
Di dalam villa bunga yang sudah tidak terurus itu, terlihat dua orang yang sedang bersembunyi. "Yuri, apa tidak sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini?"
"Tidak!! Sebelum aku pergi, aku ingin melihat mereka berdua mati. Apa kamu sudah siapkan seperti yang kita rencanakan?"
"Sudah. Di saat subuh nanti, mereka akan melakukan penyerangan."
"Bagus, saat ini pengawasan di kerajaan sangatlah minim. Lakukanlah pekerjaan ini dengan baik, setelah itu kita akan hidup tanpa beban lagi."
Rupanya, selama ini mereka bersembunyi di dalam villa bunga yang sudah tidak terurus dan orang-orang tidak akan berpikir kalau mereka akan bersembunyi di tempat itu. Diam-diam, mereka sudah merencanakan untuk membunuh Mei Yin dan Kaisar Wang.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Mei Yin tengah merawat Kaisar Wang yang terlihat semakin memburuk. Wajahnya tampak memucat dengan tubuhnya yang terlihat semakin kurus.
Kaisar Wang menatap Mei Yin yang kini duduk di sampingnya. Dengan lembut, Mei Yin membersihkan sisa darah yang terlihat di bibir lelaki itu. "Istriku, terima kasih." Kaisar Wang tersenyum dan menggenggam tangan istrinya itu.
Mei Yin membalas tersenyum dan membelai lembut wajah Kaisar Wang. "Tidurlah. Jika masih ingin kita bersama, maka banyaklah beristirahat agar kesehatanmu tetap stabil. Obat yang aku berikan hanya untuk memperlambat pengaruh racun itu. Jadi, tidurlah." Mei Yin menutupi tubuh Kaisar Wang dengan selimut dan berbaring di samping lelaki itu.
Kaisar Wang berusaha memejamkan matanya, tapi dia tidak bisa. Pandangannya hanya tertuju pada wajah istrinya yang kini sudah tertidur dengan tangannya yang enggan untuk dia lepaskan. "Istriku, kalaupun hari ini dewa maut datang menjemputku, aku akan rela karena aku sudah cukup puas mendapatkan perhatian dan cintamu dengan tulus. Istriku, andai aku bisa mengulang waktu, aku ingin bertemu denganmu terlebih dulu dan kita pasti akan saling mencintai dengan tulus tanpa kepura-puraan." Kaisar Wang menitikan air mata dan memeluk tubuh istrinya itu.
Mei Yin perlahan membuka matanya dan mendapati Kaisar Wang yang sudah memeluk tubuhnya. Tanpa mengelak, Mei Yin tersenyum dan menenggelamkan tubuhnya itu dalam pelukan lelaki itu.
"Istriku, selamanya aku akan selalu mencintaimu. Hanya dirimu wanita yang ada di dalam hati dan hidupku. Andai kita bertemu di kehidupan berikutnya, aku berharap akan menjadi suamimu lagi dan cinta kita tulus tanpa kepura-puraan." Perlahan, air matanya jatuh. Begitupun dengan Mei Yin yang tanpa sadar meneteskan air mata saat mendengar ungkapan hati suaminya itu.
Perlahan, Mei Yin menghapus air mata yang sudah membasahi wajah suaminya itu dan mengecup mesra tangannya. "Andai semesta menginginkan kita bertemu lagi, aku pasti akan menerima cintamu dengan tulus karena aku tahu kamu terlampau mencintaiku. Suamiku, aku telah memaafkanmu dan aku mohon maafkan aku atas kebohonganku selama ini." Kembali air mata lelaki itu jatuh hingga membuatnya mengeratkan pelukannya.
Rasanya bagaikan mimpi saat dirinya tahu kalau wanita yang pernah di sakitinya dulu kini perlahan membuka hati untuknya, hingga membuat dirinya enggan meninggalkan dunia ini. Andai dewa kematian datang untuk menjemputnya, maka dia akan menolak karena dia masih ingin hidup lebih lama bersama wanita yang sangat dicintainya itu.
Malam itu, entah mengapa dia tidak ingin memejamkan matanya. Rasanya, dia ingin memandang wajah cantik istrinya itu hingga membuatnya tak ingin berpaling.
Sementara di luar sana, beberapa orang penyusup sudah bersiap untuk menyerang di tempat itu. Dengan memakai penutup wajah dan pedang di tangan mereka, penyusup-penyusup itu mulai mengendap perlahan.
