
Di rumah Thanaka..
Arsylin jalan beriringan dengan Thanaka menuju rumah megah milik Thanaka.
Sedari tadi dulu apart pribadinya Loli samaran, Arsylin tidak bergeming.
Sebab ia malu dan juga gugup.
' Sini '
Pinta Thanaka lembut pada Arsylin yang masih berdiri, sembari menepuk sofa tepat disamping nya.
Arsylin tersenyum tipis sembari mengangguk, kemudian berjalan menghampiri Thanaka.
' Mau minum apa? '
Tanya Thanaka saat Arsylin sudah duduk tepat disebelah nya.
' Air putih aja kak '
Cicit Arsylin malu.
' Oke, tunggu sebentar '
Kemudian Thanaka bangkit dari sofa, menuju dapur bersih yang ada dilantai pertama mansion nya.
5 Menit Kemudian...
Thanaka kembali duduk disebelah Arsylin, dengan membawa es susu di nampan kecilnya.
Arsylin mengeryit.
' Kan.. air putih kak '
Lirih Arsylin dengan menyengir kuda.
' Adanya ini, ngga papa biar sehat '
Sahut Thanaka, kemudian meneguk es susu strawberry buatannya.
' Rumah aegede istana, tapi air putih aja ga punya?! '
' Ck.ck.ck '
Batin heran Arsylin.
Kemudian meraih es susu yang ada dimeja.
Keduanya sama-sama menikmati susu buatan Thanaka sejenak.
Kemudahan bersamaan pula meletakkan kembali gelas es susu nya ke meja.
Setelah minum, Arsylin menjadi sedikit lebih tenang.
' Aku.. boleh tanya sesuatu ngga? '
Sekarang Thanaka menggunakan aku-kamu, sebab hanya ada mereka berdua disana.
Arsylin mengangkat alisnya ' silakan '
Sontak Thanaka mengubah posisi duduknya, menjadi menghadap ke Arsylin.
' Seandainya.. '
Arsylin menyimak.
' Kalau diumur mu yang masih terbilang cukup muda ini ku nikahi.. apa kau siap?
Arsylin terdiam.
' A-ap apa?! '
' Nikah?? '
Arsylin menelan salivanya.
' Kakak bercanda ya? '
Lirih Arsylin.
Thanaka mencondongkan tubuhnya, sontak membuat Arsylin menjauh kan wajah nya.
' Saya tidak pernah main-main dalam setiap ucapan saya '
Deg
' Ini kak Thanaka lagi mabuk atau gimana sih? '
' Kita baru kenal kemarin sore loh '
' Lagi bercanda ga sih?? '
Batin Arsylin bertanya-tanya.
Dengan terus mencari kebohongan Dimata Thanaka.
Thanaka duduk seperti semula.
Sontak Arsylin menghembuskan nafas pelan.
Thanaka menaikkan kedua alisnya ' Gimana? '
' Em.. '
' In-ini.. kakak ngga mabuk kan? '
' Atau lagi kesambet apa gitu?! '
Tanya polos Arsylin, hanya untuk memastikan.
Sontak Thanaka tersenyum lebar dengan sedikit tertawa kecil.
' Astagaaa Arsylin '
Ujarnya sembari tertawa kecil.
' Jadi sedari tadi kamu mengira saya bercanda? Hm? '
Arsylin mengangguk polos.
Sontak tawa Thanaka pecah mendapati wajah Arsylin begitu polos menjawab pertanyaan nya.
Arsylin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
' Kok ketawa? '
' Salah ya aku nanya kaya begitu? '
Arsylin menerka-nerka.
Thanaka berdehem.
' Sini '
Thanaka mentitah Arsylin agar menghadapnya.
Arsylin dengan wajah polosnya pun nurut.
' Arsylin '
Thanaka menggenggam tangan Arsylin, namun kali ini Arsylin biasa saja.
' Diusia ku saat ini.. tidak lagi pantas untuk berpura-pura dalam hal menjalin hubungan '
Arsylin terdiam, menatap lekat mata Thanaka.
' Kalau aku mau bermain-main saja, banyak diluaran sana wanita yang bisa ku pilih '
Arsylin menelan salivanya.
' Tapi aku tidak butuh itu semua '
Lanjut Thanaka serius.
' Aku hanya butuh seorang wanita yang menurut ku pantas untuk ku nikahi '
Deg
' L-lalu..'
' Kalau kak Thanaka mengajak ku menikah, apakah aku...'
' Dan menurut ku '
' Kamu gadis yang baik-baik '
Arsylin terpaku.
' Gadis yang mengerti akan perasaan orang lain '
Lanjut Thanaka dengan terus menggenggam tangan Arsylin.
' Aku sudah dewasa '
' Aku tahu, mana wanita yang pantas dinikahi dan mana wanita yang tak pantas dinikahi '
Arsylin lagi-lagi menelan salivanya.
Mata keduanya terus menatap.
' Dan kamu Arsylin.. '
Thanaka menggantung kata-katanya sejenak.
' Menurut ku kamu adalah wanita yang ku sebut pantas untuk ku nikahi '
Arsylin menganga tak percaya.
