
Sudah dua hari Chen Li tinggal bersama Liang Yi. Dan selama itu pula, dia hanya diam dan tidak melakukan apapun. Dia lebih suka menyendiri di saat Yuwen sedang asyik bermain bersama teman-temannya.
"Chen Li, ayo kita main," ajak Yuwen yang sudah duduk di sampingnya.
Chen Li hanya diam sambil menggelengkan kepalanya. Walau ditolak, Yuwen tidak menyerah. Bocah itu lalu duduk di samping Chen Li sambil memperhatikan teman-temannya bermain. "Kamu lihat anak berbaju biru itu?" tanya Yuwen sambil telunjuknya mengarah ke salah satu anak yang sedang bermain.
Chen Li memandang ke arah anak yang ditunjuk oleh Yuwen. "Dia sudah tidak punya ayah dan ibu. Orang tuanya mati karena dibunuh para perampok. Pamanku yang telah membawanya ke desa ini. Awalnya, dia selalu menangis karena merindukan orang tuanya, tapi kini dia sudah bisa melupakan orang tuanya dan tidak menangis lagi," jelas Yuwen.
"Orang tuaku tidak mati!! Ayah dan ibuku ada di istana. Aku adalah pangeran dan orang tuaku tidak mati!! Dan aku tidak akan melupakan orang tuaku!!" ucap Chen Li marah. Dia kemudian bangkit meninggalkan Yuwen dan masuk ke dalam rumah.
Yuwen yang lebih muda dua tahun dari Chen Li ternyata lebih dewasa. Pembawaannya yang ceria dan mudah bergaul membuat dirinya sangat disukai teman-temannya.
Yuwen mengikuti Chen Li ke dalam rumah. Bocah lelaki itu sedang menangis. "Aku tahu kamu itu pangeran dan sebaiknya kamu tidak mengatakan hal itu di depan orang lain karena sekarang kamu adalah orang biasa sama sepertiku," ucap Yuwen yang membuat Chen Li menatapnya.
"Aku tidak sama sepertimu. Aku punya ayah dan ibu. Lihat saja, aku akan pergi mencari mereka," ucap Chen Li sambil menghapus air matanya.
Mendengar ucapan Chen Li membuat Yuwen terlihat sedih, karena dia sadar dia memang tidak mempunyai ayah dan ibu. Tanpa mereka sadari, Liang Yi sedang memperhatikan mereka berdua. Liang Yi kemudian mendekati Yuwen dan menggendongnya dan mendudukannya di samping Chen Li. "Kalian berdua jangan bertengkar. Sekarang, kalian berdua adalah saudara. Yuwen, Chen Li lebih tua darimu karena itu mulai sekarang panggil dia kakak," ucap Liang Yi.
Yuwen menatap ke arah Liang Yi dan menganggukkan kepalanya. "Baik, Paman."
"Chen Li, mulai sekarang kamu akan tinggal bersama kami. Jangan katakan pada siapapun kalau dirimu adalah pangeran. Paman belum bisa menjelaskannya padamu kenapa kamu bisa ada di sini, tapi ini adalah permintaan dari ibumu. Karena itu, Paman minta padamu untuk bisa lebih bersabar," jelas Liang Yi.
Mendengar kalau ibunya yang meminta Liang Yi untuk membawanya membuat Chen Li menjadi bingung. "Ibuku? Maksud Paman, ibuku yang meminta Paman membawaku keluar dari istana?" tanya Chen Li yang tampak kaget.
Liang Yi mengangguk. "Ada orang jahat yang ingin menyakitimu, karena itu ibumu memberikanmu pada Paman. Jika sudah besar nanti, kamu bisa kembali ke istana dan bertemu kembali dengan ibumu," lanjut Liang Yi.
"Apa itu benar, Paman?" tanya Chen Li yang terlihat penasaran.
"Benar. Sekarang, kamu jangan menangis lagi karena ibumu pasti akan sedih. Baiklah, apa kalian berdua ingin makan ubi rebus?" tanya Liang Yi yang membuat Yuwen terlihat gembira.
