
Setelah menutup telfonnya, pria yang diketahui bernama Axell itu melempar ponsel milik Arsylin keatas meja disamping nya.
Kemudian mendekati Arsylin yang masih menangis sesegukan diranjang.
' Aku tak menyangka.. '
Axell menggantung kata-katanya, sembari menundukkan wajahnya mendekati wajah Arsylin.
Sontak Arsylin menutup matanya.
' Ayah tiri brengsek mu itu berhasil merebut hati Diana.. ibumu, dari ku '
Lanjut Axell dengan lirih.
Arsylin tak berniat membalas kata-kata Axell, ia masih menutup rapat-rapat matanya dengan Isak tangis tepat didepan wajah Axell.
' Tapi tuhan adil '
Seru Axell, dan hanya disimak oleh para anak rombongannya nya yang lain.
' Meskipun aku kehilangan Diana, wanita yang sangat-sangat ku cintai.. '
Axell kembali menggantung kata-katanya.
Kemudian mengelus lembut pipi Arsylin, sontak Arsylin meringkuk kan tubuhnya takut.
' Tapi tuhan mengganti nya dengan mendatangkan mu kepada ku '
Lanjut Axell dengan suara seraknya, tepat ditelinga kiri Arsylin.
' Mam.. hiks '
' Help me please '
Batin Arsylin meraung.
' Lepas semua tali yang mengikat nya '
Perintah Axell pada pria lainnya, sembari bangkit dari ranjang.
' Jangan sentuh aku! '
Arsylin terus berontak, ia benar-benar takut dirinya akan disakiti.
Namun apa daya, tenaga nya cukup lemah untuk melawan kedua pria yang melepaskan tali ditangan dan dikakinya.
Sedangkan Axell, ia hanya memandangi wajah Arsylin.
Di Hotel
' Aku.. minta maaf atas keputusan ku waktu itu '
Ucap Jhoan lirih, setelah melepas pelukan mereka.
Diana terkikik, menutupi rasa sedihnya.
' Sudahlah Jho...'
Diana menggantung kata-katanya, sembari mengusap air matanya.
' Yang berlalu biarlah berlalu '
Lanjut Diana dengan senyuman hangat nya.
' Yang terpenting sekarang ini adalah, kau hidup sehat dan bahagia. Begitupula dengan aku dan putri kita '
Sambung Diana.
Jhoan menunduk sejenak, mengusap air matanya.
Kemudian mengangkat kepalanya menatap lekat-lekat wajah sang istri dihadapan nya.
' Apa kau marah pada ku? '
Tanya Jhoan serius dengan menggenggam tangan Diana.
Diana terdiam.
' Entahlah Jho.. '
' Marah atau tidaknya aku pada mu, itu tidaklah penting bila akhirnya kita juga harus berpisah '
Batin Diana sembari menatap lekat mata Jhoan.
Jhoan mengeratkan genggaman tangannya.
' Aku tau.. '
' Kau pasti marah, kesal, kecewa bahkan benci terhadap ku '
Lanjut Jhoan dengan wajah melasnya.
' Tapi kau harus tau satu hal.. '
Tangan kanan Jhoan meraih pipi kanan Diana.
' Rasa sayang ku tumbuh semakin kuat selama aku mencoba mengikhlaskan mu '
Diana terpaku.
' Semakin aku coba merela kan mu untuk sahabat ku sendiri.. semakin susah pula aku melepaskan mu Diana '
Lanjut Jhoan serius.
Tak sadar, air mata Diana jatuh begitu saja di kedua pipi wajahnya.
' Kenapa kau berkata begitu.. '
' Kalau memang pada waktu itu kita masih bisa bersama kenapa kau harus menalak aku?! Kenapa Jhoan? '
Batin Diana menangis.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Dengan cepat Diana tersadar, kemudian melepaskan genggaman Jhoan padanya.
Ucap Diana yang jelas demi mengalihkan suasana hatinya.
Jhoan pun tersadar.
' Astaga '
Gumam Jhoan sembari mengusap mulutnya.
' Tapi tunggu '
Jhoan tampak mengeluarkan sesuatu dari balik jas tebal nya.
' Apa itu Jho? '
Tanya Diana saat Jhoan mengulurkan benda kecil terbalut plastik cantik disana.
' Coba tebak benda apa ini '
Sahut Jhoan dengan tertawa kecil.
' Entahlah '
Diana bergidik tak paham.
Jhoan segera membuka benda kecil yang dibawanya.
' Taraaa '
' Astagaa jhoan hahaha '
Diana tertawa renyah mendapati coklat almond kesukaan nya ditangan Jhoan.
' Aihh! Rindu sekali aku dengan tawamu Diana '
Batin Jhoan terpana dengan mantan istri yang tengah tertawa itu.
' Kau masih ingat saja favorit ku? '
Tanya Diana masih dengan tertawa kecil.
' Semua. Semua tentang mu tak ada yang terkikis sedikit pun dari memori ku '
Diana terpaku.
' Terimakasih Jhoan.. '
' Walaupun aku tak tahu apa yang kau inginkan dari perpisahan kita waktu itu.. '
' Tapi kau berhasil membuat ku bahagia saat ini '
Tak sadar Diana tersenyum lebar.
' Kau ini.. '
Diana menepuk pelan lengan Jhoan.
Jhoan terkikik.
' Cepat suapkan sekarang juga coklat itu pada ku!'
Pinta Diana manja sembari membuka lebar mulutnya.
Sontak Jhoan tersenyum nakal.
Kemudian meletakkan coklat bulat yang ia pegang diantara gigi bagian depan nya.
Jelas itu membuat Diana kesal.
' Jhoan iihhh!! '
Diana memanyunkan bibirnya sebel.
Sontak Jhoan tertawa lepas.
Diambil nya lagi coklat dimulut nya.
' Begini cara mengambilnya Diana '
Jhoan mentitah Diana untuk menjemput coklat dimulutnya dengan bibirnya.
Diana mengeryit tak paham.
Jhoan menghembuskan nafas pelan.
Kemudian mendekat ke Diana.
Diana hanya diam, tak paham apa yang dimaksud Jhoan.
Dan..
' Emh! '
Dengan sekali tarik, bibir Diana dan Jhoan sukses menyatu.
Sontak Diana melotot tak percaya.
' Jhoan kau! '
Diana mematung.
' ***** coklatnya sayang.. '
Jhoan terus membimbing Diana untuk ******* coklat yang digigit nya.
Bukan menolak, Diana kini paham apa maksud Jhoan.
Diana tersenyum nakal, kemudian melahap habis coklat yang digigit Jhoan.
Dikunyah nya sejenak, lalu ditelan.
Masih dengan posisi yang sama, Jhoan menekan tengkuk Diana agar melanjutkan aktifitas mereka disana.
* 💘 NEXT 💘 *