
[ 82 ]
Saat ia berjalan di atas langit ia menemukan seekor Wyvern yang bergerak cepat ke arahnya seolah mereka menemukan sebuah mangsa.
Shin hanya tersenyum tetapi ia tidak berhenti dalam perjalanannya.
Seolah di depannya tanpa adanya bahaya Shin terus bergerak dengan santai.
Wyvern tersebut berwarna biru dengan tinggi sebesar 2 meter bersamaan dengan itu mereka datang dengan berkelompok yang sekitar sebanyak 10 ekor.
Para makhluk ini sepertinya memang tidak memiliki kegiatan !
Shin hanya tersenyum melihat ke arah Wyvern yang telah berada sangat dekat dengan Shin.
Ketika berada sangat dekat , para Wyvern itu menyemburkan nafas api berwarna biru ke arah Shin seperti sebuah penyemprot air yang di gunakan pemadam kebakaran.
Semburan api berjalan untuk waktu beberapa detik dan kemudian hilang menjadi sebuah kabut yang menutupi seluruh area tersebut.
Ketika semua Wyvern itu melihat kembali ke arah Shin , mata mereka terkejut karena Shin tidak memiliki luka sedikitpun walau itu hanyalah sehelai benang pada pakaian.
“ Kalian benar-benar menggoda kesabaran ! ” ucap Shin yang kemudian melepaskan tekanan momentum angin dengan sangat kuat yang seketika membuat udara di langit itu menjadi berat.
Semua Wyvern segera sulit untuk bergerak , keringat dingin menyelimuti tubuh mereka.
Mereka semua tidak ada yang memiliki keberanian lagi untuk menyerang ke arah Shin seperti sebelumnya.
Mereka yang Wyvern seperti berubah menjadi burung merpati yang begitu patuh di hadapan Shin.
“ Heh.... Kalian benar - benar begitu takut ! ” ucap Shin tersenyum lebar yang seketika membuat semua Wyvern itu harus menelan air liur karena ketakutan.
“ Ah iya , ikut dengan ku saja dari pada kalian berkeliling tidak tahu arah ! ” ucap Shin yang menatap ke arah para Wyvern.
Wyvern adalah salah satu monster pintar , mereka dapat memahami bahasa manusia , jadi ketika ia mendengar kata - kata Shin , wajah mereka terlihat sangat tidak mau.
“ Begitu kalian tidak mau ! Cih kalian benar - benar akan menjadi sangat enak ketika di makan ! ” ucap Shin yang menjilat bibirnya.
Kata - kata Shin seketika membuat semua Wyvern itu menjadi sangat ketakutan.
Mereka hanya dengan terpaksa harus menganggukkan kepala.
Senyum Shin melebar melihat ke arah Wyvern yang dengan pasrah menerima kemauan Shin.
Shin kemudian berjalan kembali di ikuti oleh para Wyvern yang masing-masing dari mereka setinggi 3 meter.
Beberapa hari kemudian Shin melihat sesuatu yang membuat pupilnya mengecil.
Patung naga tulang ! Lalu apakah mereka itu menyembahnya.
Shin melihat sebuah patung naga yang hanya tulang tanpa adanya daging maupun kulit.
Dan di depannya terdapat 10 orang berjubah serba hitam yang membungkuk ke arah patung naga tersebut.
Shin berhenti dan terus melihat apa yang akan di lakukan oleh para penyembah patung naga tersebut.
Tidak lama kemudian tiga orang berjubah hitam tersebut pergi dan kembali dengan membawa dua orang gadis dengan pakaian serba putih.
Gadis - gadis itu di angkat dengan sebuah sihir hitam.
salah satu dari orang berjubah hitam yang merupakan pengguna sihir hitam tersebut segera meletakkan dua gadis tersebut di depan patung naga.
Shin melihat dan merasakan sesuatu keanehan tetapi ia tidak tahu apa yang aneh tersebut.
“ Kalian tunggu di sini ! ” ucap Shin melihat ke arah para Wyvern yang hanya mendapatkan anggukan yang cepat.
“ Basic Magic Discharge : Support Type : Transformation ”
Tubuh Shin perlahan mengecil dan berubah menjadi seekor burung gagak yang dengan cepat berdiri di salah satu dahan yang berdekatan dengan patung naga.
