
................
[ 85 ]
Ketiganya kemudian pergi ke hutan
Saat di hutan Shin memberikan perintah kepada Beatrix untuk menyerangnya dengan sekuat tenaga.
“ Beatrix apa yang biasanya kamu gunakan ketika bertarung dengan serius apakah menggunakan sihir , seni bela diri tangan atau senjata ” ucap Shin bertanya.
“ Sihir dan senjata Battle Axe tuan ! ” ucap Beatrix
Battle Axe , apakah itu senjata kapak yang ukurannya berkali - kali lipat dari pada kapak biasanya.
“ Lalu apakah terdapat senjata seperti itu di desa rubah ini ? ” tanya Shin ke arah Beatrix.
“ Entahlah tuan tetapi di wilayah Iblis senjata itu sudah seperti senjata pedang , sangat umum dan normal ” ucap Beatrix mengingat kembali.
“ Jadi dirimu berasal dari wilayah iblis yah... ” ucap Shin .
“ Baiklah biarkan aku pergi ke desa dulu untuk mencari senjata mu sekalian aku juga mengumpulkan senjata yang akan ku simpan di cincin penyimpanan ku ” ucap Shin yang kemudian menghilang dari sana.
Beberapa saat kemudian Shin kembali dan langsung memberikan senjata yang akan di gunakan oleh Beatrix.
Ketika Beatrix mengambil senjata itu , sebuah energi sihir iblis yang berada di tubuh nya segera terhubung ke senjata dan membuat senjata tersebut bergetar.
Senjata itu seperti hidup padahal ketika aku membawanya seperti membawa sebuah kapas.
Shin tidak tahu bahwa senjata itu memiliki berat yang sangat berat , bahkan hanya satu senjata seperti itu memiliki berat 100 kg dan Shin membeli senjata seperti itu 100 buah yang di antaranya terdapat senjata yang berada di tingkat Intermediate dan High.
“ Tuan saya sangat berterimakasih , senjata ini menjadi terikat dengan ku akibat dari skill yang ku miliki ” ucap Beatrix dengan gembira.
“ Karena Skill ? Memangnya apa skill mu itu sehingga bahkan senjata yang tidak hidup sekalipun dapat menjadi hidup ” ucap Shin sambil melihat ke senjata Battle Axe.
Beatrix tersenyum sambil mengelus ujung tajam dari Battle Axe tersebut.
Battle Axe yang di pegang oleh Beatrix adalah sebuah senjata dengan tampilan warna emas , beberapa goresan warna merah dan terdapat sebuah gantungan di bawah ganggangnya yang bersimbolkan iblis bertanduk dua dengan senyum kejam.
( Sumber : https://www.pngwing.com/en/free-png-hjayh )
( Bayangkan Seperti itu dengan warna emas dan beberapa garis merah serta ukuran sangat besar hingga melebihi tinggi dari Shin )
“ Salah satu Skill yang sangat jarang di ras iblis , yaitu Skill Owner ” ucap Beatrix.
Skill Owner !? Baru kali ini aku mendengar skill dengan nama yang aneh ?
“ Nama yang unik lalu apakah kamu tahu apa kemampuan dari skill Owner tersebut ? ” ucap Shin penasaran.
Bukan jawaban tetapi Beatrix hanya menatap ke arah Shin dengan waktu yang sangat lama.
Pada saat itulah seketika Shin sadar akan perkataan nya , ia tidak sadar bahwa ia menanyakan sesuatu yang sangat rahasia bagi Beatrix.
“ Ah maaf maaf aku tidak sadar , ok kita mulai saja pertarungan nya ” ucap Shin yang kemudian melompat menjauh sambil melihat ke arah Beatrix.
Beatrix menganggukkan kepala lalu ia memposisikan tubuhnya dengan kuda - kuda pertarungan.
“ Battle Ax Technique: Onslaught of Destruction ”
Beatrix mengayunkan Battle Axenya ke tanah yang seketika muncul sebuah gelombang gempa bumi di tanah.