Di depan kamar Mei Yin, sudah berdiri beberapa orang penjaga. Tak hanya itu, di depan pintu utama juga berdiri beberapa orang penjaga yang diperintahkan oleh Yuwen untuk berjaga-jaga di sana.
Sementara Yuwen, sedang berjaga di depan pintu Guan Yin dengan beberapa orang penjaga, hingga tiba-tiba dia dikejutkan dengan robohnya penjaga-penjaga itu dengan anak panah yang sudah tertancap di tubuh mereka. Sontak, pandangan Yuwen tertuju pada sekelompok orang yang tiba-tiba meloncat dari atas atap dan marangsek maju menyerang mereka. Pertarungan pun tak terhindarkan, orang-orang itu kemudian menyerang Yuwen dan beberapa orang penjaga yang masih tersisa.
Dentingan suara pedang terdengar di tempat itu hingga membuat separuh penjaga yang berjaga di depan kamar Mei Yin akhirnya berlari ke arah suara itu untuk membantu teman-temannya. Di saat yang sama, penjaga yang tersisa di depan kamar Mei Yin tiba-tiba diserang oleh seorang lelaki yang menggunakan penutup wajah. Penjaga yang hanya berjumlah tak lebih dari sepuluh orang itu dengan mudahnya tumbang di tangan lelaki itu.
Mei Yin yang mulai menyadari kekacauan itu perlahan bangkit dari tempat tidurnya dan berniat untuk memeriksa. "Jangan keluar, tetaplah di sini. Istriku, ambilkan pedangku." Mendengar perintah suaminya, Mei Yin kemudian mengambil sebuah pedang yang tergeletak di atas sebuah meja kecil di dekat tempat tidurnya. Kaisar Wang yang juga menyadari kekacauan itu kemudian bangkit. Walau dalam kepayahan, lelaki itu masih bisa berdiri sambil memegang pedangnya.
Tiba-tiba saja, pintu kamar didobrak hingga terlepas. Terlihat seorang lelaki yang kini tak lagi menutupi wajahnya. Di sampingnya, berdiri seorang wanita paruh baya yang menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian. "Lama kita tidak bertemu, Permaisuri Mei Yin." Wanita itu menyunggingkan senyuman sinis sambil berjalan mendekati mereka.
"Putri Yuri, apa yang kamu lakukan?" tanya Mei Yin berdiri di belakang Kaisar Wang yang berusaha untuk melindunginya.
"Apa yang aku lakukan? Ah, maaf, karena aku harus melakukan ini tanpa beritahu kalian terlebih dulu karena ini adalah acara perpisahan yang sengaja aku siapkan buat kalian."
Sontak, Kaisar Wang mengeluarkan pedang dari sarungnya. "Jangan kalian berani menyentuh istriku, karena aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya." Kaisar Wang menatap Putri Yuri tanpa berkedip. Matanya memerah dengan sorot mata seorang pembunuh.
Kaisar Wang tersenyum sinis. "Bagiku, istriku jauh lebih sempurna dari wanita manapun di dunia ini. Tak ada satu wanita pun yang bisa membuatku bahagia selain istriku."
Wajah Putri Yuri merah padam. Telinganya panas mendengar ucapan Kaisar Wang hingga membuatnya berteriak histeris. "Yuan, seret wanita itu dan bawa dia ke hadapanku!! Sebelum dia mati, aku ingin menyiksanya hingga dia meminta ampun padaku!!" seru Putri Yuri sambil telunjuknya mengarah pada Mei Yin.
Yuan yang sedari tadi berdiri di samping Putri Yuri, kemudian melangkah maju, namun Kaisar Wang tidak tinggal diam. Lelaki itu kemudian menghalangi Yuan dengan pedangnya. "Langkahi dulu mayatku!!" Terdengar suara dentingan pedang yang beradu. Kaisar Wang mulai merangsek maju dan menyerang Yuan dengan pedangnya.
Walau terlihat lemah, rupanya kemahiran Kaisar Wang belumlah hilang. Dengan cekatan, dia mampu melindungi Mei Yin dan mencoba untuk melukai lawannya. Namun, itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba saja lelaki itu memuntahkan darah hitam hingga membuatnya terduduk. "Suamiku!!" pekik Mei Yin sambil berlari ke arah suaminya itu, tapi langkahnya terhenti karena Yuan menariknya secara paksa dan melemparkan tubuhnya di depan Putri Yuri.
