum. "Di mataku, aku hanya melihat dirimu. Walau aku bersamanya, tapi wajahmu yang selalu aku lihat. Ah, aku terlampau mencintaimu hingga membuatku tidak bisa melupakanmu," ucapnya sambil mengecup dahi wanita itu.
Perlahan, dia membaringkan tubuhnya di samping Mei Yin dan memeluknya dari belakang. Tanpa sadar, Mei Yin menerima pelukan itu dan memeluk erat kedua tangan Jenderal Wang Li yang memeluknya. Mei Yin lantas membalikan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu. "Suamiku, aku mencintaimu," ucap Mei Yin pelan sambil mendekatkan tubuhnya ke dalam pelukan lelaki itu, hingga perlahan matanya terbuka dan mendapati tubuhnya dalam dekapan Jenderal Wang Li.
Sontak, Mei Yin terkejut dan ingin melepaskan diri dari pelukannya, tapi tubuhnya kembali diraih dan jatuh di atas dada Jenderal Wang Li. "Lepaskan aku," ucap Mei Yin yang berusaha untuk berontak.
"Tenanglah dan biarkan aku memelukmu. Tidurlah kembali, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku hanya ingin tidur di sampingmu," ucap Jenderal Wang Li sambil memeluk tubuh Mei Yin dan memejamkan matanya. Tangannya mendekap tubuh wanita itu yang kini sudah berbaring di sampingnya. Mei Yin hanya terdiam tanpa bisa melakukan apapun selain pasrah.
Malam itu, Mei Yin tidak bisa tidur. Hatinya begitu gelisah karena merasa tidak nyaman tidur bersama seorang lelaki yang bukan suaminya. Sedangkan Jenderal Wang Li tertidur pulas di sampingnya dengan kedua tangannya yang memeluk tubuhnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa dia tidak melepaskan pelukannya dariku?" batin Mei Yin yang sudah beberapa kali berusaha untuk melepaskan pelukan lelaki itu, tetapi selalu gagal.
Mei Yin menjadi kesal sendiri dan membiarkan tubuhnya dipeluk lelaki itu hingga menjelang fajar, barulah dia bisa tertidur.
Cahaya matahari perlahan masuk dari sela-sela jendela. Jenderal Wang Li perlahan membuka matanya dan dia terkejut melihat Mei Yin yang kini tidur dalam pelukannya. Wajah wanita itu begitu dekat di depannya hingga nafasnya pun bisa di dengar olehnya.
Jenderal Wang Li tersenyum dan menatap wajah cantik yang kini tertidur pulas dalam pelukannya itu. Dengan lembut, lelaki itu membelai wajah Mei Yin dan mendaratkan sebuah kecupan di dahinya. "Tetaplah seperti ini karena aku tidak akan keberatan walau kamu melakukannya tanpa kamu sadari. Aku akan menikmati kebersamaan ini karena bagiku kamu adalah sumber kebahagiaanku," batin Jenderal Wang Li dengan tatapan penuh cinta.
Pagi itu, dia akan menghadiri pertemuan dengan pejabat istana untuk membicarakan pengangkatannya menjadi Raja, namun dia memilih untuk menemani Mei Yin yang masih tertidur dalam pelukannya. Dia tidak ingin mengganggu wanita itu dan membuatnya terbangun, karena dengan begitu dia bisa menatap puas wajah cantik yang kini ada di depannya.
Semua pejabat istana sudah berkumpul, tapi calon raja mereka belum juga tampak. "Kemana Jenderal Wang Li? Apa dia lupa kalau pagi ini kita akan mengadakan pertemuan?" tanya salah seorang dari mereka.
Sementara Putri Yuri mulai merasa khawatir karena suaminya belum juga menampakan diri di aula pertemuan. "Apa jangan-jangan dia masih berada di kamar wanita itu?" batinnya.
Putri Yuri kemudian berjalan menuju kamar pribadi suaminya, namun dia dihalang oleh Dayang Ling saat dia tiba di sana. "Maaf, Nyonya. Tuan sudah memintaku untuk melarang siapapun untuk masuk. Sebaiknya, Nyonya kembali," ucap Dayang Ling di depan pintu ruangan itu.
Melihat seorang dayang menghalanginya membuat dia menjadi geram. "Dasar wanita murahan!!" bentaknya sambil menampar wajah Dayang Ling. Walau ditampar, Dayang Ling tidak bergeming. Dia masih tetap berdiri di depan pintu.
Di dalam kamar, samar-samar Jenderal Wang Li mendengar pertengkaran dan dia mengenali suara itu. "Apa yang dia lakukan di sini?" batinnya.