Bersamaan dengan itu ledakan kawah tiba - tiba muncul dan seperti berjalan ke arah Shin secara perlahan.
Duar... Duar... Duar...
Ledakan demi ledakan terus bergerak sangat cepat ke arah Shin , tetapi Shin sendiri hanya diam tanpa menghiraukan teknik yang di ayunkan oleh Beatrix.
Tetapi kemudian seperti menabrak sebuah dinding , ledakan tanah itu berhenti di depan Shin dan hanya meledak di sana.
“ Teknik apa itu , kenapa dapat menahan serangan ku bahkan teknik yang sangat kuat dapat di tahan ” batin Beatrix dengan terkejut.
Beatrix tidak dapat berkata-kata untuk mengucapkan apa yang ia lihat , karena baru kali ini ia melihat sebuah serangan yang di tahan oleh sesuatu yang tidak dapat di lihat.
“ Jangan terkejut , ini adalah salah satu teknik ku yang ku sebut dengan dinding transparan , seperti namanya teknik ini tidak terlihat tetapi masih terwujud hanya seseorang yang memiliki persepsi energi dan peka akan perubahan alam yang akan tahu dimana letak dinding transparan ” ucap Shin menjelaskan.
Shin tidak takut di khianati karena Beatrix telah di segel dengan segel kontrak yang akan membuatnya tanpa sadar tidak berkeinginan untuk berkhianat.
Saat Beatrix terkejut Shin muncul di belakang Beatrix dan mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya di punggung Beatrix.
“ Jangan biarkan dirimu lengah karena ketika kau lengah walau hanya sedetik kau akan berakhir dengan sebuah kekalahan.” ucap Shin yang mundur kembali.
Mendengar suara Shin dari belakang langsung membuat Beatrix sadar dan segera mengayunkan Battle Axe nya dengan sangat kuat ke arah suara Shin yang ia dengar.
“ Demonic Style Magic : Dark Needles ”
Beatrix menyentuh tanah dengan telapak tangannya yang kemudian di seluruh area yang dalam jarak radius 100 meter di penuhi dengan jarum kegelapan yang sangat tajam.
Shin melompat hingga berakhir berdiri di lantai udara yang ia buat.
“ Teknik mu memang kuat tetapi juga sangat lemah ” ucap Shin yang masih diserang oleh Beatrix dengan sangat kuat.
“ Andai kamu dapat mengontrol kekuatan , energi dan emosimu yang saat ini maka aku yakin kamu memiliki peluang untuk menciptakan sebuah teknik walau sederhana tetapi sangat mematikan ” ucap Shin yang terus menghindari serangan yang berupa jarum kegelapan.
Jarum Kegelapan di luncurkan seperti sebuah misil di radius 100 dan itu terus menerus menyerbu ke arah Shin yang hanya 2 meter di atas tanah.
Emosi yang di katakan oleh Shin adalah Beatrix ketika terkejut dan kaget.
Konsentrasi dan keseimbangan yang di lakukan Beatrix seketika menjadi campur aduk tanpa memikirkan keseimbangan yang ada ketika emosinya sedang naik.
Walau pun Beatrix tidak berniat untuk melukai Shin tetapi karena kekuatan yang tidak terkendali ia memiliki kemungkinan untuk melukai siapapun jika itu benar-benar di luar batas , itulah yang membuat lebih bingung Beatrix.
Shin tersenyum kemudian ia mencoba menyerang ke arah Beatrix dengan kemampuan yang paling rendah buatnya.
“ Wind Style Magic : Hollow Bullet ”
Jari tengah dan jari telunjuk Shin di satukan dan ia memposisikan seperti menembak Beatrix dengan sebuah pistol.
Duar...
Beatrix yang dalam keadaan emosi agar serangannya dapat mengenai Shin seketika tersadar ketika ia mendapatkan serangan dari Shin.
“ Apakah sudah tenang !? ” tanya Shin melihat ke arah Beatrix.
Beatrix kemudian menganggukkan kepala dengan ucapan dari Shin.
“ Aku akui kekuatanmu memang kuat tetapi itu jika kamu dapat mengontrol emosimu lebih baik dari dari sekarang ” ucap Shin.
