The Journey To The Edge Of Power

The Journey To The Edge Of Power
[ 78 ] [ Salah Satu Kota Iblis ]



( 78 )


“ Lalu apa hubungannya dengan ku ” ucap Shin yang tidak lagi dengan nada yang santai.


“ Karena kekuatan mata ini saya telah memiliki banyak musuh bahkan orang yang memanfaatkan saya ” ucap nona muda itu dengan tulus.


“ Hm... Begitu , lalu jika aku membantumu apakah aku akan mendapatkan apa ? ” tanya Shin bertanya hanya sekedar untuk melihat apakah ucapannya benar atau salah.


Shin hanya ingin melihat jika nona muda ini menawarkan uang maka Shin akan langsung menolak tetapi jika ia mengatakan bahwa Shin dapat meminta apapun Shin akan melakukan nya.


“ Itu... Itu... Saya tidak yakin dapat memberikan apa yang anda inginkan tetapi saya akan memberikan semua yang saya miliki bahkan jika anda meminta tubuh saya , saya akan tetap memberikannya ” ucap nona muda itu dengan sangat tulus dan tanpa ada rasa kebohongan.


Shin tersenyum , kemudian ia memberikan sebuah kertas mantra yang hanya para petinggi kotanya yang dapat memilikinya.


Kertas mantra tersebut adalah sebuah kertas mantra yang membuat seseorang dapat mengetahui dimana keberadaan Shin berada selama berada pada jarak 3 Km.


“ Ambillah anggap itu sebagai jaminan ” ucap Shin kepada nona muda itu untuk segera menyimpan nya.


“ Dari awal kamu belum memperkenalkan diri dan apa yang kamu butuhkan bukankan itu adalah suatu hal penting ketika seseorang meminta bantuan kepada orang lain ” ucap Shin yang kini berkata dengan tersenyum .


Mendengar perkataan dari Shin seketika membuat wanita muda itu menjadi gugup dan panik.


“ Ma… Maaf tuan , biarkan saya memperkenalkan diri ”


“ Nama saya Estiana Hardiyani, putri ke tiga dari keluarga Duke Hardiyani ” ucap nona muda itu yang bernama Estiana .


“ Jadi kau adalah putri dari seorang Duke , lalu untuk apa kau membutuhkan bantuan ku yang orang asing , padahal kamu dapat mendapatkan sangat banyak penjaga untuk kamu gunakan ” ucap Shin dengan alis berkerut.


“ Yah jika itu dulu tetapi karena kedua kakak ku yang berselisih untuk mendapatkan tahta seorang Duke membuat ku menjadi takut untuk ikut campur , bahkan jika aku tidak ikut campur sekalipun aku akan diikut campurkan tanpa keinginanku ” ucap Estiana dengan sedih.


“ Begitu ! Baiklah aku akan menerima kamu menjadi murid ku tetapi ini hanyalah sementara , mungkin aku tidak akan pergi ke kediamanmu karena aku juga memiliki keperluan tersendiri di suatu tempat ” ucap Shin yang kemudian mengulurkan tangan.


“ Panggil saja aku Muzan , guru Muzan ” ucap Shin dengan tersenyum.


Estiana tersenyum karena senyuman milik Shin seperti sebuah senyuman paling indah buatnya , karena dari ia berumur 13 tahun Estiana selalu melihat berbagai senyuman palsu.


Bahkan kakak keduanya memiliki senyuman yang begitu palsu seolah ia tersenyum kepada Estiana hanya untuk sesuatu yang di paksakan.


“ Baik Guru , lalu bagaimana anda mengajari ku jika guru tidak ikut dengan ku ” ucap Estiana dengan penasaran.


Shin kemudian mengumpulkan kekuatan angin yang kemudian membentuk sebuah kristal yang berbentuk bintang , Shin juga menambahkan beberapa energi roh yang ia miliki untuk terhubung.


Estiana bingung dengan maksud dari Shin yang menciptakan sebuah kristal bintang yang berputar - putar ditangannya.


Melihat wajah kebingungan dari Estiana, Shin segera memberi tahu tentang maksud ia memberikan itu.


“ Simpanlah ini ke cincin penyimpanan mu , karena kristal ini adalah sebagian energi yang aku miliki untuk membimbing mu dalam pelatihan ” ucap Shin menjelaskan.


