
Pertanyaan dari Geraldine membuat Roxy kepikiran terus tentang adiknya. Benar apa yang dikatakan, bagaimana kalau Alesha justru tidak mengindahkan larangannya? Ia tak berpikir sampai sana karena lama tak bersama adiknya jadi tidak begitu mendalami sifat.
Tapi, setelah dipikir-pikir, semua yang disampai oleh sang istri membuatnya tahu bahwa sifat yang biasa dimiliki oleh seseorang seperti Alesha adalah semakin dilarang justru akan dilakukan. Jadilah Roxy berusaha untuk mencari tahu nomor sang adik karena ia tidak memiliki, hanya saja belum ketemu.
“Sudah, terbang saja ke Milan, jemput adikmu dan ajak tinggal di sini bersama kita. Setidaknya kau tak akan kehilangan anggota keluargamu untuk kedua kalinya,” tutur Geraldine sembari mengusap punggung Roxy.
Mereka tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Baru saja selesai kontrol dengan dokter kandungan. Tapi, Geraldine terus mendapati wajah suaminya yang beberapa kali melamun seperti sedang banyak pikiran.
“Aku akan melakukan itu, tapi tidak untuk sekarang. Kau sedang hamil, dan aku ingin selalu di sisimu.” Roxy merengkuh pinggul Geraldine sembari telapak kekar tersebut bergerak di perut buncit yang terbalut dress tak ketat.
Roxy tahu risiko apa yang akan terjadi kalau ia pergi ke Milan. Dia tidak mau membuat Geraldine cemas jika ada hal buruk yang mungkin terjadi padanya. Jadi, lebih baik akan mengusahakan dengan hal lain saja, seperti mengutus anggota Cosa Nostra supaya mengecek kondisi Alesha.
Sampai di mobil, Roxy membukakan pintu untuk istrinya. Tidak lupa menahan sisi bagian atas supaya kepala Geraldine tidak terbentur. Barulah ia menuju ke sisi kemudi.
Kendaraan roda empat itu pun melaju, mengantarkan Geraldine menuju kantor. Biasalah ... wanita karir, mana mau berdiam diri terus. Bisa pusing kalau tak melakukan apa pun. Jadi, Roxy tidak membatasi aktivitas sang istri, selagi bisa menjaga diri dan tidak melakukan secara berlebihan.
“Ponselku kau bawa?” tanya Roxy. Sejak menikah, kalau bepergian, dia selalu menitipkan barang-barang di dalam tas Geraldine, walau pada akhirnya ia juga yang akan menenteng tas itu. Tidak malu sama sekali karena istrinya biasa membawa tas ransel kecil.
“Sepertinya.” Mereka jarang bermain ponsel karena lebih sering bertemu secara langsung. Jadi, seharian ini pun belum mengeluarkan benda tersebut.
Geraldine membuka ritsleting ransel yang ada di pangkuannya. Membuka dan mencari secara seksama. Mengeluarkan ponsel yang dicari oleh suaminya. “Ini.” Ia menyodorkan pada Roxy supaya diterima.
Geraldine membalas dengan anggukan. Dia bisa mengakses ponsel suaminya. Mereka berdua tidak ada rahasia satu sama lain. Jadi, tidak perlu ada yang ditutupi juga.
Seperti perintah, Geraldine menekan simbol dial call, lalu sengaja loudspeaker supaya suaminya bisa mendengar. Ada nada sambung yang pertanda panggilan belum diangkat.
Beberapa saat menanti, baru ada suara yang menyapa. “Ada apa?”
“Mike, aku butuh siapkan beberapa orang ahli mata-mata Cosa Nostra untuk berangkat ke Milan.”
“Untuk?”
“Memastikan kondisi adikku di sana, apakah dia masih sehat atau sebaliknya.”
“Oke.”
Begitulah para anggota Cosa Nostra, berbicara sebutuhnya. Kalau sudah langsung dimatikan.
Roxy kembali fokus ke jalan yang lancar tanpa ada kemacetan. Sesekali mengajak Geraldine untuk mengobrol, walau sebentar karena pada akhirnya kembali hening. Sifat keduanya memang seperti itu, lebih suka bermesraan dibandingkan berbincang.
Geraldine yang kembali bungkam pun merasakan kalau ponsel suaminya yang belum dimasukkan ke dalam tas bergetar. Ia melihat sebentar, lalu menunjukkan pada Roxy tentang apa yang ditunjukkan oleh layar.