Pretty Devil

Pretty Devil
Part 80



Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Alesha terus berteriak kesakitan. Padahal yang merasakan kontraksi adalah iparnya. Tapi, ia juga tersiksa karena sejak tadi dicakar oleh Geraldine. Sialan memang wanita itu. Bahkan ingin mengeluarkan ponsel dan menghubungi Roxy pun tak sempat, lalu berakhir kelupaan karena ada kuku yang selalu melukainya.


Alesha terjebak dengan situasi menyebalkan. Dia sudah berusaha menghindar dengan duduk ke jok paling ujung. Tapi, tetap saja tangan Geraldine berusaha meraihnya. Jika tak ingat mau melahirkan, sudah ia tendang sejak tadi.


“Lepas tanganmu, kita sudah sampai rumah sakit.” Alesha mencoba menyingkirkan bagian tubuh Geraldine yang meremas pahanya. Dan akhirnya bisa bernapas lega, langsung keluar mobil sebelum diserang lagi.


Alesha memanggil perawat untuk membantu iparnya. Tak lama ia kembali dan sudah ada seseorang yang membawakan kursi roda.


“Telepon suamiku.” Sembari berdesis dalam dorongan perawat, Geraldine memberikan perintah pada Alesha yang jalan di samping.


“Oh, iya, sampai lupa aku.” Alesha lekas menelepon Roxy. Menanti hingga tiga kali nada sambung baru disambut.


“Roxy! Istrimu mau melahirkan, cepat ke sini!” Alesha berteriak karena bertepatan dengan tangannya merasa ada cengkeraman di sana. Melirik pada pelaku yang tak lain adalah iparnya. Fuckk you Geraldine!


Panggilan langsung terputus saat Roxy mengucapkan oke. Alesha bisa bernapas lega karena akan terbebas dari siksaan wanita melahirkan. Dia telah mengirimkan lokasi rumah sakitnya juga.


“Kau ikut masuk sembari menanti suamiku datang.”


Alesha langsung menganga mulutnya ketika Geraldine memberikan perintah itu. “Memangnya kau tak berani sendirian? Lagi pula ada dokter dan perawat.” Dia berusaha menolak karena tidak mau masuk ke dalam lubang penuh kesakitan.


“Menurut atau—” Geraldine berdesis lagi ketika kontraksi semakin hebat dan bukan lagi jarak hitungan jam, melainkan detik.


“Oke.” Alesha berdecak, sudah tahu ancaman apa yang akan diberikan.


Adik Roxy pun cemberut ketika berada di dalam ruang persalinan. Dia sudah mencoba mengambil jarak supaya tak mendapatkan serangan. Tapi, ada tangan yang seolah meminta supaya mendekat dengan si ibu hamil itu.


Jadi, mau tak mau, Alesha pun berdiri tepat di samping kepala Geraldine. Iparnya langsung diberikan arahan untuk mengejan karena sudah pembukaan lengkap.


Sekujur tubuh Geraldine rasanya amat remuk saat prosesi pengeluaran anaknya. Ia mengejan tapi sembari tangan menjambak rambut iparnya yang terurai hingga terkena wajahnya.


“Aaa ....” Bukan teriakan ibu melahirkan, melainkan Alesha yang merasakan sakit di akar-akar kepalanya. “Geraldine sialan ... rambutku bisa rontok.” Dia berusaha keras menyingkirkan tangan iparnya, lalu mengusap puncak kepala yang terasa panas.


Suasana di dalam ruang persalinan itu bukan heboh karena Geraldine, tapi justru Alesha yang terus berteriak setiap kali diserang. Selain kepala, tangannya juga digigit tiap kali iparnya mengejan.


“Roxy ... lama sekali kau datang! Aku tidak kuat menemani istrimu!” teriak Alesha untuk kesekian kali. Dia bahkan sampai menangis karena seharusnya yang disiksa adalah kakaknya.


Tak berselang lama, pintu ruang persalinan pun terbuka. Roxy memaksa masuk ke dalam. Alesha bisa bernapas lega saat pria dengan tato terlihat di lengan kanan itu berjalan cepat menghampiri.


Roxy lekas menghampiri istrinya, mengulurkan tangan untuk digenggam erat Geraldine. Tidak lupa mengusap kepala wanita yang kini bercucuran peluh, mengecup berkali-kali kening. “Maaf aku baru datang,” bisiknya kemudian. Tapi ada rasa lega karena masih memiliki kesempatan untuk berada di samping istri untuk berjuang bersama melahirkan sang buah hati.


“Dih ... kalau Roxy tidak disiksa seperti aku, pasti kau sengaja balas dendam.” Alesha mencebik karena kakaknya tak kesakitan seperti dirinya.


Padahal Roxy pun sama saja digigit tangannya oleh Geraldine. Namun pria itu tidak menunjukkan wajah selain datar, dan terus menerus mencium kening.


Hingga pada akhirnya suara tangis seorang bayi pun menggema di sana. Napas Geraldine terengah puas bercampur lega. Dia tersenyum pada Roxy dengan air meluncur di ujung mata. “Aku berhasil.”


Roxy mendekap istrinya, mencium seluruh sudut wajah dan menggumamkan kata terima kasih berkali-kali. “Ya, kau sukses melahirkan anak kita.”


Melihat keharuan di depan mata, Alesha tersentuh sebentar. Tapi, ketika mengingat ia adalah korban, wajah kembali kesal. “Kalian harus membayar ganti rugi, tanganku luka.” Dia menunjukkan bekas gigitan juga cakaran. “Dan rambutku rontok, untung tak sampai botak.” Lalu menunjuk kepalanya yang acak-acakan.


“Sorry, nanti ku bayar,” ucap Roxy, tapi langsung kembali fokus menghapus peluh di wajah sang istri.


Sementara Geraldine menyunggingkan senyum bak devil ke arah sang ipar. Daripada dibuat kesal terus, lebih baik Alesha keluar saja.


Sementara Roxy tetap di dalam menanti istrinya selesai mendapatkan jahitan.


Sepasang suami istri itu dilingkupi rasa bahagia ketika bayi berjenis kelamin laki-laki ditidurkan dalam hangatnya dada Geraldine. Keduanya mengusap pelan tubuh mungil nan polos yang masih basah akibat selama sembilan bulan lebih berada di dalam air ketuban.


“Stainslav Odilio Alphonse, selamat bertemu mommymu si Pretty Devil,” ucap Roxy ketika memberikan nama pada putranya.


“Juga daddymu si pria pantang menyerah,” imbuh Geraldine, menatap Roxy penuh cinta.


Sepasang suami istri yang jarang tersenyum itu pada akhirnya sama-sama menerbitkan ulasan sempurna. Geraldine dan Roxy menarik dua sudut bibir juga saling tatap. Kehadiran putra membawa perubahan, memberikan senyuman yang lama terpendam. Tangan mereka sama-sama mengusap si mungil ketika ada tangisan kuat kembali terdengar.


...-TAMAT-...


...*****...


...Oke bestie, ini sudah berakhir, maka mari kita berganti ke cerita baruku. Judulnya Married with Fierce Boss, langsung klik profil aku aja. Cerita generasi 3, Agathias anaknya Danesh sama Felly. Ditunggu di sana ya, sampai bertemu...