
Mei Yin akhirnya bisa keluar dari kamar Jenderal Wang Li walau harus dengan suatu perjanjian yang dibuatnya sendiri. Perjanjian yang terpaksa dibuatnya walau dia akhirnya harus menderita, tapi itu tidak mengapa asalkan dia bisa bersama suaminya yang kini tengah tak berdaya dalam kesendirian.
Mei Yin masih berdiri di depan pintu kamarnya. Dengan menahan air mata, dia memantapkan hatinya agar bisa tegar di depan suaminya, walau dia sadar mungkin saat ini suaminya telah menganggapnya wanita kotor.
Mei Yin membuka pintu dengan perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada suaminya yang terbaring tak berdaya. Mei Yin berjalan dan duduk berlutut di depan suaminya dengan menahan tangis yang begitu memilukan.
Raja Zhao Li perlahan membuka matanya dan mendapati Mei Yin yang tengah menangis di depannya. Sontak, matanya melebar dan berusaha bangkit untuk meraih istrinya itu. "Istriku," panggil Raja Zhao Li yang membuat Mei Yin terkejut.
"Mendekatlah padaku, aku mohon," ucap Raja Zhao Li yang berusaha menggerakkan tubuhnya. Mei Yin lantas mendekati suaminya dan menangis dalam pelukannya.
"Kenapa kamu baru datang? Aku sudah menunggumu dari tadi," ucap Raja Zhao Li yang berusaha untuk menahan tangis.
"Maafkan aku. Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi." Mei Yin kemudian meletakkan kepala Raja Zhao Li di atas pangkuannya hingga membuat mereka saling menatap.
"Istriku, tersenyumlah. Aku ingin melihatmu tersenyum," pinta Raja Zhao Li sambil tersenyum padanya.
Mei Yin mengangguk dan tersenyum pada suaminya itu. Tiba-tiba, Raja Zhao Li terbatuk dengan darah hitam yang keluar dari mulutnya. Melihat darah di mulut suaminya membuat Mei Yin menjadi panik, tapi tiba-tiba saja tangan Raja Zhao Li menggenggam tangannya dengan erat, seakan ada suatu kekuatan yang menggerakkan tangannya itu. "Terima kasih, karena tidak membiarkanku mati dalam kesendirian. Aku takut jika aku mati tanpa melihatmu di sisiku karena aku tidak ingin mengingkari janjiku padamu. Istriku, aku ingin mati dalam pelukanmu." Raja Zhao Li kembali terbatuk dan kembali darah hitam itu keluar dari mulutnya. Rupanya, efek racun semakin menjadi. Kondisi Raja Zhao Li kini semakin parah.
Mei Yin mengangkat tubuh suaminya itu dan memeluknya. "Aku akan selalu ada di sisimu. Di kehidupan ini maupun di kehidupan selanjutnya. Tunggu aku, aku akan datang menemuimu dan kita akan melepaskan rasa rindu ini. Suamiku, aku sangat mencintaimu dan izinkan aku untuk tetap hidup agar aku bisa melihat putra kita membalaskan dendammu." Mei Yin kembali menitikkan air mata saat mengucapkan itu semua.
Raja Zhao Li mengangguk. Tangannya berusaha dia gerakkan untuk menyentuh wajah istrinya itu. "Bertahanlah dan jangan buru-buru menemuiku. Jika Chen Li datang menemuimu, sampaikan padanya kalau aku sangat menyayanginya dan sampaikan juga maafku karena tidak bisa menemaninya." Raja Zhao Li kembali terbatuk.
Mei Yin mengelus wajah suaminya itu yang tampak mulai pucat. Ditatapnya wajah itu dan mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya. Mei Yin memejamkan matanya dengan air mata yang jatuh saat bibirnya menyentuh bibir suaminya yang sudah membiru. Mungkin, itu adalah kecupan terakhir yang akan dia rasakan dari suaminya. "Tidurlah, aku akan menemanimu," ucap Mei Yin sambil memeluk tubuh Raja Zhao Li yang mulai terasa dingin. Mei Yin memeluknya dengan erat.
"Istriku, aku mencintaimu," ucap Raja Zhao Li dengan suara yang terdengar pelan.
"Aku tahu, aku juga mencintaimu," jawab Mei Yin dengan air mata. Mei Yin masih memeluk tubuh itu, hingga perlahan tubuh itu melemas dengan genggaman tangan yang tak lagi erat.
