
Dilain sisi
' David.. '
Panggil Jhoan pada David yang sibuk menikmati kopi nya.
' Hm? '
David ber dehem sembari meletakkan gelas minum nya ke meja.
' Kenapa Jho? '
Tanya David setelah menelan kopi nya.
' Aku.. mau bicara sebentar dengan Diana boleh? '
David terdiam.
' Aku tidak boleh egois, lagipula meski hubungan mereka sudah berakhir.. '
' Namun ikatan mereka sebagai orang tua kandung Arsylin tetaplah terjalin selama nya '
Batin David.
Kemudian tersenyum.
' Kenapa tidak? '
Sahutnya positif.
Mendengar itu Jhoan sedikit lega.
Sebab ia akan lebih tak enak lagi, jika berbicara hanya berdua dengan mantan istrinya tersebut.
Tanpa izin dari suami sah nya.
' Yang terpenting hanya untuk mengobrol tidak lebih '
Goda David.
' Aihh!! Kau ini.. iya iya aku tau. Sekarang suami Diana adalah kau, bukan aku '
Sahut Jhoan dengan tertawa kecil.
David tertawa menang.
' Oke, kalau begitu.. aku ke bawah dulu '
Pamit Jhoan, David tersenyum kemudian mengangguk.
Disebuah ruang tertutup
' Diana '
Lirih Jhoan pada Diana yang sedari tadi belum mau menatap matanya.
Karena nama nya dipanggil, sontak Diana menoleh kearah Jhoan.
' Y-ya? '
Jhoan mendekat ke Diana.
Entah kenapa jantung Diana berdegup lebih kencang dari sebelumnya.
Jhoan merentangkan kedua tangan nya.
' Apa kau tak merindukan ku? '
Ucap Jhoan sembari tersenyum tipis.
Diana terdiam.
' Kurasa tanpa ku jawab pertanyaan mu itu, kau pasti sudah tahu jawabannya Jho.. '
Batin Diana.
' Kalau kau rindu.. kau bisa memeluk ku sekarang'
Lanjut Jhoan masih dengan senyuman nya pada Diana.
Diana berkaca-kaca.
Lalu..
' I'miss you so much Jho '
Dengan cepat Jhoan membalas pelukan Diana.
Keduanya saling mengeratkan pelukannya.
' Aku juga sangat-sangat merindukan mu sayang '
Ucap Jhoan disela-sela Isak tangis Diana.
Diana tak merespons.
Ia sangat-sangat merindukan pelukan itu.
Rasanya sama sekali tak ingin melepaskan pelukan itu.
Namun ia tahu jika dirinya bukan lagi istri Jhoan, begitu pula dengan yang dirasakan oleh Jhoan.
Keduanya terbawa suasana.
Tak ada yang ingin mendahului untuk melepas pelukan itu.
Yang terjadi ialah, semakin rekat pelukan mereka.
Dengan sesekali Jhoan mengecup ujung kepala Diana.
Sedangkan Diana, ia masih terus menikmati pelukan itu.
Ia sangat-sangat merindukan tubuh Jhoan yang dulu.
Aroma Jhoan, suara Jhoan, canda Jhoan, semuanya tentang Jhoan.
' I'am so sorry Diana '
' Aku benar-benar minta maaf atas keputusan ku untuk beberapa tahun lalu.. '
' Sejujurnya aku tidaklah pernah menginginkan perpisahan kita terjadi '
' Namun takdir berkata lain '
' Menjawabnya dengan kita harus berpisah diwaktu itu '
' Apalagi takdir itu datang ketika putri pertama kita masih kecil '
Batin Jhoan menyesal. Ia tak sadar air matanya menetes tepat dikepala Diana.
' I'am so sorry dear '
Jhoan mengeratkan pelukannya pada Diana. Begitu pula dengan Diana.
Dimansion Thanaka
Pria itu terus gelisah, bahkan ia tak dapat memejamkan matanya sejenak.
' Akh! '
Thanaka terduduk sembari mengusap kasar wajah nya.
' Kenapa sedari tadi aku terus kepikiran anak itu!'
Gumam Thanaka.
' Apa.. dia sedang dalam bahaya?! '
Lanjut Thanaka menerka-nerka.
' Atau sepulang dari cafe tadi, dia kelelahan tapi tidak mau terus terang kepada ku? '
Thanaka terus menerka-nerka.
Ia menjadi sedikit tak enak pada Arsylin, sebab syarat darinya waktu lalu.
' Aku takut jika memang benar begitu, lalu ditengah perjalanan nya.. ia mengantuk '
Lanjut Thanaka mulai timbul rasa khawatirnya.
Thanaka terdiam sejenak.
Mengingat-ingat syarat yang ia berikan kepada Arsylin.
' Akh! Lebih baik ku susul dia sekarang! '
Ucap Thanaka kemudian bangkit dari duduknya, meraih jaket dan kunci mobilnya.
* 💘 NEXT 💘 *