The Journey To The Edge Of Power

The Journey To The Edge Of Power
98 [ Kesombongan Raja Gerald ]



Bab 98


“ Hm... ” tetapi tidak seperti reaksi sebelumnya yang keras , kini Shura menanggapi dengan reaksi yang malas.


Ia memandang ke arah Lu Bo seperti melihat sesuatu yang membosankan.


“ Hei bocah , apa - apaan dengan tatapan mu itu ! ” ucap nada sedikit marah dari Lu Bo melihat reaksi dari Shura yang menjengkelkan.


Tetapi amarah dari Lu Bo di abaikan oleh Shura , dan menanyakan sesuatu yang seketika membuat wajah Lu Bo berubah.


“ Kau iblis bukan ! ” ucap Shura menunjuk ke arah mata iblis Lu Bo.


Lu Bo yang awalnya tersenyum kini tiba - tiba senyumnya menjadi datar.


“ Bagaimana kau tahu ! ” ucap Lu Bo dengan wajah serius.


“ Kurasa tebakan ku benar ! Mata itu sangat jarang dan menurut apa yang di katakan oleh paman Zaka , hanya para ras vampir yang memiliki mata lebih merah dari darah dan ras vampir adalah termasuk dalam cabang ras iblis ” ucap Shura dengan santai tanpa takut ia akan dalam bahaya.


“ Terkadang seseorang yang memiliki banyak informasi bukan lah hal yang baik ” ucap Lu Bo yang telah mengeluarkan Tombak darah yang ujungnya telah menyentuh leher Shura.


“ Ternyata benar ! ” ucap Shura singkat tanpa adanya nada gemetar ketakutan.


Alis Lu Bo mengkerut dengan aneh melihat ketenangan dari Shura yang menurutnya tidak sesuai dengan umurnya.


“ Ada apa dengan anak ini ” batin aneh Lu Bo melihat ke arah Shura.


“ Hah... Sudahlah ” ucap Lu Bo yang kemudian membubarkan tombak darah yang menyentuh leher Shura.


Shura yang telah lepas dari tombak darah bernafas lega.


Walau ia sebenarnya di luar terlihat tenang tetapi sebenarnya sangat panik dan berkeringat dingin.


“ Sungguh niat membunuh yang kuat ! ” batin terkejut Shura dengan punggung masih berkeringat.


Dari awal saat tombak darah menyentuh leher Shura , ia telah merasakan rasa dingin dari aura membunuh yang cukup kuat.


Memang tidak terlihat rasa takut di wajah maupun sikap Shura tetapi hati dan pikirannya tidak.


Andrenalin bertahan hidup Shura terus aktif untuk membuatnya tenang agar dapat memikirkan strategi untuk menghindari situasi saat ini , yang mungkin dapat membunuhnya.


“ Bocah ! Masuk ! ” ucap Lu Bo yang kemudian masuk ke gubuk meninggalkan Shura.


Shura yang di tinggalkan sendirian di sana oleh Lu Bo tentunya segera mengikuti Lu Bo masuk.


Bersamaan dengan apa yang di lakukan Shura di desa yang tidak di ketahui.


Di kerajaan Matahari kini terdapat sesuatu yang mungkin dapat menciptakan perang antara kota Water Seven dan Kerajaan Matahari.


“ Sungguh berlimpah , jika saja aku tidak telat mengenalinya maka sudah ku jadikan budak pahlawan sampah itu ” ucap Raja Gerald dengan nada jijik.


“ Jadi apa yang akan kita lakukan dengan orang tidak berguna ini Yang Mulia Raja ” ucap pahlawan Leo menunjuk ke arah seorang pria berbaju serba hitam yang kini telah berlumuran darah dan busa di mulutnya.


Seluruh orang yang ada di sana telah membuat seseorang tersebut mengalami penyiksaan dan pencucian otak yang amat keras.


Tetapi walau begitu , pria berbaju serba hitam itu selalu mengatakan sesuatu yang terdengar lucu.


“ Kerajaan ini akan hancur ”


Itulah yang kata - kata yang selalu di ucapakan pria berbaju serba hitam yang tidak lain salah satu bawahan penting di organisasi Shadow kota Water Seven.


