The Journey To The Edge Of Power

The Journey To The Edge Of Power
91 [ Beatrix Dan Fania Di Kota Water Seven ]



Fania melihat ke arah kanan dan kiri hingga sekeliling ruangan .


“ Kak ! Apakah tuan adalah seseorang yang sangat penting di kota ini ” tanya Fania kepada Hinata dengan rasa penasaran yang tinggi.


Hinata yang mendengar itu melihat ke arah Fania kemudian ia tersenyum.


“ Apakah kakak Shin tidak memberitahu mu ” tanya Hinata dengan senyum manis yang ia arahkan ke arah Fania.


“ Kakak Shin !? Bukan tuan Muzan ! ” Fania menjadi lebih kebingungan mendengar nama dari Shin.


Bahkan Beatrix juga harus mengerutkan kening mendengar itu.


“ Ah... Kalian adalah orang - orang yang di bawa suami ku yah... ” di tengah kebingungan yang di miliki oleh Fania dan Beatrix sebuah suara wanita menyadarkan mereka.


“ Perkenalkan aku adalah istri pertama Shin atau biasa kalian sebut dengan tuan Muzan ” ucap Sylp menjelaskan.


Di tubuh Shin terdapat bagian dari Sylp sehingga Sylp akan sangat mudah untuk melihat apa yang terjadi dengan kondisi atau situasi yang di alami oleh Shin, sehingga ia mengenal Fania dan Beatrix.


“ Istri ! Apakah anda adalah istri dari tuan ! ” ucap Fania dengan polos.


Sylp tersenyum melihat wajah polos dari Fania yang sepertinya tidak mengerti apapun.


“ Benar ! Mulai sekarang panggil aku dengan nyonya Sylp ” ucap Sylp dengan senang.


“ Nyonya Sylp ! ” ucap Fania dengan perasaan gugup yang secara tiba - tiba.


Fania yang tidak pernah memiliki tuan wanita sangat terkejut , karena Fania adalah seorang iblis yang memiliki garis darah tidak murni atau campuran sehingga ia mendapatkan pandangan jijik dari iblis manapun seolah ia adalah tikus buangan yang sering tidur di tempat sampah.


“ Haha... Gadis manis ! ” ucap Sylp dengan tawa kecil yang membuat Fania dan Beatrix menjadi lebih canggung.


“ Suara dan wajah wanita ini benar-benar di luar nalar ” batin Beatrix dengan wajah murung setelah melihat kecantikan dari Sylp.


“ Suara dan wajah nyonya benar - benar indah ” ucap Fania yang membuat senyuman dari Sylp semakin melebar.


“ Haha... gadis yang lucu ” ucap Sylp yang berjalan ke arah Fania dan mengelus rambut lembut Fania.


Kembali ke tempat Shin


Setelah beberapa saat berbicara dan mendiskusi , semuanya sepakat bahwa Shin yang akan melakukan pertempuran yang mungkin membuat kota Water Seven semakin terkenal walau itu tanpa di sengaja.


“ Suamiku apakah kamu yakin akan pergi sendirian untuk mencegah mereka ” ucap Ling dengan penuh rasa kekhawatiran.


“ Haha... Jangan meremehkan suamimu ini , aku akan kembali dengan membawa kepala siapapun yang ingin membunuh ku ” ucap Shin dengan rasa percaya diri.


“ Ku harap begitu ” ucap Ling dengan senyum masam.


Ling sebenarnya sangat menolak keputusan dari Shin tetapi karena rasa percaya akan kekuatan Shin membuatnya menjadi lebih tenang dan mengurangi rasa khawatirnya.


Setelah itu semua orang pergi dari sana dan melakukan tugas dan kegiatannya masing - masing.


Shin keluar bersama dengan Ling dan langsung menuju ke ruangan tamu untuk para pengunjung.


“ Kakak kamu kembali , lalu apakah kakak memiliki oleh - oleh untuk ku , tadi aku melupakannya ” ucap Hinata dengan semangat ketika melihat ke arah Shin.


