T H A N A K A

T H A N A K A
' Page : 64 '



' Pak, saya mohon beri saya solusi agar - - '


' Silahkan bunuh diri mu! '


Sontak Shelly melotot.


' Itu solusi terbaik untuk wanita menjijikkan seperti mu! '


Ketus Thanaka, kemudian masuk ke mobilnya.


Menyalakan mesin mobilnya, dan segera berlalu dari rumah


' Aaakhh! '


Shelly teriak geram.


' Sialan kau Thanaka sial!!! '


Umpat Shelly murka.


' Tapi jika benar terjadi apa-apa pada ku, aku harus apa?! '


Panik Shelly


' Pak Thanaka kan sudah menikah '


' Lalu bagaimana dengan nasib ku nanti?! '


Gumam Shelly yang menjadi semakin panik.


Kemudian masuk kembali ke rumahnya.


Pukul : 05.58


Mobil Thanaka sudah memasuki area mansion milik Arsylin.


Kemudian memarkir mobilnya tepat di garasi mobil, mansion megah milik Arsylin.


Thanaka hendak turun, namun tiba-tiba ia teringat akan kata-kata Shelly tadi.


' Ada benar nya juga kata Shelly tadi '


' Solusi yang tepat jika terjadi sesuatu pada nya '


Thanaka terdiam.


' Tapi mana mungkin aku menikahi nya! '


' Lalu bagaimana nasib pernikahan ku dnegan Arsylin, jika aku harus menikahi nya?! '


Thanaka terdiam lesu, mengingat kejadian yang baru saja terjadi.


Bahkan ingatannya masih segar, mengenai perlakuan nya pada Shelly tadi malam.


' Akh! '


Thanaka memukul setir kemudi.


Kepalanya kembali dipenuhi bayang-bayang ketakutan akan nasib nya nantinya.


Apalagi ia tahu betul, ia melakukan permainan itu dengan tidang menggunakan pengaman apapaun.


Diluar mobil..


Tampak Arsylin yang terus melambaikan tangan kearah mobil Thanaka.


Mata Thanaka tertuju pada Arsylin.


' Maaf kan aku sayang '


Gumam Thanaka menyesal.


Kemudian segera meengubah ekspresi wajahnya sebelum turun mobil.


Di teras mansion..


Thanaka dapat melihat dengan jelas, bahwa Arsylin sangat mengkhawatirkannya disana.


' Pagi sayang '


Sapa hangat Thanaka, kemudian mencium sekilas bibir Arsylin.


' Kakak dari mana aja sii?! '


Cemas Arsylin. Thanaka tersenyum tipis.


' Yang seperti ini saja Arsylin begitu mengkhawatirkan ku '


' Lalu bagaimana jika nanti benar terjadi apa-apa pada Shelly '


' Aku benar-benar tak tega pada Arsylin '


Batin Thanaka gundah.


' Kenapa baru pulang?! '


Thanaka tersenyum hangat.


' Maaf ya sayang, tadi malem aku kesasar '


Arsylin menganga dan mengeryit.


' Kesasar? '


Thanaka mengangguk.


' Kesasar dialamat yang Tante Loli kasih?! '


Thanaka kembali mengangguk.


' Ya ampun kasian banget sih suami akuu '


Arsylin mengusap manja pipi Thanaka.


Thanaka tertawa kecil.


' Sekali lagi maaf ya sayang '


Thanaka mengecup kening Arsylin.


Arsylin mengangguk sembari tersenyum hangat.


' Iya ngga papa kak, yang penting kakak udah pulang kerumah dengan selamat '


Lanjut Arsylin manja.


' Yaudah yuk masuk '


Ajak Thanaka, Arsylin lagi-lagi mengangguk manja. Mereka pun masuk bersamaan.


5 Bulan Kemudian..


Tepat diusia ke-8 bulan kandungan Arsylin, ia mengalami kontraksi hebat menuju persalinan nya.


Pukul : 08.54


Tampak Diana dan David sudah tidak sabar menunggu kelahiran cucu pertama mereka.


