The Journey To The Edge Of Power

The Journey To The Edge Of Power
[ 83 ] Yizi



[ 83 ]


Haha... Memang yah , kenapa aku harus menanyakan hal seperti itu karena keinginan setiap orang berbeda-beda.


Dan wanita ini masih menjawabnya walau itu bukanlah hal yang bahkan ia tidak pernah pikirkan.


Shin tersenyum kemudian ia memberikan sebuah pilihan.


“ Baiklah , jika begitu aku memiliki beberapa bantuan untuk mu tetapi itu juga memiliki persyaratan ! ” ucap Shin kepada Beatrix.


“ Pilihan ! ” Beatrix berucap dengan bingung.


“ Yap ! Hanyalah pilihan sederhana yaitu kalian bisa menjadi pelayan ku dan tentunya kita akan menciptakan segel kontrak jiwa sedangkan pilihan yang lain adalah kalian akan ku beri beberapa uang untuk pergi ke kota selanjutnya dan mencari segala pengalaman untuk bertahan hidup di luar sana ! ” ucap Shin yang tiba - tiba memberikan sebuah pilihan.


Beatrix tanpa menunggu waktu lama ia langsung berkata dengan tegas.


“ Untuk menjadi pelayan anda saya tidak memerlukan waktu yang lama karena tuan adalah penyelamat ku dan untuk menjalin kontrak jiwa itu sedikit... ” ucap Beatrix berhenti di tengah - tengah karena ia baru menyadari kata - kata Shin yang tidak ia sadari.


“ Yah benar , Kontrak Jiwa ! Apakah kamu masih dapat mengatakan dengan sangat tegas ketika kata ini akan mengikat kehidupan mu menjadi sesuatu yang di tekan ! ” ucap Shin dengan nada yang tegas.


Beatrix tidak dapat berkata-kata karena ucapan dari Shin sangat benar dan tidak memiliki kebohongan.


“ Apakah aku harus menjadi budak seseorang lagi ! , tetapi jika aku memilih untuk mengambil uang itu bukanlah hal yang baik karena semua mahkluk akan selalu serakah terhadap sesuatu yang berhubungan dengan uang walau itu hanyalah sepeser koin emas.


” batin bingung dari Beatrix.


Beatrix kebingungan dan itu di lihat oleh Fania , ia menjadi panik karena ia tidak pernah melihat wajah bingung dari Beatrix hingga saat ini.


“ Kak Beatrix ! apakah kau tidak apa - apa ? ” tanya Fania dengan nada khawatir .


Beatrix yang mendengar itu menjadi tersadar bahwa ia saat ini bersama Fania dan itu sangat buruk baginya ketika ia menunjukan wajah yang tidak baik di hadapannya.


“ Ah… Hahah… Tidak , aku baik - baik saja Fania tenang saja , tidak ada yang perlu di khawatirkan ! ” ucap Beatrix dengan tersenyum di paksakan.


Keduanya terdiam untuk waktu yang lama , hingga beberapa saat kemudian Beatrix mengepalkan tangan dengan sangat kuat hingga darah keluar dari kulitnya.


“ Tuan ! Saya akan melakukannya ! Dan untuk terakhir kalinya aku akan mempercayai dunia bahwa setiap makhluk akan memiliki kesempatan untuk menjadi lebih dan lebih ” ucap Beatrix dengan sangat tegas.


Shin yang awalnya memasang wajah yang serius secara tiba - tiba berubah hanya dalam beberapa detik , berubah menjadi sebuah senyuman yang cerah.


Shin mengelus kepala Beatrix dan berkata dengan sangat lembut.


“ Sekali - kali carilah seseorang yang dapat membantu , mendampingi dan mendukungmu agar kau tidak membawa beban yang mungkin sangat berat untuk mu ! ” ucap Shin.


“ Aku tidak tahu apa yang membuat mu harus menjaganya hingga ke titik ini tetapi tetaplah pada apa pilihan mu walau itu salah sekalipun karena dunia itu tidak adil , dunia akan mendukung siapa yang dapat terus berjuang dan membuang siapa yang paling pertama menyerah ” ucap Shin yang seketika membuat mata Beatrix menjadi bergetar.


Shin kemudian meninggalkannya untuk sejenak dan ia pergi ke suatu tempat.


