The Journey To The Edge Of Power

The Journey To The Edge Of Power
86 [ Sampai Di Desa Elf ]



86


“ Tuan , Apakah Fania boleh mempelajari teknik bertarung ” ucap Fania dengan gugup sehingga terlihat sangat lucu.


Shin yang melihat menjadi tersenyum dengan tingkah dari Fania yang memiliki gaya yang sangat imut dengan alami tanpa penuh tipu daya yang selama ini Shin lihat di manapun ia berada.


“ Teknik bertarung ! memang boleh sih tetapi apa yang kau ingin pelajari biarkan aku mengajari mu ” ucap Shin dengan percaya diri.


Fania senang mendengar jawaban dari Shin yang sangat ia inginkan.


“ Apakah tuan memiliki teknik untuk Seni Bela Diri tangan kosong tanpa senjata dan tanpa armor ” ucap Fania dengan mengepalkan tangan.


Shin melihat ke arah tubuh kecil dari Fania dan ia melihat ke matanya yang seketika membuat nya tersenyum kembali.


“ Dari mana kamu mengetahui tentang teknik pertarungan tangan kosong ” ucap Shin penasaran.


Fania melihat ke atas sambil mengingat ingat bahwa ia telah mendengarnya dari mana.


“ Saya mendengar ketika saya berada di perjalanan pulang kemarin tuan , teknik pertarungan tangan kosong adalah sebuah teknik yang tanpa mengeluarkan uang sedikit pun untuk membeli perlengkapan dan lagi pula teknik ini sepertinya sangat keren ! ” ucap Fania menjelaskan.


“ Bagus , tetapi aku tidak memiliki teknik tangan kosong seperti yang kamu katakan , aku hanya memiliki teknik tangan kosong yang mengharuskan menggunakan armor dan energi sihir apakah kau mau ” ucap Shin menawarkan.


Fania yang mendengar itu segera merenung tetapi karena ia sangat ingin mempelajari teknik bertarung maka ia hanya dapat menganggukkan kepala dengan cepat.


“ Baik tuan , jadi bisakah kita lakukan sekarang ? ” ucap Fania dengan bersemangat.


“ Kau ingin melakukannya sekarang ! Kau yakin ! ” ucap Shin terkejut karena hari masih pagi bahkan matahari baru saja terbit tetapi Fania sudah bersemangat.


“ Yakin tuan ! ” ucap Fania dengan nada bersemangat.


Shin tersenyum lalu ia mengajaknya ke arah arena latihan yang ada di desa Rubah.


Disana terdapat banyak orang yang melakukan latihan pertarungan yang memiliki teknik yang berbeda - beda.


Tidak jarang juga terdapat tamu seperti Shin yang juga ikut menggunakan arena latihan tersebut seperti lapangan latihan yang ada di kota - kota.


Fania bingung kenapa Shin membawanya ke sini


“ Tuan ! Apa yang harus ku lakukan di sini ! ” ucap Fania dengan wajah bingung .


Shin mengelus rambut Fania kemudian ia menciptakan 1 klon kayu.


“ Kamu lihat ini , coba lakukan pertarungan dengannya ” ucap Shin menunjuk ke klon yang telah ia ciptakan.


“ Wah... Tuan ada dua ! ” ucap Fania dengan kagum.


Setelah Fania kagum dengan teknik yang di gunakan oleh Shin ia menganggukkan kepala kepada Shin walau ia bingung yang mana Shin yang sebenarnya.


Fania kemudian melakukan pertarungan yang tidak pernah ia lakukan.


Pukulan , tendangan bahkan serangan yang ia lakukan dengan sekuat tenaga masih tidak dapat ia targetkan ke arah klon Shin.


Klon Shin melawan Fania hanya dengan menghindar dan menepuk sehingga rasa terkejut yang di miliki oleh Fania menjadi datang secara terus menerus.


Fania menjadi jengkel tetapi karena semangatnya yang membara akan teknik seni bela diri sehingga ia mengabaikan rasa kesalnya dan memilih terus dan terus melawan klon Shin walau itu tidak ada yang mengenai tubuh dan Klon Shin.


“ Ayolah , gadis kecil apakah hanya ini ! ” ucap Shin dengan nada menggoda.


