
“Kau sudah makan?” tanya Geraldine setelah iparnya kembali memakai kain menutupi seluruh lekuk tubuh.
“Belum,” jawab Alesha sangat judes.
“Oh.” Geraldine hanya menjawab singkat dan berjalan menuju pintu.
“Hanya itu? Kau tidak berniat memberiku makanan?”
Bahu Geraldine mengedik cuek, dia justru membuka pintu dan sudah membawa tas. “Sayang, kita makan di luar,” ajaknya pada Roxy.
“Sudah lapar?” Roxy bertanya sembari mengambil alih tas yang dibawa sang istri.
“Iya.” Tangan Geraldine melingkar di pinggul suaminya, lalu ia menengok ke belakang pada iparnya. “Ayo, kau mau ikut makan tidak?” ajaknya tapi dengan suara yang tidak ada ramah-ramahnya.
“Tentu saja, aku kelaparan tanpa membawa uang.” Alesha lekas berlari menyusul kakak dan iparnya yang sudah berlalu mendahului.
Ternyata, di balik sifat Geraldine yang bagaikan iblis, ada setitik jiwa malaikat juga, walau samar. Dia membawa iparnya makan di sebuah restoran terkenal. Membiarkan Alesha memesan sesuka hati.
“Ternyata kau tidak sesadis yang ku kira, awalnya aku pikir tak akan diajak makan,” tutur Alesha ketika ia menikmati lasagna.
Geraldine menarik sebelah sudut bibir sangat sinis. “Jangan senang dulu, memangnya aku memberi makan karena baik? Tentu saja tidak.”
Alesha mencebikkan bibir. “Menyesal aku sudah memujimu, ku tarik lagi kata-kata tadi.”
Roxy sampai bergeleng kepala melihat dua wanita itu. Tidak ada akur-akurnya, adu mulut terus. “Habiskan dulu makannya, nanti kita diskusi lagi masalahmu.” Akhirnya ia menegur agar tidak ada perang di meja makan, meski private room, tapi tetap saja suara Geraldine dan Alesha kalau bertengkar bisa tembus keluar.
Akhirnya mereka diam, melahap hidangan yang banyak macamnya. Mulai pizza, lasagna, cream soup, dan berbagai masakan khas negara Eropa lainnya.
Tiga puluh menit, semua alat makan telah kosong. Alesha dan Geraldine pelakunya karena mereka seperti kejar-kejaran bagaikan tengah lomba makan cepat.
“Oke, jadi aku sudah memastikan kalau lukanya asli, jika daddymu yang melakukan itu, tandanya kau tidak aman kembali ke Milan,” ucap Geraldine setelah mengusap mulutnya menggunakan sapu tangan.
“Memang, aku tak mau kembali lagi ke sana, hidup dengan orang tua kasar dan gila. Bisa mati muda jika bertahan terus,” keluh Alesha. Secara tidak sadar, dia sedang mencurahkan isi hati pada sang ipar.
“Kalau begitu, tinggalkan daddy, biar dia hidup sendiri. Lagi pula, sudah tua pun tidak membuatnya sadar dan merubah sifat,” tutur Roxy.
“Rencanaku juga begitu. Tapi, aku datang ke sini tidak membawa apa pun, hanya paspor karena aku kabur naik bis.”
“Kau bisa tinggal di apartemen kami, ada tiga kamar dan dua masih kosong,” tawar Geraldine. Membuat Alesha langsung menatapnya heran.
Alesha merasa perlu waspada kalau mendengar kalimat penuh kebaikan dari iparnya. “Tidak mau, aku ingin tinggal sendiri saja.”
“Punya uang?” tanya Geraldine meremehkan.
Alesha menggeleng. “Ada Roxy, dia kakakku, dan pasti akan memberi uang kalau ku minta.”
Geraldine justru tertawa. “Roxy mana pernah memiliki uang, semua yang dia punya ada di tanganku. Jadi, yang mengelola keuangannya adalah aku, istrinya.”
Alesha membulatkan mata dengan bibir menganga. “Selain perebut kakak orang, ternyata kau juga penguasa harta orang.”
Tidak peduli berapa banyak panggilan yang iparnya berikan padanya. “Kalau kau mau tinggal di Finlandia, pilihan hanya apartemen kami,” tegas Geraldine kemudian. Walau ia tidak menyebutkan alasan sesungguhnya, sebagai pertimbangan kalau Alesha tinggal sendiri justru ada kemungkinan ditangkap lagi oleh Tuan Alphonse dan bisa dibunuh mungkin, mengingat wanita itu tahu kebusukan mertuanya.