T H A N A K A

T H A N A K A
' Page : 19 '



Di Rumah Sakit


' Apa.. terjadi sesuatu padanya dok? '


Khawatir Thanaka.


Sang dokter menghela nafas.


' Tidak pak, hanya saja teman bapak butuh banyak istirahat.. '


' Sebab, tubuhnya sangat lemah akibat asupan obat tidur yang berlebihan '


Thanaka mengeryit.


' Obat tidur dok?!  '


Sang dokter mengangguk.


Thanaka menoleh ke Arsylin yang masih terlelap dengan wajah pucat nya.


' Diberi obat tidur?.. '


' Apa kamu tidak melawan pada saat disuruh meminumnya Arsylin?! '


Batin Thanaka.


' Tapi tenang pak.. '


Sontak Thanaka menoleh ke Dokter.


' Teman bapak hanya tertidur saja, nanti jika obat tidur yang dikonsumsinya sudah tidak bereaksi..'


' Dia pasti akan terbangun '


Lanjut dokter.


Thanaka mengangguk paham.


' Baik terimakasih banyak dok, saya berharap teman saya segera terbangun '


Sahut Thanaka.


Sang dokter tersenyum hangat.


' Pasti pak '


' Oh iya, nanti jika teman bapak sudah bangun..'


' Kalau bisa disegerakan makan dulu ya pak, soalnya kasihan wajahnya pucat sekali '


Thanaka mengangguk paham.


' Dan.. jika sudah mau makan, jangan lupa beri obat ini agar tubuhnya tidak lemas lagi '


Lanjut sang dokter, sembari menunjukkan obat berwarna biru diatas nampan.


' Oh baik pak '


' Kalau begitu.. saya tinggal dulu ya pak '


' Baik, terimakasih dok '


Setelah dokter keluar kamar, Thanaka kembali duduk di kursi yang berada tepat disamping ranjang Arsylin terlelap.


' Ini semua pasti karena syarat ku waktu itu '


' Andai saja aku tak memberinya syarat yang tak jelas seperti itu.. '


' Kamu pasti tidak akan seperti sekarang ini Arsylin '


' Maafkan aku..'


Tampak jelas aura khawatir sekaligus menyesal, terukir diwajah Thanaka.


Ditatapnya wajah pucat Arsylin.


Lalu menghela nafas pelan.


Kemudian bangkit dari duduknya.


Namun belum sempat ia melangkah, Thanaka melihat Arsylin tampak perlahan membuka matanya.


Sontak Thanaka mendekat ke Arsylin.


' Arsylin.. '


Lirih Thanaka bahagia bercampur sedih.


Arsylin dapat mendengar suara Thanaka, namun pandangan nya masih kabur.


Arsylin mengeryit mendapati dirinya berada disebuah ruangan.


' Dimana ini? '


Lirihnya masih dengan mengedarkan pandangannya.


' Kamu sedang dirawat dirumah sakit '


Sahut Thanaka lirih.


' R-umah sakit?! Ah! - - '


' Eii! pelan-pelan..'


Thanaka mentitah tubuh lemas Arsylin untuk duduk menyandar, ke bantal yang sudah ia letakkan dibelakang Arsylin.


' Apa yang kamu rasakan? '


' Apa ada yang sakit? '


Lirih Thanaka khawatir, Arsylin menggeleng pelan.


Arsylin mengedarkan pandangannya.


' Aku kira aku akan tewas '


' Kenapa aku slalu terkena imbas dari semua keburukan papa David dimasa lalu '


Arsylin kembali teringat akan kejadian mengerikan tadi.


' Apa salah ku? '


Batin Arsylin menangis.


Tak sadar air matanya kembali membasahi kedua pipinya.


' Kata dokter, jika kau sudah bangun harus - - '


' Arsylin! Hei.. kenapa?! '


Thanaka segera meletakkan kembali mangkuk bubur yang dipegangnya.


Kemudian mendekati Arsylin.


' Apa ada yang sakit ?! '


Cemas Thanaka, namun Arsylin menggeleng pelan sembari terisak.


' Arsylin.. '


' Hei.. '


Thanaka mengusap lembut pucuk kepala Arsylin.


Sontak Arsylin menoleh.


' Kata kan pada ku, mana yang sakit? '


Lirih Thanaka.


Namun Arsylin kembali menggeleng.


Air matanya semakin deras.


Thanaka panik.


Apa yang harus dilakukan nya.


' Kak '


Arsylin memeluk tubuh kekar Thanaka.


Thanaka terdiam.


Sejauh ini ia tak pernah memeluk ataupun dipeluk wanita lain, selain mendiang sang Ibunda.


Tangis Arsylin pecah.


Sontak Thanaka kalang kabut dibuatnya.


' Ar-arsylin.. '


Lirih Thanaka panik dengan.


' Kenapa hm? '


Dapat Thanaka rasakan, tubuh Arsylin sesekali gemetaran.


' Arsylin benci papa David! '


' Heii sssttt.. kenapa berkata begitu? '


Karena semakin tak tega melihat Arsylin yang menangis sesegukan disana, Thanaka segera membalas pelukan Arsylin.


' Kenapa aku sangat gelisah jika ia menangis '


Batin Thanaka, sembari terus mengelus kepala Arsylin.


2 Menit Berlalu


Dirasa Arsylin sudah kembali tenang.


Thanaka perlahan melepas pelukan mereka.


Tampak kedua mata Arsylin yang semakin sembab disana.


' Kenapa hm? '


' Apa yang terjadi? '


Thanaka terus mencoba menenangkan Arsylin.


Arsylin menatap lekat mata Thanaka.


' Ada yang ingin kau sampaikan? '


Lirih Thanaka.


Arsylin hanya diam.


Thanaka menghela nafas.


Kemudian mengelus lembut pucuk kepala Arsylin.


' Kalau mau cerita.. silahkan '


' Tapi.. Arsylin harus makan dulu. Biar cepet pulih. Oke? '


Setelah mengatakan itu, Thanaka meraih mangkuk yang tadi ia letakkan ke meja.


Dengan lembut Thanaka merayu Arsylin agar mau makan.


' Aaa '


Thanaka mengangkat sendok ditangannya.


Perlahan Arsylin membuka mulutnya, menerima sesuap demi sesuap bubur dari Thanaka.


* 💘 NEXT 💘 *