
[ 47 ][ Retrain II ]
Hmmm... pertama Death Wave , teknik ini hanya membalut pedang ku dengan elemen yang kuat , jika di pikir lagi teknik ini tidak jauh berbeda dengan teknik pedang biasa.
Jadi apa yang perlu di ubah adalah teknik nya atau lebih menghaluskan gerakan.
Shin mulai memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan semua teknik yang ia miliki , entah memodifikasi atau meningkatkan efektivitas.
Dengan Skill Fusi aku dapat membuat beberapa elemen dari percampuran elemen yang dapat ku tahu , seperti Es dari Air dan Angin , Magma dari Tanah dan Api , Api Hitam dari Api dan kegelapan hanya itu yang kutahu.
Aku tidak mungkin langsung menggabung elemen karena aku sendiri tidak tahu seberapa besar resiko.
Untuk sementara ku kira aku akan fokus ke elemen es.
“ Basic Magic Discharge : Support Type : Wood Clone ”
( Pelepasan Sihir Dasar : Tipe Pendukung : Klon Kayu )
Aku menciptakan 3 klon di sisiku untuk membantu ku berlatih.
Aku kemudian mengalirkan energi ke mata kananku yang seketika membuat ku dan klon ku pergi ke dimensi pedang.
“ Death keluarlah ” ucapku.
Death kemudian keluar dengan penampilan anak kecil seperti biasanya.
“ Ada apa master ” ucap tenang dari Death.
“ Aku membutuhkan bantuan mu , aku ingin kamu melatih ku memperdalam kemampuan pedang ” ucapku terus terang.
Aku tidak ragu meminta kepada Death karena hal yang harus ku lawan sebelum menjadi kuat adalah egoku , mengetahui Death yang memiliki bentuk gadis kecil sekaligus ia hanyalah sebuah pedang.
“ Anda yakin , apakah anda tidak salah dalam memilih seorang guru ” ucap Death dengan senyum kecil.
“ Firasat ku mengatakan bahwa kamu dapat dengan mudah meningkatkan berbagai teknik pedang yang ku miliki ” ucap ku dengan yakin.
“ Begitukah kalau begitu , mohon kerja samanya ” ucap Death dengan santai yang menunjukkan ia setuju.
Aneh tetapi sudahlah karena Death sudah setuju lakukan saja !
Shin hanya dapat mengerutkan kening.
“ Seharusnya aku yang mengatakan itu , jadi mohon kerja samanya ” ucapku.
Lalu aku kemudian menoleh ke arah kedua klon ku.
“ Lakukan apa yang kita pikirkan ” ucap ku kepada kedua klon.
“ Tentu ” ucap salah satu klon ku menganggukkan kepala.
Kami kemudian saling melakukan pelatihan masing - masing.
Klon 1 melakukan pelatihan untuk mengendalikan kekuatan alam untuk menciptakan elemen Fusi , untuk memaksimalkan skill Fusi yang telah ku ciptakan.
Klon 2 melakukan pelatihan menggabungkan elemen dengan pedang sekaligus mengendalikannya.
Sedangkan Klon 3 memaksimalkan kendali akan energi.
Untuk ku sendiri aku melakukan tanding dengan Death untuk memperdalam pemahaman pedang dan memperbaiki gerakan.
“ Baiklah ayo kita mulai ” ucap Death datar.
“ Mulai sekarang panggil aku dengan namaku , aku menganggapmu adalah temanku , jadi panggil saja seperti biasanya ” ucapku entah bagaimana merasakan familiar tentang sesuatu.
“ Terasa sama , entah kenapa auranya juga tidak berbeda jauh dengannya ” ucap Death dalam hati.
Death dan aku saling menatap kemudian sama - sama menghilang , muncul di depan masing-masing.
“ Dagger Art : Touch of Annihilation ”
( Seni Belati : Sentuhan Pemusnahan )
Death mengerakkan belatinya dengan sangat tajam dan fleksibel.
Hanya dalam kurang dari 1 detik sebuah belati telah menyentuh pipiku membuat mataku melebar , karena reaksi yang lambat pedang yang ku gunakan berhenti di depan Death.
“ Terlalu lambat ” ucap Death.
