The Journey To The Edge Of Power

The Journey To The Edge Of Power
[ 84 ] Setara



[ 84 ]


Shin tersenyum dengan kekuatan dari Yizi , ia telah melihat energi di matanya bahwa udara seakan membeku.


Energi yang besar hanya untuk seorang yang baru bertransformasi !


Shin melihat dengan seksama akan kekuatan dari Yizi , ia tidak meremehkan ataupun menganggap serius tetapi karena ia ingin melihat seberapa kuat dirinya jika hanya menggunakan elemen angin.


“ Cold Style Sword : Mountain Crystal ”


Salah satu pedang dari Yizi melepaskan kobaran api dingin dan ia bergerak sangat cepat ke arah Shin dengan kekuatan penuh.


Shin hanya diam tetapi kemudian tubuhnya menekuk dengan langkah aneh.


Tubuh Shin seperti seekor harimau ia membungkuk dan meloncat dengan sangat cepat ke arah Yizi yang membuat serangan sebelumnya telah meleset dari tubuh Shin.


Cakar kembali menggores kulit Yizi dengan kecepatan yang sangat cepat , tetapi sebuah regenerasi membuatnya sembuh dengan instan.


Mereka berdua kemudian saling memandang dengan beberapa waktu.


“ Shin ! Berasal dari mana kamu dan apakah teknikmu ini berasal dari tanah kelahiran mu ” ucap Yizi bertanya.


Shin yang mendengar pertanyaan dari Yizi tersenyum karena memang tekniknya berasal dari dunianya tetapi itu bukanlah sebuah teknik bela diri melainkan sebuah teknik yang di gunakan oleh seekor iblis kuat yang cukup membuat para Penyihir menjadi resah.


“ Bisa di katakan seperti itu , untuk apa kamu bertanya tentang hal itu sebaiknya kita selesaikan pertarungan ini sesegera mungkin ! ” ucap Shin menatap ke arah Yizi dengan angin yang berputar dengan sangat cepat


“ Begitu kah ! Kalau begitu aku tidak perlu menahan diri , kita lakukan serangan penuh masing - masing dan siapa yang masih berdiri maka ia yang akan menjadi pemenangnya ” ucap Yizi mengusulkan.


“ Oklah kalau begitu ! ” ucap Shin yang kemudian menyiapkan posisinya dengan aura angin yang seperti tornado.


“ Hot Cold Style Sword : Heavenly Peacock ”


Yizi bergerak sangat cepat dan kobaran api dan dingin seperti es memenuhi udara di sekitarnya dengan sangat ganas.


Semua penonton yang ada di sana harus kedinginan akan suhu yang di ciptakan oleh Yizi , ia melakukan seperti seakan menciptakan sebuah gunung es di arena pertarungan tersebut.


Shin juga tidak diam , ia bergerak dengan posisi bersiap sambil mengeluarkan sebuah pedang biasa yang ada di cincin penyimpanannya.


“ Wind Style Sword : Mountain Dragon ”


Pedang Shin berkobar dengan elemen angin yang sungguh luar biasa kuat sehingga suhu panas dingin yang di ciptakan oleh Yizi seolah di netralisir.


Keduanya masih menatap dengan energi yang berkobar - kobar bagai dua angin tornado yang saling menunggu.


Tetapi beberapa detik kemudian keduanya menghilang hanya menyisahkan jejak lintasan yang seperti menggores udara.


Dang....


Gelombang kejut yang benar-benar luar biasa seketika meledakkan udara yang ada di depan keduanya dengan sangat dahsyat , semua penonton harus berpegangan karena hempasan angin yang tercipta sungguh membuat semua hal menjadi terhempas.


Bahkan Beatrix dan Fania harus berpegangan pada salah satu pilar untuk dapat bertahan tanpa terdorong dengan sangat jauh.


Keduanya saling menyerang untuk waktu yang sangat lama.


Detik demi detik terus berjalan oleh keduanya tetapi serangan mereka berdua masih belum berhenti , dan tetap sama terus berbenturan seperti sinar matahari yang terus-menerus menyinari dunia.


Hingga 40 detik kemudian keduanya termundur dengan ledakan udara yang benar - benar besar.