Mei Yin menangis dan masih memeluk tubuh suaminya yang telah kaku. Mei Yin lantas membaringkan tubuh suaminya dan diapun berbaring di sampingnya dengan kepala yang bersandar di dada suaminya itu. "Aku akan menemanimu tidur dan bermimpilah yang indah. Aku selamanya akan selalu mencintaimu." Mei Yin berbaring dan memejamkan matanya dengan air mata yang jatuh.
Kini, dia telah kehilangan cintanya. Dia telah kehilangan sumber kebahagiaannya. Untuk kesekian kalinya, dia harus merasakan kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya.
Sementara di desa, Liang Yi tampak bingung saat Chen Li terbangun dari tidurnya dan memanggil-manggil ayahnya. "Ayah, aku ingin ayah," rengek Chen Li yang semakin menjadi. Melihat orang-orang yang tidak di kenali berada di dekatnya membuat Chen Li semakin takut.
Yuwen yang sementara tertidur akhirnya terbangun. Melihat seorang anak di dekatnya membuat bocah itu menatap ke arah Liang Yi. "Paman, siapa dia?"
"Dia anak dari sahabat Paman. Tidurlah kembali, maaf, jika tangisannya membangunkanmu," ucap Liang Yi yang masih berusaha membujuk Chen Li.
Yuwen kembali menatap ke arah Chen Li sambil memperhatikannya. "Hei, tenanglah. Jangan menangis lagi, kasihan Pamanku," ucap Yuwen, tapi Chen Li tidak mempedulikannya.
Chen Li terus menangis dan meminta untuk bertemu dengan ayah dan ibunya. Liang Yi yang berusaha membujuknya, selalu mendapat penolakan saat lelaki itu ingin menggendongnya.
"Aku ingin ayah dan ibuku," rengek Chen Li pada Liang Yi.
"Tenanglah, nanti Paman akan membawamu menemui mereka. Sekarang, tidurlah." Liang Yi memeluk tubuh bocah itu dan mengelus lembut punggungnya. Akhirnya, setelah dibujuk, Chen Li terdiam dan tertidur kembali.
"Kasihan kamu, Nak," ucap Liang Yi yang tanpa sadar membuatnya menangis.
"Paman, apakah dia akan tinggal bersama kita?" tanya Yuwen.
Liang Yi mengangguk. "Yuwen, Paman minta padamu untuk selalu menjaga Chen Li. Kasihan dia, dia sekarang sama sepertimu karena ayah dan ibunya tidak lagi bersamanya. Kamu bisa kan membantu Paman untuk menjaganya?"
Bocah itu mengangguk. "Baik, Paman. Sekarang aku akan menganggapnya seperti kakakku sendiri. Aku akan selalu bersamanya dan menjaganya," jawab bocah itu sambil tersenyum. Liang Yi mengelus lembut kepala bocah itu dan dia pun kembali tidur di samping Chen Li.
Di saat Chen Li menangis, di saat itulah ayahnya meregang nyawa. Rasa sayang dan cinta pada putranya seakan telah membuat Chen Li bisa merasakan kalau saat ini dia telah kehilangan sang ayah hingga membuatnya menangis.
Sementara Mei Yin, masih berbaring di samping jasad suaminya dengan tangan yang selalu mengelus lembut wajah suaminya yang telah kaku. Hingga pagi menyapa, Mei Yin tidak beranjak dari tempat itu, hanya genggaman tangan yang semakin erat seakan dia tidak ingin melepaskan kepergian cintanya.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Jenderal Wang Li telah berdiri di depan pintu dan melihat Mei Yin yang tengah berbaring di samping tubuh Raja Zhao Li sambil memeluknya. Lelaki itu kemudian mendekat dan menatap lurus ke arah mereka. Melihat Mei Yin yang tidak mempedulikannya membuat lelaki itu segera meraih tubuh Mei Yin agar menjauh dari Raja Zhao Li.
"Aku mohon, biarkan aku menemaninya. Dia telah pergi, jangan pisahkan aku darinya," rengek Mei Yin dan berusaha untuk mendekati jasad suaminya itu.
Mendengar penuturan Mei Yin membuat Jenderal Wang Li menatap ke arah Raja Zhao Li. Lelaki itu kemudian memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Raja Zhao Li dan benar saja, lelaki itu telah mati. "Pengawal, angkat jasadnya dan siapkan upacara pemakaman. Setelah itu, umumkan kepada seluruh penduduk negeri kalau Yang Mulia telah wafat karena penyakit parah," perintah Jenderal Wang Li pada prajuritnya.
