
[ 44 ]
Di sudut hutan yang berdekatan dengan kota Water Seven
“ Gyah... Hob Goblin , Warior Orc dan Fire Lion bagaimana bisa ada di sini ” ucap seorang prajurit dengan ketakutan ketika melihat sebuah goa yang di kelilingi oleh beberapa monster yang di anggap memiliki kemampuan untuk menghancurkan kota dengan mudah.
Tubuh prajurit itu bergetar mengetahui hal ini , lalu ia menoleh ke arah rekan yang berada di sampingnya.
“ Segera sampaikan pada tuan Babel agar Pemimpin Kota dapat kembali dengan cepat , ia dapat kembali setelah mengunjungi Kerajaan Iblis mengartikan bahwa Pemimpin Kota bukanlah orang biasa seperti yang di katakan orang - orang kerajaan ” ucap prajurit itu dengan bergetar.
“ Baiklah lalu bagaimana dengan mu ” ucap rekannya dengan khawatir.
“ Aku akan di sini memantau pergerakan para monster itu ” ucap prajurit itu kepada rekannya.
“ Kalau begitu jangan mati ! ” ucap rekannya yang kemudian menggunakan sihir petir untuk mempercepat larinya.
“ Kurasa ini benar-benar gawat , jika melihat dengan benar monster - monster itu seperti mempersiapkan untuk menyerbu ” ucap prajurit itu dengan panik melihat ke arah para monster yang ia lihat seperti menunggu sesuatu untuk berkumpul
Di kota Water Seven
Babel di beritahu tentang informasi dan menyimpulkan bahwa hal yang di maksud adalah Dungeon , yang telah mencapai puncak kekuatannya sehingga memiliki kemungkinan cukup tinggi untuk menyerang daerah sekitarnya.
Puncak kekuatan dari Dungeon adalah kondisi ketika Dungeon telah memakan banyak makhluk hidup untuk memperkuat Dungeon , dan menciptakan banyak monster di dalamnya.
“ Jika begitu memang sangat gawat , Tuan kota dan wakil masih belum kembali ” ucap kesal dari Babel.
“ Kakak bagaimana bila aku langsung menuju ke sana , mungkin aku dapat menunda sedangkan kakak kirimkan informasi kepada tuan ” ucap Yin yang menutup buku sihirnya yang dari tadi ia baca.
“ Kau yakin , disana bukan hanya monster biasa yang pernah kita lawan , menurut yang aku tahu monster yang di sebutkan adalah monster dengan kemampuan kecerdasan seperti manusia jadi tidak akan mudah untuk melawan nya walaupun kamu telah memahami trik sihir dari tuan ” ucap Babel dengan serius.
“ Tentu aku yakin ” ucap Yin dengan yakin.
Babel hanya dapat menghela nafas lelah.
“ Baiklah aku akan segera pergi ke Ibukota untuk menemui tuan , kamu jangan memaksakan diri jika memang tidak mampu segera lari ” ucap Babel dengan nada tidak main - main.
“ Baik ” ucap Yin yang pergi untuk mempersiapkan peralatannya.
“ Nara jaga kota sementara ” ucap Babel menatap adiknya yang berada di ruangan yang sama itu.
“ Tentu saja kakak , Yin saja sudah bertekad seperti itu bagaimana bisa aku diam saja ” ucap Nara dengan tersenyum.
“ Aku percayakan kepada mu ” ucap Babel yang kemudian menyobek kertas teleportasi.
Wush...
Babel kemudian menghilang dengan sekejap.
Nara melihat untuk beberapa saat di tempat kakaknya sebelum menghilang , lalu ia menatap ke arah prajurit yang masih berlutut.
“ Baiklah , segera perkuat pertahanan yang di bangun oleh tuan kota , dan persiapan pasukan untuk melakukan perlawanan yang kemungkinan para monster menuju ke sini ” ucap Nara menatap ke arah prajurit yang memberikan informasi sebelumnya.