“ Buang saja dia atau gunakan sebagai tumbal untuk peningkatan kekuatan pendeta iblis ” ucap Raja Gerald dengan santai.


“ Baik raja ! ” ucap salah satu pahlawan yang tidak lain adalah Sun.


Tanpa di ketahui oleh orang - orang yang ada di istana kerajaan Matahari , dengan melakukan pembunuhan terhadap salah satu anggota penting di organisasi Shadow mereka telah menunjukkan bahwa mereka memulai perang dengan mereka.


Sun kemudian menarik pria berbaju serba hitam tersebut dengan kasar , seolah pria tersebut adalah seorang tahanan yang telah membunuh ribuan orang.


Sedangkan sosok kera besar yang berada di tongkat belakang punggung Sun hanya dapat menggelengkan kepala.


Ia mendesah melihat tingkah dari Sun yang seolah ia adalah seseorang yang amat kuat dan tidak perlu mengkhawatirkan apapun.


Raja Gerald yang telah melihat kepergian Sun segera menatap ke arah para jenderalnya yang ada di sana.


“ Jendral Yu siapkan pasukan , kita akan menuju ke kota Water Seven dan juga bawa ke tiga pahlawan ” ucap Raja Gerald dengan wajah dingin.


Jendral Yu yang mendapatkan perintah seperti itu sedikit mengkerutkan kening , ia mengetahui seberapa kuat kota Water Seven saat ini dan jika ingin menyerang Kota Water Seven ia yakin membutuhkan kekuatan lebih.


“ Mohon maaf Raja , Tetapi dengan kekuatan kita saat ini kita mungkin hanya dapat berdiri di luar gerbang tanpa dapat menghancurkan kota Water Seven” ucap Jendral Yu membungkuk dengan permohonan maaf.


Raja Gerald yang mendengar itu segera alisnya terangkat dengan menatap tajam ke arah Jendral Yu.


“ Jendral Yu apakah kau menghina diriku yang merupakan tuan mu ! ” ucap Raja Gerald dengan tatapan tajam ke arah Jendral Yu.


Jendral Yu yang mendengar perkataan dari rajanya seketika terkejut.


“ Saat ini kota Water Seven bukanlah kota yang sederhana , di sana terdapat ratusan orang kuat yang bahkan untuk 100 orang tidak cukup untuk membunuh 1 orang ” ucap jendral Yu kembali berkata demi keselamatan rajanya.


“ Omong kosong ! , Bagaimana mungkin bisa hanya kota dapat membuat takut diriku ini ! ” ucap Raja Gerald dengan nada yang sangat sombong.


Mendengar apa yang di katakan oleh Raja Gerald , jendral Yu seakan sesak nafas


“ Apakah rajaku yang bodoh ataukah orang ini tidak mengetahui kengerian dari kota Water Seven ” batin kesal dari Jendral Yu.


Sedangkan para jendral yang lain mendengar perkataan dan sikap jendral Yu seakan mereka ingin tertawa terbahak-bahak.


“ Sungguh bodoh , kau jendral Yu apakah kau mendapatkan informasi palsu lagi bahwa kota Water Seven menyembunyikan banyak orang kuat ! ” ucap sosok jendral dengan full Armor emas yang terlihat sangat berkilauan.


“ Diam kau ! , apa kau juga tidak tahu ada berapa banyak orang kuat yang ada di sana ” ucap Jendral Yu dengan nada sedikit ketakutan.


Alis dari jendral Full Armor Emas tersebut terangkat dan menatap ke arah Jendral Yu dengan konyol.


“ Jendral Gin apakah kau berani untuk pergi ke sana bersama ku ” ucap Raja Gerald dengan antusias melihat ke arah Jendral dengan full Armor Emas yang bernama Gin.


Gin yang mendengar itu hanya melebarkan senyum seolah ia telah mencapai tujuannya.


“ Tentunya raja , bahkan untuk mempertaruhkan nyawa saya , saya pasti akan melakukannya ” ucap Gin dengan nada bersemangat.


Sedangkan jendral Yu yang melihat itu hanya mengejek di dalam hati karena mereka tidak mengetahui bahwa kota Water Seven di penuhi dengan seseorang setingkat kekuatan Gin.