Arena terbentuk sebuah kawah dengan ukuran 1 m , senyuman keduanya menjadi lebih lebar yang kemudian mereka berdua kembali melesat ke arah masing - masing yang masih dalam nafsu pertarungan yang sengit.


Duar.... Duar.... Boom... Trang...


Ledakan demi ledakan , benturan pedang dan banyak lagi serangan terdengar di arena tersebut.


“ Mau berapa lama mereka akan terus melakukan pertarungan seperti ini ! Apakah mereka masih belum memiliki batasan akan kekuatannya ! ” salah satu penduduk suku rubah menjadi kagum akan energi yang di miliki oleh Yizi dan Shin .


Beatrix hanya kagum dengan kekuatan yang di miliki oleh tuannya , walau ia tidak tahu seberapa kuat tuannya atau apa wujud sebenarnya tuannya tetapi Beatrix sangat kagum dengan kekuatan yang di miliki oleh Shin.


“ Jika saja aku memiliki kekuatan seperti ini maka ! pasti aku dapat hidup tentram di desa ku ! ” ucap Beatrix dengan menahan emosi yang meluap.


Walau ledakan energi yang terus menerus terjadi para penonton semakin bersemangat akan pertarungan yang di lakukan oleh keduanya seolah tanpa akhir


“ Terakhir ! ” keduanya kemudian berteriak kembali dengan nafas memburu dan energi yang membara semakin kuat.


“ Hot Cold Style Sword : Heavenly Peacock ”


“ Wind Style Sword : Mountain Dragon ”


Keduanya kembali bergerak sangat cepat dan meninggalkan jejak lintasan yang menerangi arena tersebut.


Boom..


Ledakan lebih besar kini lebih besar dari sebelumnya .


Karena ledakan yang sangat besar seketika membuat keduanya menjadi terlempar hingga keluar arena.


“ Tuan terlempar ! ” ucap Fania yang kemudian dengan sangat cepat ia bergerak ke arah Shin.


Shin yang terjatuh di luar arena harus mengeluarkan darah segar dari sudut - sudut mulutnya.


“ Heh... Benar - benar menarik ketika aku dapat melakukan pertarungan semeriah ini ” ucap Shin yang sangat bersemangat.


“ Hahah.... Ini benar-benar menyenangkan ! ” suara gembira dari Yizi segera membuat semua penonton melihat ke arahnya.


Yizi tidak menghiraukan berbagai tatapan yang mengarah ke arahnya dengan berbagai pandangan.


Ia kemudian berjalan ke arah Shin sambil menampilkan senyum yang sangat lebar.


“ Haha... Sangat menyenangkan , lain kali ayo kita lakukan pertarungan yang lebih meriah Muzan ! ” ucap Yizi sambil mengangkat jempolnya ke arah Shin.


“ Yah... Itu tadi sangat menyenangkan ! ” ucap Shin yang kemudian berjalan ke arah Yizi yang diikuti oleh Fania dan Beatrix.


Yizi memandu Shin dan yang lainnya untuk pergi ke sebuah penginapan , di sana merupakan tempat biasa para tamu seperti Shin akan tinggal walau pembayaran untuk menginap tetap pada setiap orang yang ingin menginap.


Setelah saling bersalaman Yizi pergi dan Shin serta yang lainnya juga ikut ke penginapan.


Ketika Shin masuk ternyata di sana telah ada sangat banyak orang yang duduk bahkan hampir tidak ada yang kosong.


Shin dan yang lainnya duduk di meja dekat jendela


Saat Shin duduk disana bersama kedua bawahannya seorang pelayan datang dengan senyum menawan.


“ Bisakah saya bantu tuan - tuan ! ” tanya dari pelayan itu ke arah Shin dan yang lainnya.


Shin tersenyum ke arah pelayan itu dengan senyuman Harimau , tetapi pelayan tersebut seperti sudah terbiasa ia hanya balik tersenyum tanpa mengatakan apa - apa.


Shin sudah mengunjungi beberapa kota dam desa tetapi hampir semuanya memiliki pandangan ke arah Shin dengan tatapan yang tidak mengenakan walau mereka tahu bahwa Shin bukanlah seseorang yang miskin dan jahat.