Karena dia tidak ingin Mei Yin terganggu, akhirnya dia memutuskan untuk keluar. "Ada apa ini? Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu masih ada di sini? Apa kamu lupa kalau pagi ini kamu harus menemui pejabat-pejabat istana untuk mebicarakan pengangkatanmu menjadi raja? Atau jangan-jangan kamu sudah tidak tertarik menjadi raja karena sudah berhasil mendapatkan wanita itu?" tanya Putri Yuri yang membuat Jenderal Wang Li menjadi geram.
Jenderal Wang Li lantas membawanya keluar dari tempat itu. "Aku tidak lupa dan biarkan mereka menungguku. Aku akan menjadi raja dan kamu tidak perlu mendikteku dengan apa yang harus aku lakukan. Jangan khawatir, karena aku akan menepati janjiku dan jangan menggangguku jika aku sedang bersamanya, bukankah aku sudah memperingatkanmu?" Wajah Jenderal Wang Li tampak marah dengan gerahamnya yang saling beradu.
Melihat suaminya yang mulai marah membuat Putri Yuri memilih untuk pergi dari tempat itu. Dia tidak ingin membuatnya semakin marah karena dia tahu, jika lelaki itu sudah marah, maka dia bisa berbuat apa saja.
Jenderal Wang Li kembali masuk ke dalam kamar dan mendapati Mei Yin yang sudah terbangun. "Ada apa di luar? Kenapa kalian sangat berisik?" keluh Mei Yin sambil bangkit dari tempat tidurnya.
"Maafkan aku, jika sudah membuatmu terbangun," ucap Jenderal Wang Li sambil mendekatinya dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Biarkan aku memelukmu sebentar lagi, aku masih ingin memelukmu," ucap lelaki itu sambil mengeratkan tangannya di pinggang Mei Yin.
Mei Yin tersenyum sinis. "Baiklah, selama dia masih mencintaiku, aku akanĀ membuatnya tunduk padaku." batin Mei Yin.
Lelaki itu menatap lurus ke arah Mei Yin dengan tatapan yang penuh arti. "Apa kamu pikir aku akan membiarkan mereka mendikteku? Aku akan mengubah peraturan itu dan tidak ada yang bisa menentangku."
Mei Yin tersenyum. "Lalu, kamu ingin menjadikanku sebagai selirmu? Apa pantas seorang mantan permaisuri menjadi selir dari raja selanjutnya? Kakak Wang, sadarlah." Mei Yin tersenyum dan membalikkan tubuhnya. Mei Yin berjalan sambil menyanggul rambutnya yang tadi terurai. Leher jenjangnya terlihat begitu menawan hingga membuat Jenderal Wang Li kembali mendekatinya.
"Kita lihat saja, apa yang akan aku lakukan. Sebaiknya, kamu mempersiapkan dirimu karena aku tidak akan melepaskanmu," bisiknya sambil mengecup lembut leher jenjang wanita itu.
Jenderal Wang Li kemudian keluar dan mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan pejabat-pejabat istana. Di dalam ruangan itu, mereka saling berbisik mempertanyakan kesungguhan lelaki itu. Hingga mereka terdiam saat melihat Jenderal Wang Li datang dan berdiri di depan mereka.
Jenderal Wang Li terlihat berwibawa saat dirinya berdiri di depan mereka. Tubuhnya yang tegap dan kekar membuatnya terlihat lebih tegas.
"Aku akan menjadi raja selanjutnya menggantikan Raja Zhao Li. Menurut silsilah, akulah yang berhak menggantikannya," ucap Jenderal Wang Li tegas.
"Maaf, Jenderal Wang. Untuk saat ini, kami akan membiarkan Jenderal Wang untuk menduduki tahta, tapi setelah Pangeran Chen Li dewasa, Jenderal harus mengembalikan tahta itu padanya karena dia lebih berhak," ucap Perdana Menteri Qing Ruo yang kembali membuat suasana menjadi gaduh.
Jenderal Wang Li menatap perdana menteri senior itu dengan tajam. "Aku tidak bisa memberikannya karena di malam Raja Zhao Li meninggal, Pangeran Chen Li juga telah meninggal," ucap Jenderal Wang Li yang sontak membuat seisi ruangan itu kembali gaduh.
"Tidak mungkin, kenapa kematiannya tidak di umumkan?" tanya perdana menteri itu tidak percaya.
"Itu karena permintaan dari Permaisuri. Dia tidak ingin seluruh masyarakat tahu kalau Pangeran telah meninggal karena hanya akan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Karena itu, Raja Zhao Li dan permaisuri sudah memberiku mandat untuk menjadi raja." Semua ucapan itu adalah kebohongan yang sengaja dia ucapkan untuk membenarkan tindakannya.
"Lalu, di mana jasad Pangeran sekarang di makamkan?" tanya perdana menteri senior itu penasaran.