' Sejauh ini aku belum pernah mengenal seorang wanita seperti mu '
Lanjut Thanaka serius.
' Kebanyakan wanita yang pernah ku kenal dulu.. adalah tipikal wanita yang ribet, childish, boros, toxic bahkan.. dan juga agresif '
Sontak Arsylin tertegun.
' Sedangkan kamu.. ya walaupun sejauh ini aku belum benar-benar mengenal mu '
Lirih Thanaka serius.
' Tapi kamu beda dari mereka sylin.. '
Arsylin menunduk.
' Aku tidak pernah sekalipun menemukan sifat-sifat wanita yang dulu pernah ku kenal, ada di kamu '
Sontak Arsylin kembali menatap Thanaka.
Thanaka mengeratkan genggaman tangan mereka.
Arsylin lagi-lagi menelan salivanya.
' Apa yang baru aja kak Thanaka bilang itu benar?'
' Bagiamana kalau dia sama dengan laki-laki nakal diluaran sana? '
' Yang baik, dan pandai bicara didepan.. tapi brengsek dibelakang '
' Jujur aku belum siap menjawab pertanyaan nya tadi.. '
' Karena aku sama sekali belum mengenal betul siapa dia '
Batin canggung Arsylin.
Thanaka berdehem, sontak Arsylin tersadar.
' Eh! S-sorry kak.. gim-gimana gimana? '
Tanya Arsylin gugup.
Thanaka menghela nafas pelan.
Namun ia tak berniat mengulangi kata-kata nya barusan.
Tapi..
' Aku jatuh hati pada mu '
Sontak Arsylin melotot tak percaya, dengan mulut yang menganga.
Tampak sekali Arsylin bahagia, tak percaya, salah tingkah, gugup menjadi satu disana.
Thanaka hanya tersenyum.
Kemudian kembali buka suara.
' Tapi.. untuk urusan hati mu, aku sama sekali tidak memaksa mu agar menjawab nya sekarang '
Ujar Thanaka.
' Hanya satu pesan ku, jika kamu sudah yakin dan percaya pada ku.. '
' Datanglah pada ku, aku siap jika harus membangun rumah tangga bersama mu '
Deg
Lagi-lagi, kata-kata Thanaka sukses membuat Arsylin terpaku.
Hatinya berbunga-bunga, namun mulutnya seperti belum siap berkata ' Ya '.
Beberapa menit kemudian..
Arsylin tersadar, kemudian menarik paksa dengan pelan tangan nya dari genggaman Thanaka
Sontak Thanaka terdiam.
Dengan rasa yang bercampur aduk menjadi satu, Arsylin mencoba mengalihkan pembicaraan.
' Em.. '
Arsylin menelan salivanya.
' In-ni.. udah jam berapa ya kak? '
Thanaka yang peka jika Arsylin mengalihkan pembicaraan nya, sontak menghela nafas berat.
Kemudian menyenderkan punggungnya ke sofa.
Kemudian melirik jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangannya.
' Kenapa? Mau pulang? '
Tanya Thanaka.
Namun dengan cepat Arsylin menggeleng.
Sontak Thanaka mengeryit, bingung.
' Lalu? Kenapa nanyain jam? '
Tanya Thanaka penasaran.
' Em.. '
Arsylin mengatupkan bibirnya malu.
Thanaka mengangkat alisnya ' Kenapa? '
' Arsylin.. pengen jalan-jalan sama kakak '
Cicit malu Arsylin, kemudian menyengir kuda.
Sontak Thanaka pun tersenyum lebar.
' Aku kira dia akan menolak ku '
Batin lega Thanaka.
' Boleh '
Sontak Arsylin kesenangan.
' Tapi jalan kaki '
Lanjut Arsylin, Thanaka mengeryit.
' Ya ya please ya kak? '
Rayu Arsylin bak anak kecil.
Beberapa detik kemudian..
' Let's go! '
Heboh Thanaka sembari berdiri, sontak Arsylin bersorak gembira kemudian menyusul Thanaka berdiri.
' Tapi ada syaratnya '
Tegas Thanaka disela-sela suasana berbunga-bunga nya Arsylin.
Sontak Arsylin cemberut.
' Ihh kak, kan cuma mau jalan-jalan siang ngapain harus pake syarat-syaratan lagi sii?! '
Arsylin tentu protes.
' Tidak mau yasudah, silakan jalan sendiri '
Sontak Arsylin segera menyetujui nya.
' Iya deh iyaaa, apaan tuuh? '
Ledek Arsylin.
Thanaka mengulurkan tangan kirinya.
Arsylin mengeryit.
' Maksud nya? '
Tanya Arsylin polos.
Thanaka berdecak.
Kemudian meraih tangan kanan Arsylin, lalu direkatkan ke tangannya.
' Bergandengan '
Ujar Thanaka bak anak kecil setelah tangannya dan tangan Arsylin menyatu.
Sontak Arsylin tersenyum lebar.
' Yuk? '
Ajak Thanaka, dengan cepat Arsylin mengangguk gemas.
Mereka pun berjalan santai beriringan diluar area mansion megah milik Thanaka.
Tentunya dengan terus bergandengan tangan.
* 💘 NEXT 💘 *