Death dan aku kembali melakukan serangan masing - masing , tetapi kali ini berbeda.
“ Terlalu kaku , lambat , terlalu banyak gerakan tidak berguna , terlalu lemah ” setiap gerakan aku menyerang ke Death , tangan ku , tubuh ku dan kakiku yang melakukan kesalahan akan di pukul untuk membenarkan.
Lagi ! Lagi ! Lagi
Pedangku ku ayunkan dengan cepat dan menargetkan ke titik vital , tetapi segera dipukul oleh Death untuk membuat serangan lebih baik dan mengurangi banyak gerakan tidak berguna padahal menurut ku ini adalah teknik yang sangat baik.
“ Shin , coba kau kendalikan dengan baik antara otot , energi dan pikiranmu agar dapat melepaskan kekuatan yang lebih kuat dan terkonsentrasi ” ucap Death memberi tahu.
Aku hanya menganggukkan kepala lalu di lanjutkan dengan bertarung kembali dengan Death.
Di sisi Klon 1
Tubuh utama sudah melakukan pelatihan nya , jadi kini aku harus memulainya.
Ada banyak elemen fusi tetapi semuanya terasa sulit , ku utamakan elemen es dahulu saja , tetapi inti dari elemen es adalah dingin bukan bentuk.
Tanganku kemudian membentuk butiran es yang secara perlahan ku bentuk menjadi beberapa pisau yang melayang.
Kurang dingin ! , Dingin dan dingin !
Aku terus bergumam karena sangat kecewa dengan hasil yang ku ciptakan pertama kali.
Pisau pisau es yang melayang itu kemudian ku perkecil dan menurunkan ke titik beku.
Es yang dalam bentuk sangat sulit untuk di buat dalam titik beku berbeda dengan es yang dalam serangan area.
Yang awalnya sebesar 15 cm di perkecil menjadi 5 cm dan pyar...
Pisau es kemudian pecah menjadi serpihan.
Sudah ku duga sangat sulit untuk mencapai titik beku.
Aku kemudian melakukan lagi dan lagi hingga pisau es tersebut bertahan hingga beberapa menit sebelum kembali pecah.
Jadi intinya kendali , semakin aku dapat mengendalikan energi untuk dilepaskan dan di bentuk dengan cukup maka aku dapat mengendalikan nya.
Klon 2
Elemen es ku gabungkan dengan pedang yang tertancap di sekitar ku.
Och.. , dingin !
Rasa dingin yang sangat gila menyentuh kulitku ketika aku menggabung elemen es dengan pedang.
Elemen es ini adalah sama dengan sihir es yang di lepaskan dalam bentuk gelombang sehingga apapun menjadi beku.
Tanganku terasa membeku !
Perlahan tapi pasti , aku kemudian fokus kepada mengalirkan energi dengan stabil berbeda dengan melatih sihir yang harus melalui banyak hal , sedangkan yang ini terpenting adalah serangan.
Klon 3
Aku hanya dapat terus bermeditasi dan melatih kontrol energi
Hari ke hari , Minggu ke minggu tanpa terasa bahwa aku sudah di dimensi yang berada di mata kananku selama 3 bulan.
Yah untungnya waktu 1 hari di luar sama dengan 1 bulan di dalam jadi hanya 3 hari di luar.
Setelah menenangkan pikiran aku menggerakkan pupil mataku.
Saatnya keluar , aku merindukan udara di luar walau aku akan muncul di dalam Dungeon.
Setelah aku memutuskan untuk keluar , klonku kembali ke tubuh ku bersamaan informasi yang dikumpulkan oleh klon ku dalam pelatihan juga masuk ke dalam kepalaku.
“ Selanjutnya, terserah padamu Shin ” ucap Death yang berubah menjadi pedang katana hitam yang menancap di tanah.
Aku langsung menciptakan sarung pedang agar aku dapat membawa Death kemana pun tanpa memasukan ke dalam Segel yang berada di dada kiriku.
“ Death apakah kamu tidak keberatan jika selalu di luar ” ucapku bertanya.
“ Tentu saja Shin ” ucap Death yang bergetar menunjukkan persetujuan.
Mata kananku kemudian berputar dan membuat ku kembali ke dunia luar.
[ To Be Continue ]