The Journey To The Edge Of Power

The Journey To The Edge Of Power
90 [ Kedatangan Shin ]



Shin yang berteleportasi telah muncul di depan gerbang kotanya.


Fania yang bersamanya terbangun dengan kepala pusing.


“ Teknik tuan memang hebat tetapi efek dari teknik ini benar-benar mengganggu.


” ucap Beatrix dengan memegang perutnya karena ia merasa mual setelah melakukan teleportasi bersama Shin beberapa kali.


Shin melihat ke arah gerbang kota dengan seksama yang kemudian ia melihat salah satu prajurit melihat ke arahnya dengan heran.


“ Tuan ! Apakah anda ingin masuk lalu kenapa diam saja di sini ” tanya prajurit itu dengan bingung.


Beatrix maju dan ingin mengatakan sesuatu kepada prajurit itu tetapi tiba - tiba wujud Shin berubah yang seketika membuat Beatrix dan Fania bingung.


“ Siapa ! Sebenarnya tuan !? ” batin bingung Beatrix dengan alis mengkerut.


Fania hanya dapat tercengah dengan penampilan Shin karena gaya pakaian serta aura yang di miliki Shin tiba-tiba berubah.


Dimata Fania terdapat beberapa titik seperti bintang di sekeliling Shin yang di mana biasanya orang tersebut adalah kandidat seorang raja.


Fania sendiri memiliki kemampuan untuk dapat melihat aura tersembunyi pada setiap orang.


Selain bintang-binatang , di pandangan Fania masih terdapat jubah dan mahkota seorang raja di tubuh Shin seolah Shin adalah seorang penguasa dunia selanjutnya.


Mata Sharingan Shin melihat ke arah Fania untuk waktu yang cukup lama lalu ia menepuk rambut Fania dengan lembut.


“ Ada apa ! Apakah karena terlalu tampan sehingga kamu melihat ku seperti itu ” ucap Shin dengan nada agak sombong.


Fania , Beatrix dan prajurit penjaga gerbang hanya dapat terjatuh karena tercengah.


“ Bukankah ini adalah tuan Shin , tapi kenapa wujudnya sebelumnya berbeda apa dia adalah seseorang yang menyamar atau tuan Shin yang menyamar ” batin bingung dari prajurit penjaga gerbang yang masih menatap ke arah Shin .


Shin maju dan menepuk pundak dari prajurit itu lalu ia mengeluarkan sebuah token kehormatan yang seketika membuat prajurit penjaga gerbang harus menunduk hormat.


“ Maaf tuan ! Saya tidak mengenali anda ” ucap prajurit itu dengan nada gugup sambil membungkuk dengan rasa hormat yang tinggi.


“ Buka !!! ” prajurit penjaga gerbang berteriak yang kemudian gerbang besar yang ada di belakangnya terbuka dengan perlahan.


Shin hanya melihat dengan tersenyum kemudian ia memberikan 1 kantung emas pada penjaga gerbang tersebut.


“ Kerja bagus , pertahankan semangatmu ” ucap Shin yang kemudian berjalan masuk ke dalam kota bersama Fania dan Beatrix.


Prajurit penjaga gerbang tersebut ketika menerima emas pemberian dari Shin sangat terkejut.


Padahal ia telah mengira ia akan mendapatkan hukuman karena tidak mengenali pemilik kota Water Seven tetapi kenyataannya tidak sama yang ia bayangkan.


“ Sungguh , pantas saja para senior memiliki semangat kerja yang sangat baik dan penuh tekat ” batin dari prajurit penjaga gerbang tersebut dengan tersenyum.


“ Tutup !!! ” teriak prajurit penjaga gerbang tersebut yang kemudian secara perlahan gerbang besar yang berada di belakangnya segera tertutup.


Beatrix hanya dapat tersenyum canggung karena ia tidak akan mengira bahwa tuannya adalah seseorang yang memiliki kekuasaan seperti kota Water Seven yang di penuhi oleh orang - orang kuat.


Ini di karenakan kota Water Seven sangat terkenal.


Bahkan belum 1 tahun kota Water Seven di pegang oleh Shin dan kota ini telah menjadi sesuatu yang sangat di pandang tinggi oleh berbagai ras di berbagai wilayah.