“ Hm... !! ” Fania hanya mendengus dengan kesal.


Hingga beberapa saat kemudian pertarungan tersebut berakhir hingga siang hari.


Shin yang melihat itu tersenyum karena melihat wajah dari Fania yang masih bersemangat seolah ia tidak memiliki rasa lelah sedikitpun.


“ Gadis kecil kita sudahi hari ini ! ” ucap Shin yang membuat Fania menjadi terkejut karena Shin tiba - tiba menghentikannya.


Dengan wajah bingung Fania menatap ke arah Shin dengan sangat enggan.


“ Kenapa tuan , apakah Fania mengecewakan tuan , Fania masih kuat tuan ! ” ucap Fania menatap ke arah Shin dengan sangat enggan.


“ Tidak ! Kau tidak mengecewakan ku tetapi kita akan melanjutkan ke latihan selanjutnya jadi bersiaplah ” ucap Shin yang kemudian membawa Fania ke sebuah restoran.


Disana Shin memesan banyak makanan yang untuk di makan oleh Fania.


Fania hanya menuruti apa yang di perintahkan oleh Shin kepadanya.


Setelah beberapa saat kemudian Shin membawa Fania ke hutan tempat Beatrix melakukan meditasi sebelumnya yang hingga pingsan.


Wanita ini sangat rajin ! Pantas saja aku tidak merasakan auranya ketika berada di penginapan.


“ Wah… Kak Beatrix ada di sini ? ” ucap Fania dengan nada senang.


Kemudian Fania ingin memeluk Beatrix tetapi di hentikan oleh Shin dengan sangat cepat.


“ Hentikan ! Beatrix juga melakukan latihan seperti dirimu jadi jangan ganggu ” ucap Shin dengan serius.


Melihat wajah Shin menjadi serius segera membuat Fania terdiam dengan mulut cemberut.


Fania kemudian diam tanpa mengatakan apapun ia hanya menatap ke arah Shin.


“ Baiklah latihan selanjutnya adalah melakukan hal seperti yang di lakukan oleh Beatrix ” ucap Shin yang kemudian di lakukan oleh Fania tanpa mengeluh.


Tetapi ketika Fania duduk bermeditasi untuk merasakan ketenangan serta melacak energi sihir di tubuhnya , ia malah tertidur dengan pulas.


Shin memukul dahi Fania dengan jarinya yang seketika membuatnya terbangun.


“ Ouch... Sakit … ” ucap Fania dengan cemberut.


Shin tanpa melihat ke arah Fania langsung duduk di depannya ikut bermeditasi.


“ Jangan tidur , kau ingin berlatih atau tidur !? ” tanya Shin yang seketika membangkitkan semangat dari Fania.


Fania kembali mencoba meditasi tetapi ia masih tertidur dan saat itu juga Shin kembali membangunkannya.


Kejadian itu terus-menerus berulang hingga malam tiba.


Saat Fania masih fokus dengan latihan meditasinya ia tiba - tiba mencium aroma makanan yang enak.


Seketika itu ia terbangun dan melihat ke arah makanan yang ternyata adalah Beatrix selesai membuatkan makanan untuk mereka bertiga.


Sedangkan Shin masih duduk bermeditasi di depan Fania dengan sangat tenang bahkan seekor burung duduk di bahu Shin tanpa merasakan ketakutan.


Beatrix hanya dapat menatap dengan kagum sedangkan Fania yang tidak mengerti hanya menatap dengan heran lalu ia mengabaikan seolah ia tidak melihat.


Beatrix dan Fania kemudian makan tanpa menunggu Shin.


Shin di panggil sekuat apapun tidak bangun jadi mereka mulai makan tanpa Shin.


“ Sayang bagaimana kabar mu ? ” tanya sosok wanita berambut hijau yang datang ke ruangan roh yang di miliki oleh Shin.


“Sylp yah , sudah lama aku tidak bertemu dengan mu , bagaimana dengan yang ada di sana ” tanya Shin dengan tersenyum.


“ Untungnya tidak ada masalah tetapi aku mendengar banyak dewa dan utusan datang ke dunia mengacau dan ikut campur dengan berbagai perang yang ada di dunia ” ucap Sylp memberitahukan informasi yang ia miliki.