Shin menghela nafas dan ia kemudian mengeluarkan sebuah senjata tombak dengan bahan utama dari kristal lautan.


“ Simpan baik - baik , ini adalah sebuah senjata yang mungkin sangat bermanfaat untuk mu karena tubuh mu memiliki bakat untuk menggunakan sebuah senjata berupa tombak ” ucap Shin.


“ Hehe.. begitu cantik , akan ku simpan baik - baik ” Hinata dengan senang menerimanya dan keluar dari ruangan dengan semangat yang membara.


“ Suamiku apakah kau tidak terlalu memanjakannya ” ucap Ling melihat ke arah Shin.


Shin tersenyum lalu ia melihat ke arah Sylp.


“ Tidak masalah , biarkan dia menikmati hidup dahulu sebelum bencana yang mungkin membuatnya sengsara akan tiba ” ucap Shin dengan tersenyum.


“ Apakah kau tidak terlalu jahat ! ” ucap Yue yang kemudian tiba - tiba muncul di ruangan tersebut.


“ Apa maksudmu dengan itu istri ku ” ucap Shin kepada Yue dengan tersenyum.


“ Hah... Kau benar-benar terkadang penuh dengan kebohongan tetapi juga tidak ingin menyembunyikan kebohongan juga ” ucap Yue dengan alis berkerut.


“ Itulah kenyataan dan akan selalu menjadi kenyataan apapun yang akan terjadi ” ucap Shin yang kemudian melihat ke arah Fania dan Beatrix.


Shin tersenyum ke arah mereka berdua


“ Maaf telah menipu kalian tetapi sekarang disinilah kalian akan tinggal dan menjalani hidup ” ucap Shin dengan tulus.


“ Tuan apakah anda benar - benar tuan Muzan ! ” ucap Beatrix dengan ragu.


Shin kemudian berubah menjadi sosok Muzan yang merupakan manusia setengah binatang.


Beatrix kemudian memcocokan aura dan gaya matanya melihat.


“ Benar ! Orang ini adalah tuan Muzan ! ” batin Beatrix dengan terkejut.


“ Jadi apakah kau sudah dapat membedakannya ” ucap Shin yang berubah kembali ke penampilan aslinya.


Beatrix menganggukkan kepala dan di ikuti dengan tatapan yang terkejut.


“ Anda memang tuan Muzan tetapi kenapa tuan harus menyamar atau merubah penampilan yang terlihat buruk rupa ” ucap Beatrix dengan bingung.


“ Haha... nantikan masa depan dan kau pasti akan mengetahui sendiri apa yang membuat ku melakukan ini ” ucap Shin dengan tersenyum.


Beatrix terdiam tetapi ia juga merenung apa yang di katakan oleh Shin.


“ Oh yah maaf melupakan perkenalan , baiklah baiklah aku mulai dari yang paling cantik di sini ” ucap Shin yang menunjuk ke arah Sylp.


“ Dia adalah istriku yang pertama yaitu Sylp, yang di sana yang memiliki penampilan seperti layaknya seorang ksatria ataupun petarung kuat adalah istri keduaku Ling dan terakhir yang memiliki gaya seorang bangsawan adalah istri ketigaku Yue , kalian bisa menghormati mereka layaknya menghormati diriku ” ucap Shin yang kemudian melihat ke arah Fania dan Beatrix.


“ Bagaimana pun kami adalah pelayan anda tuan , jadi akan kami lakukan ” ucap Beatrix dengan tersenyum dan mengangguk patuh.


Shin menganggukkan kepala lalu ia memberikan beberapa cincin penyimpanan yang ia miliki.


“ Simpan jika di perlukan , di sana terdapat ratusan koin emas dan beberapa senjata yang mungkin dapat kamu atau Fania gunakan ” ucap Shin dengan santai.


Beatrix yang ingin menolak seketika terdiam, ia lalu melihat ke arah Fania untuk beberapa saat dan tidak butuh waktu yang lama Beatrix memasangkan cincin penyimpanan tersebut dijarinya.