"Baik, Jenderal."
"Aku punya satu permintaan, tolong Kakak Wang kabulkan," pinta Mei Yin sambil menudukkan wajahnya.
Jenderal Wang Li kemudian duduk di depannya dan mengangkat wajahnya. "Angkat kepalamu dan katakan saja permintaanmu. Aku akan mengabulkan apapun yang kamu inginkan asalkan kamu tetap mengangkat wajahmu di depanku."
Mei Yin menatap wajah Jenderal Wang Li yang tersenyum padanya. Rasa bencinya tiba-tiba mencuat saat melihat lelaki itu. Namun, dia harus bisa memendam rasa bencinya dan pura-pura tersenyum walau dirinya enggan melakukan itu. "Izinkan aku untuk mengkremasi jasad suamiku dan memiliki sisa abunya. Aku mohon, kabulkan permintaanku," ucap Mei Yin menatap lurus ke arah lelaki itu.
Jenderal Wang Li menatap wajah Mei Yin dan mengelusnya dengan lembut. "Baiklah, aku akan lakukan apa yang kamu minta. Apa sekarang kamu senang?"
"Terima kasih," ucap Mei Yin dengan senyum getir di sudut bibirnya.
Berita kematian Raja Zhao Li menjadi berita yang cukup mengejutkan bagi penduduk negeri itu. Mereka merasa kehilangan dengan sosok raja yang selama ini di kenal dengan kepemimpinannya yang merakyat.
Di gerbang kerajaan, orang-orang mulai berkumpul dan menangisi raja mereka. Tak terkecuali Liang Yi yang juga hadir di tempat itu. Dia merasa terpukul dan kehilangan saat mendengar berita kematian sahabatnya itu. Begitupun dengan Pengawal Yue yang berdiri di sampingnya. Lelaki yang bertubuh tegap itu tak kuasa menahan tangis. Dengan menutup setengah wajah dan penampilan yang berbeda, mereka berdua ikut berbaur dengan penduduk sekadar untuk memberikan penghormatan terakhir untuk sahabat dan juga raja yang sangat mereka hormati.
Sementara Mei Yin, telah memakai baju berkabung dan berdiri di depan jasad suaminya yang sudah diletakkan di atas tumpukan kayu. Mei Yin menatap wajah suaminya yang terlihat tampan dengan balutan jubah rajanya.
Mei Yin kemudian mendekati jasad itu dan menyentuh wajahnya. Kembali lagi, air matanya jatuh saat melihat wajah yang telah pucat itu. "Berbahagialah di sana. Jangan memikirkan aku dan juga putra kita, aku pastikan dia akan baik-baik saja. Aku berjanji, dia akan kembali dan mengambil apa yang menjadi miliknya dan menuntut atas kematianmu. Suamiku, aku mencintaimu," ucap Mei Yin yang kemudian mengecup bibir yang telah kaku itu.
Perlahan, air mata jatuh di sudut mata Raja Zhao Li seakan dia begitu sedih karena harus meninggalkan kekasihnya. Melihat air mata itu, Mei Yin ikut menangis. Tangannya yang lembut menghapus air mata itu. "Jangan menangis, aku mohon. Pergilah dengan tenang dan tunggu aku di sana." Sontak, air mata itu terhenti. Mei Yin tersenyum dan kembali mengecup bibir suaminya dan menatapnya.
Di tempat itu, semua pejabat istana turut hadir. Dengan mengenakan baju berkabung, mereka memberikan penghormatan terakhir pada raja mereka. Di antara mereka, ada yang tulus menangisi kepergian Raja Zhao Li dan ada yang hanya menatap sinis dengan wajah yang penuh kepura-puraan.
Setelah puas memandangi wajah suaminya, Mei Yin berjalan mundur ke belakang dan terlihat seorang lelaki yang memegang sebuah obor di tangannya. Tubuh Raja Zhao Li kembali di tutup dengan kayu dan lelaki itu kemudian membakar tumpukan kayu hingga api berkobar dan melahap kayu-kayu itu.
Mei Yin menatap kobaran api yang mengeluarkan asap putih. Dia masih berdiri menatap tumpukan kayu itu yang perlahan mulai habis, tapi tiba-tiba dia terduduk dengan wajah yang menunduk. Kini, dia telah sendirian tanpa tambatan hatinya. Lelaki yang dicintainya dan mencintainya kini telah pergi untuk selamanya.