Saat Shin di jalanan ia mendapatkan berbagai rasa hormat dari penduduk kota Water Seven.


Setelah beberapa saat kemudian Shin dan yang lainnya sampai di halaman kediaman Shin.


Sebuah bayangan tiba - tiba muncul dan terlihat sosok One yang membungkuk di depan Shin dengan sangat cepat.


“ Selamat datang kembali ke rumah tuan ! ” ucap One dengan suara kasar yang menampilkan penampilan yang seram.


“ Hahah... One rupanya ! Ayo pergi ke arah istriku dan kabarkan tentang kedatangan ku ” ucap Shin yang melanjutkan perjalanan ke arah Mansion miliknya.


One menganggukkan kepala yang kemudian ia masuk ke dalam bayangan kembali seperti yang ia lakukan sebelumnya.


Tidak butuh waktu lama untuk Shin sampai di mansion yang di halamannya terdapat Hinata sedang berlatih latih tanding dengan Babel.


Shin hanya diam dan melihat pertarungan tersebut untuk waktu yang sangat lama mengabaikan Beatrix dan Fania yang bingung.


Beatrix dan Fania hanya dapat menunggu Shin karena bagaimanapun Shin adalah seseorang yang menjadi tuan mereka.


Hingga pertarungan tersebut berhenti setelah Hinata melakukan sebuah kesalahan yang tidak ia sengaja yang membuatnya kalah dalam pertarungan.


“ Hah... Hah... Paman ! Aku lelah !... ” keluh dari Hinata yang duduk di tanah.


Babel ingin menghampiri Hinata tetapi kemudian ia melihat sosok Shin sehingga ia menghentikan gerakannya dan membungkuk hormat ke arah Shin.


“ Selamat datang kembali tuan ! ” ucap Babel yang membungkuk hormat ke arah Shin.


“ Kakak ! Kau kembali ! Haha... Biarkan aku memberitahu kakak Sylp ” ucap Hinata yang ingin pergi tetapi tiba - tiba terjatuh karena kakinya di ikat oleh benang angin oleh Shin.


“ Seperti biasanya kau selalu bersemangat ! Hinata ! ” ucap Shin yang kemudian menghampiri ke arah Hinata dan mengelus rambut Hinata.


Hinata cemberut tetapi ia menikmati elusan lembut tangan Shin , ia kemudian berdiri tetapi kini tidak ada benang angin yang mengikatnya.


“ Kenapa kakak kembali , apakah perjalanan kakak telah selesai ” tanya Hinata dengan penasaran.


“ Tidak , tetapi mungkin segera akan ku lanjutkan ! Jadi ayo bawa mereka untuk pergi ke ruangan para tamu” ucap Shin yang sambil menunjuk ke arah Fania dan Beatrix.


Hinata menganggukkan kepala dan lalu kemudian mengajak Fania dan Beatrix pergi ke ruangan tamu untuk para pengunjung.


Setelah Hinata , Fania dan Beatrix telah pergi wajah Shin menjadi dingin.


“ Aku merasakan darah kental di sekitar kota ku , apakah kalian menemukan sesuatu ! ” ucap Shin kepada One dan Babel.


Babel berkeringat dingin dan seketika menjadi gugup.


One yang telah kembali mendengar kalimat Shin segera tersenyum dan memberitahu tentang situasi dari kota Water Seven.


“ Tuan ! Kota ini telah di kepung oleh ribuan ras iblis dan Manusia yang tidak menyukai kita ” ucap One menjelaskan.


“ Begitu kah... Sepertinya pesta darah akan kembali ku rasakan ! ” ucap Shin tersenyum dengan menjilat bibirnya sambil melihat ke suatu arah.


Shin kemudian menghilang untuk pergi ke arah tempat ia merasakan ketiga istrinya.


Babel menelan ludah kasar setelah melihat wajah dingin Shin sedangkan One seolah melihat sesuatu yang mempesona , ia diam tetapi mulutnya menampilkan senyum lebar entah apa yang ia pikirkan.