Terdengar jelas dari luar ruang persalinan, bidan yang terus memberi aba-aba pada Arsylin untuk tarik napas, dan juga sesekali suara rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Arsylin.


' Semangatt sayang, sebentar lagi baby kita akan berjumpa dengan kita '


Bisik Thanaka memberi support pada Arsylin, dengan terus menggenggam dan sesekali mencium mesra kening Arsylin.


Arsylin menangis sejadi-jadinya disana.


' Sakit kak sakitt! '


Rintih Arsylin lagi dan lagi.


Thanaka sangat khawatir akan keadaan sang istri, namun ia tetap berusaha terlihat tegar dihadapan Arsylin.


' Heii jangan nangis dong '


' Kan sudah jadi mama muda '


Goda Thanaka mengalihkan suasana, namun karena geram Arsylin menggigit kuat jari kelingking Thanaka.


Sontak Thanaka teriak kaget serta kesakitan.


' Eh! Ada apa pak?! '


Panik salah satu ibu bidan pada Thanaka.


Sontak bidan lain pun ikut panik.


' Ada apa pak?! '


Sahut bidan yang berada tepat dibagian bawah Arsylin.


Arsylin yang terus menangis karena sakit pun sampai tertawa tanpa suara melihat wajah lucu Thanaka


Thanaka mengedarkan pandangannya ke para bidan yang melihatnya.


' Ah! T-tidak apa-apa pak Bu, maaf sudah memanggu hehe '


Ujar Thanaka sembari terus memegangi kelingkingnya, yang rasanya mau putus itu.


Sontak para bidan yang mendengar, melanjutkan persiapan mereka menyambut anak pertama Thanaka dan Arsylin.


' Sayang jangan ngegigit dong, sakit inii '


Bisik Thanaka.


' Masih sakit mana sama aku kak?! '


Teriak Arsylin, sontak Thanaka panik karena semua mata bidan yang ada diruang persalinan kini menatapnya.


Dengan tatapan ' Kenapa sih mereka?! '


Sontak Thanaka menebar cengiran nya.


Diluar ruang persalinan..


' Sayang tunggu dulu dong- - '


' Apa lagi?! '


Bentak Lhevia.


' Kita kan bisa bicarakan ini dulu, jangan marah-marah terus dog yang '


Rayu Axell.


' Percuma Axell percuma! '


' Kita udah sering kok bicarain ini, tapi apa nyatanya?! '


' Ngga ada hasilnya juga kan! '


' Namanya juga usaha yang, kita ngga ada yang tahu akan berhasil atau engga- - '


' Gitu aja terus jawaban mu! '


Bentak Lhevia murka.


' Dari dulu! '


' Sampe anaknya udah mau brojol juga kamu masih bilang begitu?! '


Omel Lhevia.


' Ngeselin deh! '


Celetuk Lhevia kesal.


Axell menghela nafas.


' Ya sabar dong sayang '


' Kalau kita gagal pada saat dia hamil, kemungkinan kita bisa berhasil saat dia sudah punya anak nanti '


' Nyambungnya dari mana Axell hellowww?!! '


' Aku tuh capek dari dulu kamu tuh cuma bilang aku janji sama kamu sayang, akan membalas kan dendam mu dengan segera tapi apa nyatanya?! '


Omel Lhevia dengan mengikuti gaya bicara Axell.


Axell lagi-lagi menghela nafas.


' Ya kali dari dulu kita udah usaha, tapi sampe sekarang ngga ada hasilnya?! '


' Itu ngga mungkin, kalau bukan karena ke tidak seriusan mu! '


Ketus Lhevia lalu melanjutkan langkahnya.


' Sayang dengerin duluu- - '


' Ngga butuh dengerin ocehan kamu, capek doang ngga ada hasilnya! '


Celetuk Lhevia dengan terus melangkah menuju ruang persalinan, dengan terus diikuti oleh Axell.


Sesampainya di area ruang persalinan..


