
Roxy membuatkan kopi yang sering diminum oleh Tuan Giorgio, tidak luput mencampurkan serbuk bius agar targetnya tak sadarkan diri. Suasana di pantry masih sepi. Sudah beberapa saat pun belum juga nampak pelayan yang biasa mengantarkan minuman dan camilan pada karyawan maupun CEO.
“Tidak tepat waktu sekali,” gerutu Roxy ketika jam sudah berputar satu perempat dari tiga ratus enam puluh derajat. Ia melihat cangkir yang perlahan asap dari uap air panas mulai menghilang. “Tidak mungkin aku mengantarkan sendiri.”
Roxy pun gemas sekali rasanya. Dia membawa cangkir ke atas nampan, juga tak lupa sedikit makanan ringan yang ia campur dengan serbuk bius. Tak lupa meletakkan sebuah kamera pengintai kecil untuk mengetahui apakah rencana berhasil atau tidak. Keluar dari pantry dan menuju lantai di mana ruangan CEO berada.
Berhenti di depan sekretaris Geraldine. Meletakkan nampan ke atas meja wanita di depannya. “Tolong berikan pada Tuan Giorgio. Tadi dia minta minuman tapi aku tak bisa mengantar karena harus ke bawah lagi!” perintahnya sangat dingin menandakan kalau harus dilaksanakan.
Sekretaris Geraldine mengerutkan kening. “Saya baru saja membuatkan minuman untuk Tuan Giorgio.”
Roxy tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun. “Sudah berikan saja, Tuan Giorgio meminta yang ada camilannya.”
“Baiklah.”
Roxy pun segera pergi, tapi sembari memastikan apakah sekretaris tadi telah masuk ke dalam ruang CEO atau tidak. Dia pun menuju toilet untuk mengawasi kamera yang ditempelkan pada piring camilan.
Sementara itu, di dalam ruang CEO, Tuan Giorgio menatap heran pada sekretaris putrinya. “Kenapa kau membawakan aku minum lagi?”
“Bukankah Anda yang minta, Tuan?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, saya bawa keluar lagi.” Wanita itu hendak mengambil cangkir dan piring.
Tapi, dicegah oleh Tuan Giorgio. “Biarkan saja di situ.”
Tuan Giorgio pun mengabaikan makanan dan minuman yang ada di atas meja kerja. Cukup melanjutkan pekerjaan saja.
...........
Setelah menanti tiga jam lamanya di dalam toilet tanpa melepaskan pandangan dari layar ponsel, akhirnya Roxy pun bisa bernapas lega kala menyaksikan kalau target nampak meminum kopi buatannya.
“Masuk jebakanku juga akhirnya,” lirih Roxy merasa lega. Padahal ia sudah mengira kalau rencana akan gagal.
Roxy masih perlu menanti sampai bius mulai bereaksi. Tiga puluh menit berikutnya, dia melihat kalau Tuan Giorgio perlahan memejamkan mata di kursi kerja.
Waktunya bertindak, Roxy memasukkan ponsel ke dalam saku dan segera menuju ruang CEO. Ia mendorong pelan, memastikan lagi ternyata memang target telah terkapar lemas.
“Tak ku sangka, semudah itu mengelabuhi tuanku sendiri.” Roxy sembari mencari keberadaan ponsel. Menyusupkan tangan ke dalam saku jas, dan benar dapat di sana.
“Maaf, aku hanya meminjam sebentar hanya untuk melacak keberadaan wanita yang mengandung anakku. Dan kuncinya pasti ada padamu.” Roxy membuka dua kelopak mata tuannya untuk membuka kunci ponsel.
Pria itu pun duduk di kursi depan meja kerja CEO. Membuka isi pesan dan riwayat panggilan. Akhirnya ia mendapatkan nomor ponsel Geraldine yang baru. Lekas mengirimkan padanya agar bisa dihubungi.
“Tak ku sangka, besar juga nyalimu sampai berani meletakkan kamera pengintai dan memberiku makanan dan minum bercampur bius.”
Suara Tuan Giorgio membuat Roxy berhenti memainkan ponsel di tangannya. Lalu melihat ke arah pria berusia di kepala enam yang masih bisa membuka mata lebar.