“ Hei segera lakukan ! Untuk kemuliaan Sang Dewa Azazel ? ” ucap salah satu orang berjubah hitam ke arah lainnya.
Seseorang berjubah yang berada di dekat salah satu gadis yang berpakaian serba putih tiba - tiba mengeluarkan sebuah belati yang di gagangnya terdapat gantungan yang dengan simbol tengkorak.
Dua gadis berpakaian serba putih tersebut bukanlah berdiri melainkan tertidur dengan nafas yang sangat pelan.
“ Demi Sang Dewa Azazel ! ” ucap Seseorang berjubah hitam mengangkat belati dan mengarahkan ujung belati ke arah salah satu gadis berpakaian putih tersebut.
Shin yang melihat itu dengan sangat cepat bergerak dengan mengganti keduanya dengan dua boneka kayu yang di ubah Shin menjadi bentuk yang sama.
Shin memindahkan dua gadis itu ke tempat tidak jauh dari sana , tetapi masih berada di hutan.
Kecepatan Shin benar - benar sangat cepat , bahkan orang - orang yang berada di sana tidak ada yang sadar bahwa dua gadis yang berada di dekat mereka telah berganti menjadi sebuah boneka.
Orang berjubah yang membawa belati tersebut setelah menusukkan ke dada boneka kayu yang berbentuk gadis tersebut segera meloncat mundur.
Dan dari belati tersebut mengeluarkan sebuah kabut berwarna hitam bersamaan dengan itu tekanan yang membuat semua orang berjubah itu menunduk karena tekanan yang amat kuat.
Ada apa dengan belati itu !?
Shin hanya dapat terperangah melihat efek dari belati hitam tersebut yang secara tiba - tiba mengeluarkan sebuah kabut hitam yang dapat membuat efek korosif pada boneka kayu.
Setelah itu salah satu dari mereka mencabut dengan tangan kosong dan pergi dari sana tanpa merapikan apapun.
Shin segera kembali ke wujudnya yang sebenarnya dan melihat ke arah patung naga tulang tersebut untuk waktu yang sangat lama.
Dewa Azazel !
Aku tidak pernah mendengarnya , apakah itu adalah dewa dunia ini ataukah ada lebih banyak lagi
Kurasa aku akan mengingatnya dahulu dan akan ku pikirkan nanti , aku takut para dewa ini seperti yang ada di ingatan Sylp.
Kuharap ! Dewa dunia ini lebih ramah dan mengerti diri!
Shin kemudian kembali ke tempat para Wyvern dan membawa mereka ke tempat Shin memindahkan dua gadis tersebut.
setelah tiba di sana Shin melihat bahwa dua gadis itu masih tertidur dengan pulas seolah tidak terjadi apa - apa.
Kulit mereka masih memperlihatkan kejernihan walau terdapat kalung seorang budak di leher mereka.
Apa mereka tidak merasakan bahaya apapun , sungguh tidak habis pikir !
Shin hanya mendesah tidak berdaya dengan kondisi dari dua gadis itu yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi jika Shin tidak ada di sana.
Shin menunggu mereka bangun tanpa membangunkan mereka.
Shin membangun sebuah pondok kayu dengan skill yang ia dapatkan di dunia ini , lalu ia pergi dari sana untuk mencari makan.
bersamaan para Wyvern yang juga membutuhkan makanan , Shin mencari hewan dan monster sebanyak - banyaknya lalu ia simpan di segel menara penyimpanan.
Hanya butuh 2 jam untuk Shin mengumpulkannya , dan membiarkan para Wyvern untuk makan sedangkan dirinya melakukan meditasi untuk melatih kekuatan jiwanya agar lebih terkontrol dan stabil.
Tidak lama Shin melakukan meditasi dua gadis itu membuka mata , dengan bergantian.
Awalnya hanyalah salah satu gadis yang agak dewasa membuka mata.
“ Ugh... Dimana a… Sialan akan ku bunuh orang itu ” ucap gadis agak dewasa itu dengan nafsu membunuh yang sangat pekat.
“ Fania ! ” ucap gadis itu kemudian membangunkan gadis yang sedang tertidur tersebut.
Gadis yang di panggil Fania segera terbangun setelah mendengar suara dari gadis yang agak dewasa itu.