Estiana terlihat ragu tetapi ia tetap menyimpannya seperti sebuah harta yang sangat berharga karena itu ia bergerak sangat berhati - hati ketika memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan.


Shin bingung dengan sikap Estiana seolah ia mendapatkan sebuah harta yang benar - benar berharga padahal menurut nya itu bukanlah sesuatu yang penting.


Kristal angin yang berbentuk bintang itu adalah energi angin yang dikonsentrasikan menjadi sebuah bentuk , bersamaan dengan itu Shin menambahkan kekuatan rohnya pada kristal angin itu untuk bagi siapapun yang menyentuh nya dalam keadaan yang tenang ia akan segera mendapat ilmu pedang yang di miliki Shin walau itu hanyalah 2 teknik pedang.


Estiana yang ragu melihat ke arah Shin dengan bingung.


“ Guru Muzan , lalu bagaimana aku menggunakan nya ! ” ucap Estiana dengan canggung.


Shin hanya menghela nafas lelah.


Hah... Anak ini apakah ia benar - benar sangat polos !


Shin hanya tidak dapat berkata-kata dengan karakter yang di miliki oleh Estiana.


Shin kemudian menyuruh Estiana kembali mengeluarkan kristal angin yang di simpan di cincin penyimpanan Estiana.


“ Kau ini sangat buru - buru sekali untuk memasukkan kedalam cincin penyimpanan mu ” ucap Shin dengan tersenyum yang hanya mendapatkan sebuah tawa kecil dari Estiana.


“ Dasar ! Kau ini ” ucap Shin dengan tawa kecil.


“ Baiklah , kau lihat kristal angin itu , letakan tangan mu dengan lembut di sana dan kosongkan pikiran ” ucap Shin yang kemudian di praktekkan oleh Estiana.


Awalnya cukup membuat kesulitan tetapi ketika Estiana telah dapat menenangkan pikirannya yang kacau Estiana sangat mudah untuk mendapatkan pengetahuan yang di tanamkan di kristal angin tersebut .


Beberapa saat kemudian


“ Guru Muzan teknik ini seperti sangat mudah dan tanpa memiliki rahasia apapun ” ucap Estiana dengan bingung.


Wajar saja jika Estiana berkata seperti itu , pelajaran akademi sihir yang biasa di lakukan oleh para bangsawan selalu memandang teknik sulit adalah teknik kuat sedangkan teknik yang sederhana maka itu bukanlah sebuah teknik yang kuat.


“ Memangnya teknik sederhana tidak akan menjadi sebuah teknik kuat yah... Estiana ” ucap Shin bertanya ke arah Estiana.


“ Dari usia 8 tahun di akademi saya selalu diajari seperti itu guru , jadi apakah itu salah ” ucap Estiana dengan kebingungan.


Shin seketika paham dengan mengapa Estiana mengatakan bahwa tekniknya sederhana dan sangat lemah.


Shin tidak menyalahkan Estiana tentang tekniknya yang terlalu sederhana tetapi terkadang kesederhanaan adalah sebuah hal yang rumit.


“ Tentu saja tidak salah dengan pengajaran yang ada di akademi mu tetapi itu juga bukan berarti benar ” ucap Shin dengan tersenyum.


“ Apa maksudnya guru ? ” ucap Estiana kebingungan.


“ Jika akademi adalah tempat belajar maka dunia luar yang bukan akademi adalah tempat untuk memahami semuanya , kau harusnya mengerti bahwa dunia itu tidak adil , dunia tidak akan memberikan sebuah tempat untuk selalu bahagia dengan bersantai - santai , artinya kamu harus mempraktekkan sendiri setiap sihir , teknik maupun teori yang ada di akademi untuk menciptakan sebuah perubahan pada kekuatan yang di miliki oleh mu” ucap Shin.


“ Walau begitu itu tidak akan semudah itu bukan ! , walau kau memiliki mata kebenaran yang dapat melihat segala hal bukan berarti mata itu maha kuasa ” ucap Shin melanjutkan.


Estiana menganggukkan kepala dan terus mendengar apa yang di ucapkan oleh Shin.


“ Jadi kau harus mengerti bahwa teknik sederhana dan lemah bukan berarti tidak berguna ” ucap Shin melihat ke Estiana.


“ Begitu guru ! Saya akan lakukan seperti yang kau minta ” ucap Estiana yang berusaha untuk mengingat nya.