"Lihat, kamu saja tidak bisa melindungi dirimu sendiri, jadi jangan buang tenagamu hanya untuk melindungi wanita ini!!" ucapnya sambil menampar wajah Mei Yin hingga wajahnya memerah.
Melihat istrinya ditampar membuat Kaisar Wang meradang. Seakan tidak terima, lelaki itu kemudian berusaha bangkit untuk mendekati istrinya, tapi tiba-tiba saja Yuan mengayunkan pedangnya dan menebas ke arah punggung Kaisar Wang hingga membuatnya terjerembab.
"Suamiku!!" Mei Yin berusaha untuk mendekati Kaisar Wang yang sudah terbaring di lantai dengan punggung yang sudah berdarah, tapi Putri Yuri tidak tinggal diam. Wanita itu lantas menarik rambut Mei Yin hingga membuatnya termundur ke belakang.
"Aku tidak akan membiarkan kalian berdua bertemu. Aku akan menyiksa kalian karena aku tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan permainan ini." Wajah Putri Yuri tersenyum puas, tapi melihat Kaisar Wang yang menangisi Mei Yin membuat kebenciannya semakin menjadi. Dengan marahnya, Putri Yuri mengambil sebilah pisau dan memotong gulungan rambut Mei Yin. Tak hanya sampai di situ, dengan kerasnya Putri Yuri kembali menampar wajah Mei Yin hingga membuat bibirnya berdarah. "Aku ingin lihat sampai kapan kamu akan menangisi wanita ini." Kembali lagi Mei Yin ditampar hingga membuat tubuhnya terjerembab di lantai.
Kaisar Wang berusaha bangkit, tapi rasa sakit di dadanya kian menjadi. Karena terlalu memaksakan diri, kembali lelaki itu memuntahkan darah hitam. "Istriku, maafkan aku karena tidak bisa melindungimu," batin Kaisar Wang yang kini terbaring tak berdaya. Tampak darah segar memenuhi sekujur tubuhnya. Pandangannya lurus menatap ke arah istrinya yang kini terbaring lemah tak jauh darinya.
Melihat istrinya yang sudah tak berdaya, membuat Kaisar Wang merangkak mendekati tubuh istrinya itu. Dengan air mata, Kaisar Wang terus merangkak hingga tangannya menyentuh tangan istrinya, namun tiba-tiba sebuah pisau menghujam tangannya. Putri Yuri tanpa rasa belas kasihan menghujamkan pisau itu, walau terlihat air matanya jatuh saat melakukannya. Namun, Kaisar Wang tidak bergeming. Bahkan, dengan sekuat tenaga dia mencabut pisau itu dan meraih tangan Mei Yin dan menggenggamnya erat.
Kaisar Wang kemudian mendekti Mei Yin yang perlahan membuka matanya. "Istriku, maafkan aku." Mei Yin kemudian bangkit dan memeluk Kaisar Wang sambil menangis. Melihat darah di sekujur tubuh Kaisar Wang membuat Mei Yin gemetar. "Suamiku, bertahanlah. Kita akan baik-baik saja. Kita akan ... " Mei Yin tersentak saat punggung Kaisar Wang dihujam sebuah pedang hingga membuatnya memuntahkan darah hitam. Mei Yin terdiam saat melihat itu semua. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah Kaisar Wang yang penuh dengan darah.
Putri Yuri dengan kejamnya mengambil pedang dari tangam Yuan dan menusukkannya di punggung Kaisar Wang. Rasa cemburu dan marah sudah membuatnya menjadi wanita yang kejam. "Selama ini aku hanya diam, tapi sekarang aku tidak peduli lagi. Aku tidak akan membiarkan kalian bersama lagi!!" Pekiknya sambil mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke kepala Mei Yin, namun tiba-tiba sebuah anak panah melesat dan menancap di punggungnya. Pedang di tangannya terlepas dan tubuhnya pun ambruk ke lantai.