Beatrix yang di tinggalkan segera mengeluarkan air mata tanpa ia dapat tahan.


“ Sudah berapa lama aku tidak merasakan kesedihan seperti ini , sudah berapa lama aku tidak merasakan rasa perhatian seseorang seperti ini , sudah beberapa lama ? ” ucap Beatrix dengan air mata yang semakin deras.


Fania yang berada di sana hanya dapat kebingungan dengan tangisan dari Beatrix yang bahkan ia tidak tahu apa penyebabnya.


Yang pasti bahwa ia mengetahui bahwa kesedihan ini berasal dari seseorang yang baru menolong mereka.


Tetapi karena kepolosannya , Fania tidak dapat marah pada Shin , mungkin karena kebaikan Shin atau karena aura Shin yang begitu hangat bagi Fania.


Beberapa menit kemudian Shin kembali dengan beberapa hewan dan monster buruan yang di mana rata - rata adalah hewan dengan tingkatan kekuatan yang tidak dapat di anggap remeh.


“ Sudah tenang ! ” ucap Shin berbicara kepada Beatrix untuk melihat bagaimana kondisinya.


Beatrix hanya menganggukkan kepala dan menatap ke arah Shin dengan rasa terimakasih.


“ Jadi bagaimana pendapat mu saat ini , apakah masih ingin menjadi pelayan ku ataukah memilih pilihan yang lain ? ” tanya Shin.


“ Tidak perlu ! Saya akan mengikuti anda dan menyetujui tentang Kontrak Jiwa ” ucap Beatrix dengan tersenyum.


Melihat kali ini Beatrix tersenyum , Fania segera senang dan memeluk Beatrix dengan sangat erat seperti sebuah parasit yang tidak akan lepas.


“ Kau yakin akan pilihanmu ! ” ucap Shin menegasakan ulang dan melihat ke arah mata Beatrix dengan cukup lama.


Tetapi Beatrix seolah tidak mau berpikir ulang , ia tetap mengatakan bahwa pilihannya tidak akan di ganti.


“ Baiklah , berikan tanganmu ” ucap Shin yang kemudian menciptakan segel di tangan Beatrix.


Hanya dalam beberapa detik segel jiwa tercipta dengan tanda huruf " V ".


Tidak hanya pada Beatrix tetapi juga Shin membentuk tanda segel jiwa di tangan Fania agar Shin dapat melihat segala kondisinya.


Walau Fania bingung tetapi ia masih melihat tanda segel yang terlihat sangat keren baginya dengan mata bahagia.


“ Tuan apa ini , kenapa tanda segel berbeda dengan yang di ciptakan oleh pedagang budak ! ” ucap Fania dengan mata penasaran.


Shin hanya melihat ke arah Fania dan mengelus rambut Fania dengan lembut.


“ Anggaplah bahwa tanda ini adalah segel untuk memberikan sebuah berkah dari seorang Dewa Angin ! ” ucap Shin dengan tersenyum.


“ Benarkah ! ” ucap Fania dengan sangat senang walau ia tidak pernah mendengar tentang seorang dewa yang memiliki elemen angin.


Mereka kemudian pergi dari sana dan mengikuti Shin ke perjalanan yang akan ia lakukan.


Shin duduk dengan santai di lantai udara , lantai udara tersebut bergerak secepat terbangnya seekor Wyvern sehingga Shin sangat santai.


Bersamaan dengan itu , Beatrix dam Fania menaiki Wyvern yang mengikuti Shin sebelumnya.


Hingga beberapa minggu kemudian mereka sampai di sebuah desa yang di mana di sana hanya di huni oleh para Half Human atau Beastman.


Shin berhenti tanpa melanjutkan perjalanan.


Melihat Shin berhenti para Wyvern juga ikut berhenti , mereka menunggu apa yang akan di lakukan oleh Shin selanjutnya.


“ Kalian para Wyvern masuklah ke sini dan turunkan para gadis itu di udara , selanjutnya biarkan aku saja yang mengurusnya ” ucap Shin yang kemudian udara di samping Shin muncul sebuah goresan tipis berwarna hitam. .


Dari goresan tipis tersebut terbentuk sebuah gerbang yang menuju ke ruangan menara penyimpanan Shin.