“ Kak Beatrix , apa sudah pagi !? ” tanya Fania dengan wajah mengantuk.
Gadis yang agak dewasa yang di panggil Beatrix harus menepuk kepala karena sikap dari Fania yang membuat semua orang menjadi canggung.
“ Dasar anak ini , ia tidak berubah sama sekali ! ” ucap Beatrix dengan cemberut.
Tetapi kemudian mata dari Fania segera terbelalak karena telah mengingat bahwa dirinya di buat pingsan oleh tuan barunya.
“ Kak Beatrix tuan ! Tuan !? Apa yang dia lakukan pada kita ! ” ucap Fania dengan panik.
Beatrix berusaha menahan amarah yang meluap - luap ketika mengingat kembali akan tuan yang membeli mereka ternyata adalah seseorang pemuja salah satu aliran hitam.
Dewa Azazel adalah dewa yang membela iblis untuk menguasai dunia sehingga ia juga termasuk dalam aliran gelap.
Banyak dewa yang memasuki faksi gelap bukan hanya dewa iblis dan Dewa Azazel tetapi masih banyak lagi dan akan di perlihatkan pada masa depan nanti.
“ Yah benar apa yang kamu pikirkan , tuan baru kita adalah seseorang yang ingin membunuh kita ” ucap Beatrix dengan melihat ke mata Fania.
Fania segera tubuhnya bergetar ketika mendengar itu bagai sebuah sambaran petir yang menyambar pada siang hari.
“ La... Lalu yang menyelamatkan kita siapa kak !? ” tanya Fania dengan gugup.
Beatrix seketika mengangkat alis karena baru menyadari , ia karena terlalu mengingat akan perbuatan yang di lakukan oleh tuan barunya membuatnya seakan melupakan segalanya.
“ Benar juga ! Lalu siapa ? ” ucap Beatrix yang kemudian melihat ke arah sekitarnya.
Beatrix kemudian melihat ke arah seseorang yang melakukan meditasi dengan mata tertutup dan terdapat aura energi alam di sekitarnya yang bagai pusaran air di tengah samudra.
“ Orang itu ! Apakah seorang Monster ! ” ucap Beatrix dengan nafas yang berhenti sejenak.
Mata dari Beatrix seakan melihat pusaran air di tengah samudra ketika ia melihat ke arah Half Human yang tidak jauh dari mereka.
“ Apakah kakak itu yang membantu kita kak Beatrix !? ” tanya Fania dengan polos.
“ Entahlah , tetapi mungkin saja karena tidak ada makhluk lain lagi di si… ” ucapan dari Beatrix berhenti ketika ia melihat ke arah suatu tempat yang hanya terdapat 10 Wyvern yang sedang tidur dengan sangat pulas.
“ Wyvern ! Kenapa mereka juga ada di sini ! ” batin berkeringat dingin dari Beatrix.
Tetapi kemudian Shin terbangun dari meditasinya dan menatap ke arah Fania dan Beatrix.
Keduanya juga menatap ke arah Shin dengan sangat intens.
“ kalian ! telah bangun rupanya ! Apakah tubuh kalian baik - baik saja ? ” tanya Shin dengan sangat penasaran .
Beatrix maju dan bertanya dengan sangat halus.
“ Tuan ! Apakah anda yang menyelamatkan kami ? ” tanya dari Beatrix sambil menahan rasa gugup.
“ Tidak , bukan aku yang menyelamatkan kalian melainkan takdir ! ” ucap Shin dengan melihat ke arah langit
“ Takdir ? apa maksudmu tuan ? ” tanya Beatrix dengan bingung.
Shin tersenyum dengan sikap dari Fania dan Beatrix.
“ Sebuah takdir telah membuatku melakukan perjalanan sehingga dapat bertemu dengan kalian ” ucap Shin yang masih membuat bingung kedua orang tersebut.
“ Takdir yah... ” ucap Beatrix dengan mata menatap ke arah langit.
Jika Beatrix merasakan kebingungan dengan apa yang di katakan oleh Shin maka Fania tidak.
Karena kepolosan yang di miliki oleh Fania membuatnya menjadi sesuatu yang sangat bersemangat akan apapun yang terjadi.
“ Aku percaya bahwa takdir itu ada ! ” ucap Fania dengan mata berkilauan.