"Aku mau, Paman," jawab Yuwen sambil mengangkat tangannya, sementara Chen Li hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Liang Yi meletakkan sepiring ubi rebus di depan mereka. Sontak, Yuwen mengambil ubi rebus itu dan langsung memakannya. "Apa di istana Kakak sering makan ubi rebus?" tanya Yuwen dengan mulut yang masih mengunyah.
Chen Li mengangguk. Rupanya dia sudah terbiasa makan ubi rebus. "Ibuku sering meminta Dayang Ling untuk memasak ubi rebus untuknya dan aku juga memakannya," jawab Chen Li sambil mengunyah.
"Beruntung Kakak punya ayah dan ibu, karena aku dari kecil tidak punya ayah dan ibu," ucap Yuwen yang membuat Chen Li menatap ke arahnya.
"Memangnya, orang tuamu kemana?"
"Ibuku sudah meninggal saat melahirkanku dan ayahku juga sudah meninggal. Ibuku adalah adik dari Pamanku, karena itu aku sangat disayang olehnya."
Chen Li terdiam. Dia meletakkan ubi rebus yang ada di tangannya dan terlihat sedih. "Kakak kenapa? Ayo, makan kembali ubi rebusnya, kalau tidak nanti aku yang akan menghabiskannya."
Melihat Yuwen, Chen Li merasa bersalah. Dia sudah mengeluarkan kata-kata yng seharusnya membuat Yuwen marah padanya, tapi nyatanya Yuwen selalu tertawa dan tersenyum di depannya. "Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau orang tuamu telah meninggal," ucap Chen Li yang mulai menyesal.
"Sudahlah, lagipula aku punya banyak ayah dan ibu di sini. Makanlah, setelah itu aku akan mengajak Kakak mengelilingi desa ini."
Chen Li mengambil ubi rebus yang tadi diletakannya dan memakannya kembali. Walau sedih karena harus berpisah dengan kedua orang tuanya, tapi Chen Li berusaha tegar. Dia tahu, ayah dan ibunya sangat menyayanginya dan tidak mungkin mereka akan memberikan dirinya pada orang lain kalau bukan karena sesuatu yang penting.
Chen Li memandangi Yuwen yang masih asyik memakan ubi rebus dan dia tersenyum. Yuwen yang terlihat acuh tampak lucu dengan sisa ubi yang menempel di wajahnya. "Adik Yuwen, makan yang benar. Lihat wajahmu itu penuh dengan sisa ubi rebus," ucap Chen Li yang membuat Yuwen menatapnya heran, tapi kemudian bocah itu tertawa dan membuat Chen Li ikut tertawa.
Untuk sesaat, Liang Yi bisa bernafas lega. Chen Li akhirnya bisa menerimanya dan juga Yuwen. Bukan hanya itu, bocah itu juga mulai akrab dengan teman-teman seusianya.
"Kakak Chen Li, ayo temani aku menjenguk ibuku," ajak Yuwen saat mereka baru saja selesai bermain.
Chen Li mengangguk dan mengikuti Yuwen dari belakang. Di dekat desa, tampak sebuah tanah kosong. Di tempat itu, ada gundukan tanah yang terlihat bersih. Itulah makam Jiao Yi.
"Ibu, aku datang lagi, tapi aku datang dengan seseorang. Kata paman, ibunya adalah kakak angkat ibu dan itu berarti dia adalah saudaraku. Namanya Chen Li dan aku memanggilnya Kakak Chen Li," ucap Yuwen sambil duduk di dekat gundukan tanah itu.
"Ayo, beri salam pada ibuku," ucap Yuwen pada Chen Li yang sudah berdiri di sampingnya.
"Salam Bibi, namaku Chen Li," ucap Chen Li sambil menundukan setengah badannya ke arah gundukan tanah itu.
Melihat Yuwen yang sudah duduk di dekat gundukan tanah itu membuat Chen Li ikut duduk di sampingnya.
"Kakak, mulai sekarang kita harus belajar beladiri. Kalau Kakak ingin menyelamatkan ibumu, maka Kakak harus bisa bertarung. Pamanku itu sangat hebat. Dia bisa mengalahkan lawan sendirian. Kita harus belajar padanya dan pada paman-paman lainnya. Mereka itu orang-orang yang hebat," puji Yuwen dengan kedua jempol yang diarahkan kepada Chen Li.