“ Begitu yah... Kurasa aku akan lebih serius dari sekarang dalam mencari kekuatan dan rekan ! ” ucap Shin yang dengan wajah yang sangat serius.


“ Padahal aku sangat ingin bersantai - santai ” keluh Shin dengan mendesah.


“ Tentunya kau akan memiliki banyak waktu bersantai ketika kau telah menyelesaikan semuanya ” ucap Sylp dengan sangat santai karena ia sudah sangat mengetahui bagaimana karakter Shin.


“ Baiklah Sylp aku akan kembali , dan aku titipkan salam kepada kedua saudarimu ” ucap Shin dengan tersenyum yang kemudian tubuhnya memudar dan kesadarannya kembali ke dunia nyata.


Shin membuka mata , dan ketika ia melihat sekitarnya bahwa sudah tidak ada Fania yang sebelumnya ikut melakukan latihan bersamanya.


“ Gadis itu benar - benar sulit untuk melakukan meditasi , sepertinya aku harus mencari cara yang lebih mudah untuk membuat nya dapat membuat pikirannya menjadi tenang ” ucap Shin yang kemudian berdiri.


Persepsi angin yang di miliki oleh Shin berkobar dengan luas dan segera menemukan kedua gadis itu.


Kedua gadis itu sedang melakukan pertarungan latih tanding yang keduanya hanya menggunakan tangan kosong.


Shin hanya melihat dari jauh karena ketika ia terlihat oleh mereka Shin sangat yakin bahwa mereka akan menghentikan gerakan mereka walau itu baru saja di mulai.


Fania melakukan tendangan kepada Beatrix , tetapi Beatrix hanya menggunakan punggung tangannya untuk menahan serangan dari Fania , walau perbedaan tinggi badan Fania masih mampu untuk meloncat ke dada Beatrix dengan sangat mudah.


Beatrix tidak menyerang sedikit pun ke arah Fania , ia hanya menahan dan menghindari hampir sama dengan klon Shin yang hanya menghindari serangan dari Fania.


Shin terus melihat tanpa mengganggu pertarungan keduanya walau malam semakin larut tetapi keduanya belum berhenti.


Keringat deras segera membasahi keduanya hingga suara tepuk tangan menghentikan gerakan mereka yang telah kelelahan.


“ Bagus ! Bagus , kalian sungguh hebat ” ucap Shin yang berkata dengan sangat senang.


Kedatangan Shin segera membuat kedua wanita itu menjadi terdiam , gerakan berhenti di tengah - tengah.


“ Karena sudah sangat lama kalian melakukan latihan jadi saat ini sebaiknya istirahat ” ucap Shin yang kemudian menatap keduanya dengan tersenyum.


Beatrix menganggukkan kepala sedangkan Fania cemberut tetapi ia masih melakukan apa yang di perintahkan oleh Shin.


Mereka kemudian kembali dengan wajah berseri-seri , seolah mereka mendapatkan sesuatu yang sangat menggembirakan.


Sedangkan Shin harus merencanakan semua hal mulai sekarang karena kabar krisis yang di lakukan oleh para dewa dan utusannya membuat pikirannya menjadi terganggu.


Beberapa hari kemudian


dalam beberapa hari ini Shin , Beatrix dan Fania selalu melakukan latih tanding terus menerus hingga Fania dan Beatrix harus terbiasa dengan kecepatan yang di lakukan Shin.


Dan bukan hanya dari kecepatannya saja , Shin juga memberikan tekanan momentum ketika mereka melakukan latih tanding sehingga kekuatan dari Fania dan Beatrix meningkat dengan sangat tajam.


“ Tuan apakah kita akan pergi sekarang !? ” tanya dari Beatrix setelah meletakkan sebuah teh di kamar Shin.


Ketiganya saat ini berada di kamar Shin.


“ Yah... Benar , kita sudah sangat lama berada di sini sudah waktunya kita pergi ke tempat lain untuk meningkatkan kekuatan kembali ” ucap Shin.


Beatrix menganggukkan kepala dan Fania hanya mendengarkan tanpa memberikan sebuah pendapat.


“ Jadi kapan kita akan berangkat tuan ? ” tanya Beatrix melihat ke arah Shin.