“ Terima kasih , terima kasih tuan akan kebaikanmu ” ucap Beatrix yang mengatakan secara berkali - kali.


“ Tidak biasanya kamu menanyakan hal yang aneh seperti itu , bukankah gaya mu biasanya adalah sampah harus di buang ! ” ucap Shin yang kemudian menatap ke arah yang sangat jauh.


Sylp hanya tersenyum untuk menanggapi kata-kata Shin.


“ Baiklah kalian pikirkan nanti saja , untuk sekarang lebih baik lakukan hal - hal yang menyenangkan ” ucap Shin yang melihat ke semua orang dengan tersenyum.


Semua orang hanya menganggukkan kepala dan melakukan hal - hal yang menyenangkan karena mungkin ini adalah waktu untuk Shin melakukan reuni sebelum melakukan berpergian lagi dan membutuhkan waktu yang lebih lama.


Beberapa hari kemudian


Shin telah mengetahui seluruh situasi yang terjadi di kotanya saat ia tidak ada di sana.


“ Kerajaan itu benar-benar tidak sadar diri ” ucap Shin yang menatap ke arah sebuah peta yang memperlihatkan seluruh benua.


“ Maksud anda adalah Kerajaan Bulan Perak ” ucap One dengan nada datar.


Shin tidak menjawab tebakan dari One ia hanya melingkari beberapa tempat pada peta tersebut.


Setelah itu Shin mengeluarkan beberapa jarum yang merupakan senjata rahasia.


Shin melemparkan jarum - jarum ke beberapa tempat yang ada di peta tersebut.


One , Four dan beberapa Jendral dan komandan yang ada disana sangat kebingungan akan tindakan yang di lakukan oleh Shin.


“ Ok , karena kalian sudah siap seperti yang telah ku lihat , aku akan menjelaskan apa yang telah ku lakukan walau terlihat seperti tindakan anak kecil ”ucap Shin yang menjelaskan dengan jelas.


“ Beberapa tempat yang ku beri tanda dengan tanda lingkaran adalah tempat untuk kalian bersiap - siap penyerangan sedangkan tempat yang terdapat jarum adalah tempat untuk kalian lindungi apapun yang terjadi ” ucap Shin yang kemudian melihat ke arah semua orang yang ada di sana.


Four melihat ke peta untuk sejenak dan berusaha mengingat kota dan wilayah apa saja yang di tandai oleh Shin.


“ Tuan ! Kenapa wilayah yang kau tandai adalah tempat - tempat yang sangat berpengaruh di benua ” ucap Four dengan ragu.


“ Pertanyaan yang bagus ”


“ Dunia ini ku perkiraan akan terjadi peperangan yang benar-benar luar biasa hebat , dan wilayah - wilayah yang ku perintahkan lindungi adalah tempat untuk kalian mewaspadai dan melindungi mereka dari gempuran ras iblis yang sangat menjengkelkan itu ” ucap Shin.


“ Peperangan yang luar biasa ! Lalu apakah kita perlu bersiap juga tuan ” ucap salah satu Jendral muda dengan tampilan wajah muda yang bersemangat.


“ Bersiap ! , Terserah karena aku akan menyerahkan semuanya kepada Four dan salah satu istri ku yang merupakan Jendral di pasukan ” ucap Shin.


Mendengar kata - kata dari Shin semua orang yang ada di sana segera mengetahui siapa saja yang di maksud.


“ Lalu apakah ada rencana lain ! ” ucap Shin yang matanya melihat ke seluruh ruangan.


Untuk beberapa saat suasana menjadi diam , karena tidak ada siapapun yang memiliki ide apapun untuk peperangan ini.


Hah... Jika seperti ini aku akan sangat ragu untuk melepaskan kotaku kepada orang-orang ini.


Shin hanya dapat menghela nafas lelah dengan hal ini.


“ Kalau begitu segera lakukan tugas kalian masing - masing , aku serahkan semuanya kepada kalian berdua , Four , Ling” ucap Shin melihat ke arah seorang wanita yang telah memakai Full Armor.


Keduanya tidak menjawab tetapi hanya menganggukkan kepala .