"Kakak, tunggu aku. Ibu, aku pamit," ucap Yuwen sambil menunduk dan berlari mengejar Chen Li.
Kedua bocah itu terlihat akrab. Yuwen yang periang ternyata mampu membuat Chen Li bisa melupakan kesedihannya. Sementara Chen Li, sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk kembali lagi ke istana. Walau dia tidak mengerti dengan masalah yang dihadapinya, tapi dia yakin ibunya melakukan itu semua karena suatu alasan.
Di saat Chen Li sudah mampu menerima kenyataan, di saat itu juga Mei Yin sudah mampu menerima jalan takdirnya. Di dalam kamarnya, Mei Yin terlihat anggun dengan sebuah hanfu berwarna putih polos yang dikenakannya. Rambutnya dibiarkan terurai tanpa hiasan apapun. Wajahnya pun terlihat natural tanpa bedak dan gincu. Walau begitu, kecantikan wajahnya terlihat sempurna.
"Ayo, kita pergi. Aku sudah menyiapkan kereta untukmu," ucap Jenderal Wang Li yang sedari tadi berdiri memandanginya.
Mei Yin mengangguk dan mengambil sebuah guci di atas meja dan berjalan keluar dari kamar itu. Mei Yin kemudian naik di atas kereta sementara Jenderal Wang Li menunggangi kuda dan berjalan di samping kereta itu.
Di dalam kereta, Mei Yin menatap ke luar jendela dan memandangi jalan-jalan itu. Jalan itu bukanlah jalan yang asing baginya. Dia sudah terlampau sering melewatinya hingga setiap sudut tempat itu terekam baik di ingatannya.
Dari atas kudanya, Jenderal Wang Li terus memperhatikan tingkah Mei Yin yang terlihat serius memandangi tempat itu. Walau dia tidak tahu akan pergi ke mana, tapi dia bisa tahu kalau tempat yang akan mereka tuju adalah tempat yang istimewa bagi Mei Yin.
Di depan sebuah padang bunga, kereta itu berhenti. Jenderal Wang Li kemudian turun dari atas kudanya dan membuka pintu kereta. Mei Yin kemudian keluar dan berjalan menuju ke tengah padang bunga dengan guci yang ada di tangannya dan Jenderal Wang Li mengikutinya dari belakang.
Perlahan, angin mulai meniup dengan lembutnya. Guguran bunga putih mulai bertebaran, bercampur dengan bunga sakura yang berwarna merah muda.
Mei Yin terus berjalan dan berhenti di depan makam Lian, sementara Jenderal Wang Li menghentikan langkahnya dan hanya memandangi Mei Yin yang berjarak beberapa langkah darinya.
Mei Yin menatap gundukan tanah itu. Rasanya dia ingin menangis, tapi dia berusaha untuk menahan air matanya. "Lian, aku kembali, tapi aku hanya sendiri. Zhao Li telah pergi untuk selamanya dan aku kini sendiri." Tiba-tiba saja, angin bertiup dengan kencang hingga membuat debu dan bunga-bunga bertebaraan
Mei Yin kemudian duduk di depan gundukan tanah itu dan menitikkan air mata. "Lian, tenanglah." Angin itu tiba-tiba mulai mereda dan berembus pelan.
"Kita pernah berjanji untuk tinggal di tempat ini, tapi kamu harus pergi. Dan sekarang, Zhao Li juga telah pergi karena itu izinkan aku untuk menebar abunya di tempat ini. Suatu saat nanti, aku juga akan datang ke sini dan selamanya akan tetap tinggal di sini." Angin kembali bertiup dengan lembutnya dan membuat Mei Yin tersenyum.
Mei Yin lantas mengeluarkan abu Zhao Li dari dalam guci dan meletakkannya di sampingnya. Perlahan, angin bertiup dan membawa abu-abu itu berterbangan dengan bunga-bunga. Sementara Mei Yin mulai menari, sebuah tarian yang sangat disukai kedua lelaki itu.
Mei Yin menari dengan indahnya walau air mata mengiringi tariannya. Tarian itu terlihat indah dengan gerakan yang lembut nan gemulai. Bunga-bunga mengiringi tariannya seakan ikut merasakan kesedihan yang kini dirasakan olehnya.
