
Thanaka yang semakin gemas dengan Arsylin, meraih kedua tangan Arsylin paksa.
Lalu didudukan nya dikedua pahanya.
Ya. Arsylin duduk mengangkang diatas paha kekar Thanaka, tangan Thanaka langsung ia lingkar kan dipinggang sexy Arsylin.
Arsylin terdiam.
Jantungnya seketika berdetak lebih cepat.
' As-astaga kak '
Arsylin tak bisa berkata-kata, matanya terus menatap lekat mata Thanaka.
Begitupula dengan Thanaka.
Jujur Arsylin merasa sangat tak nyaman dnegan posisi mereka saat ini, namun tulang tubuhnya seketika lemas.
Seperti tak bisa bergerak.
' Cantik banget sih '
' Matanya.. hidungnya.. tubuhnya.. rambutnya.. '
' Bahkan tawanya.. semua aku suka dari anak ini '
Thanaka tersenyum tipis.
Sedangkan Arsylin, ia hanya terpaku oleh ketampanan Thanaka.
Mulutnya seakan terkunci setiap bertatapan dengan wajah Thanaka.
' Huuft '
Sontak Arsylin terperanjat, sebab wajahnya ditiup oleh Thanaka.
' Hei '
Suara Thanaka berubah serak, Arsylin hanya menyengir kikuk diatas Thanaka.
' Astaga! Jangan sampai Tante loli lihat! '
Batin Arsylin malu.
' Kalau suatu saat nanti.. '
Thanaka menggantung kata-katanya, tangannya meraih kedua tangan Arsylin.
Mata Arsylin terbelalak tak percaya.
' Ih kak.. ng-a ngapainn sii?! '
Batin Arsylin gugup.
' Saya melamar mu.. apa akan kamu terima? '
Sontak Arsylin melotot tak percaya.
Wajahnya memerah malu.
Jantungnya semakin tak karuan.
Entah mengapa, Thanaka sudah dari kemarin ingin mengucapkan kalimat itu pada Arsylin.
Baru kali ini, ia menemukan seorang gadis muda yang usianya terpaut jauh dari usianya saat ini.
Tapi hatinya selalu merasakan ketenangan setiap kali gadis didepannya itu ada disisi nya.
Mulut keduanya terdiam, namun sepasang mata keduanya seolah merajut cinta.
' Eh! K-kak '
Arsylin hendak turun dari paha Thanaka, namun kedua lengan kekar Thanaka mengunci rapat-rapat pergerakan pinggul Arsylin.
Sontak Arsylin kembali terdiam.
' Jawab pertanyaan saya dulu Arsylin '
Pinta Thanaka dengan suara seraknya, sebab ia mengecilkan volume suaranya agar Loli samaran tak mendengar ucapannya.
Arsylin menggigit bibir bawahnya gugup, kemudian dengan susah payah menelan salivanya.
Arsylin mengedarkan pandangannya sejenak, takut Loli samaran melihat mereka.
Thanaka yang paham akan hal itu, segera membuka suara.
' Tenanglah '
' Tante kalau sudah masuk kamar, sampai besok baru keluar lagi '
Arsylin melotot.
Dan lagi-lagi menelan salivanya.
Thanaka menaikkan kedua alisnya, bertanya.
Arsylin dengan gugupnya mencoba buka suara.
' E-em.. '
' Astaga ngomong apa nih?! '
Arsylin malah menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan Thanaka.
' K-kak.. s-seb sebaiknya.. kita bicarakan ini diluar aja deh '
Cicit Arsylin malu, dengan gugupnya.
' Maunya dimana? '
Arsylin terdiam.
' Dimana ya?! '
Batin Arsylin bingung.
' Di cafe atau mau dimana? '
Lanjut Thanaka sembari menegakkan tubuhnya, jadi posisi mereka saat ini semakin berdekatan.
Arsylin lagi-lagi dibuat gugup.
Dan semakin salah tingkah.
' Hei '
Arsylin tersadar.
' Eh! Ehehe E-em Ee-em.. '
Arsylin tak tahu mau menjawab apa.
' Atau dirumah saya saja? '
Tawar Thanaka.
' Ngga papa kali ya? '
' Em, yaudah deh '
Arsylin mengangguk gugup.
' Oke, sekarang juga kita kerumah saya '
Arsylin mengangguk kikuk.
Saat Arsylin hendak bangkit dari paha Thanaka, Thanaka menekan tengkuknya.
Membuat wajah mereka menjadi semakin dekat.
Jantung Arsylin kembali berdegup tak karuan.
Begitupula dengan Thanaka.
Namun dengan segera Thanaka tersenyum, lalu membantu Arsylin bangkit dari paha nya.
Arsylin hanya menurut dengan wajah yang sulit dijelaskan itu.
Setelah sama-sama berdiri.
Arsylin tidak berani menatap Thanaka, ia terus menunduk malu.
' Sebentar ya, saya pamit Tante dulu '
Ujar Thanaka.
Arsylin hanya mengangguk paham.
Setelah mengelus lembut pucuk kepala Arsylin, Thanaka berlalu menuju kamar Loli samaran.
* 💘 NEXT 💘 *