
Roxy mencoba untuk menghubungi Geraldine, ingin mengajak wanita itu untuk bertemu membahas perihal percintaannya. Pastilah hubungan mereka masih bisa diselamatkan. Dia yakin kalau sang wanita memiliki perasaan untuknya, entah banyak atau sedikit.
“Sial! Dia pasti sengaja mematikan ponselnya!” kesal Roxy seraya melempar ponsel ke jok yang ada di sampingnya.
Roxy pun melajukan kendaraan menuju mansion Giorgio. Dia akan bertanya pada Daddy George supaya lebih jelas dan tak sekedar perkiraan saja.
Kaki Roxy berjalan cepat masuk ke dalam hunian megah tersebut. Menjadi orang kepercayaan keluarga terpandang dan berpengaruh, membuatnya bisa keluar masuk sesuka hati.
“Tuan Giorgio ada di mana?” tanya Roxy pada sembarang pelayan yang ia temui.
“Pergi, tak tahu ke mana, sepertinya bekerja karena saat keluar memakai setelan jas rapi.”
“Nyonya Giorgio?”
“Pergi bersama Nona Geraldine.”
“Ke mana?”
Pelayan itu menggelengkan kepala. “Kurang tahu, saya hanya pekerja di sini.”
“Baiklah, terima kasih.”
Roxy kembali ke mobil dengan perasaan yang belum lega. Masih mengganjal karena tidak berhasil bertemu Tuan Giorgio.
“Sepertinya kau pergi menghindariku lagi, ya? Jadi begini caramu padaku. Baiklah, kita lihat siapa yang lebih pintar,” gumam Roxy seraya menginjak pedal gas.
Roxy menyambungkan informasi cuti Geraldine yang diambil selama satu tahun dan kepergian wanita itu. Pasti bukan sekedar liburan karena ia tahu bagaimana sifat orang yang dicintainya tersebut, gila kerja. Tapi, kalau sudah sampai pergi dan menghindar seperti saat ini, berarti Geraldine memang serius. Semakin yakin saja tebakannya tentang alasan wanita itu mencampakkan dirinya.
Roxy kembali ke Cosa Nostra. Dia akan meminta Mike untuk membantu mencari informasi. Langsung bertanya pada anggota lain di mana keberadaan tangan kanannya tersebut.
Kaki Roxy segera menuju ruangan Mike. Dia langsung membuka pintu setelah mengetuk.
“Mike, aku butuh bantuanmu,” ucap Roxy. Tapi, dia langsung menunduk memberikan hormat ketika melihat Tuan Giorgio ada di dalam sana.
“Italia,” jawab Roxy secara jujur.
“Oh.” Tentu saja Tuan Giorgio tidak akan mengomel hanya karena orang kepercayaannya pergi ke negara lain. Justru bagus karena mempermudah rencana putrinya untuk pergi dari pria itu.
“Kenapa kau masih berdiri? Duduk!” titah Tuan Giorgio kemudian.
Roxy pun mengangguk dan menempatkan posisi di samping orang tua dari wanitanya. Kebetulan Tuan Giorgio ada di sana, ia bisa menggunakan kesempatan itu untuk bertanya tentang Geraldine.
“Tuan, ku dengar putri Anda cuti selama satu tahun.”
“Dengar dari siapa?”
“Sekretarisnya.”
“Oh.”
“Jika boleh tahu, kenapa Geraldine mengajukan cuti panjang?”
“Ya suka-suka dia, perusahaan milik keluarganya juga.”
Memang sifat anak tak jauh dari orang tuanya. Tuan Giorgio membalas setiap pertanyaan Roxy dengan sinis.
Untung Roxy sangat menyegani keluarga Giorgio. Jadi, dia tahan dengan segala sifat seluruh Tuannya.
“Kata pelayan mansion, Geraldine pergi bersama istri Anda, ke mana?”
Dua bola mata Tuan Giorgio melotot ke arah Roxy. “Kau banyak tanya sekali, ya? Bekerja saja yang benar, jabatanmu sebagai pemimpin di Cosa Nostra, tanggung jawabmu juga semakin banyak. Tidak perlu memikirkan keluargaku.”
Roxy masih terlihat datar saja walaupun dimarahi. “Maaf, aku hanya ingin meluruskan sesuatu dengan Geraldine.”
“Ini jam kerja, tidak sepantasnya kau mencari tahu tentang urusan pribadi.” Tuan Giorgio menepuk pundak Roxy. “Kau harus profesional.”