Mei Yin menitikkan air mata dengan pandangannya yang mulai nanar. Walau dia mencoba untuk bertahan, tapi tubuhnya tak mampu. Kesedihan yang selama ini dia rasakan, ternyata telah melemahkan tubuhnya hingga dia terkulai lemah dengan tubuh yang jatuh ke tanah.
Melihat Mei Yin yang telah jatuh pingsan membuat Jenderal Wang Li berlari ke arahnya. Dengan kedua tangannya, lelaki itu mengangkat tubuh Mei Yin yang sudah tidak sadarkan diri dan membawanya ke dalam kamar pribadinya. "Cepat!! Panggilkan tabib!!" perintah Jenderal Wang Li.
Lelaki itu terlihat panik saat melihat wajah Mei Yin yang pucat dan keringat yang mengucur deras. Tiba-tiba saja, Mei Yin memuntahkan darah hitam sama seperti yang di alami oleh Raja Zhao Li. Jenderal Wang Li terperanjat saat melihat Mei Yin terkulai lemah dengan darah yang sudah memenuhi mulutnya. "Tabib, apa yang terjadi dengannya?" tanya Jenderal Wang Li sambil memangku kepala Mei Yin.
"Maaf, Jenderal, sepertinya gejala ini sama dengan yang di alami oleh Raja. Mungkin, Permaisuri juga sudah terkena racun." Penjelasan tabib itu membuat Jenderal Wang Li terkejut.
"Apa? Racun?" Jenderal Wang Li seakan tak percaya. Racun yang sangat mematikan itu bisa membunuh tanpa jejak dan tidak bisa di sembuhkan kecuali dengan obat penawar khusus.
"Jangan berikan dia obat apapun, aku akan mencari obat penawarnya. Pengawal, panggil Dayang Ling ke sini!!" perintah Jenderal Wang Li.
Prajurit yang ada tempat itu lantas memanggil Dayang Ling. "Jaga Mei Yin, aku akan mencari obat penawar untuknya. Mulai saat ini, kamu yang akan melayaninya," ucap Jenderal Wang Li yang kemudian keluar dari kamar itu dan menuju ke kamar Putri Yuri.
Melihat kedatangan Jenderal Wang Li membuat Putri Yuri tersenyum. Selama ini, lelaki itu tidak pernah menginjakkan kakinya di kamarnya itu. "Ada apa kamu datang ke sini? Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Putri Yuri saat melihat ekspresi Jenderal Wang Li yang tampak panik.
"Berikan penawar racun itu padaku, sekarang!!" ucap Jenderal Wang Li yang menatap lurus ke arah Putri Yuri.
"Apa maksudmu? Untuk apa aku harus memberikan obat penawar itu padamu, bukankah penawar itu tidak diperlukan lagi? Dia sudah mati, lalu untuk apa obat penawar itu?" tanya Putri Yuri penasaran.
"Berikan saja padaku, aku memerlukannya sekarang!!" ucap Jenderal Wang Li dengan wajahnya yang terlihat marah.
"Apakah penawar itu untuk Mei Yin?" tanya Putri Yuri yang sontak saja membuat Jenderal Wang Li menatapnya.
"Apa kamu yang sudah meracuninya?"
Putri Yuri tersenyum. "Kalau iya, memangnya kenapa?"
Mendengar jawabannya membuat Jenderal Wang Li menjadi marah. Lelaki itu berjalan ke arahnya dengan tangan yang sudah mencengkram leher Putri Yuri hingga wanita itu termundur ke belakang. "Aku sudah bilang jangan pernah mengganggunya, apa kamu ingin aku membunuhmu, hah!!?"
Putri Yuri tersenyum sinis. "Kalau kamu membunuhku, maka dia juga akan mati karena racunku. Kalau dia berharga bagimu, lakukan apa yang aku mau darimu maka aku akan memberikan penawarnya untukmu."
Jenderal Wang Li melepaskan cengkeraman tangannya. "Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Jenderal Wang Li yang mulai luluh.
Putri Yuri tersenyum dan berjalan mendekatinya. Perlahan, tangannya menyentuh wajah Jenderal Wang Li dan mendekatkan wajahnya di dekat telinga lelaki itu. "Aku inginkan dirimu," jawab Putri Yuri setengah berbisik dan membuat Jenderal Wang Li terkejut.