Sebuah tempat yang pernah menjadi tempat untuk menyegel Hydra agar ia tidak mengacau.


Para Wyvern hanya menuruti apa perintah Shin , mereka tanpa kebingungan masuk ke dalam gerbang yang di ciptakan oleh Shin dengan sekejap mata.


Setelah semua Wyvern telah masuk ke dalam gerbang , Shin , Fania dan Beatrix turun ke bawah dan berhenti sejenak untuk melihat sekitar.


“ Tuan ! Bukankah ini adalah desa dari suku Rubah ! ” ucap Beatrix dengan nada terkejut.


“ Lalu apa yang aneh sehingga dirimu begitu terkejut tentang itu ” ucap Shin tanpa rasa terkejut.


Mendengar itu segera membuat Beatrix menjadi bingung , apakah memang tuan barunya tidak mengetahui bahwa di suku Rubah memiliki adat yang aneh.


“ Apakah tuan tidak pernah mengetahui tentang desa Rubah ! ” ucap Beatrix dengan penasaran.


“ Tuan , disana terdapat sebuah tradisi yang membuat siapapun harus melawan seseorang dari suku mereka agar mereka dapat menerima tamu masuk ke sana ” ucap Beatrix menjelaskan.


Heh tradisi yang lumayan menarik !


Shin kemudian berjalan ke arah gerbang desa dengan santai yang di ikuti oleh Beatrix dan Fania.


Di gerbang desa hanya terdapat pagar yang terbuat dari kayu , tanpa adanya penjaga maupun prajurit yang menjaga seolah siapapun dapat masuk bahkan itu adalah seekor monster.


Saat Shin telah melewati gerbang kayu , berbagai pandangan para penduduk yang berasal dari Desa Rubah melihat ke arah Shin dengan tatapan analisis.


Mereka melihat ke arah Shin dari atas ke bawah seolah mencari sesuatu dari tubuh Shin.


Tetapi kemudian seorang pria muncul dengan dua pedang yang ada di punggungnya.


Senyuman dari pria itu melihat ke arah Shin seolah ia melihat seseorang manusia biasa.


Penampilan Shin yang sama dengan seorang petualang dari ras Half Human dengan perlengkapan yang sangat sederhana.


Entah itu armor maupun senjata terlihat biasa saja tanpa adanya senjata yang membuat siapapun iri maupun ketakutan.


Sehingga tatapan dari pria yang baru datang itu sungguh sangat wajar


“ Hei ! Apakah kamu pendatang ? ” tanya pria itu dengan nada penasaran.


Shin menganggukkan kepala setuju lalu ia bertanya ke arah pria itu.


“ Kenapa semua orang di sini melihatku seperti itu apakah telah terjadi sesuatu ” tanya Shin karena heran.


Pria tersebut tersenyum mendengar pertanyaan dari Shin , ia semakin tertarik dengan Shin.


“ Apa kamu tidak tahu bahwa tradisi di desa ini adalah bertarung dengan salah satu penduduk sini untuk dapat masuk ke desa ini ” ucap pria itu.


“ Begitu kah , lalu dimana aku mencari lawan ku ? ” tanya Shin penasaran.


Pria itu tersenyum lalu ia melihat ke arah dirinya sendiri dan berkata dengan tersenyum.


“ Haha... Kau tidak perlu mencari lawan karena aku yang akan menjadi lawanmu ” ucap pria itu dengan tawa bersemangat.


Shin yang mendengar itu hanya tersenyum karena tingkahnya yang dari awal sangat aneh sehingga terlihat dengan sangat jelas ia memiliki maksud.


“ Heh... Lalu dimana kita akan bertarung , lebih baik segera mulai agar waktu ku tidak semakin terbuang dengan sia - sia ” ucap Shin dengan nada yang terburu - buru.


“ Haha... Untuk apa terburu - terburu ! santai saja ”


“ Tetapi , kita mulai saja seperti yang kamu katakan ” ucap pria itu yang kemudian menunjukkan ke arah tempat yang biasanya di jadikan sebuah arena pertempuran oleh penduduk desa.


Penduduk desa yang melihat pria itu hanya dapat mendesah dengan lelah seolah mereka akan melihat sesuatu yang membosankan.