Di sebuah ruangan di Mansion


Sylp sedang melakukan rapat untuk mengatasi segala hal karena kelembutan Shin yang tidak menuntaskan segalanya ketika mengambil ekonomi dan wilayah yang ada di sekitar kota Water Seven.


“ Nyonya Sylp lalu apa yang akan kita lakukan kepada mereka ! ” ucap salah satu penjabat tinggi kota Water Seven.


Sylp diam dengan menutup mata tetapi alisnya berkerut dengan nafas dingin yang benar-benar membuat seluruh orang yang ada di ruangan tersebut menjadi sesak nafas , aura dan nafas pembunuhan Sylp benar - benar tidak dapat di anggap remeh oleh siapapun.


“ Kakak Sylp tenangkan dirimu , jika kau seperti itu kau akan sangat kesulitan dalam menemukan jawaban dari masalah yang kita hadapi saat ini ” ucap Ling yang menenangkan kemarahan yang luar biasa dari Sylp yang luar biasa kuat.


“ Cih , itu sebabnya aku sangat tidak menyukai kelembutan yang tidak perlu seperti ini , Shin itu memang ! Kenapa tidak langsung menghabisi mereka saja sebelumnya ” ucap Sylp dengan amarah yang menggebu - gebu.


Ling terdiam ia tidak dapat mengatakan apapun tentang itu , karena menurutnya Sylp memiliki kekuasaan yang hampir sama dengan Shin bahkan jika itu kekuatan.


Bukan berarti hubungan mereka karena derajat tetapi Ling sangat menghormati Sylp yang sebagai kakak serta saudari tertua.


Sylp kemudian menatap ke suatu arah dengan mata yang dingin.


“ Sampai kapan kamu akan terus melihat , wahai suamiku tersayang ! ” kata - kata Sylp membuat semua orang yang ada di sana terkejut dan melihat ke arah yang di lihat oleh Sylp.


Shin yang bersembunyi dan merasakan aura kemarahan dari Sylp segera gemetaran ia kemudian keluar dengan alih - alih pelindung angin yang tipis.


“ Wahai istriku , jika kau semarah itu bukankah suamimu yang lembut ini akan sangat ketakutan ” ucap Shin dengan nada lembut.


Bukan jawaban yang lembut tetapi sebuah dengusan kesal terdengar di telinga Shin yang seketika membuatnya terdiam.


“ Baiklah , segera selesaikan masalah yang telah kau buat , aku ingin bersantai ” ucap Sylp yang kemudian pergi dari sana menjadi hembusan angin lembut.


Senyum Shin hanya dapat terasa canggung , apalagi ia mendapatkan tatapan dari orang - orang yang merupakan bawahannya.


“ Hah... Baiklah sekarang biarkan aku yang memimpin ” ucap Shin yang kemudian duduk di tempat Sylp sebelumnya.


Tetapi ketika Shin akan memulai rapatnya kembali , Ling memeluknya dengan erat dari belakang kursinya.


“ Istri ku apakah kamu tidak memiliki rasa malu karena di sini telah ada banyak orang ” ucap Shin dengan tersenyum tetapi matanya melihat ke seluruh ruangan tersebut.


Mata Shin memang terlihat merah seperti biasanya tetapi bagi bawahannya , cara pandangan Shin seolah naga yang melihat beberapa kucing yang masuk ke dalam wilayahnya.


“ Bodoh amat ! Kau sudah pergi sangat lama , kau harus tahu aku sungguh sangat merindukan mu ” ucap Ling dengan nada manja.


“ Baiklah terserah dirimu , tetapi apakah aku bisa memulai rapatnya agar hal ini dapat selesai dengan cepat ” ucap Shin.


“ Tentu , aku hanya ingin menghilangkan rasa rinduku ” ucap Ling dengan mata yang menutup.


“ Baiklah ayo kita mulai ! ” ucap Shin yang kemudian melihat ke arah semua orang yang ada di sana secara bergantian.


Di tempat lainnya yang merupakan ruangan tamu di Mansion.


Hinata membawa dua gadis yang di bawa Shin untuk duduk di sana karena ia sangat tahu bahwa rapat yang di lakukan kakaknya akan memakan waktu yang cukup lama.


To Be Continue