“ Baiklah aku akan pergi kurasa dengan itu kamu sudah cukup , karena aku tidak mungkin datang ke kediaman mu yang mungkin di sana akan menyebabkan keributan ” ucap Shin berterus terang.


Estiana sebenarnya tahu tentang ini , tetapi ia sangat ingin memaksa tetapi ia juga tidak ingin merepotkan guru barunya.


Estiana dari kecil mengetahui segalanya melalui akademi tetapi ketika ia lulus pengetahuan itu seakan tidak berguna.


Di akademi Estiana hanya di ajarkan tentang sebuah kesopanan yang di miliki seorang bangsawan , hanya beberapa sihir dan teknik yang di ajarkan.


Sedangkan untuk ilmu seperti pedang dan sihir yang lebih luas Estiana harus mempelajari sendiri melalui buku yang ada di perpustakaan Kediaman Duke.


“ Baiklah guru jaga dirimu , ah dan simpan ini jika kau membutuhkan bantuan ku ” ucap Estiana yang memberikan sebuah token berlambang pohon beringin.


Shin menerima yang di berikan oleh Estiana kemudian ia berdiri dan pergi dari kereta itu.


Saat Shin berada di luar kereta , matanya bertemu dengan mata dari kusir yang membawa kereta Estiana.


“ Hei binatang ! Apa yang kau lihat ! Cepatlah pergi !” ucap kusir itu dengan sangat sombong.


Shin tidak menjawab cacian dari kusir tersebut ia malah berjalan pergi dari sana dengan sangat santai.


Shin berjalan di jalan yang di penuhi kerumunan berbagai ras tetapi paling banyak ras elf di kota itu.


Tidak sama dengan elf yang ada di kota Water Seven , di sana semua ras sangat ramah terhadap Shin karena mereka mengetahui seberapa kuat Shin dan seberapa kuat para bawahannya.


Dan saat ini Shin berpenampilan sangat lemah dan kurang menunjukkan bahwa ia sangat kuat , jadi siapapun akan menganggap dirinya adalah orang yang benar-benar tidak berguna , serta hanyalah seorang petualang yang berasal dari ras Half Human.


Shin berjalan berkeliling kota untuk mencari penginapan agar ia bisa tidur dengan nyenyak , tetapi sebuah kenyataan pahit membuat nya menjadi murung.


Dimanapun ia bertanya pasti sebelum Shin menjelaskan ia akan di usir dengan sangat hina seolah Shin adalah sebuah hama yang harus di hindari.


Dimanapun entah di dunia ku maupun di dunia ini ternyata semua orang itu sama.


Mereka hanya memandang dari penampilan saja , benar - benar mengecewakan !.


Shin mengeluh tetapi ia tidak mengungkapkan dengan amarah yang meluap-luap , karena dari ia kecil ia sudah melihat pemandangan yang sangat familiar ini.


Kurasa aku akan tinggal di hutan , sama seperti ketika aku dulu ingin belajar menjadi seorang pemburu iblis untuk pertama kalinya.


Shin terus berjalan hingga ia keluar dari desa tersebut dan terlihat sebuah hutan yang sangat lebat dan gelap


Shin bergerak kembali layaknya seorang harimau yang berlari bagai angin sangat cepat dan ganas.


Hingga malam pun tiba , Shin tidur di dahan pohon pada salah satu pohon paling tinggi di hutan tersebut.


Keesokan harinya


Shin berjalan kembali ke arah yang menurut hatinya karena tujuannya adalah berkeliling dunia maka Shin melakukan apa yang diinginkan hatinya.


Hingga beberapa saat kemudian Shin menemukan sebuah jalan , ia pun mengikuti nya hanya dengan berjalan kaki.


Hingga beberapa hari kemudian Shin menemukan sebuah kota yang di depan gerbang di jaga oleh dua orang ras iblis.


“ Ras iblis ! Apakah ini adalah kota milik salah satu Demon Lord ” ucap Shin bergumam.


Shin kemudian tetap berjalan tanpa adanya rasa takut yang menerpa hatinya.


“ Tuan apakah saya bisa masuk ke dalam kota ? ” ucap Shin bertanya ke arah kedua iblis yang menjaga gerbang.


Kedua iblis itu ketika melihat Shin segera mengerutkan kening , mereka bingung karena betapa beraninya Half Human di depan mereka berbicara dengan sangat santai di hadapan dua iblis.