“ Tetapi tuan ketika aku tidak memiliki emosi seperti ambisi untuk mengalahkan musuhku atau emosi amarah , kekuatanku terasa lebih lemah dan menurun” ucap Beatrix menjelaskan.
“ Memang ! Tetapi jika kamu hanya menggunakan emosimu tanpa menggunakan semua pengalaman dan pikiran mu apa bedanya kamu dengan seekor binatang buas ” ucap Shin.
Beatrix melihat ke arah dirinya kemudian melihat ke arah senjatanya yang seakan terdapat nafsu pertarungan yang tidak ada habisnya.
“ Menurutmu apa yang akan ku lakukan untuk mengatasi hal ini ” ucap Beatrix bertanya ke arah Shin.
Shin tersenyum lalu menganggukkan kepala dengan lembut.
“ Aku tahu bahwa dirimu sendiri memiliki solusi sendiri akan kondisimu tetapi karena kamu tidak yakin akan apa yang kamu pikirkan sehingga kamu tidak ingin melakukannya bukan ” ucap Shin.
Beatrix terkejut dengan jawaban yang di berikan oleh Shin , padahal memang benar apa yang di pikirkan oleh Shin.
Beatrix berpikir untuk melakukan meditasi atau melakukan latihan di bawah tekanan tetapi ketika ia menjadi budak ia sama sekali tidak memiliki waktu untuk melakukan itu walau hanya sebentar.
“ Tuan saya memiliki permintaan yang mungkin akan membuat mu repot , saya pelayan anda dan tugas ku bukanlah membuat tuan ku menjadi repot hanya karena diri ku ” ucap Beatrix dengan mata tegas.
Wanita ini benar - benar keras kepala !
Walau ia harus menyusahkan tuannya bukan berarti tuannya tidak harus membantunya , sungguh benar - benar !
Shin mengeluh di dalam hatinya tetapi ia tidak mengeluarkan apa yang ada di pikirannya karena itu bukan gayanya yang terus terang.
“ Tidak masalah jika menyusahkan ku tetapi lain cerita jika kau mengkhianati ku ” ucap Shin yang menepuk punggung Beatrix yang kemudian pergi ke arah untuk kembali ke desa rubah.
“ Tunggu tuan , apakah anda bisa melakukannya sekarang karena aku ingin segera mencobanya ” ucap Beatrix terburu - buru karena ia melihat bahwa Shin akan bergerak kembali ke Desa Rubah .
Shin berhenti lalu ia melihat ke arah Beatrix untuk mendengar apa yang ia inginkan.
“ Sekarang ! Kau yakin lalu apakah kamu tidak kelelahan setelah mengeluarkan teknik sebelumnya ? ” ucap Shin penasaran.
Beatrix menggelengkan kepala lalu ia meletakkan ke tanah dan berkata dengan hati - hati.
“ Tuan biarkan saya merasakan tekanan yang anda keluarkan ketika berada di penginapan sebelumnya , bersamaan dengan itu saya juga ingin melakukan meditasi ” ucap Beatrix dengan memohon secara hati - hati.
Shin melihat ke arah Beatrix dan menganggukkan kepala , Shin sangat kagum dengan semangat yang di miliki oleh Beatrix.
Shin dan Beatrix berjalan kembali ke arah hutan yang lebih dalam karena di sana lebih memiliki suasana tenang dan juga mencengkam.
“ Apakah di sini ! ” ucap Shin yang melihat suasana hutan yang sangat hening.
Beatrix Menganggukkan kepala dan ia duduk bersila sambil mengobarkan energi sihir yang besar.
Shin langsung melepaskan momentum angin yang sama dengan tekanan yang ia keluarkan ketika di penginapan.
“ Berat ! Sangat berat ! pantas saja semua orang yang ada di penginapan sebelumnya harus tunduk , mereka pasti tidak akan kuat untuk menahan tekanan seperti ini jika di tingkatkan ! ” batin Beatrix dengan menahan gemetaran tubuhnya.