Axell dan Lhevia berhenti melangkah, sebab mendapati Diana dan David yang tampak tengah menunggu disana.


' Yahh kita udah keduluan! '


Ujar Lhevia.


' Betul yang, lebih baik sekarang juga kita pergi dari sini. Sebelum mereka melihat kita '


' Yaudah yuk cepet cepet cepet '


Namun saat Lhevia dan Axell baru hendak berlari, David mengetahui keberadaan mereka.


' Mau kemana kalian?! '


Seru David sembari berjalan menghampiri Axell dan Lhevia.


Sontka keduanya berbalik badan menghadap Axell.


' Eh! D-david selamat yaa bentar lagi- - '


' Saya tidak butuh basa-basi mu! '


Potong David Lhevia menelan salivanya.


Kini Axell membuka suara.


' Hei David, rupanya kau sudah lebih dulu ada disini. Padahal kami berencana untuk datang lebih awal looh, ya kan sayang? '


' He'ek bener tuh yang '


Lhevia dan Axell mencoba mengalihkan pembicaraan.


' Kau bayar berapa gadis yang sudah kau suruh untuk menjebak keponakan mu sendiri?! '


David to the point.


Sontak Lhevia dan Axell melotot.


' Mampus! '


' Kenapa David bisa tau tentang itu?! '


Batin Lhevia takut.


' E-em.. membayar, apa maksud mu David? '


Axell pura-pura tak tahu.


David berdecih.


' Jangan berlagak seperti orang bodoh begitu pada ku, itu sama sekali tidak mempan bagi ku! '


Tegas David dengan cepat.


Sontak Axell terdiam seribu bahasa.


' Sekarang lebih baik kau terus terang lah pada ku, kenapa kau membalaskan dendam mu dengan cara menjebak keponakan mu sendiri?! '


Ulang David serius.


' Bukankah itu cara yang konyol?!


Lhevia kembali gugup.


Begitupula dengan Axell.


' I-it itu.. itu sama sekali bukan urusan mu David-'


Bentak David.


Lhevia menciut, kemudian dipeluk oleh Axell.


' David kasar sekali ka--'


' Kau diam! '


Bentak David, sontak Axell kembali terdiam.


' Aku masih tank habis pikir dengan otak miring mu itu Lhevia '


Geram David.


' Kau masih marah padaku, tapi dendam mu tertuju pada putri dan mantu ku. Bukan kah itu hal yang bodoh?! '


Omel David.


' Kalau kau memang ingin mencelakai ku.. silahkan celakai aku jika kau bisa...


' Tapi jangan keluarga kecil ku ataupun siapapun itu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan permasalahan kita! '


Bentak David lagi dan lagi.


Lhevia menelungkup wajah nya ke dada bidnag Axell. Takut.


' Kau tahu?! '


' Karena kebodohan mu itu, keponakan mu tengah menjadi buronan keluarga gadis bayaran mu itu! '


Sontak Lhevia melotot.


' Ap-apa?!! '


Batin kaget Lhevia.


Kemudian menatap tajam ke arah David.


' Sebab gadis bayaran mu itu tengah hamil 5 bulan, karena ulah mu yang menjebak keponakan mu sendiri dengan nya! '


Lanjut David yang semakin tersulut emosi.


Lhevia mengeryit kaget.


' Sial! '


' Aku memang menjebak Thanaka '


' Tapi bukan untuk ini tujuan ku '


' Maksud ku waktu itu adalah agar Arsylin cemburu lalu murka dan menceraikan Thanaka! '


' Tapi kenapa malah begini jadinya?! '


Batin bingung Lhevia.


' Sejauh ini kau hanya terus ku pantau ya Lhevia!'


Lanjut David serius.


' Tapi jika sudah begini, berarti kau memang ingin mencari keributan dengan ku! '


Sontak Lhevia menatap ngeri kearah David.


Axell buka suara.


