
Semenjak mengetahui kalau Geraldine hamil, hidup Roxy jadi tak tenang. Dia selalu kepikiran bagaimana kondisi wanita itu yang entah berada di mana. Resah, tentu. Bayangkan saja penanam saham benih kualitas terbaik tidak diberi tahu tentang informasi sepenting itu.
Hey! Sangat tidak bisa dibiarkan. Roxy juga mau bertanggung jawab, ingin ada di sisi orang yang sudah dihamili.
Satu-satunya yang mengetahui lokasi keberadaan Geraldine sudah pasti keluarga Dominique dan Giorgio. Tentunya mereka pun tidak semudah itu memberi tahu padanya. Jadi, tidak mencoba untuk bertanya karena percuma dan buang-buang waktu. Lebih baik memikirkan bagaimana cara menemukan sang wanita saat ini.
“Awas saja jika aku sudah mendapatkan lokasimu, tak ku biarkan kau lepas dari genggamanku,” tekad Roxy ketika ia melihat foto yang dijadikan wallpaper ponselnya. Siapa lagi jika bukan sang pujaan hati yang dipotret tanpa tersenyum. Meskipun jarang menarik dua sudut bibir, tetap saja Geraldine berhasil membuat hatinya sulit membuka untuk orang lain.
“Kenapa kau harus berbuat sampai sejauh ini padaku? Meninggalkan dalam kondisi hamil? Aku tahu tujuanmu, tapi tak ku sangka kalau tega menyiksa diri ketika mengandung benihku.” Ah ... semakin tidak sabar ingin mencari sang wanita saja Roxy.
Pria itu pun membuka sosial media yang jarang ia gunakan, bahkan tidak memiliki followers, following, apa lagi post foto atau video. Roxy juga membuat akun karena Geraldine sering mengabadikan foto-foto estetik setiap kali bepergian. Mungkin dia akan mendapatkan petunjuk dari situ.
“Sial, akunnya sudah dikunci,” gerutu Roxy ketika ia tak dapat bebas melihat hasil jepretan Geraldine lagi.
Berhenti memainkan ponsel karena tidak mungkin berhasil. Tak akan semudah itu menemukan Geraldine hanya dari sosial media. Dia tahu bagaimana keluarga Giorgio dan Dominique.
“Satu-satunya cara supaya aku bisa menemukan hanyalah dengan mencuri ponsel Tuan Giorgio atau membuntuti kalau dia hendak pergi menjumpai Geraldine.” Ya, Roxy yakin hanya ada dua cara itu.
“Aku hanya butuh mengambil ponsel yang biasa digunakan untuk menghubungi Geraldine saja.” Roxy akan lekas melakukan rencana itu.
Sekarang, Roxy mencoba sekeras mungkin agar bisa terlelap di saat waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Tak apa tidur sebentar, setidaknya ada tambahan energi sedikit untuk mengecoh dan berbuat licik pada Tuan Giorgio.
...........
Roxy hanya bisa tidur selama tiga jam. Tak masalah, sudah biasa. Ia langsung bersiap dan memantau dari jauh mansion Giorgio. Menanti orang tua dari wanitanya tampak keluar.
Lekas melajukan kendaraan ketika terlihat ada mobil yang muncul dari gerbang. Roxy mengikuti tapi berjarak sangat jauh agar tidak mencurigakan. Lalu berhenti ketika atasannya terlihat turun di depan perusahaan yang biasa dikelola oleh Geraldine.
“Jadi, kau meminta daddymu untuk menggantikan pekerjaan juga. Tapi sayangnya, aku bukan pria yang mudah menyerah. Kau pergi, maka akan ku cari,” gumam Roxy. Ia mengambil sebuah serbuk supaya membuat targetnya tak sadarkan diri untuk sesaat.
Setelah memastikan orang yang diintai telah hilang dari pandangan, barulah Roxy masuk ke basement untuk memarkirkan kendaraan.
“Semoga berhasil dan Tuan Giorgio tak curiga,” harap Roxy sembari kaki melangkah menuju area pantry.