“ Ah dia lagi ! Padahal Yizi adalah salah satu orang yang memiliki persentase kemenangan paling banyak dan ia masih nafsu untuk melakukan pertarungan ” ucap penduduk 1 dengan nada mendesah dari jauh.


“ Yah benar ucapanmu , ia bahkan telah di berikan pilihan oleh ketua desa untuk menjadi prajuritnya langsung ” ucap penduduk 2 yang berada di sampingnya.


Shin yang mendengar dari jauh hanya dapat tersenyum karena ia mendengar informasi lagi walau ia tidak melakukan apapun.


Mereka berdua kemudian sampai di arena sedangkan Fania dan Beatrix menunggu di luar tempat untuk menonton pertarungan.


“ Haha... Aku gembira oleh karena itu kau harus membuatku bersemangat haha… ” tawa senang dari pria itu.


“ Sebelum di mulai aku ingin tahu siapa namamu ? ” ucap Shin penasaran.


“ Nama ! Ah yah... Aku melupakannya , baiklah nama ku adalah Yizi hanya Yizi tanpa nama belakang ” ucap pria yang bernama Yizi tersebut.


“ Yizi yah baiklah ayo lakukan namaku adalah Muzan ! ” ucap Shin yang kemudian membuat posisi bersiap.


“ Ah begitulah ! Baiklah ayo ” ucap Yizi yang kemudian menarik dua pedangnya.


“ Twin Style Swords : Chant of Calamity ”


Yizi bergerak sangat cepat ke arah Shin dan mengayunkan ke dua arah ketika ia sampai di depan Shin dalam sekejap mata.


Energi merah dan putih terdapat di pedang Yiza yang melepaskan aura panas dan dingin.


Shin yang terkejut seketika membuat tubuhnya lemas dan memutar kakinya yang bergerak ke arah dada Yizi.


Kedua serangan tiba bersamaan sehingga kaki dari Shin berbenturan dengan dua pedang Yizi.


Ini panas dan juga dingin !


Shin terkejut karena kakinya seakan membeku dan akan meleleh.


Benturan mereka berdua hanya sebentar kemudian keduanya kembali menatap.


Shin bergerak sangat cepat dan meloncat - loncat ke lantai udara seperti seekor harimau yang mengejar mangsanya.


Yizi terkejut tetapi kemudian ia bersiap akan pedangnya , menunggu serangan dari Shin yang akan tiba.


“ Tiger Art : White Energy Claw ”


Shin bergerak dengan sangat cepat dengan mengayunkan tangannya yang terdapat energi seperti cakar berwarna putih.


Yizi yang telah bersiap segera mencoba menangkis serangan dari Shin , tetapi yang ia tidak tahu adalah Shin sangat ulet ketika ia menggunakan elemen angin.


Cakar dari Shin yang awalnya akan berbenturan dengan salah satu pedang Yizi secara mengejutkan meleset dan bergerak ke arah leher Yizi.


“ Gawat ! ” ucap Yizi yang kemudian ia menggertakkan gigi.


Krs....


Cakar dari Shin menggores leher dari Yizi sehingga mengeluarkan darah.


Setelah mendapatkan luka Yizi seperti menahan rasa marah akan dirinya.


“ Ice Fox Form ”


4 ekor tiba - tiba muncul di bagian belakang Yizi dan kobaran api dingin menyelimuti dirinya dan menyembuhkan dengan kecepatan yang sangat ekstrim.


Penyembuhan alami yang sungguh liar biasa !


Shin kagum akan penyembuhan yang di miliki oleh Yizi karena ia dapat menyembuhkan diri tanpa menggunakan energi sihir sedikit pun ketika bertransformasi menjadi bentuk rubah ekor 4 , seolah tubuh terlahir kembali semua sel - sel tubuh meningkat dengan sangat tajam.


“ Lanjutkan ke ronde selanjutnya ! ” ucap teriakan dari Yizi yang tubuhnya di selimuti oleh kobaran api berwarna biru.


Pedang dari Yizi juga berkobar akan elemen api dingin yang membuat udara di sekitar menjadi lebih dingin seolah berada di gunung es.


( Maaf jika kurang menarik , ini hanya untuk bersenang-senang )


( Enjoy and always be happy )