' David! '


' Seharusnya kau sadar diri! '


' Ini semua terjadi karena ulah mu dulu pada Lhevia! '


Bentak Axell yang juga tersulut emosi.


Lhevia memeluk dan menelungkup wajahnya ke dada Axell. Takut.


' Jika kau dulu tidak mempermainkan perasaan Lhevia, mustahil Lhevia akan dendam sejauh ini pada mu! '


Lanjut Axell membela sang kekasih, Lhevia mengangguk setuju maish dengan posisi wajah yang tertutup dada Axell.


David terdiam.


' Kau bahkan dulu tak memikirkan sedikit pun perasaan Lhevia saat kau tinggal nikah dnegan Diana kan?! '


' Jadi wajar-wajar saja dong kalau Lhevia sampai semarah dan se sakit hati ini ke kamu! '


David menelan salivanya.


' Karena ini smeua berawal dari dirimu '


' Tidak mungkin kan ada seseorang yang sampai senekat ini pada kita, jika kita tidak pernah bermasalah dengan orang tersebut?! '


Otot Axell.


' Itu sama halnya dengan Lhevia Vid! '


' Tidak mungkin dia sedendam ini dengan mu, jika kau sama sekali tak pernah menyakiti nya! '


' Maka dari itu jika Lhevia terus berusaha meluapkan dendam nya pada mu, kau harus terima! '


' Karena apa?! Karena tanpa kau sadari kaulah yang menginginkan ini semua terjadi! '


Lagi-lagi Lhevia mengangguk setuju.


' Oke aku akui aku salah '


' Karena aku tlah tega menyakiti perasaan Lhevia, hanya untuk memenuhi ke egoisan ku semata '


Sahut David tenang.


' Tapi jika Lhevia sampai berbuat senekat ini hanya untuk meluapkan amarahnya pada ku..'


' Itu sama saja dia menciptakan Boomerang untuk menyerang dirinya sendiri Axell! '


Tegas David.


' Aku bahkan sering loh bilang sama dia, kalau ingin marah pada ku. Marah lah, tapi hanya pada ku. Jangan ke orang lain! '


' Tapi kau bisa lihat sendiri kan bagaimana ulahnya?! '


' Dia bukannya menuntaskan dendamnya pada ku, tapi malah mencari keributan baru lagi dengan keluarga ku '


' Bahkan tanpa dia sadari, Lhevia juga menciptakan perang dalam keluarganya sendiri! '


Lanjut David.


Ketiganya terdiam sejenak..


David terus menatap Lhevia yang sedari tadi tak berani menatap nya.


' Ini baru aku dan Thanaka yang menyadari nya, belum lagi Arsylin apalagi Diana nantinya. '


Mendengar itu sontak Lhevia menatap David.


Dengan tatapan melas.


' Aku tidak tahu bahaya apa yang akan menghampiri mu setelah semua nya tahu tentang ini Lhevia! '


Tegas David.


' Dan bayangkan saja jika Thanaka harus memilih salah satu keputusan dalam hidupnya '


' Yaitu tetap bersama Arsylin tapi dia dipenjara dan di pecat dari pekerjaan nya '


' Atau diceraikan Arsylin, alku menikahi gadis bayaran mu yang tak sengaja dihamilinya itu '


Sontak Lhevia kepikiran Thanaka.


' Benar juga kata David '


' Tapi aku harus apa?! '


' Nasi sudah menjadi bubur '


Batin Lhevia.


' Tapi jika keputusan yang kedua yang dipilih nya'


' Kau orang pertama yang ku cari, dan ku bawa ke hadapan dua keluarga besar. Yaitu keluarg ku dan juga keluarga mu. Untuk menjelaskan semua rencana konyol mu itu! '


Tegas David, kemudian berlalu dari hadapan Axell dan Lhevia.


Sontak Lhevia berubah menjadi panik.


' Yahh aaa yang gimana dong?! '


Rengek Lhevia sereh David menjauh dari sana.


Axell berdecak.


' Entahlah yang '


Ucap Axell bingung, sembari menghela nafas panjang.