“ Laksanakan ” ucap Prajurit itu menganggukan kepala kemudian segera pergi dari sana.
Di ibukota
Shin langsung merasakan keberadaan dari Babel , dengan cepat ia langsung menuju menemuinya.
Kurasa tubuh asli lupa menciptakan klon kembali , setelah menghilang yang ada di kota.
“ Babel apa yang kamu lakukan di sini ” ucapku yang secara tiba-tiba muncul dengan penampilan wanita.
Babel terkejut ia menjadi waspada karena kemunculan wanita yang berada di belakang nya.
“ Jangan terkejut ini aku ” ucapku yang mengeluarkan tekanan yang sama saat pertama kali bertemu.
“ Apakah benar anda tuan tetapi penampilan mu ” ucap Babel dengan bingung.
“ Tidak perlu banyak omong kosong , sekarang kita pergi ” ucapku yang menyentuh pundak Babel dan berteleportasi ke taman Mansion ku.
“ Baiklah aku hanya Klon , tubuh asli kini masih berkencan dengan para haremnya , jadi sekarang katakan apa yang terjadi sehingga kamu muncul di sini ” ucap klon ku dengan serius.
Babel kemudian menceritakan apa yang terjadi di kota dan menanyakan apa yang akan di lakukan tentang Dungeon ini.
“ Dungeon kah... , Jika memang benar maka mereka adalah monster yang dapat menghancurkan kota , Yin saja tidak akan mampu walau itu di bantu oleh pasukan kota ” ucapku.
“ Cobalah bertahan untuk sementara , besok pagi aku akan sampai di sana untuk membantu , bawa kembali Yin kembali ke kota biarkan pertahanan kota untuk menahan serangan dari para monster ” ucap ku memberikan instruksi.
“ Kakak ! Kemana semua orang ” ucap Hinata yang kemudian muncul di dekat ku dan Babel.
“ Siapa gadis kecil ini , apakah ia anak dari tuan jika begitu gadis kecil ini adalah nona muda ” pikir Babel dengan pandangan melihat ke arah Hinata.
“ Siapa kau pak tua ! Kenapa kamu menatap ku seperti itu ” ucap Hinata menatap ke arah Babel dengan garang.
Aku menjitak kening dari Hinata dengan sedikit keras.
“ Jaga kesopanan , siapapun jangan asal berbicara kasar ” ucapku dengan nada marah.
Hinata yang melihat ku marah terkejut karena selama ini ia tidak pernah di marahi seperti ini walau kata - katanya sangat kasar.
“ Ma... Maaf ” ucap Hinata menahan ketakutan.
“ Baiklah ingat itu ok ” ucapku yang kemudian melihat ke arah Babel.
“ Gadis ini adalah adik angkatku , untuk sementara kamu dapat tinggal di sini sebentar lagi kemungkinan tubuh asli ku akan kembali ” ucap ku tersenyum.
“ Haha... Tidak ada masalah , gadis kecil apakah kamu mau berlatih melawan ku , aku dapat melihat tubuh mu memiliki sedikit otot yang kuat dan energi sihir yang stabil ” ucap Babel dengan tersenyum.
Mendengar kata bertarung keringat dingin keluar dari punggung ku , aku langsung menatap ke arah Hinata.
“ Tentu saja , akan ku kalah kan dirimu paman berjenggot ” ucap Hinata dengan senyum bersemangat.
Kurasa walau ku bilang agar ia sopan tetap saja kata - katanya sangat kasar , mungkin ini adalah karakteristik nya.
Shin hanya dapat tersenyum melihat Hinata yang bersemangat.
“ Lakukan di hutan , aku tidak ingin merusak taman ini ” ucap ku melihat dengan tajam ke arah Hinata.
“ Tidak masalah / Tentu ” Babel dan Hinata berkata bersama dengan tanpa keberatan.
[ To Be Continue ]