Shin melihat ke arah Fania dengan tatapan menarik , ia seolah melihat jiwa yang membara dari matanya yang polos.
“ Apa yang kamu percayai tentang itu gadis kecil ! ” ucap Shin menatap ke arah mata Fania.
“ Saya percaya akan takdir yang akan mendatangkan seorang pahlawan yang akan membuat kami bahagia dan menciptakan ketentraman yang ada di dunia ini ” ucap Fania dengan mulut tersenyum.
Shin mengangguk dengan faham akan maksud dari Fania , ia tersenyum ke arah Fania.
Sayangnya pahlawan seperti itu hanyalah ada di sebuah cerita !
Shin hanya berkata dalam hati sedangkan mulutnya yang ada di luar hanya mengeluarkan sebuah senyuman.
“ Lalu ! rencana kalian apa selanjutnya ? ” tanya Shin dengan penasaran ketika melihat ke arah Beatrix.
“ Entahlah ! tetapi yang pasti aku akan membalaskan dendam ini kepada pria tua itu ! ” ucap suara kemarahan dari Beatrix terdengar dengan sangat jelas.
Mata Shin melihat ke arah Beatrix dengan senyum yang menawan.
“ Lalu apa yang kamu lakukan jika seseorang memberikan kalian kekuatan ? Di gunakan untuk apa ? Dan apakah kalian akan bahagia memiliki kekuatan tersebut ! ” ucap Shin bertanya.
Mata Shin melihat keduanya dengan bergantian.
“ Ini hanyalah sebuah pertanyaan jangan di buat serius jika memang kalian tidak memiliki jawaban maka jangan jawab sekarang ! ” ucap Shin yang kemudian berdiri dan berjalan ke arah para Wyvern.
Shin dengan sangat cepat memberikan waktu untuk menjawab karena terkadang pertanyaan dari Shin yang ia tanyakan adalah sebuah hal yang sangat ringan, tetapi bagi seseorang yang bijaksana mereka harus memikirkan dengan baik apa yang di tanyakan oleh Shin sebelumnya.
“ Kekuatan yang besar yah... apakah jika aku memiliki itu hanya akan ku gunakan untuk membalaskan dendam , terasa sangat sia - sia ! ” batin dari Beatrix dengan melihat ke arah telapak tangannya.
Beatrix kemudian melihat apa yang di lakukan Shin , dan betapa terkejutnya karena Shin menepuk para Wyvern itu dengan sangat santai.
“ Aku sebelumnya memasak beberapa , jadi makanlah ! ” ucap Shin yang mengambil makanan di balik tubuh besar para Wyvern.,
Fania yang melihat terdapat makanan segera menerima dengan sangat bersemangat , tetapi ia masih melihat ke arah Shin dengan mata seperti bintang yang berkilauan.
Ada apa dengan gadis ini ? Kenapa tidak langsung memakannya.
Tetapi kemudian Beatrix menanyakan agar keduanya tidak kebingungan.
“ Tuan apakah benar ini dapat kami makan ? Kami hanyalah orang asing ! ” ucap Beatrix melihat ke arah Shin.
“ Tentu saja makan saja ! Aku memberikan kalian bukan pamer makanan jadi segera makan ” ucap Shin yang menunjukkan makanan di sekumpulan Wyvern.
Awalnya Beatrix sedikit ketakutan karena para Wyvern itu berkumpul membentuk lingkaran seperti akan melakukan eksekusi.
Tetapi tidak butuh waktu lama untuk Beatrix menjadi terbiasa.
Beberapa saat kemudian setelah keduanya makan , Shin berdiri ingin pergi tetapi di hentikan oleh Beatrix dengan cepat !.
“ Tuan ! dari pertanyaan mu sebelumnya itu adalah sebuah hal yang belum ku pikirkan tetapi yang pasti ketika aku memiliki kekuatan yang benar - benar besar hal pertama yang aku utamakan adalah keselamatan seluruh keluargaku walau pada akhirnya aku kembali menjadi seseorang yang tidak memiliki kekuatan lagi ” ucap Beatrix dengan tangan menggenggam yang menunjukkan tekatnya.
“ Begitukah ! ” Shin tersenyum melihat ke arah Beatrix dengan senang.
...( Maaf jika kurang menarik , ini hanya untuk bersenang-senang )...
...( Enjoy and always be happy )...