“ Dasar bodoh , kamu pikir para pasukan di kota Water Seven hanyalah seperti pasukan di istana ini ” Batin Yu dengan nada meremehkan.


“ Kau seharusnya memiliki keberanian seperti jendral Gin yang tidak takut akan kematian ” ucap Raja Gerald dengan nada meremehkan ke arah Jendral Yu.


Reaksi dari Jendral Yu membungkuk dengan nada rendah.


“ Sepertinya memang begitu Raja , jadi saya mohon maaf sebesar-besarnya ” ucap Jendral Yu dengan berlutut sopan.


Tatapan dari Raja Gerald menatap ke arah Jendral Yu sangat dingin bagai es di Kutub Utara.


“ Hmm... Pengecut , lebih baik sekarang kau diam di penjara dan renungkan kesalahan mu ” ucap Raja Gerald sambil memerintahkan para prajuritnya untuk membawa Jendral Yu ke dalam sel tahanan.


Raja Gerald ingin melihat seperti apa reaksi dari Jendral Yu tetapi yang ia dapatkan hanyalah sebuah rasa sunyi.


“ Ada apa dengan orang ini , biasanya ia sangat penurut dan memberikan banyak ide tetapi kini ia mencegah keinginan ku seperti seorang pengecut ” Batin Raja Gerald merenung.


Setelah kepergian Jendral Yu semua orang yang ada di sana mendiskusikan bagaimana untuk pergi ke kota Water Seven.


Di tempat Shin


Ia terus menyerap kedua energi yang ada di pohon keseimbangan tanpa ampun.


Jika seseorang dapat melihat aliran energi yang ada di sekitar Shin mereka akan melihat aliran energi yang ada di sekitar Shin seperti aliran sungai yang berkumpul dan berputar mengelilingi Shin.


Dan aliran energi itu terus berkurang dan menumpuk seperti air sungai yang tidak ada habisnya.


Bersamaan dengan energi yang terus berdatangan , rasa sakit yang di rasakan oleh Shin juga tidak ada hentinya.


Tetapi Shin menahannya untuk menjadikan hal tersebut kebiasaan yang tidak perlu di takutkan.


Rambut Shin berubah - ubah dan kini telah menjadi warna hitam dengan beberapa warna putih.


Semua orang satu persatu yang ada di sana segera pergi karena telah menyerap energi yang cukup.


Jika mereka melebihi energi yang berada di batasnya maka bukan tidak mungkin untuk tubuhnya meledak menjadi kabut darah.


Setelah seminggu Shin membuka mata dengan menghembuskan kabut asap berwarna merah di mulutnya.


“ Sudah berapa lama ! ” ucap Shin dengan menatap ke depan.


“ Tuan ! Seminggu tuan” ucap Beatrix yang membungkuk di samping kanan Shin.


“ Hm... Beatrix yah , lumayan lama ternyata” ucap Shin bangkit berdiri dengan menarik seluruh klonnya yang ia perintahkan untuk menyerap energi hitam putih pohon keseimbangan.


Saat semua klon telah masuk ke dalam tubuh Shin , rasa sakit yang tidak dapat di bayangkan segera menghantam tubuh Shin dengan keras.


“ Ugh... ” Shin hanya dapat meneteskan darah segar dari sudut bibirnya.


“ Perasaan dan rasa yang mungkin tidak dapat di lupakan ” ucap Shin dengan seakan hampir jatuh.


Beatrix yang melihat keadaan Shin ingin sekali menopang tubuh Shin tetapi ia berhenti karena Shin menghentikannya.


“ Santai ! Tidak perlu khawatir ” ucap Shin yang menatap Beatrix dan menghirup udara dengan besar.


Deg...


Kristal hijau di dada Shin tiba - tiba berdetak dengan keras di sertai dengan gelombang kejut angin yang besar dan kuat.


Beatrix tentunya terkejut tetapi ia masih menatap ke arah Shin.


“ Tuan ! ” ucap pelan Beatrix yang menunjukkan rasa ke khawatiran nya.


Sayangnya Shin tidak melihat ke arah Beatrix ia lebih fokus menstabilkan peningkatan kekuatan yang baru ia dapatkan.


Gelombang kejut sebelumnya merupakan ledakan nadi energi yang ada di tubuh Shin.