' Aku jadi bingung pada mu '


Sontak Lhevia melotot kearah sang kekasih.


' Maksud mu?! '


Bentak Lhevia.


' Kau yang dulu terus berusaha menghancurkan David melalui anaknya..'


' Tapi setelah berhasil, kau malah bingung dan panik mengetahui hasilnya- - '


Plakk


' Akh! '


Karena tak terima, Lhevia menampar pipi Axell.


' Yang sakit yang! '


' Sukurin! '


' Siapa suruh malah ngomong kaya gitu! '


Omel Lhevia.


' Seharusnya kamu tuh support aku! '


Geram Lhevia.


Axell meringis kesakitan.


' Lagian maksud dan tujuan kita--'


' B-bukan bukan kita, tapi ayang-- '


Plakk


' AAKHHH!! '


Lagi-lagi Lhevia menampar geram pipi Axell.


' Kamu tu kenapa sih?! '


' Udah kaya gini aja--'


' I-iy iya sayang lanjutin sayang aduhh lanjut yang lanjut '


Rayu Axell agar Lhevia tak lagi mengamuk, sembari meringis kesakitan.


Lhevia membuang nafas kasar.


' Gak! Udah gak mood mau ngomong lagi! '


Lhevia cemberut, sembari melipat kedua tangannya manyun.


Diruang persalinan..


Thanaka melotot bahagia mendengar tangis bayi yang terdengar nyaring.


' Aaa puji Tuhan, anak kita sayang '


Seru Thanaka bahagia, kaget, haru bercampur aduk, sembari terus mengecup kening Arsylin.


Arsylin mengangguk lemas.


' Selamat ya pak Bu, anak nya perempuan '


Ujar ramah salah satu bidan yang menggendong bayi pertamanya Thanaka dan Arsylin, untuk dibersihkan.


' Iya pak, Terimakasih banyak juga atas bantuan nya '


Sahut Thanaka dengan nafas yang memburu karena bahagia.


' Ah! Iya, sayang tunggu sebentar ya.. aku mau suruh papa sama Mama masuk dulu '


Pamit Thanaka, Arsylin tersenyum tipis kemudian mengangguk lemas.


' Tolong jagain istri saya ya Bu '


' Dengan senang hati pak '


Sahut ramah bidan yang sedari tadi mendampingi Arsylin.


Diluar..


' Ah! Thanaka, bagaimana persalinan nya? '


Tanya Diana semangat.


' Puji Tuhan lancar mah, ayo mah pa masuk. Kita lihat cucu pertama mama sama papa '


Seru Thanaka.


' Iya ayo nak. Papa juga sudah tidak sabar menggendong cucu papa '


Sahut David antusias.


Ketiganya pun dnegan semangat masuk keruang persalinan.


' Sayang.. '


Lirih Diana sembari mengusap-usap lembut kepala Arsylin, yang terlihat kemas diranjang persalinan.


Arsylin tersenyum.


' Wahh anak papa sudah jadi ibu '


Goda David, Arsylin menyengir lemas.


' Selamat ya sayang. Mmuach '


David dan Diana mencium pipi Arsylin secara bersamaan.


' Makasih ma pa '


Dilain sisi..


Thanaka yang sedang fokus melihat para bidan yang membersihkan putri pertama nya, tiba-tiba tersentak sebab ponselnya bergetar.


Dengan segera Thanaka merogoh ponsel di saku celana nya.


Thanaka mengeryit kaget.


' Shelly '


Gumam Thanaka.


Kemudian segera mendekat ke David.


Lalu membisikinya.


' Maaf pa, Thanaka terima telfon dari Shelly dulu. Aku titip Arsylin sebentar ya pa '


David mengangguk paham.


' Eii mau kemana nak? '


Seru Diana, sontak Thanaka berbalik badan.


' Ah! Ini ma, mau angkat telfon dulu. Sebentar '


Pamit Thanaka, Diana hanya mengangguk ' Oh '.


* 💘 NEXT 💘 *