“ Hah ! Apa kau ingin masuk ! Apakah kamu membuat lelucon ! ” suara teriakan dari salah satu iblis dengan nada penuh amarah.


Shin tersenyum lalu ia berkata kembali seperti berbicara dengan sesama rasnya.


“ Apakah tidak bisa tuan ! Bukankah di belakang anda adalah sebuah kota ” ucap Shin terus terang.


“ Memang kota ! Lalu kau ingin masuk ? Sungguh konyol ” ucap iblis yang berteriak sebelumnya ingin bergerak menyerang ke arah Shin .


Tetapi ketika ia akan bergerak sebuah tekanan berat tiba - tiba menimpa mereka membuat mereka terdiam di tempat.


“ Apa maksudmu tuan ! Apakah saya sungguh sangat konyol ” ucap Shin dengan nada polos


“ Hah ! Apakah kau meremehkan ku ” ucap iblis yang sebelumnya sangat tenang.


Walau tekanan menekan mereka tetapi Shin dapat mengatur tekanan yang ia ciptakan.


Tekanan yang di ciptakan Shin hanya berada di pergelangan kaki sehingga dua iblis itu tidak akan sadar bahwa mereka terkena sebuah tekanan dari Momentum Angin.


“ Tuan tuan sekalian apakah aku mengatakan hal yang meremehkan kalian , kurasa tidak bahkan aku tidak membicarakan kejelekan kalian ” ucap Shin dengan tersenyum.


Keduanya seketika terdiam , rasa malu segera muncul di hati keduanya.


“ Hah... Baiklah baiklah , masuk saja tetapi sebelum itu apakah kamu memiliki koin emas ” ucap dari salah satu dari mereka dengan senyum licik.


“ Koin emas ! Tentu saja saya tidak punya tuan ” ucap Shin tanpa merasa aneh.


“ Dasar bodoh ! Lalu bagaimana jika kamu ingin masuk jika koin emas saja tidak punya ! ” ucap iblis yang bernama Arca melotot dengan marah.


“ Entahlah tetapi aku punya kristal dari kelinci mutan bermata 9 ” ucap Shin yang kemudian mengeluarkan sebuah kristal berwarna merah hitam ke arah para iblis itu.


Arca dan temannya seketika menjadi berkeringat dingin melihat wujud dari kristal kelinci mutan bermata sembilan yang masih mengeluarkan aura kehidupan.


“ Bukan kah itu aura kehidupan ! ” batin Arca dengan merinding.


Keduanya merinding bukan hanya dari aura kehidupan yang masih membara di kristal merah hitam itu tetapi karena tekanan yang di miliki kristal itu sebenarnya bukan main , apalagi untuk ras seperti ras iblis yang termasuk berbakat dalam hal sihir.


“ Dari mana kamu mendapatkan kristal ini ” ucap Arca yang masih bersifat tenang.


“ Apa yang anda katakan itu , tentu saja membunuh nya bukankah ini adalah makhluk yang mudah untuk di kalahkan ” ucap Shin dengan polos.


“ Mudah kepalamu sialan ! ” ucap marah Arca yang kemudian menarik Shin dengan sangat kasar.


“ Sudahlah segera masuk saja , melihat mu aku menjadi semakin pusing dan pusing ” ucap Arca yang dengan urat marah di keningnya.


Shin menganggukkan kepala yang kemudian berjalan ke arah gerbang.


Iblis ini lebih besar ke amarah dari pada rasa takut ! sungguh aneh !


Ketika Shin berjalan memasuki gerbang langkahnya kemudian dihentikan oleh Arca yang sambil mengambil sebuah buku catatan.


“ Nama ? ” tanya Arca.


“ Muzan ! ” ucap Shin singkat.


“ Baiklah masuklah ” ucap Arca yang kemudian menyuruh Shin untuk masuk.


Shin kemudian masuk dengan tenang ke dalam kota.


Penampilan yang ada di dalam kota seperti yang di harapkan oleh Shin.


Manusia di sini benar - benar seperti seekor hewan ternak , mereka di gunakan dengan sangat buruk bahkan penampilan mereka sungguh memperhatinkan.


“Ini adalah sosok iblis yang sebenarnya ” ucap Shin dengan tangan yang bergetar.


( Maaf jika kurang menarik , ini hanya untuk bersenang-senang )


( Enjoy and always be happy )


...****************...