Setelah itu Shin pergi bersama One ke tempat Hydra .


Haha... Pemandangan yang tidak berubah !


Hydra masih tidur di tempat sebelum Shin melakukan perjalanan.


Ular ini benar - benar tidak berubah sama sekali , apakah ini memang benar-benar karakter nya.


Shin hanya dapat bertanya - tanya dengan karakter yang di miliki oleh Hydra.


“ Hei ular , apakah kamu tidak memiliki rasa puas akan tidurmu ” ucap Shin dengan nada yang mengejek.


Mendengar kata - kata ejekan dan suara yang sangat familiar membuat Hydra membuka mata dengan urat - urat di kepalanya yang muncul karena menahan amarah.


“ Dasar manusia sialan ! Kau selalu menggangguku ” ucap Hydra dengan mata melotot.


“ Apakah kau telah melupakan diriku ular besar ! ” ucap Shin yang masih berteriak ke arah Hydra tanpa rasa takut sama sekali.


Untuk beberapa saat Hydra terdiam ia kemudian melihat ke arah Shin dengan seksama.


“ Ka... Kau Shin , kapan kau telah kembali ! ” Hydra seketika terbangun ketika melihat Shin yang tersenyum ke arahnya.


“ Haha... Apakah kau tidak memiliki kegiatan lain , kenapa hanya tidur saja apakah kau tidak bosan ! ” ucap Shin yang secara perlahan berdiri di lantai angin dan terbang untuk beberapa meter di atas tanah.


“ Sialan ! Tidak gadis kecil itu tidak dirimu , kenapa selalu menggangguku ” ucap Hydra dengan urat kemarahan yang terlihat di keningnya.


Energi sihir melonjak di sekitar Hydra dengan sangat menekan membuat tanah bergetar , tetapi sayangnya di sana hanya ada Shin dan One yang dapat menahan tekanan energi yang di lepaskan oleh Hydra dengan cukup kuat.


Shin hanya tersenyum tanpa menghentikan kemarahan yang di lepaskan Hydra karena kemarahannya.


Tetapi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Hydra kembali tenang.


“ Hah... Jadi apa yang membuat mu kembali , aku rasa kau tidak mungkin berkeliling dunia dengan waktu sesingkat ini ” ucap Hydra yang menatap ke arah Shin.


“ Yah benar sekali , aku tiba - tiba mendapat kabar bahwa peperangan yang terjadi di dunia ini semakin dekat dan aku sangat khawatir akan kondisi kota dan keluarga ku sehingga aku dengan cepat kembali ” ucap Shin yang berpikir.


“ Cih... Kau benar-benar sangat naif , bukankah sudah ku katakan bahwa aku di sini akan menjaga mereka tetapi kau tetap masih khawatir ” ucap Hydra dengan mengeluh.


“ Hehe... Aku sangat mempercayaimu tetapi apakah kau akan ikut perang dalam situasi dunia saat ini ” tanya Shin.


“ Perang ! Haha... Benar - benar kegiatan yang membosankan , lebih baik aku tidur dari pada melihat berbagai penderitaan dan pengkhianatan yang benar-benar membuat ku sangat jengkel ” ucap Hydra dengan senyum khasnya.


“ Sudah ku duga ! Walau aku juga sangat yakin bahwa kamu akan ikut perang ketika keluargaku benar - benar terdesak , tetapi aku Shin tidak ingin mengandalkan seseorang untuk membantu ku dalam menghadapi tanggung jawabku yang harus ku penuhi ” ucap Shin yang menatap tajam ke arah Hydra. 95


“ Heh... Tetap bagaimanapun kalian manusia adalah makhluk yang egois dan penuh ambisi yang mustahil ” ucap Hydra berkata dengan nada yang mengejek.


Shin mengabaikan ejekan yang di katakan oleh Hydra tetapi ia kemudian membalikkan badan.


“ Baiklah Hydra aku akan segera berurusan dengan para hama jadi selamat tinggal ” ucap Shin yang berjalan pergi.


To Be Continue