
Alesha berdecak sebal sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. “Memangnya kenapa sampai kau meminta ponselku?” Ia tak segera memberikan.
“Menghindari supaya kau tak menghubungi Daddy kalau aku ada di Milan,” jelas Roxy seraya menarik paksa benda yang ada di tangan sang adik.
“Sebenci itukah kau dengan Daddy? Sampai tak mau bertemu dengannya?”
“Aku tak membencinya, hanya tidak suka dengan perbuatannya.” Roxy membawa adiknya ke restoran tempat di mana Geraldine dan Alesha pernah bertemu tiga bulan lalu. Jaraknya sudah dekat dari lokasi keberadaannya sekarang.
“Memangnya Daddy berbuat apa padamu? Bicarakanlah baik-baik antara kalian berdua, jangan kabur dan pindah kewarganegaraan. Kakakku hanya satu, sudah begitu tidak mau tinggal bersama keluarganya pula.” Alesha segera membuka seatbelt ketika sudah sampai di depan restoran.
“Kau tidak perlu tahu, cukup jadilah anak yang berbakti untuk Daddy.” Roxy menepuk pelan puncak kepala adiknya. “Ayo turun, ku traktir makan, dan setelah itu kau harus menceritakan padaku, apa saja yang kau katakan pada Geraldine.”
Roxy dan Alesha pun turun dari mobil. Keduanya langsung masuk ke dalam. Duduk saling berhadapan, mereka langsung memesan. Sembari menunggu makanan keluar, kembali interogasi masih dilanjutkan.
“Aku sudah menurutimu, mengajak kau makan bersama. Sekarang, ceritakan, apa yang sudah kau lakukan ketika menemui Geraldine di restoran ini!” titah Roxy dengan suara yang terdengar dingin. Apa lagi wajah pria itu tidak menunjukkan raut senang sedikit pun, padahal baru bertemu lagi dengan adik yang lama ditinggalkan.
“Ck! Kakak macam apa kau itu, dingin sekali dengan adikmu,” gerutu Alesha. Tapi, tetap saja dia akan menceritakan pembicaraan dengan Geraldine pada Roxy. “Oke, dengarkan baik-baik, jangan dipotong.”
“Hm.” Roxy diam, dia siap mendengarkan pengakuan sang adik.
“Geraldine mencampakkan aku, sekarang sedang ku pecahkan teka teki yang membuatnya tidak mau bersamaku lagi.”
Alesha tertawa, ternyata keusilannya membuat hubungan percintaan kakaknya menjadi renggang. Tapi, tak ada penyesalan sedikit pun di wajahnya.
“Jadi, saat itu aku tak sengaja melihat ada seorang wanita yang sering ku lihat fotonya sedang bersamamu. Ya kau tahu kalau aku dapat seluruh informasi dari mata-mata di Helsinki. Lalu, aku membuntuti dia selama di Milan, sampai pada akhirnya ada kesempatan untuk bertatap muka berdua, langsung saja masuk ke dalam.”
Alesha lalu memperagakan bagaimana pertemuannya dengan Geraldine. Termasuk mimik wajah yang menunjukkan rasa tidak suka. “Aku memperkenalkan diri pada kekasihmu, dengan sinis. Ku katakan kalau aku adalah adik kandungmu, Alesha Aley Alphonse.”
Roxy dan Alesha memang memiliki keturunan darah yang sama. Mereka kakak beradik kandung, satu Daddy dan Mommy. Bukan saudara tiri ataupun salah satunya anak angkat.
Alesha melanjutkan cerita tersebut dengan mengatakan tujuannya melakukan itu. “Aku hanya ingin melihatmu kembali ke Italia, berkumpul lagi dengan keluarga Alphonse. Jadi, ku katakan saja pada kekasihmu kalau dia hanyalah seseorang yang bisa menjadi kelemahanmu, apa lagi musuhmu banyak. Sedikit ku takut-takuti bahwa dia bisa membuatmu terluka suatu saat nanti.”
Roxy menaikkan sebelah alis sembari berpikir. Mengingat bagaimana sifat Geraldine yang tidak kenal takut, rasanya tidak mungkin kalau wanitanya pergi hanya karena hal tersebut. “Kau yakin hanya mengatakan itu padanya?”
“Iya.”
“Aku tidak percaya, pasti ada sesuatu yang kau katakan lagi pada wanitaku.”