“ Rekomendasi dari sini saja tanpa adanya daging babi ” ucap Shin yang langsung menjawab tanpa melihat ke arah menu yang di perlihatkan oleh pelayan tersebut.


Pelayan tersebut terkejut karena baru kali ini ia melihat seseorang yang memesan tanpa melihat ke arah menu yang ia berikan.


“ Baik tuan , mohon tunggu ! ” ucap pelayan tersebut yang kemudian pergi untuk membuat kan apa yang di pesan oleh Shin.


Fania melihat ke arah Shin dengan cemberut bersama dengan Beatrix.


“ Ada apa dengan wajah kalian , apakah kalian menginginkan sesuatu ? ” tanya Shin penasaran dengan bingung.


“ Tuan , saya adalah seorang pelayan anda bukankah anda harusnya menyuruh saya untuk berdiri saja dan juga Fania sangat menyukai makanan seperti daging babi ! ” ucap Beatrix dengan nada cemberut.


“ Oh karena kalian adalah seorang pelayan kalian akan berdiri , hah kalian jangan menyusahkan diri sendiri jika tidak ada yang melarang mu untuk duduk mengapa kamu ingin berdiri ! Kalian sungguh membuat repot diri sendiri ! ” ucap Shin yang tidak habis pikir dengan pikiran yang di miliki oleh Beatrix.


“ Sedangkan Fania mulai dari sini kau akan memakan daging monster dan binatang buas kecuali Babi karena aku sangat membenci babi ” ucap Shin dengan melihat ke arah Fania.


“ Tuan ! Kenapa kamu membenci daging babi bukan kah itu sangat enak !? ” ucap Fania yang masih dengan mulut cemberut .


“ Lalu apakah kamu tidak pernah mendengar bahwa di dalam daging babi terdapat sebuah racun yang membuat mu menjadi cantik tetapi juga membuat mu menjadi lebih pendek ” ucap Shin berbohong dengan santai.


Telinga dari Beatrix seketika berkedut ketika mendengar kebohongan yang di lakukan ke Shin dengan sangat mudah dan tanpa mengedipkan mata.


“ Racun ! Menjadi cantik serta membuat menjadi pendek ! ” ucap Fania mengulang kata - kata yang di ucapkan oleh Shin.


“ Tidak , Fania masih mau menjadi cantik tetapi tidak mau menjadi pendek ” ucap Fania dengan suara dan wajah yang lucu


Shin tersenyum kemudian ia mengelus kepala dari Fania dengan lembut.


Tidak lama kemudian pelayan yang sebelumnya telah kembali membawa banyak makanan yang di bantu oleh temannya.


Makanan - makanan tersebut membuat meja yang ada didepan Shin menjadi penuh dan penuh dengan aroma makanan yang sangat mewah.


Saat kedua pelayan tersebut telah pergi , Fania dan Beatrix melihat ke arah Shin karena mereka sudah sangat ingin memakan makanan yang ada di depan mereka.


“ Makan saja , untuk apa melihat ku ” ucap Shin yang kemudian memakan makanan dengan santai.


Sedangkan kedua wanita itu melihat Shin telah makan , mereka juga ikut makan dengan gembira.


Tetapi ketika Shin sedang makan seseorang dengan tubuh yang besar menghampirinya dan menatap ke arah Shin dengan sangat ganas.


“ Hei hewan buas ! ” ucap seseorang tersebut yang merupakan seorang pria dengan tubuh yang di penuhi dengan otot.


Shin menoleh dengan santai dan melihat ke arah matanya untuk melihat apa yang ia inginkan !


“ Apa yang kamu inginkan !? ” tanya Shin penasaran.


“ Haha... Berikan kedua wanita itu kepadaku , aku akan memberi mu 10.000 koin emas ” ucap pria itu dengan nada yang ganas.


“ Memberikan nya yah… , yah boleh ” ucap Shin dengan nada yang sangat santai.


Beatrix yang mendengar itu hatinya seperti tersayat oleh sebuah pisau , padahal ia sudah mempercayakan semuanya kepada Shin karena telah merasakan kasih sayang yang sudah lama tidak ia rasakan.


“ Apakah aku memilih tuan yang salah kembali ! ” batin Beatrix dengan nada kecewa.