"Apa kalian tidak percaya dengan ucapannya?" Tiba-tiba saja Mei Yin muncul dan berdiri di depan mereka.
Mei Yin yang mengenakan jubah permaisuri itu terlihat anggun. Dia sengaja datang untuk mendengar keputusan dari hasil pertemuan itu. Sontak saja mereka menunduk dan memberi hormat padanya. "Hormat kami, Permaisuri."
"Apa perlu aku membawa jasad putraku di depan kalian? Tidak bisakah kalian mengikuti apa yang sudah dititahkan suamiku?" ucap Mei Yin yang membuat mereka saling memandang.
"Tapi, Permaisuri..."
"Cukup!! Lakukan saja upacara pengangkatan Jenderal Wang Li secepatnya. Aku tidak ingin kerajaan ini kosong tanpa raja. Jika ada yang melawan, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhnya!!" ucap Mei Yin dengan tegas.
Suasana menjadi hening. Mereka tidak menyangka, seorang wanita yang terkenal anggun dan lembut kini telah berubah menjadi wanita yang terlihat kejam. Tiba-tiba, Perdana Menteri Qing Ruo berlutut di depannya. "Baik, Permaisuri. Kami akan secepatnya melakukan upacara pengangkatan Raja," ucap lelaki paruh baya itu sambil berlutut dan diikuti semua orang yang ada di tempat itu.
Mei Yin kemudian meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarnya. Di depan cermin, dia menatap wajahnya yang harus berpura-pura tegas di depan mereka. "Apa yang sudah aku lakukan?" batinnya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa kamu lakukan itu?" Tiba-tiba dia dikejutkan dengan kehadiran Jenderal Wang Li yang sudah berdiri di belakangnya.
"Kenapa kamu datang di tempat pertemuan itu tanpa seizinku?" tanya lelaki itu kembali.
Mei Yin terkejut. Entah apa yang harus dia jawab. Kehadirannya di tempat itu hanya ingin mendengar keputusan mereka. Dia tahu, tidak semua menteri-menteri itu akan mudah percaya dengan ucapan Jenderal Wang Li dan jika mereka terus membantahnya, mereka pasti akan dibunuh. Menteri-menteri itu adalah orang yang loyal pada suaminya, karena itu dia memilih hadir di tempat itu agar menyakinkan mereka untuk mengangkat Jenderal Wang Li menjadi raja. Dengan begitu, maka tidak akan ada pertumpahan darah.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk ... " Tiba-tiba saja Jenderal Wang Li memeluknya.
"Tenanglah, aku tidak marah padamu. Walau aku tidak tahu maksud dari tindakanmu itu, tapi aku berterima kasih karena kamu sudah meyakinkan mereka."
Mei Yin menarik nafas lega. Dia pikir, mungkin saja lelaki itu akan sangat marah padanya.
"Maafkan aku karena aku telah berbohong tentang Chen Li. Biar bagaimanapun, dia adalah keponakanku. Dan, maafkan aku karena mulai saat ini kamu tidak aku izinkan meninggalkan tempat ini lagi." Mei Yin terperanjat dan menatap lelaki itu heran.
"Apa maksudmu? Apa kamu masih marah padaku?"
Lelaki itu tersenyum. "Mana mungkin aku bisa marah padamu. Aku lakukan ini karena ingin melindungimu. Setelah menjadi raja nanti, aku akan menikahimu dan itu akan membuat seluruh istana akan sulit menerima keputusanku. Karena itu, aku ingin kamu tidak meninggalkan tempat ini agar kamu tidak dipandang rendah oleh mereka. Aku tahu, Putri Yuri akan menjadi permaisuri dan aku tidak ingin membuatmu menjadi selirku, tapi sebagai istriku," jelas Jenderal Wang Li yang membuat Mei Yin cukup terkejut.
"Kakak Wang, apa karena itu kamu ingin mengurungku di tempat ini?"
"Maafkan aku, tapi aku janji akan membawamu jalan-jalan di luar kerajaan seperti waktu itu lagi. Aku mohon, bersabarlah karena jika aku melihat mereka merendahkanmu, aku khawatir aku akan membunuh mereka," ucapnya serius.
"Baiklah, aku akan mengikuti perintahmu itu. Maafkan aku karena aku telah melakukan sesuatu tanpa izinmu, mulai sekarang aku akan turuti apapun perintahmu," ucap Mei Yin yang membuat Jenderal Wang Li tersenyum.
Jenderal Wang Li kemudian memeluknya dan Mei Yin hanya terdiam. Dia harus bisa menahan rasa bencinya dan mencoba tersenyum di depan lelaki itu. Dan dia harus mengorbankan tubuhnya, walau rasa jijik memenuhi kepalanya. Ah, entah sampai kapan dia harus bertahan dengan semua kepura-puraan ini.