Nadi itu meledak karena melebarnya kapasitas energi di tubuh Shin .


Fenomena ini sangat jarang tetapi tubuh membutuhkan kehancuran dan perbaikan ulang untuk memperkokoh ukuran kapasitas energi karena itu terjadilah ledakan nadi energi.


Tubuh Shin untuk sejenak memerah tetapi kemudian dengan cepat kembali ke warna biasanya.


Shin yang merasakan kekuatan nya hanya tersenyum lalu ia segera menghampiri Beatrix.


“ Kita kembali ! ” ucap Shin singkat tersenyum ke arah Beatrix.


“ Baik tuan ! ” ucap Beatrix yang kemudian melihat Shin berjalan menjauh dan dia mengikutinya.


Kembali ke tempat Shura


Shura yang telah masuk ke dalam rumah gubuk Lu Bo seketika terkejut karena di sana hanya terdapat berbagai macam buku berserakan.


“ Aura tadi sepertinya bukan hanya aura membunuh tetapi juga tekanan energi sihir ” batin Shura yang berjalan sambil melihat banyak buku berserakan.


“ Haha ... maaf jika terlihat berantakan” ucap Lu Bo dengan nada bodoh dan tanpa rasa bersalah.


Tetapi tatapan dari Shura masih dingin sambil mengambil salah satu buku dan membacanya.


“ ' Kepadatan sihir ' ” ucap Shura ketika membuka salah satu buku yang ada di lantai.


Setelah beberapa saat membaca Shura tertarik dan terus membaca.


“ Menarik , bolehkan aku terus membacanya ” ucap Shura melihat ke arah Lu Bo.


Lu Bo yang mendapatkan pertanyaan seperti itu segera melihat ke mata Shura.


“ Apa benar anak ini ingin membaca buku itu ” batin Lu Bo dengan alis terangkat.


“ Ok tidak masalah , baca saja sepuasnya semua buku yang ada di sini” ucap Lu Bo dengan santai sambil masuk ke dalam kamarnya.


Shura melihat ke arah Lu Bo dengan aneh.


“ Apakah orang ini tidak rasa memiliki kewaspadaan sedikit pun” batin Shura dengan alis mengkerut heran.


Melihat Lu Bo yang terlihat santai Shura segera mengabaikan sikap dari Lu Bo.


Shura kembali membaca buku yang ia temukan dengan tenang dan fokus.


“ Kepadatan sihir ternyata tidak semudah itu , semuanya harus di atur dengan sangat rapi entah itu lingkaran sihir , energi dan titik pondasi utama energi ” ucap Shura yang masih tetap membaca buku tersebut dengan cermat dan fokus.


Shura terus menerus membalik-balikan kertas di buku itu hingga ke halaman terakhir.


Setelah ia membaca semua isi dari buku tersebut , Shura keluar dari gubuk tersebut dan mulai mempraktekkan apa yang ada di buku.


“ Walau aku tidak terlalu mengerti tentang lingkaran sihir tetapi mungkin itu hampir sama dengan mantra sihir ” ucap Shura yang walau ia tidak mengerti tentang lingkaran sihir ia tetap membuatnya sesuai apa yang ia bayangkan.


Awalnya berbentuk lingkaran yang di ikuti dengan belasan kata mantra sihir yang di ketahui oleh Shura.


Lingkaran tulisan mantra itu terus berputar putar layaknya sebuah cincin yang berputar dengan sinar yang berbeda-beda.


“ Selanjutnya pembagian energi sihir ” ucap Shura yang melanjutkan fase selanjutnya dari teknik pemadatan energi.


Shura mencoba membagi rata tetapi rasa tekanan yang tidak ia ketahui menghampirinya dan mengganggu konsentrasinya.


“ Sial , lepas kend- ” belum selesai Shura menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya telah terlempar karena lingkaran sihir yang ia buat meledak seperti sebuah bom dan ledakan tornado di waktu yang bersamaan.


Darah segar mengalir dari sudut bibirnya setelah ia terbangun dan bangkit kembali.


“ Hampir saja ! ” ucap Shura dengan nafas terengah-engah di sertai jantung yang berdetak dengan kencang.


To Be Continue


--> Terimakasih Telah membaca karya saya yang kurang memuaskan <--