Tetapi tindakan Shin kemudian seketika membuatnya tersenyum.


“ Ok akan ku berikan tetapi aku memiliki syarat apakah kamu dapat memenuhinya ” ucap Shin yang masih menatap ke arah pria itu.


“ Heh... Apakah kamu mengancam ku , tetapi baiklah aku ingin melihat apa syarat mu sehingga kamu dapat mengancam ku ” ucap pria itu dengan energi sihir yang memenuhi tubuhnya sehingga menciptakan derak petir berwarna kuning.


Semua pengunjung penginapan tersebut seketika menjadi panik.


“ Baiklah tolong tahan sepenuhnya dari tekanan yang ku berikan ” ucap Shin dengan tersenyum yang kemudian tekanan momentum angin meledak dengan gila yang pusatnya adalah Shin.


Ledakan momentum angin bukan hanya di rasakan oleh pria besar tersebut tetapi hampir seluruh penginapan tertekan.


Tekanan yang di ledakkan oleh Shin bukanlah sebuah tekanan yang ringan , tekanan momentum ini hampir mencapai 25 persen dari kekuatannya yang sebelum ia disegel.


Drt...


Semuanya bergetar dengan sangat kuat , bahkan bangunan penginapan tersebut seakan bisa hancur kapan saja.


Pria besar yang sebelumnya itu hanya dapat membungkuk di lantai penginapan tanpa bisa menggerakkan sedikitpun bagian tubuhnya.


Keringat dingin membasahi seluruh baju dari pria itu , yang menunjukkan seberapa ketakutannya ia terhadap Shin saat ini.


Tetapi untungnya Shin hanya meledakkan selama beberapa menit dan jika itu sangat lama maka bangunan penginapan itu pasti sudah menjadi puing - puing akibat dari di tekan oleh dorongan gravitasi.


Setelah tekanan itu lepas semua pengunjung berusaha menjauh dari Shin bahkan ada yang keluar dari penginapan , takut ia tanpa sengaja juga ikut memprovokasi Shin.


Sedangkan pria yang sebelumnya berdiri dengan sombong ke arah Shin segera berlari terbirit-birit mengabaikan apa yang ada di belakangnya.


melihat itu Shin tidak mengejar maupun menyerang balik , ia membiarkan agar menjadi sebuah pelajaran bahwa tidak setiap orang dapat ia singgung dengan begitu mudah.


Shin kemudian melanjutkan makan dengan santai yang di mana mata Fania kebingungan melihat kejadian sebelumnya.


“ Tuan kenapa mereka tertunduk sebelumnya , apakah terdapat sesuatu yang menakutkan ” ucap Fania dengan bingung.


Sedangkan Beatrix tidak kebingungan karena ia juga di lindungi oleh Shin agar mereka tidak merasakan betapa mengerikannya tekanan yang di ledakkan Shin sebelumnya.


“ Yah ... mungkin , sudahlah lebih baik kamu teruskan makan agar kamu dapat tumbuh lebih cepat dan lebih cantik ” ucap Shin tersenyum ke arah Fania.


Fania mengangguk dan kemudian ia terus makan tanpa menghiraukan apa yang ada di sekitarnya.


Beberapa saat kemudian.


“ Tuan , apa yang akan anda lakukan selanjutnya ? ” tanya Beatrix ke arah Shin.


“ Kurasa kita akan tinggal di sini untuk sementara waktu sekalian istirahat ” ucap Shin yang mendapatkan anggukan dari Beatrix.


Kemudian Mereka tinggal di desa rubah tersebut untuk beberapa minggu bersamaan dengan itu Shin melatih Fania dam Beatrix menjadi lebih kuat.


“ Tuan apakah kita akan berlatih di sini , apakah tidak menggangu penduduk di sini ” ucap Beatrix melihat ke arah tempat latihan yang ada di desa rubah.


“ Seharusnya kamu tahu , di sini hanya untuk berlatih akan teknik dasar tanpa sihir , yah tentu saja kita latihan di hutan ” ucap Shin yang kemudian membawa dua gadis itu ke hutan terdekat.


( Maaf jika kurang menarik , ini hanya untuk bersenang-senang )


( Enjoy and always be happy )