“ Mungkin nanti malam hari ” ucap Shin dengan santai.


“ Kenapa malam tuan , bukankah saat ini juga bisa ” ucap Beatrix dengan bingung.


“ Yah memang tetapi pasti kau akan tahu ketika malam tiba jadi kita menunggu nanti malam saja ! ” ucap Shin dengan senyuman misterius.


Malam kemudian tiba dengan sangat cepat


Shin dan dua wanita itu berada di atas desa rubah , dua wanita itu sangat terkejut dengan pemandangan yang mereka lihat.


Di tengah desa rubah ternyata terdapat sebuah lingkaran ritual untuk memuja salah satu dewa.


Walau dewa itu bukanlah faksi jahat tetapi bukan berarti baik sehingga Beatrix memiliki kebencian terhadap seorang dewa.


“ Tidak ku sangka ternyata terdapat kejadian seperti ini ” ucap Beatrix dengan menggenggam kepalan tangan dengan sangat kuat.


“ Santai saja , tidak ada yang akan dapat menyakiti mu selama aku yang merupakan tuanmu masih berada di sini jadi tenangkan dirimu ” ucap Shin menepuk pundak dari Beatrix yang mulai gemetaran seakan menahan amarah yang membara.


“ Ayo pergi tuan , aku sangat membenci seorang dewa !? ” ucap Beatrix menatap ke arah Shin.


Shin mengangguk lalu mereka berjalan di lantai udara yang di ciptakan oleh Shin.


Di Kota Water Seven


“ Kak Sylp bagaimana kabar Suami ? ” tanya Yue penasaran karena ia sangat tahu akan kemampuan dari Sylp.


“ Haha... Kamu pasti sudah tahu hanya dengan melihat karakter dari Suami kan , ia tidak akan menyerah selama tujuannya masih belum tercapai ” ucap Sylp.


“ Benar sih , tetapi aku masih mengkhawatirkan kondisinya ketika ada di sana ” ucap Yue dengan nada khawatir.


“ Yah begitulah , kak Sylp kau tahu sendiri seseorang yang paling khawatir akan kondisi dari suami adalah adik Yue ” ucap Ling agar Sylp segera memberi tahu kondisi tentang Shin.


“ Haha... , baiklah baiklah , kondisi dari Suami masih baik - baik saja tetapi ketika ia mendengar informasi tentang para dewa dan utusannya mungkin ia akan kembali dengan sangat cepat entah itu berapa lama ” ucap Sylp menjelaskan.


“ Yah ku harap ia dapat segera kembali ” ucap Yue dengan perasaan lega .


Kembali ke Shin


Shin yang telah berjalan , ia kini hanya berhenti di tempat yang memiliki kandungan energi kuat karena ia membutuhkan seseorang yang dapat membantunya dalam peperangan yang akan terjadi.


Tetapi setelah beberapa minggu Shin sampai di sebuah tempat yang memiliki kandungan energi yang sangat kuat , berbeda jauh dengan tempat yang di gunakan oleh kota-kota manusia maupun desa rubah.


“ Beatrix , apakah kamu tahu wilayah itu ” ucap Shin menunjuk ke suatu arah yang di sana terlihat seperti sebuah kota besar yang terdapat banyak pohon tinggi yang menyebarkan aura energi alam yang sangat tinggi.


“ Tuan ! Sebaiknya kita tidak ke sana , di sana merupakan wilayah ras Elf , mereka sangat tidak menerima ras selain ras mereka tuan ” ucap Beatrix memberikan perintah.


“ Benarkah , apakah mereka memiliki kekuatan yang sangat kuat sehingga tidak memandang kesetaraan antar Ras ” ucap Shin masih melihat ke arah wilayah ras Elf.


“ Bukannya mereka memiliki kekuatan yang sangat kuat , kekuatan mereka tidak berbeda jauh dengan kekuatan ksatria di desa rubah atau ras iblis tetapi di sana terdapat seseorang yang memiliki hubungan dengan seorang dewa secara langsung , seseorang yang biasanya di panggil dengan Saint ” ucap Beatrix menjelaskan apa yang ia tahu.


( Maaf jika kurang menarik , ini hanya untuk bersenang-senang )


( Enjoy and always be happy )