Mei Yin terlihat bak seorang dewi. Rambutnya terurai indah dengan semilir angin yang mengibas perlahan. Butiran air bening perlahan mengalir di sudut matanya hingga membuat Jenderal Wang Li ingin melangkah mendekatinya, tapi langkahnya tertahan.
Lelaki itu menatap takjub dan tak mengedipkan matanya. Baru kali ini, dia begitu terpukau dengan sebuah tarian yang baginya terlihat istimewa, terlebih yang menarikan tarian itu adalah wanita yang sangat dicintainya. "Kamu sangat cantik, apakah aku telah mencintai seorang dewi?" batinnya dengan rasa kagum.
Mei Yin menghentikan tariannya seiring dengan angin yang tak lagi bertiup. Tempat itu terlihat tenang, tanpa sedikitpun angin yang berembus. Abu Raja Zhao Li pun sudah tersebar di tempat itu. Mei Yin tersenyum walau masih ada air mata yang menggantung. "Suamiku, beristirahatlah dengan tenang dan tunggu aku," batin Mei Yin dan kemudian melangkah pergi meninggalkan gundukan tanah itu.
Jenderal Wang Li berjalan mendekatinya dan ingin memeluknya, tapi Mei Yin menolak. "Aku mohon, jangan lakukan itu di tempat ini. Tolong mengerti aku, ini adalah tempat yang sangat berarti bagiku dan aku tidak ingin melakukan hal buruk di tempat ini."
Lelaki itu menurut walau ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan perihal tempat itu.
"Pengawal, bawa kembali kereta ke istana. Aku yang akan membawa kembali Permaisuri," perintah lelaki itu pada pengawalnya.
"Baik, Jenderal."
Mereka kemudian pergi walau Mei Yin menatap kepergian mereka dengan heran. "Kenapa kamu menyuruh mereka untuk pergi?"
"Tenanglah, aku hanya ingin jalan-jalan berdua denganmu," jawab Jenderal Wang Li sambil memakaikannya penutup wajah.
"Ayo, naiklah," ucap Jenderal Wang Li sambil mengangkat tubuh Mei Yin ke atas punggung kuda. Setelah itu, diapun naik dan duduk di belakangnya.
"Kita akan kemana?" tanya Mei Yin heran saat Jenderal Wang Li menjalankan kudanya berlawanan arah dengan jalan menuju istana.
"Aku ingin menikmati waktu berdua saja denganmu. Apa kamu keberatan?" bisik Jenderal Wang Li dengan kedua tangan yang sudah memeluk tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan pelukanmu itu, bagaimana jika ada orang yang mengenali kita?"
"Tenanglah, tidak ada yang akan mengenali kita. Mei Yin, aku hanya ingin berdua denganmu, jadi biarkan aku menikmati kebersamaan ini, bisa, kan?" Mei Yin terdiam. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan itu karena kini, ingatan masa lalunya kembali hadir mengusiknya. Ingatan tentang kenangan indah yang pernah dilalui di jalan ini bersama orang yang pernah membuatnya jatuh cinta.
Bersama Lian, dia pernah melewati jalan ini dengan menaiki kuda bersama. Saat itu, dia begitu bahagia karena memiliki seorang kekasih yang mencintai dan menjaganya dengan sepenuh jiwa, walau akhirnya mereka harus dipisahkan oleh kematian.
Di jalan ini juga, dia pernah lalui bersama seseorang yang begitu mencintainya dan telah menjadi pendamping hidupnya. Bersama Raja Zhao Li, mereka melewati jalan itu dengan naik kuda bersama dan berjanji saling setia, walau akhirnya mereka kembali dipisahkan oleh kematian.
Dan kini, dia kembali melewati jalan itu, tapi bukan dengan orang dicintainya. Walau lelaki itu teramat sangat mencintainya, tapi hati dan cintanya hanya untuk suaminya. Walau dia melewati jalan yang sama dan naik kuda bersama, tapi dengan orang dan kisah yang berbeda. Kisah yang akan membawa pada kematian, entah untuk siapa.