Melihat Putri Yuri tumbang di depannya membuat Yuan menjadi kalap. Lelaki itu kemudian mengambil pedang yang terjatuh dari tangan Putri Yuri dan berbalik ke arah seseorang yang sudah berdiri di belakang mereka. "Mati kamu!!" seru Yuan sambil menyerang orang itu. Dengan gesitnya orang itu menghindar dan membalas serangan Yuan. Duel kedua orang itu terlihat seimbang. Ruangan kamar yang terlalu kecil rupanya tidak membuat mereka kehilangan langkah hingga pertarungan mereka berlanjut hingga ke halaman.
Yuwen dan Guan Yin berlari masuk ke dalam kamar ibunya dan mendapati ayahnya yang sudah tak berdaya di pangkuan ibunya.
"Ayah," seru Guan Yin sambil menangis dan duduk di samping kedua orang tuanya itu.
Melihat putrinya, Kaisar Wang tersenyum. "Putriku, jagalah ibumu. Ayah titipkan ibu padamu." Kaisar Wang menitikan air mata dan memandangi wajah putrinya yang kini menangis di depannya. Pandangannya kemudian teralihkan pada Mei Yin yang kini menangisinya. "Istriku, maafkan aku. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu. Maafkan aku atas kesalahanku di masa lalu. Aku akan menemui Zhao Li dan aku akan meminta maaf padanya atas semua kesalahanku yang sudah aku lakukan pada kalian." Mei Yin mengangguk dengan air mata yang membasahi wajahnya.
Melihat Mei Yin yang menangis untuknya membuat Kaisar Wang tersenyum. "Terima kasih atas cintamu padaku. Aku sangat bahagia karena di akhir hidupku aku bisa merasakan cinta dan kasih sayangmu padaku. Istriku, aku mencintaimu." Mei Yin mengangguk dan meraih tangan suaminya itu dan menciumnya.
"Istriku, izinkan aku memelukmu." Dengan dibantu Gaun Yin dan Yuwen, tubuh Kaisar Wang di sandarkan di dalam pelukan Mei Yin. Kedua tangannya merangkul tubuh istrinya itu, begitupun dengan Mei Yin yang memeluknya erat. "Aku sangat bahagia. Istriku, aku harap kita akan bertemu lagi dan jika semesta mengizknkan itu terjadi maka aku tidak akan pernah menyakitimu lagi. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku hingga kamu tidak ingin melepasku." Mei Yin kembali mengangguk dengan air mata yang jatuh.
Perlahan, Kaisar Wang mulai melemah. Pandangannya mulai nanar hingga membuatnya berusaha mengeratkan pelukannya, namun dewa kematian rupanya tak mengizinkan hingga tangannya mulai melemah dan di saat itulah dia mendengar sebuah kalimat yang membuat dia rela dijemput oleh dewa kematian. "Suamiku, aku mencintaimu." Mei Yin menangis saat kalimat itu dia ucapkan di dekat telinga Kaisar Wang. Tangannya memeluk erat suaminya itu dan perlahan tangan Kaisar Wang melemas dengan tubuh yang tak lagi memeluknya erat. Dengan senyuman di wajahnya, Kaisar Wang dijemput dewa kematian. Terlihat sebuah senyuman di wajahnya, senyuman yang membuatnya bahagia.
Mei Yin menangis dalam diam. Rasanya, dia sudah tak mampu lagi untuk menitikan air mata. Di depan matanya, dia harus melihat kematian orang-orang yang mencintainya tulus. Karena dirinya, orang-orang yang mencintainya meregang nyawa. Karena dirinya, dia harus melihat kematian yang baginya seperti sebuah mimpi buruk yang terus berulang.
Melihat ayahnya yang telah tewas membuat Guan Yin menangis dalam pelukan Yuwen. Melihat ibunya yang hanya menangis dalam diam membuat Guan Yin segera memeluk ibunya. "Ibu, terima kasih karena telah membuat ayah bahagia di akhir hidupnya. Aku tahu Ibu mencintai ayah dan aku yakin ayah pergi dengan bahagia." Mei Yin mengangguk dengan air matanya yang jatuh.
Sementara seseorang, hanya bisa memandangi Mei Yin dengan tatapan penuh rasa haru. Dia begitu iri dengan Kaisar Wang yang nyatanya bisa membuat wanita itu mencintainya. Walau cinta itu hanya sesaat, tapi nyatanya sudah berhasil membuat orang itu cemburu luar biasa. "Mei Yin, apakah aku punya kesempatan untuk mendapatkan cinta dan perhatianmu sama seperti yang kamu berikan pada mereka?"