Pretty Devil

Pretty Devil
Part 78



Alesha mulai menyadari bahwa percuma saja melawan iparnya, dia tetap akan kalah. Sebab, Geraldine sangat menguasai kakaknya. Jadi, daripada terus di dalam apartemen bagaikan tawanan, lebih baik menerima tawaran menjadi asisten wanita itu. Lumayan juga bisa mendapatkan uang.


Terhitung satu minggu ini Alesha resmi menjadi budak seorang Geraldine si iblis cantik. Dia pikir, asisten akan bertugas layaknya sekretaris kantor atau orang yang terus mengikuti wanita itu. Tapi, ternyata, disuruh membawa barang-barang, ya walaupun hanya sekedar tas atau perintilan kecil lainnya, namun tetap saja di luar ekspektasi.


Bukan hanya itu. Setiap hari Alesha juga disuguhkan oleh pemandangan yang membuat matanya gatal. Bagaimana tidak, kalau Geraldine dan Roxy selalu berciuman dan bermesraan di depannya. Mau protes tapi pada akhirnya akan mendapatkan ancaman dipulangkan ke Milan.


Seperti saat ini, Geraldine yang duduk di kursi samping kemudi terlihat berdesis sembari memegang perut. Otomatis Roxy langsung mengusap di tempat yang sama.


“Kenapa, Sayang? Mulai sakit kah?” tanya Roxy menatap teduh istrinya.


Kepala Geraldine mengangguk. “Sedikit, tapi sekarang hilang lagi.”


“Masih kuat? Jika tidak, mulai ambil cuti saja dan kita ke rumah sakit.”


“Masih, tenang saja, istrimu ini wanita kuat. Lagi pula, ada meeting penting hari ini dan kau juga harus melakukan pertemuan dengan timmu,” jelas Geraldine. Wanita itu masih bisa senyum dan mengusap rahang tegas suaminya, padahal perut sudah mulas-mulas tak karuan.


Melihat istrinya nampak baik-baik saja tidak seperti seseorang yang terdesak ingin melahirkan, tentu membuat Roxy tak khawatir. Dia lekas membuka seatbelt dan turun, membukakan pintu untuk Geraldine.


Dua bola mata Alesha sengaja dirotasikan. Bukan iri, tapi sampai enek melihat kemesraan yang tidak pernah pudar. Bahkan bertengkar pun tak membuat ipar dan kakaknya saling bermusuhan.


Roxy beralih menatap adiknya. “Hubungi aku kalau terjadi sesuatu pada Geraldine.” Perintah itu pertanda harus dilakukan.


Alesha ampai hapal karena setiap hari selalu mendengar hal yang sama. Dan hanya dijawab, “Iya ....” Menggunakan nada malas.


Geraldine melambaikan tangan saat kaki terayun masuk ke dalam perusahaan, diikuti oleh asisten barunya yang sesungguhnya tak terlalu dibutuhkan. “Aku tahu kau sedang mencibirku.” Saat di dalam lift, dia mendadak menegur sang ipar.


“Wow, ternyata kau hebat juga bisa mengetahui hal itu.” Alesha yang berdiri di belakang Geraldine pun memberikan tepuk tangan pertanda mengagumi.


Tak disangka, reaksi Geraldine ternyata tersenyum penuh ejekan. “Bodoh juga adik Roxy, tidak seperti kakaknya yang pintar. Jelas saja aku tahu, mataku bisa melihat pantulan dirimu dari pintu lift.” Dia menunjuk bahan stainless di hadapannya.


Alesha mencebik. Iparnya sangat menyebalkan. Tapi, entah kenapa ia tidak bisa membenci wanita itu. Perdebatan yang setiap hari dilakukan seolah menyeretnya menyayangi Geraldine dengan cara berbeda. Setelah dirasakan, istri kakaknya terkadang baik, tapi mulut saja yang tidak ramah.


Pintu lift terbuka, Alesha melangkahkan kaki mendahului Geraldine karena iparnya tak kunjung bergerak. Setelah tiga langkah, dia kembali menengok ke belakang. Mendapati si ibu hamil besar sedang berdesis sembari tangan kiri menempel di perut buncit, sementara sebelah lagi berpegangan pada pintu lift sehingga tertahan dan tidak tertutup otomatis.