Walau tekanan yang sangat berat , Beatrix masih menahannya dengan sekuat tenaga dan masih menahan mentalnya yang sangat ingin menyerah.
Tanpa di sadari olehnya Beatrix bahwa tanah yang ia duduki telah muncul keretakan akibat dari tekanan yang di berikan oleh Shin.
Shin masih melihat ke arah Beatrix , ia sangat penasaran sampai mana Beatrix akan bertahan dari tekanan yang ia berikan.
Walau bukan sepenuhnya kekuatan yang ia miliki tetapi Shin sangat yakin bahwa kekuatannya hanya dapat di tahan oleh seseorang yang berada di tingkatan Jendral iblis dan di atas nya.
Tubuh dari Beatrix seakan terasa perlahan di buat menjadi menjadi tumbukan daging oleh tekanan , semakin dan semakin lama ia menjadi tertunduk dan akhirnya ia pingsan karena kelelahan bahkan energi sihir yang besar yang merupakan energi yang ia kendalikan agar konsentrasinya menjadi lebih kuat harus bubar karena Beatrix terlanjur pingsan dengan tubuh yang sangat lemah dan energi yang hampir kosong.
Untungnya gadis ini masih menyisahkan energi sihirnya kalau tidak maka kemungkinan hanya ajal yang akan menemuinya.
Sial ! Aku benar-benar ceroboh , bisa - bisanya karena rasa penasaran sehingga aku melupakan bahwa ketika energi sihir habis itu dapat menyebabkan sebuah kematian yang menggenaskan.
Shin sangat menyesal dengan kecerobohannya karena jika Beatrix benar - benar menghabiskan energinya maka hanya penyesalan yang akan Shin alami.
Momentum angin dari Shin segera hilang di gantikan dengan sebuah cahaya hijau yang menyembuhkan Beatrix secara perlahan.
Shin menciptakan Release Magic ke arah Beatrix yang berupa penyembuhan area sekalian ia menunggu waktu malam.
Shin tidak khawatir akan kondisi dari Fania karena Shin telah menciptakan sebuah klon yang ada di desa rubah untuk menjaganya.
Hingga waktu malam tiba dengan sangat cepat , walau begitu Beatrix masih belum bangun itu sudah menunjukkan seberapa banyak energi yang di keluarkan untuk terus bertahan dari tekanan yang Shin berikan.
Wanita ini masih belum bangun , kurasa aku terlalu berlebihan dalam mengeluarkan kekuatan.
Shin kemudian mengangkat tubuh Beatrix dan membawanya kembali ke desa rubah.
Saat tiba di desa Rubah , Shin melihat Fania duduk termenung di depan penginapan sendirian.
“ Fania ! Kenapa kamu ada di sini , apa yang terjadi sehingga kamu tidak masuk ke dalam kamar penginapan ? ” tanya Shin karena melihat Fania yang sepertinya termenung sendirian.
Mendengar suara dari Shin seketika membuat Fania menjadi gembira.
“ Tuan kamu kembali , lalu apa yang terjadi dengan kak Beatrix ” tanya Fania dengan khawatir akan kondisi dari Beatrix yang kini di gendong oleh Shin.
“ Tidak ada masalah hanya saja Beatrix kelelahan dari latihan dan sebaiknya kamu segera tidur karena ini sudah malam ” ucap Shin memberi nasehat ke arah Fania dengan lembut.
Fania mengangguk lalu ia segera pergi kekamar yang di pesan Shin hanya untuk dirinya.
Shin juga pergi ke kamar milik Beatrix dan meletakkannya di sana dengan sangat lembut.
Setelah itu ia melakukan meditasi lagi untuk lebih mengendalikan kekuatan alam agar lebih stabil dan mudah untuk di gunakan.
Keesokan harinya
Fania mendatangani Shin dan tersenyum ke arah Shin.
“ Hei gadis kecil apa yang kamu ingin kan ! ” tanya Shin yang paham akan tingkah Fania yang aneh.
( Maaf jika kurang menarik , ini hanya untuk bersenang-senang )
( Enjoy and always be happy )